
"Manis." ucap Flint. Kemudian Flint menempelkan kembali bibirnya ke bibir sang kekasih. Flint bagaikan singa yang kelaparan dan akhirnya sudah menemukan mangsanya. Nafsu Flint sangat amat bergejolak saat itu. Di samping itu, Flint masih bisa dan harus menahan nafsunya itu agar dia tidak melakukan hal yang lebih karena kini Julie masih menjadi pacarnya.
Cup. "Aku sangat mencintaimu, Julie."
Flint membawa Julie ke dalam dekapan dada bidangnya dan Julie bersandar di situ. Mereka menikmati layaknya seorang pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan.
Kala itu menjadi waktu yang indah bagi Flint. Jarang sekali dia bisa mencicipi bibir manis sang kekasihnya terlebih lagi saat berada di kantor.
Tidak lama kemudian, masuklah Calvin yang menjadi pengganggu mereka. "Tidak bisakah kamu datang di saat yang tepat?" ujar Flint.
"Maaf Flint, tapi brankasku hilang! Aku melihat di CCTV, Jeny lah yang membawa brankasku pergi dan meninggalkan brankas yang mirip dengan brankasku. Dan sekarang aku tidak tahu dimana Jeny berada." kata Calvin.
"Arghhhh..!!!" erang Flint.
Flint tidak tinggal diam. Dia segera menuju ke meja kerjanya yang di sana terdapat telepon kantor. "Tutup semua akses pintu. Jangan biarkan 1 orang pun masuk ataupun keluar." perintah Flint di telepon dan segera membanting gagang teleponnya.
"Suruh semua tim keamanan internal mencari Jeny. Lalu kepada tim pelacakan & monitoring, suruh mereka melacak Jeny. Bekukan jabatan Jeny sekarang! Oh ya, jangan lupa selidiki Arthur juga. Aku tunggu paling lambat 1 jam." perintah Flint kepada Calvin.
"Argghhh..!! Sebenarnya apa yang mereka inginkan!?!?" erang Flint.
Julie sebagai kekasihnya Flint, belum pernah melihat Flint semarah itu, yang dia tahu ialah Flint orang yang lembut dan penyayang. "Tenanglah.. kamu punya banyak orang hebat di perusahaanmu.." ucap Julie untuk menenangkan Flint.
Calvin kemudian masuk kembali setelah diperintahkan Flint. "Jeny pergi bersama Arthur lewat parkiran. Kini tim pelacak yang bekerja sama dengan kepolisian sudah mencari Jeny. Begitu juga dengan tim keamanan internal." jelas Calvin.
"Suruh mereka berhati-hati seandainya ini hanyalah jebakan." kata Flint.
"Baik."
"Aset penting perusahaan. Sama uang senilai 50 juta."
"Aishh.. Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa brankasmu itu akan hilang dicuri orang? Berani sekali kamu menyimpan barang barang mahal di situ."
"Aku pernah berpikir. Namun jika hal itu terjadi, aku tau bosku tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan 1001 cara agar brankas itu kembali."
"Aku hanya ingin menyelamatkan aset perusahaanku. Tidak dengan uang 50 jutamu. Namun apa daya, jika aset perusahaan selamat, secara tidak langsung uangmu juga selamat."
"Oleh karena itu aku menaruh uangku di dekat aset perusahaan."
"Arghhh.. Calvin!!!"
Nut nut nut nut. Bunyi yang keluar dari tablet canggih Calvin menandakan bahwa sinyal pelacakan hilang. "Sinyal hilang! Bagaimana ini?!" ungkap Calvin.
Flint segera mengangkat gagang teleponnya. "Ya! Kenapa bisa sinyal hilang? Bagaimana dengan Jeny dan Arthur? Bagaimana dengan pencarian? Jawab!!" ucap Flint di telepon.
Seperti tidak puas dengan jawabannya, Flint kembali membanting gagang telepon untuk yang kedua kalinya. "Sial!" teriak Flint.
"Aku rasa kita harus mengeluarkannya sekarang." kata Calvin.
"Jangan sekarang. Dia saat ini seperti sedang memancingku."
"Mengeluarkan apa?" cetus Julie yang sedari tadi diam.