
"Tidak ada. Di dalam mobil itu tidak ada siapa siapa melainkan Jeny dan Arthur. Arthur duduk di kursi pengemudi. Tim keamanan akan mengirimkan foto foto yang menjadi bukti ke email mu."
Flint membuka email di layar komputernya. Calvin dan Julie pun ikut melihatnya. "Gosh. Mengenaskan sekali nasib Jeny dan Arthur." kata Calvin.
Namun beda halnya dengan Flint, dia kembali menelepon tim keamanannya. "Pastikan bahwa itu tubuh Jeny dan Arthur. Kepalanya hancur, siapa tahu itu tubuh orang lain, kita tidak tahu." perintah Flint.
Flint sendiri masih terus menyelidiki bahwa itu Jeny dan Arthur atau bukan. Tidak henti hentinya dia mengezoom foto bukti kecelakaan. "Calvin, kecelakaan apa kira kira yang bisa membuat kepala hancur?" tanya Flint.
"Hmm mungkin tubuh mereka mental ke luar dan kelindas kendaraan."
"Tapi kepala mereka hancur di dalam mobil mereka sendiri."
"Menurutmu, kecelakaan ini di rekayasa?"
"Sebagian jiwaku menjawab iya."
"Jadi daritadi kita mengejar orang yang salah? Bukan Jeny dan Arthur? Bagaimana bisa tim pelacak melakukan kesalahan?" sahut Julie.
"Tim pelacak tidak melakukan kesalahan. Kita sedang dijebak." jawab Flint.
"Kita tidak bisa dijebak kalau tim pelacak tidak melakukan kesalahan, Flint." jawab Calvin.
"Tapi kurasa tim pelacak tidak salah. Entahlah, pemikiranku sekarang selalu berbeda dengan kalian." kata Flint.
Percakapan mereka terhenti saat bunyi telepon masuk milik Flint. "Menurut penyelidikan polisi, rem mobil yang dikendarai mereka blong, saat mereka sadar remnya blong, mereka berusaha keluar dari mobil namun ketika mereka keluar, truk besar datang dan tidak sengaja menabrak mobil mereka. Tubuh mereka terlempar keluar dan terlindas oleh roda kendaraan lain. Berikut rekaman dashboard beberapa mobil yang berada di TKP dan rekaman CCTV."
Mendengar penjelasan dari salah satu tim keamanannya, Flint merasa lebih lega. Apalagi saat melihat bukti rekaman, jauh lebih lega. Akan tetapi, masih ada 1 masalah yaitu kemana perginya brankas itu.
Telepon Flint kembali berdering. Dengan cepat Flint mengangkatnya. "Sir, apakah sedang ada janji dengan perusahaan Blacknown? Ada sekumpulan orang yang mengaku dari perusahaan Blacknown dan ingin bertemu dengan Sir. Tapi saat ini kita masih menutup akses pintu keluar-masuk." kata receptionist.
"Iya."
Flint segera menutup teleponnya. "Calvin, apakah kita mempunyai relasi dengan perusahaan Blacknown?"
"Perusahaan apa itu. Aku baru mendengarnya."
"Dia ingin bertemu denganku. Sudah ada di bawah. Kamu selidiki mereka di sini. Siapkan tim keamanan yang lain. Aku akan ke bawah." kata Flint.
"Hati hati." kata sang kekasih.
Flint pun ke bawah untuk menemui perusahaan yang tidak dia kenal itu. Sesampainya di bawah, dia menemui sekumpulan orang itu. "Let's make a deal. I know your brankas." kata orang itu.
"Ohh.. sorry. Aku Jordan. Dimana kita bisa bicara?" sambung orang yang mengaku pemilik perusahaan Blacknown.
"Tidak di perusahaanku. Bagaimana di perusahaanmu?" kata Flint. Sebenarnya ini hanya basa basi Flint untuk melihat perusahaan Blacknown yang namanya tidak pernah dia dengar.
"Tidak. Di restoran saja. Kita bicara di private room."
"Kamu menyimpan brankasku di perusahaanmu?"
"Iya."
"Baiklah."
Flint dan Jordan segera menuju ke restoran yang dipilih Jordan. Mereka berangkat terpisah. Flint berada di mobil yang dikemudi Calvin dan dikawal dengan 4 mobil. "Dialah yang menyimpan brankasmu." kata Flint saat berada di dalam mobil yang hanya berisikan Flint dan Calvin.