When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Edgar dan Kesha



Lalu para desainer bubar keluar dari ruangan. "Kesha, masih ingat denganku? Dan dia?" ucap Flint sambil menunjuk Edgar yang berada di sampingnya.


Kesha tersenyum. "Tentu saja, aku masih ingat." jawab Kesha.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini. Bukannya kamu masih di Paris? Sulit sekali untuk menghubungimu." tanya Flint.


"Yang pergi, pasti akan pulang. Begitu juga denganku." jawab Kesha.


"Begitukah? Lalu kamu tidak ada rencana untuk kembali lagi ke Paris?" tanya Flint.


"Tidak ada. Untuk apa balik ke Paris kalau pekerjaan di sini sudah menjanjikan?" kata Kesha.


"Hahahah. Bagaimana dengan dia? Apa kalian akan kembali bersama?" tanya Flint sambil menunjuk Edgar.


"Ahahahahah bisa saja selama dia masih sendiri." jawab Kesha.


"Hahaahahah segampang itu?" tanya Flint.


"Iya. Se simple itu. Kalau begitu aku pergi dulu." Kesha melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


Edgar kembali duduk di kursi.


"Tidak usah didengarkan. Dia tidak berpikir sebelum berbicara." ucap Flint.


"Aku masih sendiri. Sejak dia ke Paris, aku masih sendiri sampai sekarang." kata Edgar.


"Hey lalu kalau begitu, kamu masih ingin kembali bersama dia?" tanya Flint.


"Apa salahnya?" balas Edgar.


"Apa kamu pikir dia masih mencintaimu seperti 5 tahun yang lalu? Bahkan 5 tahun yang lalu dia sudah berciuman dengan pria lain." ucap Flint.


"Aku tidak peduli lagi lah." jawab Edgar.


"Lebih dari 7 miliar jumlah wanita di dunia, Ed." balas Flint.


"Iya aku tahu. Tapi perihal jodoh, kita tidak tahu." kata Edgar.


"Belum tentu jodohmu itu Kesha." balas Flint.


"Siapapun jodohku, aku pasti mencintainya dengan sepenuh hati. Termasuk Kesha." jawab Edgar.


"Halah. Sudahlah, aku pergi ke rumah sakit." ucap Flint.


"Hati-hati." kata Edgar.


Flint meninggalkan Edgar sendirian di ruangan. Belum jauh Flint melangkah pergi, dia kembali lagi. Dia meletakkan selembar kertas tepat di meja hadapan Ed. Kertas itu adalah CV Kesha.


"Ke.. kenapa kamu memberikan ini?" tanya Edgar.


"Aku pikir kamu akan butuh ini. Ada nomor dan riwayat pekerjaannya di sana. Tidak usah repot-repot mencari lewat sumber lain." jawab Flint.


"Thanks, Flint. Berapa harga untuk ini?" tanya Ed.


"Buatkan makanan enak untukku setelah Julie pulang dari rumah sakit." jawab Flint.


"OK. Kabari saja kapan waktunya." balas Ed.


"Aku pergi." pamit Flint.


"Aku juga pergi." Edgar dan Flint berjalan bersama menuju parkiran.


"Ke mana tujuanmu setelah ini?" tanya Flint.


"Hotel." jawab Ed.


"Hotel? Dengan siapa?" tanya Flint.


"Apa maksudmu? Aku ke hotel karena ada pekerjaan di sana. Katanya orang penting akan makan di sana." jawab Ed.


"Ohhh kirain untuk maksud lain. Seperti tidur misalnya." balas Flint.


"Yang benar saja. Oh ya, aku hampir lupa mengatakan ini. Selamat sudah menjadi ayah." ucap Ed.


"Thanks, Ed. Semoga cepat menyusul." balas Flint.


Mereka telah sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Mereka melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


"Ke mana tujuan kita, bos?" tanya Calvin.


"Ke rumah sakit lah. Ke mana lagi." jawab Flint.


"Kirain ingin ke suatu tempat, membelikan sesuatu untuk istri tercinta." ucap Calvin.


"Oh ya, tidak mungkin kan aku kembali dengan tangan kosong? Apa yang harus aku beli ya?" kata Flint.


"Oh iya kita ke toko kue saja." sambung Flint.


"OK."


Calvin melajukan mobil menuju ke toko kue. Di toko kue, Flint membeli kue brownis kesukaan Julie karena setiap Julie memakan sesuatu yang manis-manis, mood Julie semakin menjadi bagus. Semoga mood Julie nanti bagus karena brownis ini biar nanti malam dia mau. Hahhahahah.. batin Flint.


Setelah selesai membuat kue, Flint segera kembali ke rumah sakit.


"Sudah sampai. Kalau butuh sesuatu, kabari saja aku." ucap Calvin.


"Yea tenang saja aku pasti mengusikmu hari ini." balas Flint.


"Dasar." pekik Calvin.


Flint pun segera ke kamar menemui Julie.


"Tidak, kamu hanya bilang jangan banyak menggunakan tangan dan aku tidak banyak melakukannya hanya memberi susu kepada Luke." balas Julie.


"Tetap saja, memberi susu kepada Luke itu melelahkan. Tangan bisa pegal memegang botol susunya. Dia nyedotnya sedikit demi sedikit." ucap Flint.


