
"Tenang sayang. Aku pastikan kamu tidak akan memperlakukan dia sebagai wanita yang kamu cintai dalam waktu yang lama." kata Julie.
"Tapi jangan sampai kamu cinta beneran sama dia. Hahahahahh.." sambung Julie.
"Kamu gila? Aku benar-benar menyerahkan hidupku padamu tahu? Ingat, jangan lama-lama, aku bisa gila." ucap Flint.
"Hahahahah.." Julie tertawa terbahak-bahak.
"Ngomong-ngomong, adiknya Luke belum jadi yah? Apa kamu sudah menunjukkan gejala?" tanya Flint.
"Belum." jawab Julie.
"Apa bulan ini kamu sudah menstruasi?" tanya Flint.
"Belum. Masih ada beberapa hari lagi untuk menstruasi." jawab Julie.
"Hmm.. kabarin aku kalau sudah ada gejalanya." kata Flint.
Bagaimana mungkin kamu berharap aku hamil sedangkan masalah kita di depan mata? batin Julie.
——————————————————
Keesokan harinya,
"Di mana kalian? Kesha sudah ada di depan pintu ketika aku sampai." ucap Calvin di telepon.
"Mau apa lagi dia?! Aku dan Julie lagi di jalan menuju kantor." jawab Flint.
"Baiklah. Cepat datang!!!" ucap Calvin.
Flint menutup teleponnya.
"Kesha berdiri lagi di depan pintu." kata Flint kepada Julie.
"Siapkan dirimu. Peranmu akan dimulai." balas Julie.
Flint menghela napas panjang.
Sesampainya di kantor,
"Mau apa lagi kamu?" ucap Flint dengan nada tinggi.
"Sssttt... tentu kita akan membahas tentang kesepakatan kemarin.." kata Julie.
"Ayo masuk." ucap Julie lalu masuk ke dalam.
Julie berjalan dengan 'tak-tok-tak-tok' yang berasal dari heels-nya, lalu meletakkan tasnya di atas meja, melepaskan blazer-nya dan menggantungkan di tiang khusus, lalu menggantungkan blazer milik Flint juga.
Kesha hanya mampu berdiri melihat apa yang Julie lakukan. Bisakah aku seperti Julie? batin Kesha.
Tentu saja bisa, hanya berjalan dengan kepercayaan diri, meletakkan tas mewahnya, melepas blazernya dan blazer Flint. Gampang.. batin Kesha.
"Jadi, akhirnya suamiku setuju dengan kesepakatan itu." ucap Julie saat sudah dudul dengan kaki yang dinaikkan satu.
"Apa kita perlu membuat hitam di atas putih?" sambung Julie.
"Buat. Kita belum tentu bisa mempercayai wanita busuk ini." ucap Flint.
"Baiklah." Julie memulai mengetik di komputernya.
"Jika ada pihak yang melanggar kesepakatan maka kesepakatan akan batal dan pihak yang melanggar harus menerima persyaratan dari pihak lain. Bagaimana? Setuju?" kata Julie.
"Setuju." jawab Flint.
"Setuju." jawab Kesha.
"OK. Akan ku-print." kata Julie.
"Ini dia. Tanda tangan lah." ucap Julie lalu memberikan sebuah kertas kepada Kesha.
Kesha menandatanganinya. Lalu mengembalikan kertas itu kepada Julie. "Kalian tanda tanganlah."
Julie dan Flint saling bertatap-tatapan. "Kita biasa tidak memberikan tanda tangan. Kita memberikan cap." kata Julie.
Lalu Julie menempelkan capnya di atas kertas itu dan menempelkan cap milik Flint.
"Kalau kamu ingin aku tanda tangan, aku bisa memberikannya khusus untukmu." kata Julie.
Tanpa jawaban dari Kesha, Julie langsung memberikan tanda tangannya di kertas itu. Kesha memperhatikan gerak-gerik tangan Julie saat menandatangani kertas. Keren sekali gayanya.. batin Kesha.
"Nih." ucap Julie.
"Apa lagi?! Tidak tahu diri sekali ya kamu? Dikasih hati minta jantung." ucap Flint.
"Apa? Katakanlah." tanya Julie.
"Berikan aku dan anakku tempat tinggal." jawab Kesha.
"Hah? Kamu pikir kita sumber uangmu apa?" ucap Flint.
"Apartemen Golden Bay, apa kamu masih punya nomor pemiliknya, Flint?" tanya Julie kepada Flint.
"Apa? Kamu mau memberikan sebuah apartemen kelas menengah itu untuk dia? Tidak tidak. Aku tidak mau memberikan itu untuknya." jawab Flint.
"Hanya 1 kamar di lantai 4, Flint. Tidak begitu mahal kan?" tanya Julie.
"Tetap saja. Tidak akan. Jangan harap kamu bisa hidup enak dengan uangku!" ucap Flint.
"Flint.. lalu untuk apa kamu menyetujui kesepakatan itu? Lagi pula 1 kamar di apartemen itu tidak ada apa-apanya bagimu. Hanya 1 kamar, Flint, 1 kamar." kata Julie.
"Julie? Tapi tetap saja, aku tidak rela mengeluarkan uang sekecil apapun itu kalau uang itu untuk dia!" ucap Flint.
"Baiklah. Silahkan kalian pertimbangkan keinginanku. Aku pergi." kata Kesha lalu keluar dari ruangan mereka.
"Kalau kamu tidak mau mengeluarkan uang untuknya, biar aku saja yang mengeluarkan uang untuknya." kata Julie.
"Untuk apa Julie? Untuk apa kamu harus melakukan ini?" tanya Flint.
"Kamu tidak ingat perkataanku kemarin? Ikuti saja permainan Kesha. Berikan saja apa yang Kesha inginkan." jawab Julie.
"Tapi kenapa kita harus mengikuti permainan dia? Memberikan apa yang dia inginkan? Nanti bisa saja dia ketagihan dan terus meminta kepada kita." ucap Flint.
"Kita harus berpura-pura bodoh, Flint. Kita harus mengikuti permainan dia, memberikan yang dia inginkan agar dia mengira kita bodoh." kata Julie.
"Baiklah baiklah. Jangan sampai kita bodoh beneran karena berpura-pura bodoh." ucap Flint.
"Iya tenang saja. Sekarang berikan nomor pemilik apartemen itu. Lagi pula kalau Kesha tinggal di apartemen itu, bukannya kita lebih mudah untuk mengawasi dia?" kata Julie.
"Sebentar aku minta Calvin dulu." Flint segera keluar menemui Calvin untuk meminta nomor pemilik apartemen itu.
"Ini." kata Flint sambil menyerahkan kartu tanda pengenal.
Julie menelepon nomor yang tertera di kartu tersebut.
"...... tapi apa di kamar itu terpasang kamera CCTV?" kata Julie.
"Segala kamera yang terpasang mohon dicabut ya. Biaya pencabutannya akan saya tanggung." kata Julie kemudian.
"Baiklah. Kapan saya bisa melihat tempatnya?" tanya Julie.
"Oh baiklah. Saya akan ke sana setelah jam makan siang nanti." ucap Julie.
"Kenapa kamera CCTV malah dicabut? Katanya ingin mengawasi dia?" tanya Flint setelah Julie selesai bertelepon.
"Pintar sedikit lah. Kalau ada kamera CCTV bukannya ketara sekali kalau kita sedang mengawasi dia?" ucap Julie.
"Tapi bukannya kamu ingin mengawasi dia?" tanya Flint.
"Iya. Pakai alat penyadap saja. Itu sudah cukup untuk mengawasi dia. Kita akan ke sana setelah makan siang nanti." jawab Julie.
"Untuk apa lagi?" tanya Flint.
"Untuk memasang alat penyadapnya lah." jawab Julie.
"Oh my God. Semuanya benar-benar kuserahkan padamu, Julie." kata Flint.
"Iya, kamu tinggal menjalani peranmu dengan baik saja. Karena kamu sudah terlanjur menolak dari awal, terus saja melakukan penolakan di depan Kesha." ucap Julie.
Setelah makan siang, Flint dan Julie pergi ke apartemen tempat Kesha akan tinggal nanti. Di kamar itu, mereka memasangkan alat penyadap suara. Mulai dari di corong lampu kamar tidur, kamar mandi, belakang kaca, di balik jendela, di kolong ranjang bagian dalam.
"Akhirnya selesai juga." ucap Flint.
"Siapa yang akan mendengarkan ini?" tanya Julie.
"Anak buahku saja. Kita bukan pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan. Mana sempat untuk mendengarkan itu." jawab Flint.
"Baiklah." ucap Julie.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.