
Dan ya, mereka berdebat lagi karena waktu untuk mencari nama. Bagaimana nantinya saat ingin memberi nama untuk si bayi?
"Sudah malam. Tidur yuk." ajak Flint. Flint dan Julie beranjak ke kamar namun sesampainya di kamar, Julie tidak langsung tidur. Tangannya sibuk mengusap layar ponselnya, lebih tepatnya mencari nama yang pas anak pertamanya.
"Flint.. gimana kalo namanya Dimas? Jadi orang orang manggilnya mas.. mas.. hahahaha.." ucap Julie.
Jujur saja, belakangan ini selera Julie menjadi receh. Dia tertawa dengan hal hal kecil atau hal hal yang sebenarnya tidak lucu. Namun mengingat Julie rentan sekali marah, Flint hanya bisa ikut tertawa.
"Hahahahaha..." tawa Flint yang menggelegar namun terlihat sekali kepura-puraannya.
"Namanya Lucas aja. Gimana?" tanya Julie.
"Lucastern Young?" tanya balik Flint.
"Kenapa tidak Lucas Young saja? Kenapa harus ada 'stern' nya?" Julie kembali bertanya.
" 'stern' dan 'Young' sudah sepaket combo." ucap Flint.
"Hadeuh... 'stern' nya menganggu saja." ucap Julie.
Flint hanya mampu membulatkan kedua matanya ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Julie. Dia tidak bisa menjawabnya karena memang dulunya dia merasa 'stern' yang terdapat di namanya itu mengganggu.
"Ya sudah kita sederhanakan saja Lucas menjadi Luke. Lukestern Young." ucap Julie tidak lama kemudian.
"Panggilannya Luke." tambah Flint.
"Tidak mungkin kan kalau panggilannya itu 'stern' ?" ucap Julie dengan nyolot.
Ya ya baiklah. Aku mengalah. Dan akan selalu mengalah. batin Flint.
"Tentu. Dia akan menjadi pemegang Young Building nantinya." ucap Flint.
"Kalau dia tidak mau?" tanya Julie
Flint terdiam. Benar juga. Bagaimana kalau anak aku nanti tidak ingin berkarir di dunia perusahaan? batin Flint.
"Nah loh diem. Aku sih tidak bisa memaksakan kehendak anakku nanti." tambah Julie.
"Bagaimana kalau itu terjadi?" tanya Flint.
"Eh tapi ya, Flint.. banyak kok di drama-drama gitu yang menceritakan tentang perebutan tahta, harta, jabatan.. Tenang saja, kalau bukan anak pertama, pasti ada anak ke sekian yang ingin menjabat." ucap Julie.
Mata Flint melotot tajam. "Bagaimana kalau anak-anak nanti malah memperebutkan Young Building? Secara, Young Building kan lebih maju daripada yang lainnya." ucap Flint.
"Makanya! Jangan bisanya buat anak terus! Buat perusahaan-perusahaanmu sama majunya biar rata, adil!" celoteh Julie.
Flint terdiam. Lagi. Memang di saat saat seperti ini dia harus terdiam. Karena jika ada 1 kata pun keluar dari mulutnya, bisa bisa dia tidur di kolong malam ini.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Waktu berjalan terus hingga Julie tiba di hari persalinannya. Perutnya mengalami kontraksi kuat di saat Flint sedang melakukan perjalanan bisnis.
Kita semua tahu bahwa Flint bukan laki laki yang bisa meninggalkan istrinya apalagi di saat hitungan hari kelahirannya. Namun dokter kandungan mereka memprediksikan persalinan masih sekitar 2 minggu lagi.
Kembali lagi kepada kuasa Allah, sepandai pandainya manusia memprediksi, masih akan kalah dengan kuasa-Nya. Untungnya, Julie tidak sendiri di rumah. Ada mertuanya, supir dan Audy yang sedang libur.
"Julie, jangan jangan kamu sudah ingin melahirkan?" tanya Sara ketika Julie berkontraksi.
Dengan nyaringnya, Sara langsung memanggil nama manusia yang ada di rumah. Sampai semua manusia itu keluar dan segera membawa Julie ke rumah sakit. Tidak lupa, Sara juga menelepon Flint selaku ayah dari bayi yang dikandung Julie. Padahal kala itu, Flint sedang ada meeting dengan kliennya.
Dengan pikiran yang kacau dan tergesa gesa, Flint menjalani meeting dan segera memberi keputusan lalu meeting tersebut. Meeting pun dipersingkat menjadi 30 menit saja dari waktu yang sudah ditentukan yaitu 120 menit.
