When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Rencana Murahan



Sementara itu, Flint dan Julie kembali ke perusahaan Young Scarlette. "Presdir datang!" ucap salah satu pegawai kepada pegawai yang lainnya. Para pegawai menundukkan badannya ketika Flint dan Julie berjalan melintasi lobi.


"Jangan lupa kamu sudah berjanji untuk pulang sebelum jam 4 sore." kata Flint ketika mereka sedang berjalan.


"Tentu saja aku tidak lupa." balas Julie.


Hah Julie akan pulang jam 4 sore? batin Kesha.


Julie tersenyum.


Flint dan Julie kembali memasuki ruangan mereka, duduk di tempat terpisah. Hal ini sebenarnya terus mengusik Flint. Dia menyesal tidak menggabungkan kedua meja itu sebelum Julie bekerja. Mau tidak mau Flint kini harus bekerja berjarak dengan Julie.


Flint menatap istrinya yang sedang bekerja di meja presdir itu. Sangat cocok. Kharisma dan wibawa yang dimiliki Julie terpancar ketika dia menduduki kursi itu. Memang kamu sudah ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Pemimpin hatiku eaa. batin Flint. Baru saja Flint senyum-senyum sendiri. Saking larut dalam kesenangannya itu, tangan yang menopang kepalanya pun terjatuh sehingga dia kehilangan keseimbangan.


Buru-buru Flint memposisikan dirinya, duduk dengan tegak, tangan kanan yang memegang pulpen, membolak-balikkan kertas, berpura-pura seperti orang yang sedang bekerja.


"Kenapa terus-terusan melihatku?" tanya Julie tanpa menoleh.


"Ah.. aku tidak melihatmu. Narsis sekali dirimu." jawab Flint.


"Jadi kamu melihat siapa? Wanita lain?!" tanya Julie dengan melihat wajah Flint.


Salah jawab. "Tidak tidak. Hanya saja, ya, kamu cocok duduk di kursi presdir." jawab Flint.


"Aku siap menerima pengunduran dirimu." balas Julie dengan pandangan yang fokus pada kertasnya.


"Tidak. Aku tidak akan mengundurkan diri. Selamanya presdir Young Scarlette ada 2." ucap Flint.


"Berhati-hatilah." ucap Julie sambil membalikkan kertas.


"Aku tidak mengerti. Tadi kamu mengatakan padaku untuk berhati-hati dan sekarang juga. Untuk apa?" tanya Flint.


"Nanti kamu juga akan mengerti." jawab Julie dengan melihat wajah Flint.


"Woahh.. bulu kudukku berdiri tahu. Kenapa kamu tiba-tiba menjadi misterius begini?" kata Flint.


"Tidak. Sudahlah jangan melihat aku terus-menerus. Kamu menggangguku bekerja saja." ucap Julie.


"Baiklah. Kamu akan pulang jam 4 kan? Kamu harus segera menyelesaikan pekerjaanmu sebelum jam 4. Baiklah baiklah. Aku tidak mengganggumu." kata Flint.


Julie mengabaikan perkataan Flint. Flint merasa dirinya berbicara dengan angin. Tinggal 2 jam lagi aku akan diabaikan seperti ini. batin Flint.


Julie menepati janjinya. Dia pulang bekerja sebelum jam 4 sore. Kala itu, waktu menunjukkan pukul 15.54. Julie sudah mulai merapikan kertas-kertasnya yang berserakan di atas meja. Setelah selesai Julie bangkit dari kursinya lalu hendak mengambil blazer yang digantung.


Saat dia hendak mengambil blazer nya, dia melihat ada seseorang di atap gedung seberang sana lalu orang itu mengumpat ketika Julie melihatnya. Siapa orang itu? Sedang apa dia di sana? Apa hanya perasaanku saja kalau ada orang di sana? batin Julie.


Karena di belakang kursi Julie itu kaca, sehingga dengan mudah sinar matahari masuk dan Julie bebas melihat gedung-gedung berdiri tinggi.



Flint ikut berdiri ketika melihat Julie bersiap untuk pulang. "Kamu mau pulang juga?" tanya Julie.


"Tidak. Mau mengantarmu pulang." jawab Flint.


"Eh tidak usah. Aku sudah minta Pak John untuk menjemputku." kata Julie.


"Um, baiklah. Hati-hati." ucap Flint lalu mengecup kening Julie.


"Iya. Aku menunggumu di rumah. Jangan pulang terlalu malam." kata Julie.


"OK." balas Flint.


Julie segera berjalan ke luar namun baru beberapa langkah tiba-tiba kakinya berhenti. "Flint.. apa kamu mau aku buatkan kopi? Atau yang lain?" tanya Julie.


"Boleh. Kopi susu hangat ya." jawab Flint.


"Baiklah, tunggu sebentar." ucap Julie.


Julie keluar dari ruangan dan bertemu dengan Calvin yang mejanya tidak jauh dari ruangan Julie. "Calvin, kalau ada seseorang yang ingin masuk, tolong bukakan pintunya ya." pinta Julie.


"OK." jawab Calvin.


