
"Eh tunggu." Audy melepas pelukan Edgar.
"Ada apa?" tanya Edgar.
"Aku melihat ada sesuatu yang berkilau di bunga ini." Audy kemudian mencari-cari yang dia lihat tadi.
"Ini dia. Apa ini? Kalung?" kata Audy.
"Oh iya. Aku hampir lupa kalau aku menaruh kalung di sana. Ini untukmu. Sini aku pakaikan." ucap Edgar.
"Lihat, aku sudah mengikatmu dengan kalung ini. Jadi jangan coba-coba kabur dariku." kata Edgar.
"Tanpa diikat, aku juga tidak akan kabur." balas Audy.
———————————————————
Hari ini Flint memutuskan untuk bekerja di Young Scarlette. "Titip Luke ya ma. Kalau dia rewel, telepon aku." kata Flint.
"Iya tenang saja. Hati-hati." ucap Julie.
Flint dan Julie berangkat ke kantor. Sesampainya di ruangan mereka, ada Kesha yang sudah berdiri di depan pintu.
"Sudah sekitar 30 menit dia menunggu." bisik Calvin ke Flint.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Flint kepada Kesha.
"Di dalam saja." kata Julie lalu masuk ke dalam.
Flint menyusul Julie, Kesha menyusul Flint.
Julie menduduki kursi dengan elegannya, "Katakan." ucap Julie kepada Kesha.
"Kamu bisa mengatakannya tanpa harus duduk di sofaku." ucap Flint ketika Kesha baru saja menduduki sofa.
"Aku akan menerima kesepakatanmu kemarin." ucap Kesha.
"Kita terlalu banyak membuat kesepakatan dengan orang. Katakanlah apa kesepakatannya." kata Julie.
"Kesepakatan kalau aku menggugurkan kandunganku, Flint akan melunasi semua utangku." ucap Kesha.
"Baiklah. Flint, aturlah operasi pengangkatan janin di Young Hospital." kata Julie.
"Tapi.. kalau anakku tidak bisa hidup, maka anak kalian juga tidak bisa hidup." ucap Kesha.
Julie yang sedang melihat layar komputernya, mendadak mengarahkan pandangannya ke Kesha.
"Dasar gila! Berani-beraninya kamu mengatakan itu!" ucap Flint.
"Jika ingin mengalahkan aku jangan menggunakan anakku." kata Julie.
"Sebaiknya kamu juga. Jika ingin mengalahkan aku jangan menggunakan anakku." ucap Kesha.
"Aku tidak menggunakan anakmu. Kamulah yang menggunakan anakmu sendiri." balas Julie.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita bertarung secara sehat saja?" tanya Kesha.
"Misalnya?" tanya Julie.
"Aku dan anakku harus mendapat perlakuan yang sama seperti dirimu." jawab Kesha.
Julie yang sedang memegang bolpoin dan membaca berkas, dia meletakkan bolpoinnya dengan tegas.
"Untuk bertarung, kita harus berada di posisi yang sama bukan?" lanjut Kesha.
"B*rengsek! Kamu pikir aku sudi memperlakukan kamu seperti aku memperlakukan Julie?! Mendengarnya saja membuatku jijik! Keberadaanmu membuat aku jijik! Enyahlah!" bentak Flint.
"Setidaknya tidak bisa sama. Kamu bukan istri sahnya, kamu juga bukan siapa-siapanya." kata Julie.
"Julie?" ucap Flint tidak terima dengan perkataan Julie.
"Setidaknya untuk anak yang kukandung." ucap Kesha.
Julie tertawa merendahkan. "Kamu saja tidak bisa membuktikan kalau anak yang kamu kandung itu anak Flint tetapi kamu meminta perlakuan yang sama? Di mana kemaluanmu?" tanya Julie.
"Kenapa kamu memaksa sekali sih? Sebegitu inginnya kamu menjadi diriku?" sambung Julie.
"Bicara soal kesepakatan. Kedua pihak harus mendapatkan keuntungan yang sama. Lalu, apa keuntungan yang bisa aku dan Flint dapatkan?" tanya Julie.
"Yang aku tangkap, kalian terutama Flint takut sekali berita tentang kehamilanku menyebar padahal sudah tahu kalau anak ini bukan anaknya." ucap Kesha terpotong dengan tawa Julie yang merendahkan.
"Baiklah baiklah. Aku tahu, kamu akan merahasiakan kehamilanmu kan?" tanya Julie.
