
"Jeny. Satu lagi, jangan pernah menemuiku secara langsung lagi." perintah Flint.
"Ya, Sir. Maafkan saya." ucap Jeny.
Apakah tidak ada sedikitpun celah untukku? gumam Jeny.
——————————————————
"Pasti ada maksud tertentu mengapa Jeny langsung datang menemuiku." ucap Flint dengan kesal.
"Mungkin dia tidak tahu bahwa kamu melarang dia untuk langsung datang menemuimu." jawab Julie.
"Bagaimana mungkin tidak tahu? Aku sudah bilang ke Calvin. Sebentar aku panggil Calvin, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Calvin.. barusan Jeny kesini. Kurasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." ucap Flint.
"Barusan? Barusan saja? Aku ke toilet dan tidak melihat dia ke sini, Flint." kata Calvin.
"Ehh??"
"Sungguh, Flint."
"Ya sudah. Sekarang kamu peringati Jeny untuk tidak menginjakkan kakinya di ruangan ini lagi." kata Flint.
"Ok, Flint." jawab Calvin. Jeny ke ruangan Flint? Disaat Flint sedang bersama Julie? Berani sekali.. Bukankah sudah aku kasih tahu dia bahwa dia tidak boleh bertemu langsung dengan Flint? Tapi barusan dia baru saja melakukannya. Hmm.. ada yang tidak beres. Aku harus memeriksanya. Bukannya membantuku, orang itu malah menambah pekerjaanku saja. gumam Calvin.
"Jeny, kata Flint, kamu tadi ke ruangan Flint, ada apa?" tanya Calvin dengan penuh curiga.
"Aku hanya mengantarkan jadwal Sir hari ini."
"Tidak bisa berikan padaku?"
"Tadi Sir Calvin sedang di toilet."
"Hei, aku di toilet tidak sampai 5 menit. Kenapa tidak menunggu?"
"Maaf, Sir."
"Dan lagi, kamu datang disaat Julie sedang di ruangan Flint? Apa yang ada di pikiranmu itu?"
"Maaf, Sir."
"???"
"Eh tidak. Saat kamu masuk ke perusahaan ini. Waktu untuk menjalankan niatmu itu tersisa kurang dari 3 bulan lagi, Jeny. Coba saja lakukan itu kalau kamu mampu." kata Calvin.
Apa aku tidak salah dengar? Mengapa dia berbicara seperti itu seolah olah dia tahu segalanya tentangku? Tentang niatku? Apa dia sudah tahu? Tidak-tidak. Tidak ada yang tahu. Hanya diriku dan Tuhan. ucap Jeny di dalam hatinya.
Di samping itu, ada Julie dan Flint yang masih membahas soal kedatangan Jeny ke ruangan.
"Apa benar perkataanmu waktu itu? Bahwa dia punya niat untuk mendekatiku?" kata Flint.
"Wanita mana yang tidak ingin mendekatimu? Lagipula itu kan masih dugaan. Belum ada bukti yang kuat." jawab Julie.
"Tapi at least, before dia mau mendekati aku, dia harus look herself in the mirror first. She's just secretary. Bahkan, bukan sekretarisku, melainkan Calvin.
See? Dia yang mencari-cari kesempatan."
"Aku tidak pernah mempermasalahkan kamu. Yang aku permasalahkan hanya Jeny."
"Kenapa dia?"
"Waktu itu.. saat kita keluar dan mau turun ke bawah, kita kan melewati Calvin dan Jeny. Dia menatapku dengan tatapan sinis, seolah olah sedang menaruh dendam padaku. Sedangkan dia menatapmu dengan mata yang indah, senyuman yang manis."
"Iyakah? Mengapa baru bilang sekarang?"
"Aku pikir kamu akan bilang aku berlebihan."
"Apa kita pecat saja Jeny?"
"Se cepat ini? Tidak seru ah. Tunggu sampai 3 bulan kedepan saja."
"Hey memangnya kamu tidak takut? Tidak cemburu?"
"Takut tidak. Cemburu iya awalnya. Tapi makin lama, sepertinya kamu juga tidak suka padanya."
"Iya, kan yang aku suka cuma kamu."
Julie mencubit lengan Flint. "Aaaa."
"Ayo makan, aku lapar."