
Bisa bisanya aku memiliki pacar seperti dia? Se pede dia? Woah, memang benar kata dia, menyesal datangnya belakangan. gerutu Julie.
—————————————————————
"Baiklah. Mari kita beres beres terlebih dahulu." ucap Julie.Tringgg. Tringgg. Tringgg. "Errrggh.. baru dimatiin, sekarang sudah telepon lagi." eluh Julie.
"Halo, ada apa lagi?" ketus Julie.
"Miss Julie? Saya Fenn selaku direktur keuangan. Maaf mengganggu, tapi bisakah kamu ke ruangan saya? Ada beberapa pekerjaan yang harus kamu kerjakan." ucap seseorang di telepon.
Matik. Bukan Flint ternyata. Aduh, aku tadi jawabnya ketus lagi. ucap Julie dalam hati sambil menggigit bibirnya.
"Oh iya Sir. Bisa kok Sir. Saya segera ke ruangan Sir."
"Terima Kasih Julie."
Tok tok tok. "Permisi Sir, saya Julie yang tadi di telepon."
"Oh iya Julie. Nah, ini ada beberapa berkas yang harus kamu periksa dan akan menjadi pekerjaan kamu."
Mata Julie melirik sekilas berkas yang ditunjuk Sir Fenn. Namun, matanya kembali melirik berkas yang tadi sudah dia lihat secara sekilas. Melototlah mata Julie ketika melihat tumpukan berkas yang tidak dapat dihitung secara cepat.
"Ada apa Julie? Cepat bawa ke ruanganmu." perintah Sir Fenn.
"Ah iya, Sir. Baiklah, saya permisi dulu."
Julie pun mengambil tumpukan berkas yang sangat teramat banyak bagi dirinya. Memangnya tidak ada pekerja lain? Hari pertamaku sudah diberi pekerjaan sebanyak ini? Aigoo.. gumam Julie.
Setibanya Julie di ruangannya, dia segera mengerjakan pekerjaan pertamanya yang bertumpuk itu. Tidak ada masalah untuk Julie dalam mengerjakan pekerjaannya itu, karena menurutnya, tidak apa apa jika diberi pekerjaan banyak asalkan waktu yang diberi juga tidak sedikit. Apalagi, Julie sendiri mengerjakan dengan meja yang panjang, kursi yang empuk, ruangan sendiri, tidak seperti pegawai lainnya. Karena ruangan itulah, Julie bisa menghindari suara keberisikan yang ada di luar sana, dia bisa fokus mengerjakan pekerjaan setumpuknya itu.
Disaat Julie sedang fokus fokusnya terhadap pekerjaannya itu. Flint menelepon. "Halo, ada yang bisa saya bantu?" jawab Julie.
"Ada." jawab Flint.
"Hei, ternyata kamu yang meneleponku. Ada apa?"
"Ayo makan malam di luar nanti malam."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku sedang sibuk."
"Eleh eleh, baru hari pertama masuk kerja. Sebanyak apa sih pekerjaanmu?"
"Kamu tau? Ini hari pertama aku bekerja bukan? Aku sudah diberikan setumpuk berkas."
"Itu berarti mereka mempercayaimu. Yasudah tidak apa apa kalau kamu sibuk. Kita makan malam di ruanganku saja."
"Jam 6 nanti ke ruanganku. Sekalian bawa pekerjaan yang membuatmu sibuk itu."
"Baiklah. Dimana ruanganmu?"
"Di lantai 60. Nanti Calvin akan menjemputmu."
—————————————————————
Tok tok tok. Mendengar ada yang mengetuk pintunya, Julie pun bergegas membukakan pintu. Di hadapannya ada seorang laki laki ber jas rapi, berbadan tegak yang sedang menunggu Julie.
"Perkenalkan saya Calvin, sekretarisnya..,
Calvin maju 1 langkah mendekati Julie dan menaruh mulutnya di dekat telinga Julie. "..pacarmu." bisik Calvin.
"Ahh. iyaa iya. Sekretaris Flint kan? Ah iya. Flint sudah memberitahuku kok." jawab Julie dengan terbata bata.
"Mari Miss, Miss sudah ditunggu Sir Flint di ruangannya."
Julie pun mengikuti langkah kaki Calvin yang akan membawanya ke ruangan Flint. Tidak pernah sekali pun dia ke ruangan Flint sehingga dia tidak tahu dimana ruangannya. Tadinya dia sempat heran karena Calvin membawanya ke lift yang berbeda, bukan lift yang biasa orang orang pakai. Dan untuk membuka lift tersebut menggunakan ID Card. Dari situ Julie tahu, bahwa lift ini tidak bisa dinaiki oleh sembarang orang.
Tibalah Julie di tempat tujuannya. Saat lift terbuka, di hadapannya ada banyak tangga tangga yang menuju ke satu ruangan yang dia duga itu merupakan ruangan Flint. Bangunannya tinggi menjulang, namun hanya ada Flint dan Calvin yang bekerja di ruangan itu.
"Mengapa melihatnya sampai begitu? Ingin bekerja disini juga?" kata Flint yang entah dari mana munculnya sehingga mengagetkan Julie.
"Ah tidak. Tinggi dan luas, tapi hanya dihuni kalian berdua." jawab Julie.
Flint membawa Julie ke ruangannya sesuai tujuan dia tadi.
"Baiklah. Sekarang jelaskan padaku, apalagi kehebatan yang ada di dalam perusahaan ini? Lift khusus menuju lantai 60, menggunakan lift dengan ID Card, pintu ruanganmu yang terbuka otomatis, lalu apalagi?" tanya Julie.
"Pintu ruangan ini otomatis terbuka hanya untuk papaku, mamaku, aku, dan kamu. Oh ya, ruangan ini kedap suara, jadi sekencang apapun kamu berbicara, tidak akan terdengar di luar. Dan semua ini adalah rancangan papaku, bukan dari diriku sendiri."
"Luar biasa. Tapi untuk apa ada tangga yang banyak di luar? Apa kamu tau kenapa papamu membuat tangga tangga itu?"
"Dia bilang untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak mudah untuk perusahaannya berada di atas seperti sekarang. Tangga tangga itu mengibaratkan usahanya dalam meraih kejayaan."
"Oooohh.."
"Dan kamu tau Julie? Mengapa dia membuat ruangannya menjadi kedap suara? Asal mulanya, ruangan ini tidak kedap suara."
"Karena apa?"
"Saat mamaku hadir di dalam hidupnya, dia berpikir untuk membuat ruangan ini menjadi kedap suara, agar ..
Flint maju 1 langkah mendekati Julie dan menaruh mulutnya di dekat telinga Julie. "... mereka bisa bebas melakukan apa saja, sekencang apapun itu suaranya.." bisik Flint.