"Aku tahu kemarin itu tidak berdampak besar untuk semua perusahaan kalian. Dan aku juga tahu kalau yang ini (kehamilan) akan berdampak besar untuk kalian. Bahkan Flint bisa saja turun dari jabatannya, ya kan?" balas Kesha.
"B*rengsek! Bisa-bisanya kamu mengancamku?!" bentak Flint.
"Pikirkan lagi selanjutnya Kesha. Kalau Flint turun dari jabatannya, apalagi yang bisa kamu dapat? Dia akan jatuh miskin." kata Julie.
"Aku tidak sebodoh itu, Julie. Aku bisa mendekati siapa pemimpin pengganti Flint nanti." ucap Kesha.
"Bagaimana.. kalau pemimpin pengganti Flint itu aku? Tidak mungkin kan kamu menjadi lesbi?" kata Julie.
"Hahahhahah becanda.. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Baiklah, untuk saat ini kesepakatan ini termasuk kesepakatan yang menguntungkan." sambung Julie.
"Julie?!" ucap Flint.
"Rupanya suamiku masih belum setuju. Beri aku waktu untuk membujuknya." kata Julie pada Kesha.
"Bagus." jawab Kesha.
"Apa kamu baru ingin pergi saat aku mengusirmu?" kata Julie.
Kesha segera berbalik badan lalu keluar dari ruangan mereka.
"Julie.. ada apa denganmu? Kenapa bisa-bisanya kamu setuju dengan kesepakatan konyol itu?" ucap Flint.
"Ssst.." Julie menaruh jari telunjuknya di bibir Flint.
"Untuk saat ini ikuti saja dulu, Flint." kata Julie.
"Kamu bisa bilang begitu! Tapi untukku tidak Julie. Aku harus memperlakukan dia seolah-olah dia itu wanita yang aku cintai? Cuih! Memikirkannya saja membuat aku ingin mati. Kamu ingin membunuhku sayang?" ucap Flint.
"Mana mungkin sayang. Mana bisa aku membunuhmu.. maafkan aku tetapi ingatkah yang aku katakan kemarin? Kita harus berpura-pura bodoh untuk mengelabui musuh. Inilah saatnya, Flint." kata Julie.
"Tidak. Aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa, Julie." ucap Flint.
"Kamu bisa sayang. Bahkan tanpa berpura-pura saja kamu sudah bodoh kalau berhadapan dengan Kesha." kata Julie.
"Apa-apaan kamu ini?" ucap Flint.
"Ayolah sayang. Aku sangat yakin kamu bisa. Lagi pula, kamu memangnya tidak menemukan apa-apa tadi?" kata Julie.
"Tidak. Memangnya kamu menemukan apa?" tanya Flint.
"Kelemahan Kesha." jawab Julie.
"Apa kelemahannya?" tanya Flint.
"Wanita. Memangnya kamu tidak dengar tadi? Dia bilang 'Aku bisa mendekati siapa pemimpin pengganti Flint nanti.' Fokusnya hanya seorang laki-laki, Flint. Pantas saja selama ini dia tidak bisa apa-apa jika ada aku." jawab Julie.
Flint terdiam. "Sepertinya kamu membutuhkan bantuan dari istrimu." ucap Julie.
"Jika membutuhkan bantuanku, ikutilah kesepakatan itu." sambung Julie.
"Baiklah baiklah baiklah. Baiklah aku mengikutinya." ucap Flint.
"Aaarghhhh." erang Flint sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Tenang sayang. Aku pastikan kamu tidak akan memperlakukan dia sebagai wanita yang kamu cintai dalam waktu yang lama." kata Julie.
"Tapi jangan sampai kamu cinta beneran sama dia. Hahahahahh.." sambung Julie.
"Kamu gila? Aku benar-benar menyerahkan hidupku padamu tahu? Ingat, jangan lama-lama, aku bisa gila." ucap Flint.
"Hahahahah.." Julie tertawa terbahak-bahak.
"Ngomong-ngomong, adiknya Luke belum jadi yah? Apa kamu sudah menunjukkan gejala?" tanya Flint.
"Belum." jawab Julie.
"Apa bulan ini kamu sudah menstruasi?" tanya Flint.
"Belum. Masih ada beberapa hari lagi untuk menstruasi." jawab Julie.
"Hmm.. kabarin aku kalau sudah ada gejalanya." kata Flint.
Bagaimana mungkin kamu berharap aku hamil sedangkan masalah kita di depan mata? batin Julie.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.