
"Kamu harus berhati-hati, Julie." kata Flint.
"Iya, tenang saja. Setidaknya dia tidak bisa melukai aku." ucap Julie.
Tok tok tok tok. Flint mengetuk pintu kamar Kesha. Kesha membuka pintunya. "Eh, ada apa kalian ke sini?" tanya Kesha.
Plakkk. Sebuah tamparan mendarat di pipi Kesha. Ya, tamparan itu berasal dari tangan kanan Julie. "Apa-apaan ini?" tanya Kesha.
"Kamu masih nanya ini apaan? Tamparanku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang sudah kamu lakukan!" jawab Julie. Julie bergerak maju ketika Kesha terus bergerak mundur.
"Kalau musuhmu itu aku, lawan aku saja. Kalahkan aku! Jangan menjadi pengecut dengan meracuni anakku!" sambung Julie.
"Kamu tahu betapa bodohnya dirimu? Kamu pikir kalau kamu meracuni anakku, aku akan menjadi lemah, begitu?!" sambung Julie.
"Iya! Aku ingin kamu berubah menjadi lemah. Makanya aku meracuni anakmu." jawab Kesha.
Plakkk. Julie menampar pipi Kesha untuk kedua kalinya. "Orang lemah tidak akan mampu melemahkan orang lain! Kamu tahu? Bahkan aku sekarang menjadi semangat, sangat semangat sampai ingin melihat hidupmu tambah hancur. Hidupmu yang sudah hancur itu tambah hancur. Aku tidak sabar menantikan hal itu." kata Julie.
"Apa kamu tidak takut dengan apa yang terjadi pada anakmu?" tanya Kesha.
Julie menarik dagu Kesha, menekannya kuat. "Apa katamu barusan? Kamu mengancamku dengan menggunakan anakku?" tanya Julie.
"Bukankah sudah jelas dari awal bahwa kita bertarung secara sehat, tidak melibatkan anak. Itu sudah tertera di kertas yang kamu tanda tangani. Kamu sudah melanggarnya, Kesha." sambung Julie lalu melepaskan dagu Kesha dengan kasar.
"Pikirkan baik-baik. Aku sudah banyak menyimpan kelemahanmu sebagai kartu emasku. Mana yang ingin aku buka terlebih dahulu? Atau kamu ingin aku langsung membuka semuanya?" sambung Julie.
"Seharusnya sekarang kamu berlutut di hadapanku, meminta permohonan. Kamu sering mengancamku dengan menyebut para media, bagaimana kalau aku mengancammu dengan menyebut aparat hukum?" sambung Julie.
Merasa geram dengan perkataan Julie, Kesha segera ingin menjambak Julie. Flint yang tujuannya ikut adalah untuk melindungi istrinya, dengan tangkasnya menahan tangan Kesha.
"Ingin menjambak rambutku ternyata? Rambutku ini menggunakan perawatan yang tidak bisa dijangkau olehmu, jadi jangan-jangan mencoba menyentuhnya dengan tangan kotormu." ucap Julie.
"Aku penasaran. Lebih mahal rambutku ini atau harga dirimu?" sambung Julie.
"Jangan menangis, Kesha." kata Julie sambil mengusap pipi Kesha.
"Sangat tidak seru kalau kamu menangis secepat ini di hadapanku." sambung Julie. Tangan Julie bergerak ke rambut Kesha. Diremaslah rambut Kesha itu dengan eratnya.
"Kamu baru boleh menangis jika hidupmu benar-benar hancur. Ini peringatan dariku. Jangan coba-coba kamu menyentuh anak dan suamiku, jika terjadi sesuatu terhadap mereka, akan aku pastikan hidupmu bagaikan gelas yang jatuh. Pecah, hancur berkeping-keping dan tidak bisa diperbaiki." kata Julie lalu melepaskan tangannya dari rambut Kesha secara kasar.
Rupanya itu membuat Kesha terjatuh dan darah mengalir di kakinya. "Awhhh Julie.. ini sakit sekali!!" rintih Kesha.
"Apa kamu baru saja meminta pertolonganku?" tanya Julie.
"Awhhh Julie.. ini sakit sekali aku tidak bohong." ucap Kesha sambil memegangi perutnya.
"Lalu bagaimana dengan perbuatanmu kemarin terhadap anakku? Aku harus menolongmu sekarang?" tanya Julie.
