
"Mengeluarkan apa?" cetus Julie yang sedari tadi diam.
"Kamu tidak tahu Julie? Flint punya ribuan orang di seluruh negara ini yang siap siaga membantu Flint. Jika dipanggil, mereka semua akan turun tangan membantu Flint." jelas Calvin.
"Iyakah??"
"Kamu tidak tahu bahwa pacarmu ini sangat hebat?" ketus Flint.
"Sudah. Bukan saatnya untuk bergurau." sahut Calvin.
"Entah mengapa sekarang aku merasa bahwa aku sedang dijebak." kata Flint.
"Coba bawa kemari brankas yang ada di bawah." sambungnya.
Calvin turun mengambil brankas itu dan membawanya ke ruangan Flint. Tidak sesuai dengan dugaan Flint, brankas itu berisi zonk alias kosong.
"Flint, apa kamu punya musuh?" tanya Julie.
"Banyak." jawab Flint.
"Aku serius."
"Aku juga serius."
"Mungkin ini ulah dari salah satu musuhmu."
"Ini ulah Jeny dan Arthur. Jeny dan Arthur termasuk musuhku."
"Ya aku tahu. Tapi menurutku Jeny dan Arthur merupakan kaki tangannya."
"Good girl, Julie. Kenapa kita tidak kepikiran soal itu?" sahut Calvin.
"Aku ingin memberikanmu pekerjaan, tapi sekarang ini kita berada di saat yang genting." kata Flint.
"Untuk sementara ini, biarlah aku yang mengontrol sinyal pelacakan. Kamu pergi ke mejamu, berikan aku daftar perusahaan dan pemimpinnya yang menjadi musuhku." sambung Flint.
"Apa kamu yakin musuhmu berasal dari perusahaan?"
"Yakin. Aku tidak punya musuh selain dari dunia perusahaan."
"Baiklah."
"Berikan kepadaku dalam waktu 1 jam."
———————————————————————
"Mengapa masih belum dapat juga.. padahal sudah ada polisi dan tim keamananku yang mengejar.." cetus Flint sambil mengamati tablet sinyal pelacaknya.
"Kamu tahu? Tim keamanan internalku pernah mendapatkan penghargaan oleh Presiden karena kecerdasan dan ketangkasannya."
"Baiklah... Apalagi yang kamu khawatirkan.. kamu punya banyak orang hebat dibelakangmu."
"Walaupun ada banyak orang hebat disisiku, tetapi kekhawatiran itu terus ada. Kamu mungkin tidak akan mengerti."
"..." Julie tidak menjawab. Dia sedang asyik mengamati CCTV di parkiran yang memperlihatkan Jeny dan Arthur sedang membawa brankas ke dalam mobil.
Tuk. Bunyi suara dari keyboard saat Julie menghentikan video. "Flint, lihatlah. Di mobil ini ada orang asing." kata Julie.
Melihat hal itu, Flint pun segera berkutat dengan komputernya. Jarinya tidak berhenti menekan tombol keyboard. "Hei, apa yang sedang kamu lakukan?" kata Julie.
"Aku sedang menyelidikinya."
"Memangnya kamu bisa? Tunggu Calvin saja."
"Jelas saja aku bisa. Aku bukan orang yang selalu mengandalkan orang lain."
"Baiklah. Semoga beruntung."
————————————————————
"Flint ini yang kamu minta." kata Calvin yang tiba tiba masuk.
"Ya terima kasih. Vin coba lihat ini. Ada orang lain selain Jeny dan Arthur. Mereka masuk ke dalam mobil dan mobil ini yang menjadi sinyal sasaran pelacak." kata Flint.
"Ya berarti benar bahwa Jeny dan Arthur merupakan kaki tangan." jawab Calvin.
Tidak lama kemudian, ponsel Calvin pun berdering. Setelah mengangkat teleponnya, mata Calvin pun kian melotot.
"Flint! Tim keamanan menelepon dan bilang bahwa mobil yang ditumpangi Jeny dan Arthur mengalami kecelakaan. Jeny dan Arthur meninggal di tempat dengan keadaan kepalanya yang pecah." kata Calvin.
"****. Untung mereka masih pegawai training. Mereka tidak mendapat asuransi dari perusahaanku. Tapi apa mereka yakin Jeny dan Arthur meninggal?" kata Flint.
"Yakin. Tim keamanan dan polisi sudah mengecek dengan bola mata di kepala mereka sendiri. Kepalanya pecah.."
"Ishhh..."
"Sekarang mereka semua masih dalam pencarian brankas. Karena di mobil yang Jeny dan Arthur tumpangi, tidak ditemukan brankas."
"Oh ya Calvin. Coba kamu tanya apakah di dalam mobil itu ada orang asing seperti yang di CCTV ?"
Calvin menelepon sejenak. Dan jawabannya ialah,
"Tidak ada. Di dalam mobil itu tidak ada siapa siapa melainkan Jeny dan Arthur. Arthur duduk di kursi pengemudi. Tim keamanan akan mengirimkan foto foto yang menjadi bukti ke email mu."