
"Kecuali kalau kamu mau kita buat anak sekarang." bisik Flint tepat di telinga Julie. Perkataan Flint berhasil membuat bulu kuduk Julie berdiri tegap alias merinding.
Julie segera mencubit perut Flint dan melangkahkan kaki dengan cepat untuk menghindar dari Flint.
"Hey mau kemana kamu."
"Ayo kita buat anak."
"Mau buat anak di mana? Di rumahmu? Rumahku? Atau di hotel?"
"Jangan cepat cepat jalannya dong sayang, nanti kamu jatuh, terluka dan tidak bisa buat anak."
"Tunggu aku sayang."
Begitulah gurauan Flint kepada Julie dan tidak satupun ditanggapi oleh Julie. Dia tetap fokus pada langkah kakinya.
"Mari kuantar kamu pulang." ucap Flint.
"Tidak usah, kamu kerja saja."
"Menjagamu juga termasuk pekerjaanku."
"Woah.. Kamu tidak sadar bahwa kata katamu juga bisa membunuhku? Kalau aku mati duluan, dengan siapa kamu akan membuat penerus perusahaanmu?"
"Bukankah katanya populasi wanita lebih banyak daripada pria?"
"Jadi kamu akan mencari wanita lain? Woah.. woah... woahh.. serendah inikah tingkat kesetiaanmu?"
"Jangan bicara tentang kesetiaan. Tidak ingat beberapa waktu lalu aku diputusin seseorang?"
"Iya. iya. iya. Carilah wanita sebanyak mungkin setelah aku mati."
"Baiklah."
"Baiklah? Kamu! Benar benar! Ahh, sungguh."
"Walaupun nanti wanitaku banyak. Tetap kamu yang boleh singgah di sini." Flint menunjuk dadanya.
"Di sini?" Julie memegang dada Flint.
"Iya."
Plakk. Di taboklah dada bidang milik Flint itu.
"Arrgg." Flint meringis.
—————————————————————————
Candaan mereka berakhir saat Flint mengantar Julie pulang ke rumahnya.
"Bye. Hati hati di jalan. Jangan ngebut." ucap Julie.
"Byee." Flint melambaikan tangan.
Selang beberapa puluh menit setelahnya, Flint mengirimi Julie chat seperti biasa.
Flint.
Pacarku, sedang apa?
Julie.
Sedang mempersiapkan presentasi besok.
Flint.
Mau makan malam bersama diluar?
Sudah lama tidak makan bersamamu.
Julie.
Flint.
Iya. 20 menit lagi aku sampai dirumahmu.
Julie.
Ok. Hati hati di jalan.
—————————————————————————
"Sudah lama sekali tidak makan bersamamu." ucap Flint.
"Iya. Saat kamu kembali lebih dulu, aku makan sendiri di sana."
"Sebelum ada kamu juga aku makan sendiri."
"Bagaimana persiapan presentasi besok? Sudah sampai mana?"
"10% lagi kira kira. Siapa kah yang akan menjadi juri besok saat aku presentasi? Apa kamu iya?"
"Tidak pernah. Tapi besok iya."
"Karena aku?"
"Bukan."
"ishh. Lalu? Karena apa?"
"Karena aku ingin."
"Bos mah bebas."
"Walaupun kamu gagal besok, kamu tetap masih bisa bekerja di perusahaanku."
"Lalu untuk apa aku tes presentasi?"
"Untuk menentukan kehebatanmu dalam public speaking. Kalau kamu berhasil, kamu akan diberi pekerjaan asisten atau manager di keuangan perusahaan. Tapi kalau kamu gagal, kamu mungkin hanya karyawan biasa."
"Oooo. Menurutmu, apa aku akan berhasil?"
"Pasti berhasil. Saat kuliah kan kita sudah dilatih berbicara. Tapi setinggi apa jabatanmu nanti, aku pengennya kamu jadi sekretaris aku. Biar dekat terus sama aku."
"Aku tidak mau."
"Tidak mau dekat denganku?"
"Iya."
"Yahh, kenapa?"
"Aku tidak tertarik untuk jadi sekretarismu."
"Coba saja juga belum. Dulu kamu juga tidak tertarik kan dengan ekonomi?"
"Ada banyak cara agar kita dekat tanpa harus menjadikanku sekretaris."
"Apa?"
"Tempatkan meja kerjaku di dekat sekretarismu."
"Benar juga."
"Eh mana bisa. Kalau begitu yang dekat dengan kamu bukan aku, tapi Calvin."
"Yasudah tidak ada cara lain."
"Tenang saja, aku punya 1001 cara untuk membuat kita dekat." tegas Flint.
Kira kira, apa rencana Flint?