When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Kepulangan



Setelah 6 bulan lamanya, suasana kini sudah berubah. Gio dan istrinya kini tidak hidup mewah seperti dulu. Mereka menjual rumahnya dan tinggal dirumah baru. Rumah yang jauh lebih kecil namun masih tergolong mewah. Beruntungnya, Julie masuk kuliah dengan beasiswa penuh sehingga Gio dan istrinya tidak perlu memikirkan uang kuliah Julie. Apalagi di Harvard University, mahal pastinya.


Sekarang, Flint juga sudah bukan sebagai mahasiswa lagi. Dia langsung terjun ke dunia perusahaan ayahnya dengan jabatan Presiden walaupun baru selang 2 hari atas kelulusannya. Ini adalah mimpi Flint sendiri. Dia sangat menginginkan dan sudah mengincarnya dari dulu untuk bekerja di perusahaan ayahnya. Selama kurang lebih 6 bulan Flint memasuki perusahaan, dia sudah mampu memegang saham terbesar di beberapa perusahaan ternama lainnya. Bahkan, kini perusahaannya menjadi perusahaan yang ditakutkan oleh para pemilik perusahaan.


Flint mengetahui akan kebangkrutan yang dialami oleh Gio. Flint sendiri sebenarnya agak khawatir tentang Julie yang nantinya tahu. Karena cepat atau lambat, Julie pasti tahu bukan? Namun sebagai pacar, Flint punya ide sendiri untuk mengatasi Julie nantinya. Flint sendiri masih merahasiakan hal ini dari Julie. Bukan keinginannya, namun keinginan orang tua Julie.


Karena 6 bulan sudsh berlalu, Julie pun juga sudah selesai membuat skripsi dan wisuda. Julie kembali ke Indonesie dan dijemput oleh Flint di bandara.


"Orang tuamu sudah pindah rumah. Kamu tahu?" tanya Flint di dalam mobil bersama Julie.


"Tahu. Karena Papa ingin menambah modal untuk perusahaannya kan?"


Tidak salah sih juga sih. Papa Julie memang menjual rumah untuk modal usaha yang baru. Namun tetap saja, dia masih belum jujur ke Julie. gumam Flint.


"Flint." panggil Julie.


"Flinttt." ulang Julie dengan suara yang lebih keras.


"Eh. iya. iya. Aku kurang tahu sih untuk apanya. Aku cuman tahu mereka pindah rumah dan alamatnya dimana." jawab Flint.


"Bagaimana pekerjaanmu di perusahaan? Aku lihat perusahaan ayahmu semakin maju ditanganmu."


"Tidak usah diragukan lagi. Kamu tahu aku ini siapa?"


"Tahu."


"Siapa?"


"Pacarku." jawab Julie.


"Hahaahah itu benar. Semua wanita ingin menjadi pacarku."


"Hanya aku yang bisa."


"Julie."


"Berjanjilah jangan marah kepadaku."


"Hahaha iya lah. Mana mungkin aku marah kepadamu tiba tiba. Kenapa sih?"


"Tidak. Intinya kamu tidak boleh marah kepadaku apapun yang terjadi."


"Aku penasaran. Ada apa sih? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Bukan begitu Julie. Intinya semua akan baik baik saja. Kamu tidak perlu khawatir."


"Apanya yang akan baik baik saja. Aku bingung. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku."


"Sudah sampai dirumahmu. Ini rumah barumu." jawab Flint.


Flint sembari mengeluarkan barang barang bawaan Julie dari bagasi. Sedangkan Julie masih mengamati rumah barunya itu.


"Bagaimana mereka bisa menemukan rumah seperti ini. Cantik." Julie berbicara sendiri.


"Flint apakah kamu yang mencarikan rumah ini?" tanya Julie.


"Ada beberapa rumah yang kucari. Mereka memilih ini. Masuklah." jawab Flint.


Flint menekan tombol bel rumah Julie. Sejujurnya jantung Flint berdegup kencang menantikan detik detik Julie mengetahui semuanya. Dia tidak pernah setakut ini sejak dulu merahasiakannya.


Liza membuka pintu. Melihat kepulangan putri kesayangannya itu, Liza sangat senang. Dia menyambut Julie dan Flint selepas dari bandara.


"Papa dimana, Ma?" tanya Julie.


"Kerja lah sayang, dimana lagi." jawab Liza.


"Suruh Papa pulang sekarang. Kan aku baru pulang masa Papa kerja. Atau aku yang ke perusahaan Papa? Memberikan surprise?" kata Julie.


Brak. Flint dan Liza saling bertatap tatapan.