
Kling.. sendok yang digunakan Julie jatuh ke lantai. Julie menatap dalam dalam tangan kanannya yang barusan menjatuhkan sendok.
Flint yang sedang asyik menggendong Luke pun kaget ketika mendengar suara jatuhnya sendok. "Sebentar aku hubungi suster untuk membawakan sendok." ucap Flint lalu menekan tombol panggilan.
Sementara Julie masih menatap tangan kanannya. "Kenapa? Masih lemas sekali?" tanya Flint.
Julie terdiam. Matanya masih tertuju pada tangan kanannya.
"Tidak apa-apa. Tenagamu belum terkumpul." kata Flint menenangkan Julie.
"Aku tidak bisa merasakan tanganku." ucap Julie.
Flint terkejut ketika mendengar Julie tidak bisa merasakan tangannya. "Sungguh?" Flint memegang tangan Julie. "Masih tidak bisa?" tanya Flint.
Julie mengangguk. Flint segera menaruh kembali Luke ke box. "Sebentar ya sayang. Jangan rewel ya.." ucap Flint.
Suster masuk ke dalam kamar membawakan sendok. "Panggil dokter ke sini, istriku tidak bisa merasakan tangannya." perintah Flint.
"Baik."
Flint memegang tangan Julie, memijatnya pelan. "Sejak kapan kamu tidak bisa merasakan tanganmu?" tanya Flint.
"Barusan." jawab Julie.
"Lagian makannya bubur. Tidak ada tenaga yang masuk." ucap Flint.
"Kan ada infus." jawab Julie.
Dokter pun masuk ke dalam ruangan. Dokter memeriksa keadaan Julie. "Tangan mati rasa setelah melahirkan ini pada umumnya sangat wajar. Banyak ibu yang merasakan seperti ini setelah melahirkan. Tapi kami tetap melakukan CT-scan terhadap tangan ibu untuk memastikan." ucap dokter.
"Kapan kita bisa melakukan CT-scan?" tanya Flint.
"Saya akan menghubungi dokter yang bersangkutan. Lalu setelah itu baru kita bisa melakukan CT-scan." jawab dokter.
"Baik, kalau begitu saya permisi." tambah dokter.
"Tidak apa apa. Kata dokter kan wajar untuk ivu yang baru melahirkan." ucap Flint menenangkan Julie.
"Padahal aku harus menggendong Luke, menyusui, memompa ASI." kata Julie.
"Nanti bisa minta bantuan suster. Ini dilanjut lagi makannya, aku suapin." ucap Flint.
Flint menyuapi bubur yang tersisa sedikit kepada Julie. "Kamu tidak mau pulang? Oh ya kamu kan harusnya pulang dari Sarabaya itu besok." ucap Julie.
"Iya aku sama Calvin pulang duluan. Meeting pentingnya sudah selesai tadi. Sisanya tinggal tim bagian yang mengurus." kata Flint.
"Kamu tidak mau pulang? Ganti baju? Makan? Oh ya kamu belum makan loh." ucap Julie.
"Nanti aku minta Bi Nola siapin baju terus mama bawa pas ke sini." kata Flint.
"Makan? Kamu belum makan sejak tadi." ucap Julie.
"Habis kamu CT-scan aku makan ya." kata Flint.
Selesai menyuapi Julie, Flint kembali bermain dengan bayi kecilnya. "Aku mau gendong." ucap Julie.
"Pakai tangan kiri." tambah Julie.
Yang pada mulanya ragu ragu, Flint akhirnya menyerahkan Luke untuk Julie gendong. "Sampai kapan ya kira kira tangan kananku mati rasa begini.." eluh Julie.
"Sabar sayang.. kemarin kemarin kamu inget ga ngapain aja yang menggunakan tangan kanan kamu?" tanya Flint.
"Tidak ada yang berat. Hanya menggambar, makan, sudah tidak ada lagi sepertinya." jawab Julie.
"Tunggu CT-scan nanti. Semoga tidak terjadi apa-apa." kata Flint.
Tidak lama kemudian, beberapa dokter dan suster masuk ke dalam kamar Julie. "Selamat sore, pak. Saya Ertus dari departemen ortopedi dan ini beberapa rekan saya dari departemen radiologi. Kami semua mendengar bahwa ibu Julie ini tangannya mengalami mati rasa oleh karena itu tujuan kami datang ke sini adalah ingin melakukan CT-scan. Apakah ibu bersedia?" ucap dokter.
"Baiklah." ucap Flint.
Suster membawa kursi roda untuk Julie. Sementara itu Flint memanggil beberapa suster lainnya untuk menjaga Luke karena dia akan ikut Julie saat melakukan CT-scan.
