
"Apa kalian baru saja menurunkan jabatanku?" ucap Kesha dengan lantang sambil memegang kertas yang diduga kertas penurunan jabatannya.
"Apa kamu tidak diajari sopan santun terhadap atasan?" balas Julie.
"Ini tentang kesepakatan aku dan suamimu." ucap Kesha.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak peduli. Aku di sini berjabat sebagai pemimpin, aku berhak menurunkan jabatan siapapun." balas Julie.
"Kamu tidak bertanya kesepakatan apa? Jika suamimu memberikan aku jabatan yang tinggi di sini, aku mendapat gaji lebih, aku harus memuaskan nafsu suamimu." ucap Kesha.
"Hey, jaga bicaramu! Kesepakatan? Memuaskan nafsu? Omong kosong! Terakhir aku melihatmu saja ketika kamu mengemis-ngemis jabatan padaku!" bentak Flint.
"Julie.. kamu mungkin hampir percaya dengan ucapanku kan. Tubuhmu saja bergetar ketika mendengar kesepakatan yang aku jelaskan tadi." ucap Kesha.
"Jangan berkhayal kamu! Kalau yang kamu inginkan adalah uang, mengangkang lah! Bekerja di sini tidak akan membuatmu kaya!" bentak Flint.
Sementara itu Julie masih terdiam.
"Bukannya aku setiap malam sudah mengangkang di hadapanmu?" ucap Kesha.
Plakkk.. Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Kesha. Dan kalian tahu siapa yang menamparnya? Julie.
"Ini tamparan dariku karena sudah mengatakan omong kosong tanpa bukti." ucap Julie.
Plakkk.. Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi sebelah kiri Kesha. Lagi-lagi, Julie yang menamparnya.
"Dan ini tamparan dari suamiku. Dia tidak akan berbuat kasar pada wanita, jadi aku yang melakukannya. Aku tahu tangannya sudah tidak tahan ingin menampar keras wajahmu. Silahkan kamu tuntut aku atas tamparan yang sudah kuberikan. Kekerasan atau penyalahgunaan kekuaasan, aku tidak peduli." ucap Julie.
"Pilihanmu sekarang bekerja di sini sebagai pegawai biasa atau resign. Oh ya, tadi kamu bilang, kamu setiap malam mengangkang untuk suamiku? Dan balasannya hanya mendapat posisi tinggi di sini? Dengan gaji hanya 15 juta perbulannya? Kamu rugi sekali, Kesha. Mengangkang di luar sana per malamnya bisa mendapat 15 juta, per bulan bisa setengah miliar. Lebih baik kamu mengangkang di luar sana daripada dengan suamiku.
Atau.. suamiku tidak puas dengan pelayananmu? Makanya dia hanya memberikan 15 juta? Ups." ucap Julie dengan nada merendahkan.
Julie kembali duduk di kursinya. Dia melanjutkan pekerjaannya tadi sebelum Kesha masuk. "Untuk apa lagi kamu berdiri di sana? Keluarlah. Kamu mengganggu aku bekerja." ucap Julie.
Kesha pun dengan amarah yang terpendam, terpaksa keluar dari ruangan Julie. Dirinya sudah kalah telak. Dua tamparan mendarat sempurna di wajahnya. Hari ini aku boleh kalah. Di kemudian hari, kita lihat saja, Julie. batin Kesha.
Sementara itu, ada Flint yang masih mencerna kejadian barusan, lebih tepatnya mencerna perkataan Julie. Perkataan Julie yang merendahkan Kesha sampai menembus lapisan tanah paling bawah. Bukannya kalau mendengar perkataan Kesha itu harusnya Julie marah padaku? batin Flint.
"Ehem.. Jul.. perkataan Kesha itu sama sekali tidak benar." Flint memberanikan diri mengajak Julie berbicara.
"Aku tahu." ucap Julie tanpa menoleh ke arah Flint. Julie masih asyik dengan kertas di mejanya.
"Kamu boleh tanya Calvin. Aku jarang bekerja di sini. Seandainya ke sini hanya beberapa jam saja. Setelah bekerja aku langsung pulang." kata Flint.
"Aku tahu." Lagi-lagi, Julie menjawab tanpa menoleh ke arah Flint. Hal ini membuat Flint mengira bahwa Julie marah padanya.
"Aku tidak mungkin bercinta dengan wanita lain selain kamu." ucap Flint.
"Aku tahu itu. Kamu tidak perlu lagi memberitahuku. Yang bisa kuucapkan padamu adalah berhati-hatilah." Akhirnya Julie menjawab dengan melihat Flint.
"Kamu percaya kan sama aku? Baguslah kalau kamu percaya. Lebih baik pecat saja Kesha. Aku tidak menyangka mulutnya bisa mengeluarkan kata-kata seperti tadi." ucap Flint.