"Kan masih unyu mulutnya. Tidak bisa menampung banyak-banyak. Ya Luke ya?" kata Julie.


"Ini aku beliin kue brownis. Dimakan gih." ucap Flint.


"Hmm nyogok ya?" tanya Julie.


"Hmm ketauan deh. Pintar sekali sih istriku." ucap Flint sambil memainkan dagu Julie.


"Di rumah aja. Aku malu kalo ketauan." kata Julie.


"Tangan kamu gimana? Masih suka mati rasa tidak?" tanya Flint.


"Yang tadi terakhir. Belum ada lagi." jawab Julie.


"Ya sudah. Eh tapi jangan bohong ya." kata Flint.


"Buat apa aku bohong?" balas Julie.


"Takutnya kamu bohong biar tidak pulang-pulang dari rumah sakit." kata Flint.


"Jadi kamu tidak percaya sama aku?" balas Julie sambil memperlihatkan pisau plastik.


"Eh.. dikasih pisau? Eh... turunin dong.. serem tau.." ucap Flint.


"Sejak kapan pisau plastik menyeramkan bagimu?" tanya Julie.


"Seram kalo kamu yang pegang." jawab Flint.


Julie menarik napas panjang pertanda "Sabar.. Sabar..."


"Umm.. enak sekali... sering-sering dong beli ini." ucap Julie.


"Lokasi tokonya tidak jauh dari gedung perusahaan Young Scarlette." kata Flint yang sambil berjalan ke sofa.


Flint merentangkan tubuhnya di sofa. "Oh ya? Bakal sering beli dong!" ucap Julie.


"Uummm.. enak sekali!!"


"Mau dong.. aaakk" kata Flint sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


Julie pun memotong dan berjalan membawa potongan brownisnya ke arah Flint.


"Nihh."


"Makannya di sofa saja." kata Flint.


Julie pun kembali mengambil 1 kotak brownis dan memindahkannya ke sofa. Memang benar, kalau Julie makan yang manis-manis, mood-nya menjadi bagus. Dia rela mondar-mandir tanpa protes.


"Ngomong-ngomong, menurutmu kalau ada orang yang pergi neninggalkan kita tapi sebelum pergi kita melihat dia berciuman dengan orang lain, lalu susah dihubungi seolah-olah sudah memutuskan kontak dengan kita, trus kembali lagi dan bilang bisa kembali bersama asalkan kita masih jomblo, bagaimana menurutmu?" tanya Flint.


"Aku gaplok wajahnya saat itu juga. Dikira hati kita terbuat dari plastik yang susah untuk dihancurkan apa?" jawab Julie.


"Ya kan? Benar kan? Seharusnya kita marah kan? Ya kan?" kata Flint.


"Kenapa? Mantanmu bilang seperti itu?" tanya Julie.


"Gosh. Mana ada. Sudah kubilang aku tidak punya mantan. Kamu cinta pertama dan terakhirku." jawab Flint.


"Kamu lihat aku sedang pegang pisau." ucap Julie sambil mengangkat pisaunya.


"Ahah .. ah iyaa." Flint menurunkan pisaunya dengan penuh kewaspadaan.


"Jangan membuatku enek, brownis ini sudah manis, kamu tidak perlu mengeluarkan kata-kata manis lagi." kata Julie.


"Iyaaa tapi itu kenyataan. Manis ya kenyataannya? Tapi beneran bukan mantan aku. Mantannya Edgar, kamu ingat?" kata Flint.


"Ohh, Kesha?" tanya Julie.


"Iya. Yang mana lagi. Dia menjadi desainer di Young Scarlette nanti." jawab Flint.


"Loh bukannya dia jadi model?" tanya Julie.


"Tidak tahu. Tidak tahu juga. Sama pekerjaan saja berubah-ubah apalagi dengan pasangan." jawab Flint.


"Tadi dia datang ke pertemuan itu?" tanya Julie.


"Iya. Kamu tahu? Pas aku bilang ke Edgar kalau Kesha datang, Edgar langsung mengajukan diri ingin ikut ke pertemuan. Lalu kamu tahu? Setelah pertemuan berakhir, kita sempat bertukar kabar sebentar. Aku iseng dong nanya ke Kesha 'apa kamu akan kembali bersama Edgar?' dan kamu tahu dia jawab apa? dia jawab 'boleh saja kalau Edgar masih sendiri'. Gosh! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu." cerita Flint.


"Enak saja dia bilang seperti itu. Memangnya Edgar segampang itu apa? Kalau aku menjadi Edgar, aku sudah mentempeleng wajahnya. Katanya dengan mentempeleng wajah, seseorang akan sadar, kalau tidak sadar, dia gila berarti." balas Julie.


"Tapi kami sebagai kaum laki-laki, mana bisa melakukan itu. Kami akan dicap sebagai laki-laki b*rengsek, dilaporkan ke polisi." ucap Flint.


"Oh ya, lalu Edgar jawab apa?" tanya Julie.


"Edgar diam saja. Tapi setelah Kesha pergi, aku tanya, dia bilang 'apa salahnya?' " jawab Flint.


"Oh my God. Sadarkanlah akal dan hati Edgar. Tapi memang tidak ada salahnya sih, melupakan masa lalu dan mencoba kembali bersama." kata Julie.


"Apa kamu pikir Kesha itu masih mencintai Edgar?" tanya Flint.


Bersambung ...


Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.