Tanpa berpikir panjang, Flint pulang dengan jet pribadinya padahal jarak kota ke rumah sakit bisa ditempuh dengan mobil. Itulah Flint. Selama perjalanan, mulutnya hanya mampu berkata "tunggu aku" atau "kenapa lama sekali? bisa lebih cepat lagi tidak?"
Asing sekali bagi Flint untuk mengalami keadaam seperti ini. Senang, gelisah, kecewa, menyesal bercampur menjadi satu. Baru pertama kali dia merasakan perasaan seperti ini. Ini hari kelahiran anak pertamanya, namun dia tidak standby di samping istrinya.
Sementara itu, dalam perjalanan ke rumah sakit, air ketuban Julie pecah di dalam mobil. Tentu ini mengejutkan semua makhluk yang ada di dalam mobil. Tetapi, sesampainya di rumah sakit, Julie dikabarkan sudah pembukaan ke 8 dan bersiap untuk melakukan persalinan.
Orang tua Julie pun turut hadir di saat Julie menjelang persalinan. Hal yang mengganggu pikirannya hanya 1. Keberadaan Flint. Sudah pembukaan ke 8 tetapi Flint belum menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Bagaimana ini? Flint tidak mungkin melewatkan persalinan pertamaku kan?
Tidak henti hentinya Key menelepon Flint dan Calvin. Tetapi tidak satupun dari mereka yang menjawab telepon. Apa jangan jangan mereka masih meeting?
Sampai tiba saatnya, 1 jam kemudian dokter mengumumkan Julie sudah pembukaan ke 10 dan akan segera melakukan persalinan dengan normal. Flint masih belum nampak di rumah sakit. Jujur, Julie sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi tapi dia sangat ingin menahannya agar Flint bisa menyaksikan putra pertamanya lahir ke dunia.
Julie akhirnya hanya bisa berpasrah saat ranjangnya sudah di dorong menuju ruang persalinan. Sebelum memasuki lift, ranjangnya berhenti di antara keluarga yang hadir untuk menyemangatinya. Dalam 5 detik kalau kamu tidak muncul, aku akan marah Flint. batin Julie.
5.. 4.. 3.. 2.. "Tunggu!" teriak seseorang dari jauh sana.
Flint datang. Dengan napasnya yang terengah-engah, Flint menghampiri Julie yang sedikit lagi akan masuk ke dalam lift. "Hey, i'm here. I'm here, Julie. Don't worry. I'm here." ucap Flint sambil mengusap-usap kepala Julie dam sesekali mengecupnya. (Aku di sini. Aku di sini. Jangan takut. Aku di sini.)
Akhirnya Flint hadir di samping Julie, meminjamkan tangannya untuk digenggam erat erat oleh Julie bahkan dicengkeram keras karena Julie melahirkan secara normal.
"Baik. Kita akan memulainya. Tarik napas dalam-dalam ibu.. buang.. tarik napas lagi.. buang.. lalu ibu coba mengejan ya." ucap dokter.
Julie mengejan untuk percobaan pertama.
"Tarik napas lagi.. lalu buang ibu.. mengejan lagi yuk bu.." ucap dokter.
Julie mengejan untuk kedua kalinya.
Nampaknya Julie sudah kehabisan tenaga. Wajahnya sudah penuh keringat hanya dengan 2 kali mengejan. "Kamu pasti bisa sayang.. kamu pasti bisa.." bisik Flint.
Julie mengejan untuk ketiga kalinya sesuai arahan dokter. "Aku sudah tidak kuat lagi, Flint.." eluh Julie dengan napas tersengal-sengal.
"Enggak. Kamu pasti bisa. Aku percaya kamu pasti bisa." ucap Flint. Sebenarnya tangan Flint sudah sakit akibat cengkraman dari Julie namun itu tidak sebanding dengan yang Julie rasakan.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Julie kembali mengejan. Tenaganya benar benar habis, tubuhnya melemas, matanya sudah tidak kuat lagi untuk terbuka. "Eyyy jangan tidur ibu, nih lihat bayinya sudah keluar." ucap suster dibarengi dengan tangisan bayi.
"Oh. my. God." ucap Flint dengan muka tampannya yang sedang melongo. Tangisan bayi membuat Julie kembali sadar, keluarga yang hadir di luar sana pun ikut senang mendengarnya.
"Lihat. Kamu bisa. Anak kita sudah lahir." ucap Flint yang tidak henti hentinya mengecup kening Julie.
"Jam 12 lewat 2 menit, selamat bayinya lahir dengan sehat." ucap dokter.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbar**u**.