Tidak basa-basi lagi, Julie segera menuju ke dapur kecil untuk membuatkan kopi. Apa lagi yang akan Kesha lakukan? Apa orang tadi.. termasuk bagian dari rencananya? Apa hanya perasaanku saja? Apa karena aku sudah curiga padanya? Karena kalau sekali curiga, pasti akan curiga terus. Tapi.. orang jahat seperti Kesha, pasti akan berbuat jahat terus. Kalau aku tidak salah, tadi saat Flint mengingatkanku untuk pulang jam 4, raut wajahnya memang sedikit berbeda. Seharusnya dia sedang menantikan kepulanganku. Ini sudah jam 4 lewat 10 menit. batin Julie.


Sementara itu,


"Permisi. Saya ingin berbicara kepada Sir Flint dan Miss Julie." ucap Kesha.


"Tapi ada hal mendesak yang harus saya bicarakan." ucap Kesha.


"Tentang apa? Nanti saya sampaikan ke mereka." balas Calvin. Seketika Calvin mengingat perkataan Julie barusan.


"Ohhh... ya sudah kamu boleh masuk." ucap Calvin lalu membukakan pintu.


Dari tadi dong bukanya! Lama sekali. "Terima Kasih." ucap Kesha lalu masuk ke dalam.


Flint yang lagi asyik membaca berkas, spontan berdiri ketika melihat Kesha masuk. "Mau apa kamu ke sini?" tanyanya dengan nada agak tinggi.


Tanpa dipersilahkan, Kesha duduk di sofa lebar yang berjarak 5 meter dari meja kerja Flint.


Masih kesal dengan kejadian tadi, Flint dibuat kesal lagi oleh Kesha yang sembarangan duduk di sofanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Kesha dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Duduklah." ucap Kesha sambil mengisyaratkan dengan matanya untuk duduk di kursi dekat sofa.


"Apa lagi?" tanya Flint dengan kasar.


"Sampaikan pada istrimu kalau aku akan tetap bekerja di sini dengan posisi apapun itu." ucap Kesha.


Flint mengerutkan dahinya. Bukannya itu hal yang tidak harus disampaikan? Sampai datang ke ruanganku segala? batin Flint.


"Itu saja." ucap Kesha lalu berdiri hendak keluar dari ruangan. Saat berdiri, dia dengan sengaja memelintirkan kakinya hingga terjatuh di pangkuan Flint. Tret tret tett tret.. ckrek! tretetett trett trettt ckrek! ckrek!


"Apa ada seseorang yang masuk ke dalam?" tanya Julie kepada Calvin.


"Iya, Kesha masuk ke dalam." jawab Calvin.


"Baiklah, terima kasih. Oh ya, jangan biarkan siapapun lagi masuk di kemudian hari tanpa izinku dariku." balas Julie


"OK." jawab Calvin.


Lalu pintu terbuka lebar ketika Julie berada di depan pintu.


Julie melihat Kesha di dalam ruangannya. Ya, dia melihat Kesha, Kesha yang sedang duduk di pangkuan Flint, suaminya itu. Matanya dengan cepat melihat ke arah kaca jendela besarnya itu. Benar saja. Orang yang dilihatnya tadi sebelum keluar, kini dilihatnya lagi dengan sebuah kamera berlensa panjang.


Julie segera mengambil remote di atas meja kerjanya untuk menutup jendela dengan kaca hitam yang otomatis turun jika remote itu ditekan.


Melihat Julie masuk, Kesha segera berdiri dari pangkuan Flint.


"Rencanamu sangat murahan, Kesha." ucap Julie.


"Kopi hangat ini tadinya aku buatkan spesial untuk suamiku. Tetapi sepertinya ada seseorang yang membutuhkannya. Suamiku meminta kopi dengan suhu yang hangat, tapi tanganku ingin membuat kopi ini dengan suhu yang panas." lanjut Julie.


Tek. Julie menaruh kopi itu di meja sofanya.


"Minumlah sebelum aku paksa kamu meminumnya." ucap Julie.


Kesha masih terdiam.


Julie berjalan mendekati Kesha dengan tangan yang dilipat di depan dada. "Tidak mau minum?" tanya Julie.


Kesha masih terdiam. "Tidak ada satu butir bubuk racun pun di dalam sana." ucap Julie.


"Minumlah." sambung Julie.


Kesha menurut dan tangannya mengambil gelas berisi kopi panas itu.


"Ahkk.." pekik Kesha ketika tangannya menyentuh gelas panas itu.


"Bukannya sudah kubilang kalau kopi itu panas?" kata Julie.


"Dan bukannya aku juga sudah bilang untuk melaporkanku atas tamparanku tadi? Kenapa kamu tidak melaporkanku? Kenapa malah membuat rencana murahan ini? Semurah dirimu hahahahaha ups." sambung Julie.


Kesha mengangkat tangannya hendak menampar Julie namun tangan Flint menahan tangan Kesha.


"Istriku tidak mudah terpengaruh dengan rencanamu. Menamparnya dengan tangan kotormu tidak akan membuatnya kesakitan. Berhenti saja dan kembalilah ke Paris." ucap Flint.


Bersambung ...


Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.