When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Pertemuan



"Konstruksi gedung perusahaan Young Scarlette akan selesai minggu depan." ucap Flint.


"Iyakah? Gedung perusahaan? Gedung tempat memasarkan busananya sudah?" tanya Julie.


"Itu 5 hari lagi. Kedua gedung sudah masuk tahap finishing." jawab Flint.


"Waahhh.. cepat sekali ya. Jadi tidak sabar." ucap Julie.


"Maaf bukan maksudku untuk meremehkanmu. Tapi tangan kananmu kan... apa bisa menggambar ?" tanya Flint.


"Kan aku ada stok gambar busana. Yang selama ini aku gambar. Tidak bisakah kita merancang busananya? Banyak pula.." jawab Julie.


"Ah iya ya. Sepertinya aku berpikir terlalu jauh." ucap Flint.


"Calvin bilang desainer kenalan Edgar sudah meminta pertemuan." sambung Flint.


"Atur saja pertemuannya setelah aku pulang dari rumah sakit." kata Julie.


"Secepat itu? Kulit Luke saja masih merah." tanya Flint.


"Ya sudah kamu saja yang pergi. Aku di rumah merawat Luke." jawab Julie.


"Eh jangan ngambek.. aku bukannya melarang kamu.." ucap Flint.


"Tidak. Aku tidak ngambek." kata Julie.


"Tuh kan ngambek. Mukanya manyun gitu." ucap Flint.


"Tidak, Flint. Aku tidak ngambek." kata Julie.


"Ciaelah mama muda ngambek.. malu sama Luke. Iya Luke ya? Mama ngambek Luke. Papa harus bagaimana nih?" Flint mengajak Luke berbicara.


"Aku tidak ngambek Flint beneran." ucap Julie.


"Ya sudah kalau gitu aku pergi sendiri ya?" tanya Flint.


"Sana. Bawa gambarku. Ada di atas meja kamar." jawab Julie.


"Beneran ga sih ini? Kok kamu kayak marah gitu?" tanya Flint.


"Benerrrr." jawab Julie.


"Ya sudah coba buktiin kalau kamu tidak marah." kata Flint.


"Mau buktiin kayak gimana? Orang beneran tidak marah." ucap Julie.


"Cium dulu." ucap Flint sambil menepuk menyodorkan pipinya.


"Gampang." jawab Julie lalu hendak mendaratkan bibirnya ke pipi Flint. Tetapi Flint memalingkan wajahnya dan menciumi bibir manis Julie. Tangan Julie berpegangan pada lengan Flint lalu mencubitnya sekeras mungkin.


"Aaakkkk!!!" pekik Flint. "Sakit.. huhuhuhu..." ucap Flint sambil meniru tangisan bayi.


Alih-alih menenangkan Flint itu, Julie malah berjalan menuju Luke. "Giliran Luke nangis langsung dikasih nete, giliran aku.. dicuekin." oceh Flint.


Tangan Flint mengetik pesan untuk Calvin.


Flint.


Atur pertemuan dengan desainer sekarang.


"Aku sekarang lagi ngambek. Jangan ajak aku ngomong." ucap Julie tanpa melihat Flint.


"Ah masa sih lagi ngambek?" tanya Flint sambil mendekati Julie.


Flint memeluk-meluk Julie dari belakang. Sedangkan Julie meronta-ronta, bergerak sekuat tenaga untuk melepaskan diri.


"Aah, **** Mijul!" pekik Flint.


"Ke.. kenapa?" tanya Julie.


"Bangun." jawab Flint.


Julie mendorong Flint agar menjauh dari dirinya. "Gawat banget ini..." kata Flint.


"Pergi sana ke kamar mandi! Tuntasin sendiri!" ucap Julie. Flint mendekat sementara itu Julie semakin mundur. Tatapan Flint menyeramkan, bagaikan ingin menerkam, memerkosa Julie, dan sebagainya. "Flint.."


"Jangan macem-macem kamu.."


"Pergi ga!"


"Flint!" ucap Julie.


"Ssstt.. jangan teriak-teriak. Nanti Luke bangun.." ucap Flint.


"Flint.. aku tidak mau main-main." ucap Julie ketika dia terjatuh ke sofa.


"Baiklah kita langsung saja." ucap Flint lalu ikut menjatuhkan diri ke sofa.


"Flint!!!!"


"Pakai yang belakang." ucap Flint lalu membalik tubuh Julie.


"Tetap saja! Tidak etis sekali kamu masa melakukannya di rumah sakit!" ucap Julie.


Sedangkan Flint? Dia fokus membuka celana yang Julie pakai.


"Flint!"


"Kan rumah sakitnya juga punya aku." jawab Flint.


Celana Julie berhasil diturunkan oleh Flint. "****! I miss this ***!" ucap Flint. (Aku kangen bok*ng ini!)


Tangan Flint mulai menarik celana dalam yang dipakai Julie.


Drrrttt.. drrttt.. drrrttt.. Calvin is calling.


"Yes!." pekik Julie.


Flint memakaikan kembali celana Julie yang sudah berhasil dilepasnya tadi dan beranjak dari sofa.


"Siapa?" tanya Julie.


"Calvin." jawab Flint.


"Oh ya? Naikkin gaji Calvin. Aku berterima kasih padanya." ucap Julie.


"Huh." Flint menarik napas panjang dan menjawab panggilan Calvin.


