
Audy kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Flint mengamati kepergian Audy sampai semakin lama punggung Audy pun sudah tidak terlihat.
Flint pun akhirnya lega setelah melayani 2 tamu yang datang bertemu dengannya di kantor. Ditambah lagi dia akhirnya bertemu lagi dengan Edgar setelah bertahun tahun, dan Young Airlines sudah ada yang pegang dan itu bukan dirinya lagi.
Tinggg. Bunyi notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponsel Flint.
Edgar.
Tes. Ini Edgar.
Flint.
Saved. Dimana kamu sekarang, bro?
Edgar.
Rumah.
Flint.
Rumahmu masih yang lama?
Edgar.
Tidak. Itu rumah orang tuaku. Aku sudah mempunyai rumah baru.
Flint.
Hebat sekali. Kirim alamatnya, aku akan mengunjungimu setelah bekerja.
Edgar.
Edgar sent a location.
Flint.
Baiklah. Buatkan aku cemilan untuk malam ini.
Edgar.
Kabari aku kalau kamu sudah jalan.
Flint.
Ok.
Flint pun kembali bekerja seperti biasanya. Dia memanggil Calvin ke ruangannya untuk membahas Young Airlines ke depannya.
"Audy akan memegang Young Airlines setelah gedung dan bandara sudah jadi. Dan sampai saat itu tiba, aku ingin membantu Audy sebisaku supaya dia nantinya bisa menjalankan Young Airlines dengan baik baik saja. Pertama dimulai dari kerja sama. Aku ingin memperbanyak kerja sama Young Airlines pada perusahaan yang bermutu."
"Noted." jawab Calvin.
"Yang kedua, aku ingin mengundang pemimpin perusahaan yang berhubungan baik dengan Young Building saat pembukaan resmi Young Airlines. Adakah pemimpin yang seumuran dengan Audy?"
"Sepertinya tidak ada. Tapi kalau anak dari pemimpin pasti banyak."
"Hmm.."
"Kamu ingin menjodohkan Audy?"
"Tidak. Aku ingin mendekatkan Audy dengan laki laki agar dia bisa merasakan jatuh cinta."
"Hmm itu bukan ranahku. Aku bingung harus membantu seperti apa."
"Oh ya kamu juga masih single ya. Kamu masih menyukai wanita kan?"
"Sembarangan. Tentu saja aku masih menyukai wanita. Tapi mana ada wanita yang menyukaiku dengan profesiku hanya sebagai sekretaris."
"Siapa yang berani merendahkanmu. Aku tidak akan tinggal diam, Calvin. Kamu bukan sekretaris biasa."
"Terima kasih. Lanjut lagi dengan rencanamu."
"Tanggal 5 bulan 5. Tanggal yang pas. Ada 2 orang yang berulang tahun juga. Aku tidak sabar menantikan hari itu."
"Aku sudah mengetahuinya sejak dulu. Tapi kenapa aku merasa kesamaan itu hari ini..."
"Hahaahah jadi apa rencanamu selanjutnya."
"Kalau dari fasilitas pesawat itu sudah baik. Lalu dari kenyamanan dan keamanan pesawat juga sudah terbukti baik. Jumlahnya juga sudah cukup banyak. Hmm mungkin untuk pekerja di perusahaan dan di bandaranya kita harus mencari untuk Audy."
"Baiklah."
"Mungkin itu saja."
"Flint.."
"Ya?"
"Kamu beneran ditolak?"
"Hadehh.. sudah berapa kali ku bilang. Aku tidak berbohong."
"Kenapa bisa?"
"Mungkin aku yang terlalu buru-buru. Dia belum siap menikah dini."
"Ohh.. Bukannya kalau sudah menikah itu jauh lebih enak?"
"Itu yang kupikirkan. Dia masih ingin bersama orang tuanya. Tidak apa apa lah."
"Bersabarlah."
"Yang ku tahu pasti di sini adalah aku harus menunggu. Tapi aku tidak tahu harus menunggu sampai kapan."
"Itulah hebatnya 'menunggu'. Dia bisa membuat orang ingin melakukannya namun dia tidak tahu sampai kapan orang akan melakukannya. Aku tahu kamu orang yang hebat, terutama dalam urusan menunggu." ucap Calvin dengan senyum nyengir.
"Pergilah kau. Aku benci melihat wajahmu saat meledekiku."
"Baiklah aku pergi."
Selepas kepergian Calvin, Flint pun kembali ke kursi kerjanya. Dia melanjutkan bekerja namun sesekali melamun tentang malam pahit yang belum lama ini menimpanya. Dari ucapan Julie sampai wujud cincin pun masih sering terlintas di kepalanya. Dan pertanyaan "sampai kapan harus menunggu?" juga terus memutar di otaknya.
Flint selalu berusaha membuang jauh jauh itu semua. Dia ingin hidupnya seperti dulu sebelum malam pahit itu terjadi. Walaupun sulit, dia pelan pelan akan berhenti memikirkan itu.
Tiba di jam dimana sudah waktunya seorang pekerja pulang dari tempat kerjanya. Begitu juga dengan Flint dan Julie. Seperti biasa, Flint mengantar Julie ke rumahnya.
"Masih ingat Edgar? Tadi siang dia datang menemuiku."
"Edgar? Edgar Spencer? mantannya Kesha itu? Ingat."
"Sekarang dia sudah menjadi chef terkenal. Setelah mengantarmu, aku ingin ke rumahnya."
"Ohh.. menginap?"
"Tidak. Hanya berkunjung biasa. Dia sudah memiliki rumah baru."
"Benarkah? Hebat sekali dia. Padahal ayahnya seorang pengusaha tetapi dia tidak ingin melanjutkan. Dia sukses dengan caranya sendiri."
"Iya. Karenanya aku jadi ingin membeli rumah sendiri. Tapi tidak diperbolehkan."
"Kenapa?"
"Sebelum mempunyai keluarga baru, aku tidak diizinkan membeli rumah dan tinggal sendiri di rumah itu."
"..." Julie terdiam.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.