
Flint maju 1 langkah mendekati Julie dan menaruh mulutnya di dekat telinga Julie. "... mereka bisa bebas melakukan apa saja, sekencang apapun itu suaranya.." bisik Flint.
Julie mendorong bahu Flint agar Flint menjauh dari dirinya. "Dasar baji**an kamu pria bre**sek! Menjauhlah dariku!."
"Loh? Kenapa?"
"Apa? Apa?"
"Maksudku mereka bebas bisa melakukan apa saja misalnya mereka ingin bercanda ngakak sampai kelewat batas sehingga menimbulkan suara yang keras. Memangnya apa yang kamu pikirkan, Julie?"
"Sudahlah jangan mengelak. