
Tidak menjawab Sara, Flint malah berlari menaiki tangga ke kamarnya. Sesampainya di kamar, dia melihat Julie sedang tidur meringkuk ditutupi selimut. "Julie? Kamu sakit?" ucap Flint dengan memegang kening yang biasa dikecupnya.
Julie pun terbangun. "Flint? Kamu sudah pulang?" kata Julie.
"Kamu sakit apa?" tanya Flint.
Julie menggeleng.
"Badanmu tidak panas." ucap Flint setelah memegang kening Julie.
"Aku hanya kelelahan saja." jawab Julie.
"Baiklah. Istirahatlah." Flint merebahkan tubuh Julie.
Julie pun memeluk Flint erat. Erat. Sangat erat. Perlahan air matanya jatuh. "Istirahatlah. Aku akan mandi." Flint mencoba berdiri namun Julie makin mempererat pelukannya. "Hey, ada apa?" tanya Flint.
Julie terdiam. Mulutnya tidak bernyali untuk mengeluarkan suara. "Kamu menangis? Ada apa, Julie?" Flint terus bertanya dan Julie terus terdiam.
Flint melepaskan pelukan Julie. "Kamu kenapa, Julie? Kenapa menangis seperti ini?" Flint menghapus air mata yang membasahi pipi Julie.
"Pengen peluk kamu." jawab Julie.
Flint pun tersenyum dan memberikan tubuhnya untuk dipeluk istrinya. Maafkan aku, Flint. Aku masih belum bisa memberit tahu kamu tentang penyakitku. Percayalah, ini berat untukku. Julie berbicara dalam hatinya.
"Istirahatlah. Kamu tidak boleh sakit, agar dede bayinya bisa terbentuk." ucap Flint.
Julie pun kembali berbaring sementara Flint mandi. Julie memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Flint. Kalimat itu masih terngiang ngiang di kepalanya. Oh sungguh, Flint sangat menginginkan seorang bayi dariku. Aku harus berbuat apa sekarang. Bagaimana caraku untuk menjelaskannya kepada Flint? Apa Flint nantinya bisa menerima kenyataan yang terjadi padaku ini? Sumpah, ini berat sekali untukku. Kenapa ini harus terjadi padaku?
Air mata Julie mengalir terus. Sampai Flint selesai mandi, dia berpura pura tidur. "Aku ke bawah dulu ya, sayang." bisik Flint.
Flint pun turun ke bawah, menghampiri kedua orang tuanya yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga. "Eh Flint, bagaimana keadaan Julie?" tanya Sara.
"Entahlah, dia kelelahan saja mungkin. Badannya tidak panas." jawab Flint.
"Iya memang dia kelelahan. Karena harus mengantarkan makan siang untukmu." balas Sara.
"Tapi ada yang aneh, ma." ucap Flint.
"Apa yang aneh?" tanya Sara.
"Dia tiba tiba memelukku dan menangis. Saat kutanya kenapa, dia bilang hanya ingin memelukku." jawab Flint.
"Benarkah?" tanya Flint.
"Iya. Kan orang yang sedang kelelahan itu mood nya sedang tidak baik dan sensitif sekali." jawab Key.
"Lebih baik kamu temani dia." ucap Sara.
"Baiklah." Flint melangkahkan kakinya namun Audy tiba tiba memasuki ruang keluarga. "Eh Audy sudah pulang?" tanya Sara.
"Iya, ma. Mama sama papa sedang nonton apa?" tanya Audy.
"Ini film tentang orang yang sudah mati tetapi tidak bisa kembali ke alamnya karena ada pedang yang menancap di tubuhnya." jawab Sara.
"Oh ya? Seru dong."
"Audy, Pak John mana?" tanya Flint.
"Itu di luar." jawab Audy.
Flint pun segera berjalan ke luar dan menemui Pak John. "Pak John." panggil Flint.
"Ada apa tuan? Kata satpam, tuan mencari saya?" tanya Pak John.
"Iya. Saya mau nanya, tadi nyonya muda setelah dari perusahaan ada pergi ke suatu tempat tidak?"
Waduh! Pertanyaan yang tidak kuharapkan malah ditanyakan sama tuan Flint! Aku harus jawab apa ini? gumam Pak John.
"Hmm tidak kemana mana tuan. Langsung pulang ke rumah karena saya harus jemput nona Audy." jawab Pak John.
"Oh... tapi kenapa dia kelelahan ya.." ucap Flint.
"Nyonya muda kelelahan tuan? Kenapa ya? Saya juga bingung kenapa.." jawab Pak John.
"Baiklah. Tidak usah dipikirkan. Terima kasih atas jawabannya Pak John." jawab Flint.
Maafkan saya tuan. Saya terpaksa karena nyonya muda sendiri yang meminta saya untuk merahasiakannya. Maafkan saya tuan. Saya merasa sangat bersalah. ucap Pak John di dalam hatinya.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.