
Tumor??? Belum saja aku melakukan pengobatan untuk kanker, dan sekarang sudah ada tumor???
Bagaimana ini? Kenapa aku tiba tiba mendapatkan cobaan bertubi tubi seperti ini? Gimana caranya aku ngomong ke Flint, menjelaskan semuanya? Tapi mau tidak mau, aku harus bilang ke Flint. Ya, aku harus bilang padanya. Hari ini aku akan menjelaskan semuanya ke Flint.
Tingg... Ponsel Julie berbunyi karena ada pesan yang masuk.
Flint.
Sedang apa?
Julie.
Menggambar. Hari ini sibuk tidak?
Flint.
Tidak. Ada apa?
Julie.
Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu.
Flint.
Gambarmu?
Julie.
Iya. Setelah makan siang nanti ya.
Flint.
Baiklah, Julie. Ini memang harus kulakukan. Cepat atau lambat, Flint harus mengetahuinya. Julie mempersiapkan dirinya untuk memberi tahu Flint nantinya. Sangat berat, beratttt sekali. Sesungguhnya dia tidak mampu untuk kuat. Dia selalu menangis jika memikirkan dirinya yang sedang sakit kanker.
Dia sungguh anat mengecewakan Flint. Terlebih lagi, Flint menginginkan seorang anak darinya. Tapi takdir berkata lain, dirinya makah divonis kanker rahim. Dia saja tidak yakin bahwa dia bisa menghasilkan seorang anak untuk Flint padahal Flint sangat menginginkan anak.
Apa yang harus kulakukan? Menyuruh Flint menikah dengan perempuan lain agar bisa mempunyai anak seperti pada film film? Bagaimana mungkin itu terjadi, dirinya tidak bisa melihat orang yang dia cintai itu menikah dengan wanita lain, membagi suami dengan wanita lain. Mengadopsi anak dari panti asuhan? Flint pasti menginginkan seorang anak yang tumbuh dari darah dagingnya sendiri. Tapi apa yang harus kulakukan?
Siang ini, menjadi siang yang paling bersejarah untukku. Di mana aku harus menyaksikan raut wajah Flint secara langsung ketika melihat hasil pemeriksaanku. Apakah dia akan marah? Atau dia akan menangis? Atau dia malah menyembunyikan kekecewaannya? Karena satu hal yang pasti adalah, dia kecewa. Tapi tidak tahu bagaimana cara dia mengungkapkan kekecewaannya itu. Aku sangat mencintainya, tapi cintaku tidak mamlu membahagiakan dirinya. Berbeda dengan dia yang selalu saja bisa membahagiakanku dengan cara apapun.
Ini mungkin sangat tidak adil untuknya. Dia selalu memberikan apa yang kubutuhkan, yang kuinginkan. Tapi aku? Memberikan seorang anak untuknya saja tidak bisa. Apa yang telah ku berikan kepadanya, tidak sebanding dengan apa yang telah dia berikan kepadaku. Bahasa kasarnya adalah dia sudah memberikanku kebahagiaan, tetapi aku malah membalasnya dengan kekecewaan. Air susu dibalas dengan air tuba.
Percayalah Flint, aku sendiri juga tidak menginginkan kanker rahim ini. Bahkan seluruh manusia yang mengidap kanker, dia sangat tidak menginginkannya. Seandainya ada pilihan, aku memilih untuk merasakan sakit yang lain saja daripada harus kanker, apalagi kanker di bagian rahimku. Tempat di mana seharusnya ada sebuah janin tumbuh di sana.
Sungguh, aku sering sekali melihat orang yang sedang berjuang melawan kanker. Di dalam hatiku, aku hanya bisa berkata semoga mereka lekas sembuh, semoga kankernya segera hilang dari tubuh mereka, dan semoga mereka diberi banyak kekuatan untuk berjuang melawan kankernya. Dan ternyata, aku sendiri mengalaminya. Aku sendiri divonis kanker rahim.
Ternyata hatiku tidak sekuat mulutku yang bisa berbicara seperti itu. Banyak kekuatan? Mustahil rasanya. Sering kali aku mencoba untuk kuat, tetapi aku sesungguhnya aku tidak mampu. Aku tidak ingin terbaring lemah, berlarut dalam kesedihan karena kankerku ini. Tapi kanker ini sangat hebat sekali untuk membuat mentalku down.
Aku iri dengan kehidupan rumah tangga pasangan lainnya. Bukan karena Flint yang sempurna, melainkan aku yang tidak sempurna. Kehidupan rumah tangga umumnya akan bertambah bahagia jika dikaruniai seorang anak. Kehidupan rumah tangga akan menjadi lengkap jika dikaruniai seorang anak. Tetapi rumah tanggaku? Banyak orang yang iri dengan kehidupan rumah tanggaku dan Flint. Mereka bilang kami berdua adalah perpaduan yang sempurna.
Tapi kenyataannya apa? Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sekarang terjadi. Bersyukur saja mereka hanya melihat dari luarnya saja, dari apa yang terekspos ke media, mereka sendiri tidak mengetahui apa yang tidak terekspos. Bahkan aku sendiri, tidak bisa membayangkan apa jadinya jika penyakitku ini terekspos. Akankah mereka masih mengidam-idamkan pernikahan ini?
Sebelum semua orang tahu tentang penyakitku, diriku sendiri lah yang pertama kali mengetahuinya. Dan kepada diriku sendiri lah, aku bisa mencurahkan semua isi hatiku ini. Terima kasih untuk diriku sendiri, mari kita berjuang bersama.
Bersambung...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.