When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Menemani



"Hah? Apa aku tidak salah lihat Calvin?" jawab Flint.


"Tidak."


"Itu Julie bukan? Untuk apa dia disini? Benarkah dia Julie?"


"Benar, Flint. Kamu tidak salah lihat, itu Julie. Aku mendapatkan informasi bahwa PT Cosaca sedang membuka lowongan pekerjaan dan Julie mengirim CV ke PT ini. Tapi informasi itu masih kubilang abu abu karena aku sendiri belum memastikannya." jelas Calvin.


"Terima Kasih, Calvin." ucap Flint sambil menepuk bahu Calvin dan berjalan sekencang mungkin menghampiri Julie yang sudah berada di pintu keluar.


"Julie, sedang apa kamu di sini?" tanya Flint yang berhasil menangkap tangan Julie.


"Flint?"


Flint segera membawa Julie ke tempat yang lebih sepi untuk bicara, yaitu di parkiran mobil dalam.


"Julie, sedang apa kamu di sini? Kamu sedang melamar pekerjaan?"


"Iya."


"Julie, mengapa harus melamar di tempat lain sedangkan kamu bisa melamar di perusahaanku."


"Aku tidak ingin masuk di perusahaan karena koneksi."


"Koneksi apanya, Julie. Kamu mempunyai latar belakang lulusan Harvard University."


"Berbicara soal latar belakang. Apa kamu tidak sungkan memperkerjakan seorang karyawan yang orang tuanya sudah bangkrut?"


"Julie.. mengapa kamu menjadi seperti ini?"


"Sudahlah, Flint. Aku akan malu sekali jika aku bekerja di perusahaanmu."


"Apa yang kamu malukan? Karena orang tuamu sudah bangkrut? Tidak sadarkah kamu bahwa kamu sangat egois? Karena orang tuamu bangkrut, kamu bisa memutuskanku begitu saja. Meninggalkanku. Kamu bilang kamu malu jika harus berpacaran denganku. Itu semuanya tidak berpengaruh untukku, Julie. Kamu boleh malu kalau pasanganmu lah yang bangkrut, Julie. Bukan dirimu, bukan orang tuamu."


"Kamu tidak malu jika punya pacar yang orang tuanya sudah bangkrut seperti aku? Bahkan aku sudah meninggalkanmu dan kamu mengejarku kembali."


"Tidak, Julie. Sama sekali tidak." jawab Flint sambil memegang lengan Julie.


Julie menatap Flint sejenak. Terpampang keseriusan dari dalam hati Flint. Julie mengangguk pelan.


Flint dengan cepat membawa Julie ke dalam dekapannya. Dipeluknyalah Julie seerat mungkin. Sudah lama sekali Flint tidak memeluk Julie. Julie sendiri bisa merasakan kehangatan dari tubuh Flint.


Tririririringgg. Ponsel Flint berbunyi. "Hei. Dimana kamu? Lama sekali!". oceh Calvin di telepon.


"Maafkan aku, Calvin. Sepertinya kamu harus kembali ke perusahaan sendiri."


"Oh, begitu ya? Sudah berbaikan dengan Julie, sekarang kamu meninggalkan aku? Mengapa diriku selalu ditinggalkan ya Tuhan. Tidak bapak, tidak anak. Keduanya meninggalkanku karena wanitanya."


"Maafkan aku sekali lagi, Calvin. Gajimu tidak jadi aku kurangkan, akan kutambahkan nanti. Bye, Calvin sayang. Hati hati dijalan." ucap Flint dan segera mematikan ponselnya.


"Sayaaaangg??" tanya Julie.


"Ah tidak. Itu Calvin. Dia suka ngambek orangnya." jawab Flint.


Flint merangkul Julie dan membawanya masuk kedalam mobil. "Baiklah, Julie. Sekarang kamu ingin kemana? Pulang kerumah atau ke perusahaanku?" tanya Flint.


"Hmm? Untuk apa sekarang aku ke perusahaanmu?"


"Menemaniku bekerja."


"Kamu gila?"


"Hari ini kamu temani aku bekerja. Besok kita bekerja bersama."


"Woah. Segampang itu aku bekerja?"


"Oh tidak. Kamu tetap mengirimkan CV ke HRD ku, lalu melakukan wawancara. Di wawancara nanti kita akan bertemu karena aku langsung turun tangan mengenai wawancara."


"Lalu, mengapa kamu bilang besok kita bekerja bersama?"


"Karena aku langsung akan menerimamu. Bahkan secara tidak langsung, aku yang membutuhkan kamu bukan kamu yang membutuhkan aku."


"Ambigu sekali. Tapi yang jelas aku membutuhkan kamu bukan perusahaanmu."