"Kalau memecatnya sekarang, dia mungkin bisa berbuat lebih dari yang tadi. Lagi pula aku belum tahu tujuan dia apa. Biarkan saja dia tetap bekerja di sini." kata Julie.
"Tapi dengan membiarkan dia tetap bekerja di sini itu juga akan mempermudah dia untuk berbuat lebih dari yang tadi." ucap Flint.
"Aku tahu. Kalau dia bekerja di sini akan lebih mudah untuk menemukan dia saat sesuatu terjadi. Dibandingkan dengan memecatnya sekarang. Lebih enak mana, menggapai musuh dari dekat atau dari jauh?" balas Julie.
"Waahhh, hot mama. Kamu dengar, Luke? Ternyata mamamu lebih cerdas ketika berada di luar rumah." Flint berbicara kepada Luke.
Kruukk.. krruuukk.. Suara gemuruh muncul di ruangan tersebut. "Suara dari mana itu? Dari Luke tidak mungkin. Perutku juga tidak mengeluarkan suara itu. Kamu ya?" ucap Flint.
Julie tersipu malu ketika dirinya kepergok mengeluarkan bunyi dari perutnya itu.
"Lapar rupanya. Menghadapi orang seperti Kesha memang membutuhkan energi. Ayo kita makan siang." ajak Flint.
Flint, Julie dan Luke pulang ke rumah untuk makan siang. "Jangan beritahu mama sama papa dulu soal yang tadi." ucap Julie sebelum memasuki rumah.
"Baiklah." jawab Flint.
"Eh kalian sudah sampai. Ayo duduk makanannya sudah siap." ucap Sara.
Flint dan Julie duduk sedangkan Luke berada di stroller. Mereka semua menyantap makanan yang telah disediakan.
"Mama dengar kamu tidak jadi pakai babysitter, Julie. Kenapa?" tanya Sara.
"Aku tidak mengizinkannya." sahut Flint.
"Kenapa memangnya?" tanya Sara.
"Walaupun teman Bi Nola, rasanya aneh harus membiarkan orang asing merawat Luke." jawab Flint.
"Memakai babysitter itu butuh kepercayaan." balas Sara.
"Sementara ini tidak usah dulu, tunggu Julie hamil anak kedua baru aku akan mempertimbangkan. Lagi pula kita masih bisa merawat Luke saat bekerja. Dia tidak rewel hari ini." ucap Flint.
"Kalian sudah memikirkan anak kedua?" tanya Sara.
"Bahkan kami sudah membuatnya." jawab Flint.
Uhukk.. uhuk.. uhuk... Kerjaan baru Julie : batuk-batuk saat makan.
"Kamu mah kebiasaan kunyah belum halus sudah ditelan." ucap Flint.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja sambil merawat anak, Julie?" tanya Sara.
"Luke tidak rewel sih jadi aku lebih banyak bekerja. Cukup melelahkan, rupanya bos 3 perusahaan ini sering menelantarkan Young Scarlette." jawab Julie.
"Bu-bukan begitu." sahut Flint.
"Kalau begitu Luke dibiarkan saja di rumah sama mama sama papa.. Mama sama papa bisa kok mengurus, Luke. Ya kan pa?" ucap Sara.
"Benar tuh. Hitung-hitung untuk mengobati sakit hati papa karena ditolak mama terus untuk anak ketiga." ucap Flint.
"Bolehkah? Tidak merepotkan kalian kan?" tanya Julie.
"Tidak lah. Mengurus cucu sendiri ini." jawab Sara.
"Baiklah, terima kasih, ma." kata Julie.
"Julie juga pulangnya tidak malam. Dia berjanji padaku untuk pulang sebelum jam 4 sore." ucap Flint.
"Lebih dari jam 4 juga tidak apa-apa. Malah mama senang bisa mengurus bayi lagi." kata Sara.
"Terima kasih, ma. Aku dan Julie akan kembali ke kantor. Aku titip Luke ya, ma, pa." ucap Flint.
"Iya, serahkan saja pada kita. Hati-hati yaa." ucap Sara.
"Tuh kan, Sara. Flint terus merendahkanku karena aku tidak bisa memiliki anak ketiga. Ayolah, Sara.. anak ketiga ya? Plisss..." pinta Key.
"Aku pergi." Audy pergi ke kamar meninggalkan mereka lantaran Key yang merengek minta anak ketiga.
"Tidak." jawab Sara tegas.
Sementara itu, Flint dan Julie kembali ke perusahaan Young Scarlette. "Presdir datang!" ucap salah satu pegawai kepada pegawai yang lainnya. Para pegawai menundukkan badannya ketika Flint dan Julie berjalan melintasi lobi.
"Jangan lupa kamu sudah berjanji untuk pulang sebelum jam 4 sore." kata Flint ketika mereka sedang berjalan.
"Tentu saja aku tidak lupa." balas Julie.
Hah Julie akan pulang jam 4 sore? batin Kesha.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.