"Julie sepertinya kita harus membawa dia ke rumah sakit." kata Flint.
"Merepotkan. Bisa berdiri tidak?" tanya Julie.
Kesha mencoba berdiri. Darahnya tidak berhenti mengalir. "Kamu ingin ke rumah sakit mana? Aku dam Flint tidak ingin menanggung biaya rumah sakitmu." ucap Julie.
"Sudah.. panggilkan security untuk membopongnya ke mobilku." kata Flint.
"Argh baiklah!" Julie segera keluar dan memanggil security.
Sedangkan Kesha hanya mampu menggigit bibir bawahnya, sesekali memejamkan mata untuk menahan rasa sakitnya sampai akhirnya beberapa security datang dan membantu membawa Kesha ke mobil Flint.
Flint membawa Kesha ke rumah sakit miliknya sendiri yaitu Young Hospital. Sesampainya di sana, Kesha dibawa ke UGD.
"Bagaimana dia akan membayar biaya rumah sakit ini?" tanya Julie.
"Entahlah. Gaji dia saja tidak mungkin cukup." jawab Flint.
"Lalu mengapa kamu menolongnya? Seharusnya biarkan saja dia tadi mati karena kehabisan darah." kata Julie.
"Ini termasuk tindak pembunuhan kalau Kesha mati, Julie." ucap Flint.
"Berarti Kesha juga telah melakukan percobaan pembunuhan kepada Luke." kata Julie.
"Iya. Kalau dia mati, bagaimana kita akan menuntut dia atas kejahatannya?" ucap Flint.
"Tumben kamu pintar." kata Julie.
Dokter pun keluar setelah memeriksa Kesha. "Pasien mengalami keguguran dan harus segera dioperasi. Janinnya sudah tidak menandakan adanya detak jantung sejak sampai di sini." kata dokter.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk teman saya." ucap Flint.
"Baik, pak. Untuk melakukan operasi pengangkatan janin, dibutuhkan persetujuan dari wali pasien." kata dokter.
"Orang tuanya sedang di Paris, ayah dari anak itu juga tidak tahu siapa. Kita hanya temannya. Lakukan saja yang terbaik untuk menyelamatkan pasien." kata Flint.
"Baik, pak." kata dokter.
Kesha pun dibawa ke ruang operasi untuk mengeluarkan janinnya yang sudah mati itu. Anehnya, Flint dan Julie setia menunggu Kesha di luar ruang operasi seolah-olah Kesha itu adalah orang terdekat mereka.
"Apa yang akan dia lakukan lagi setelah keguguran? Sebelumnya, dia menggunakan janinnya untuk mengancam kita." kata Julie.
"Entahlah. Kamu percaya kata pepatah 'mati satu tumbuh seribu' ? Aku takut masalah ini berakhir dan akan menimbulkan masalah yang lebih hebat lagi." ucap Flint.
"Ah, aku ingin beristirahat dari semua ini. Lepas dari pekerjaan, Kesha, masalah-masalah. Bayangkan kalau kita tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan, Kesha, masalah-masalah, pasti enak sekali." kata Julie.
"Aku juga ingin. Rasanya seperti ingin mengulang hari pernikahan sampai honeymoon denganmu. Tidak ada pekerjaan tidak ada masalah, apalagi Kesha." ucap Flint.
"Ah aku juga!! Tapi kalau melihat peristiwa bahagia itu mungkin sekarang adalah peristiwa yang buruk di dalam hidup kita. Tentu saja, ada bahagia ada sedih. Tidak bisa kita memilih unfuk yang bahagianya saja, semua sudah ada porsinya masing-masing. Dan semuanya harus kita lewati." kata Julie.
"Benar katamu. Aku senang mengetahui fakta bahwa saat aku bahagia, aku bahagia bersamamu dan saat aku sedang terpuruk, kita terpuruk bersama." ucap Flint.
"Apapun keadaannya, kita harus tetap bersama, OK?" kata Julie.
Flint mengangguk.
Dokter pun keluar dari ruang operasi. "Operasi berjalan dengan lancar. Janin yang sudah mati telah kami angkat. Pasien masih dalam pengaruh obat bius dan akan segera dipindahkan ke ruang inap." kata dokter.
"Baiklah." ucap Flint.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.