
Flint tampaknya sudah tidak sabar. Pulang lebih awal, makan dengan cepat. Bagaimana kalau dia tahu bahwa ini ternyata berita buruk? gumam Julie.
"Mana gambar yang ingin kamu tunjukkan kepadaku? Ini? Wah ini sih bagus sekali, Julie. Andai saja jas ini beneran ada, pasti sudah kubeli." ucap Flint sambil melihat gambar buatan Julie di meja.
"Flint.. aku divonis kanker rahim." ucap Julie.
Brak. Kertas yang Flint pegang jatuh begitu saja.
"Ap.. apa katamu?" tanya Flint.
"Aku.. divonis kanker rahim." ulang Julie.
"Kanker? Jangan bercanda, Julie. Ini tidak lucu." ucap Flint.
"Aku tidak bercanda, Flint." kata Julie.
"Mana buktinya kalau begitu?" tanya Flint.
Julie segera mengambil map besar di dalam laci. "Ini." kata Julie sambil menyerahkan map besar ke Flint.
"Beneran kah? Kamu beneran sakit kanker sayang?" ucap Flint.
Julie mengangguk. Tubuh Flint melemas. Sudah tidak terlihat lagi di wajahnya yang biasanya energik itu. Melihat wajah Flint yang lesu, air mata Julie mengalir. Sementara Flint membuka map besar itu. Melihat baik baik hasil pemeriksaan, usg bagian perut Julie.
Walaupun Flint bukan dokter, tetapi dia tahu bahwa terdapat lingkaran lingkaran hitam di sana itu merupakan sel kankernya. "Sudah stadium 2." ucap Julie.
"Kapan kamu mulai menyadarinya? Kamu periksa ke rumah sakit juga kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Flint
"Baru 2 hari yang lalu. Waktu itu aku merasa perutku tidak enak. Tapi kamu sedang ada pertemuan yang memakan waktu lama. Jadi aku ke rumah sakit diantar Pak John." jawab Julie.
"Pak John? Dia bilang kamu tidak ke mana mana. Berani beraninya dia berbohong padaku!" ucap Flint sambil berjalan ingin keluar dari kamar.
Namun Julie mencegah Flint. "Jangan salahkan Pak John. Salahkan aku. Aku yang memintanya untuk merahasiakan ke mana aku pergi." ucap Julie.
"Aku juga tidak ingin kanker ini Flint. Kanker rahim, tidak bisa memberikanmu seorang anak.. Siapa yang mau, Flint." sambung Julie dengan menangis tersedu sedu.
Melihat kondisi istrinya itu, Flint segera membawa Julie ke dalam dekapannya. "Aku akan mengumpulkan dokter yang hebat untuk menyembuhkanmu. Tenang saja, kamu pasti sembuh, Julie. Kamu pasti sembuh." Flint menghapus air mata Julie.
"Aku tidak bisa memberikanmu seorang anak.." ucap Julie.
"Sstt.. jangan berbicara seperti itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu." kata Flint.
"Sudah. Lebih baik sekarang kamu jangan memikirkan banyak hal. Aku akan mencari dokter hebat untukmu. Tenang saja." sambung Flint.
"Apa kamu akan kembali ke bekerja?" tanya Julie.
"Tidak. Aku akan menemanimu di sini." ucap Flint.
"Tapi aku tidak merasa sakit. Aku tidak merasa apa apa sekarang." kata Julie.
"Tenanglah. Jangan melakukan hal berat dulu." ucap Flint.
"Flint.. bagaimana cara memberitahu mama papa?" tanya Julie.
"Belum ada yang tahu selain aku?" tanya Flint
"Belum." jawab Julie.
"Kamu seharusnya memberi tahuku lebih awal. Sudah tidak usah kamu pikirkan, biarkan aku yang memikirkan itu." ucap Flint.
Sekarang Flint sudah mengetahui semuanya. Walaupun dia tidak bicara secara langsung bahwa dia kecewa, aku tahu betul terdapat kesedihan yang luar biasa di hati Flint. Aku belum bisa memberikan seorang anak untuknya, tidak tahu juga nanti apakah bisa. Yang jelas, aku bersyukur sekarang bahwa suamiku itu adalah Flint. Dia memberikanku kekuatan lebih untuk menerima kenyataan ini.
Bersambung...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.