When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Cemburu



Tok tok tok. "Sudah selesai?" tanya Arthur


"Iya baru saja."


"Tumben."


"Tumben kenapa?"


"Wajahmu terlihat lelah. Tadi saat terakhir kali aku kesini, wajahmu masih cerah."


"Hahaha kamu pasti tahu sebabnya karena apa."


"Pulang bersama pacarmu?"


"Iya. Oh ya, lampu di tempatmu sudah dimatikan?"


"Belum, sebentar aku matikan dulu."


Ruangan menjadi gelap. Apalagi disaat Julie juga sudah mematikan lampu di ruangannya. Selesai sudah pekerjaan mereka hari ini, sekarang mereka akan pulang kerumah untuk beristirahat.


"Kamu pulang dengan apa, Arthur?"


"Bis. Lalu berhenti di stasiun MRT, lalu naik MRT dan setelah sampai, naik bis lagi untuk kerumahku."


"Ohh.. memangnya rumahmu dimana?"


"Di Los Vegie."


"Wah itu mah jauh sekali. Mungkin kamu harus mencari kos atau kontrakan di sekitar sini, agar hemat waktu."


"Iya rencananya begitu. Tapi tunggu beberapa bulan kedepan."


"Baiklah, pacarku sudah menunggu. Aku duluan." pamit Julie.


Julie pun masuk ke mobil Flint dengan muka asem. "Tinggal kalian berdua?" tanya Flint.


"Iya."


"Bagaimana aku bisa tenang kalau seperti ini."


"Jangan berlebihan. Tidak ada yang kami lakukan selain bekerja."


"Bekerja bersama juga sudah cukup membuatku cemburu. Lagipula, bukannya kamu lebih berlebihan? Aku lembur bersama 2 sekretaris, tidak hanya Jeny saja, ada Calvin juga."


"Berlebihan apanya? Aku tidak menuntutmu untuk mengantarku pulang."


"Tapi kamu tidak mau diantar Calvin. Padahal aku bekerja di ruanganku bersama Calvin, Jeny bekerja di bawah. Kalau kamu pulang sendiri, kamu akan naik bis, dan mungkin akan bersama Arthur."


"Bagaimana bisa aku membiarkan pacarku yang seorang wanita pulang sendiri naik bis malam malam?"


"Itu hanya kecemasanmu saja. Banyak wanita yang pulang dengan bis sehabis bekerja."


"Ya. Itu kecemasanku dan kamu tidak mengerti bahwa aku cemas."


"Aku mengerti bahwa kamu cemas terhadapku. Kamu takut akan terjadi sesuatu dengan aku nantinya. Tapi kamu sendiri juga tidak mengerti bahwa aku juga cemas. Tidak hanya kamu saja yang bisa cemburu. Apalagi kita tidak tahu niat sekretaris barumu itu apa."


"Niat? Niat apa? Kamu pikir dia akan berbuat apa?"


"Berusaha mendapatkanmu."


"Baiklah jika kamu berpikir seperti itu. Tapi apa kamu tahu niat Arthur itu apa?"


"Aku tidak tahu tapi aku sedang berhati hati."


"Ayolah, Julie. Seandainya Jeny ingin merebutku darimu, itu tidak akan terjadi. Kamu tahu siapa yang akan kupilih."


"Bukan tentang siapa yang akan dipilih. Kamu cemburu karena aku berdekatan, menghabiskan waktu bersama Arthur. Begitu juga denganku."


"Iya aku tahu itu."


"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita harus terbiasa dengan ini."


"Harus terbiasa melihat kamu bersama Arthur dan melihatku bersama Jeny?"


"Iya."


"Sulit."


"Daripada bertengkar terus. Lagipula kamu bilang kamu akan sering memanggilku ke ruanganmu. Kita akan sering bersama lebih dari siapapun."


"Benar. Aku akan benar benar sering memanggilmu ke ruanganku. Kalau perlu aku akan memindahkan ruanganmu di lantai 60 agar dekat denganku."


"Pindahkan lah. Supaya aku tidak capek berjalan jauh ke ruanganmu."


"Aku menyesal sudah menerima Jeny dan Arthur."


"Mereka tidak berbuat salah."


"Aku benci jika harus bertengkar denganmu seperti ini. Maafkan aku, karena kecemburuanku yang tidak bisa terbendung."


"Tidak perlu. Kita berada di posisi yang sama."


"Aku tidak ingin balik ke perusahaan. Sesuai rencana, mari kita makan malam bersama."