Sesampainya di ruangan tempat untuk melakukan CT-scan, Julie kembali diminta untuk menjelaskan apa yang dia rasakan. Kemudian dokter melakukan CT-scan dengan prosedur yang ada. Julie diminta untuk melepas perhiasan yang dia pakai.
"Semua perhiasan yang ibu dikenakan mohon dilepas sebentat ya bu. Karena akan berbahaya nantinya kalau dipakai." ucap dokter.
"Dadaku seperti teriris pisau sampai lapisan terdalam ketika melihat kamu melepas cincin itu." bisik Flint.
"HAHHAHAH..!!" Julie tertawa lepas ketika mendengar bisikan itu. Dia menitipkan segala perhiasannya kepada Flint.
"Aku ingin makan pizza, dan ayam pedas setelah CT-scan." bisik Julie.
"OK, aku pesan semua itu sekarang." balas Flint.
Kemudian Julie masuk ke dalam ruangan yang berisi mesin CT-scan. Ada beberapa dokter yang memantau dari luar ruangan dengan monitor. Flint berada di tempat dokter memantau lewat monitor.
"Sepertinya dokter Ertus merupakan dokter ortopedi terbaik di rumah sakit ini." ucap Flint.
"Eh? E-eh.. iya.. mungkin.." jawab dokter Ertus.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya. Jangan sampai salah mendiagnosa." ucap Flint.
"Iya pak. Tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik." jawab dokter Ertus.
Sekitar 40 menit lamanya Julie berada di mesin berukuran donat tersebut, akhirnya selesai juga pemindahan CT. Julie diperbolehkan kembali ke kamarnya.
"Hasilnya akan kami berikan malam ini. Bapak dan ibu bisa kembali beristirahat." ucap dokter Ertus.
Julie kembali ke kamar inapnya dengan duduk di diatas kursi roda yang didorong oleh Flint. "Mesinnya mirip donat. Aku jadi ingin makan donat." ucap Julie.
"OK, kita pesan." ucap Flint.
Tidak lama kemudian, seorang suster membawakan beberapa bungkus berisi ayam pedas. Julie melongo melihatnya. "Sebanyak itu?" ucap Julie.
Flint tersenyum. "Sebentar lagi para orang tua kita akan datang." jawab Flint.
"Benarkah? Pantas saja." ucap Julie.
Julie dan Flint pun memakan ayam pedas dengan sarung tangan plastik. Julie berusaha menggerakkan tangan kanannya. Ternyata tangan kanannya masih mati rasa. "Jangan dipaksakan." ucap Flint.
Julie akhirnya menikmati ayam pedasnya dengan tangan kirinya. "Woaahhh.. mantapp.. woahhh enakkknya." Flint merasakan kenikmatan di setiap gigitan.
Di sela sela makannya, terdengarlah lagi ketukan pintu dari luar. Tok tok tok..
Suster yang berbeda datang membawakan 5 dus pizza. "Apakah benar atas nama Flint memesan 5 dus pizza ini?" tanya suster.
"Iya benar sus. Terima kasih." ucap Flint seraya mengambil dus pizza.
"Sama-sama, saya permisi dulu." Setelah suster meninggalkan kamar, mereka kembali menyantap ayam pedas mereka.
"Sepertinya tidak kebagian untuk mereka nanti." ucap Flint.
"Itu masih ada pizza." kata Julie.
Julie memakan pizza. Baru setengah dus alias 4 potongan, sudah datang makanan baru.
Tok tok tok. "Saya membawakan donat pesanan bapak." ucap suster yang berbeda dari suster yang tadi.
"Terima kasih, sus." jawab Flint.
"Sama-sama. Saya permisi." pamit suster.
"Yeeyyyy.. bawa sini. Aku mau makan donatnya." ucap Julie.
Ketika membuka dus donatnya, Julie melihat semua bentuk donatnya bukanlah bulat melainkan berbentuk hati (love). "Apa-apaan ini." pekik Julie.
Flint menyengir. "Heheheheh... kalau mau yang berbentuk bulat ada tuh di dus 1 lagi."
Julie menutup dus donatnya dan mengambil dus 1 lagi. Pas dibuka, benar saja isinya berisi donat berbentuk bulat. Julie lebih ingin memakan donat yang berbentuk bulat dibanding berbentuk hati tersebut.
"Hey.. Jul.. kamu lebih memilih makan yang berbentuk bulat daripada yang hati? Wah.. aku tidak mengerti.. hey.. donat yang berbentuk hati itu request sendiri dariku. Tahu tidak?" ucap Flint.
"Kalau aku makan donatnya (berbentuk hati) nanti hatinya rusak dong. Aku kunyah sampai hancur berkeping-keping, masuk ke dalam dan akan keluar menjadi yang biasa disebut feses. Mana bisa aku memakan hati darimu." kata Julie.
"Uuuu... gemesss...." ucap Flint sambil mencubit pipi Julie.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.