"Ada apa?" tanya Flint.


"Ayo katanya mau ada pertemuan dengan desainer." kata Calvin.


"Sekarang???" tanya Flint.


"Iya, aku sudah di parkiran rumah sakit. Perlukah aku ke sana (ke kamar Julie)?" jawab Calvin.


"Kenapa sekarang? Mendadak sekali?" tanya Flint.


"Bukannya kamu yang minta sekarang? Aku masih ingat pesanmu yang menyuruhku mengatur pertemuan dengan desainer sekarang." jawab Calvin.


"Hey maksudku itu aku memintamu untuk mengaturnya sekarang tapi bukan pertemuannya sekarang." balas Flint.


"Oh ya? Bagaimana ini? Desainernya juga sudah setuju kalau sekarang.. Masa kita batalkan.." ucap Calvin.


"Baiklah-baiklah. Aku ke sana (parkiran) sekarang." ucap Flint.


"OK."


Flint menutup teleponnya.


"Ada apa?" tanya Julie dengan senyum lebar terpampang jelas di wajahnya.


"Aku akan menghadiri pertemuan dengan desainer." ucap Flint dengan wajah yang cemberut.


"Tunggu apalagi? Pergilah! Jangan lupa bawa gambarku di atas meja kamar." ucap Julie.


"Kamu senang sekali ya kalau aku pergi?" tanya Flint.


"Bukan begitu. Cup. Jangan lama-lama." ucap Julie. Julie mencium pipi Flint.


"Aku akan cepat kembali untuk melanjutkan yang tadi." ucap Flint. "Yang tertunda karena Calvin." sambung Flint dengan bisikan.


Bulu kuduk Julie berdiri mendengar bisikan Flint. "Ada apa-apa panggil suster saja. Jangan banyak menggunakan tangan kananmu." ucap Flint.


Julie mengangguk. "Aku pergi." ucap Flint kemudian mencium kening Julie.


Flint beralih ke box bayi. "Papa pergi ya Luke. Jagain mama." katanya lalu mengecup kening Luke.


"Bye." Flint melambaikan tangan dan keluar dari pintu.


Pergi atau tidak pergi, Flint akan tetap melakukannya. batin Julie.


Ah tidak ada salahnya melakukan dengan suami sendiri. Eh tapi kan ini terlalu cepat. Flint benci melakukannya jika memakai alat pengaman tetapi kalau tidak pakai alat pengaman, bisa-bisa Luke memiliki adik sebelum berusia 1 tahun! Tapi mana bisa aku melarang Flint, aku kan istrinya. Kalau tidak denganku, dengan siapa lagi dia harus menuntaskan hasratnya. Tidak, tetapi tidak boleh, kulit Luke saja masih merah. Julie berdebat dengan pikirannya sendiri.


Sementata itu, ada Flint yang tidak berhenti mengoceh kepada Calvin. "Yang benar saja, masa sekarang. Bahkan kamu menjemputku di rumah sakit. Bukannya aku menyuruhmu cuti hari ini? Kenapa kita harus bekerja hari ini? Huh aku ini sekarang bukan seorang pemimpin 3 perusahaan saja, aku ini sekarang sudah menjadi ayah! Aku memberikan susunya, memegang botolnya sampai tanganku pegal, memandikannya sampai bajuku basah semua, menggantikan popoknya, mencium bau kentutnya! Dan sekarang aku akan menghadiri pertemuan? Gosh." oceh Flint.


"Cerewet." ucap Calvin pelan.


"Kamu tahu? Bahkan Julie menyuruh aku menaikkan gajimu karena kamu meneleponku dan.." ucap Flint.


"Dan, dan apa?" tanya Calvin.


"Tidak." jawab Flint tegas.


"Pasti kamu ingin melakukan sesuatu lalu Julie melarangmu tetapi kamu tetap ingin melakukannya dan batal karena aku meneleponmu. Iya kan?" tanya Calvin.


Flint terdiam mengabaikan Calvin. "Iya kan? Iya kan? Apa tuh?" tanya Calvin lagi.


"Tidak. Berikan list desainernya!" ucap Flint mengalihkan.


"Cie mengalihkan... ini.." Calvin memberikan dokumen.


"What.. ada 98 desainer? Ini semua dari Edgar?" tanya Flint.


"Tidak. Edgar memberikan beberapa dan itu berasal dari luar negeri, lalu aku mencari desainer ternama di negara ini. Tidak banyak yang Edgar kasih, mungkin sekitar 12 orang?" ucap Calvin.


"98 desainer ini akan bekerja di Young Scarlette?" tanya Flint.


"Kamu bisa menyeleksinya kalau tidak mau sebanyak itu." jawab Calvin.


Flint pun melihat CV para desainer yang akan bekerja di Young Scarlette. "Rata-rata masih muda ya. Masih berumur 25an. Paling tua kulihat berumur 38 tahun." ucap Flint.


"Iya, ada yang berjenis kelamin laki-laki 6 orang." jawab Calvin.


Tanpa menjawab Calvin, Flint melanjutkan melihat CV para desainer, membalik kertas CV satu persatu.


"Oh ya mampir ke rumah dulu ya. Aku ingin mengambil gambar-gambar Julie." ucap Flint.


"Baik." jawab Calvin.


"What.. Kesha Guererro?" ucap Flint.


"Kenapa? Kamu mengenalnya?" tanya Calvin.


Bersambung ...


Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.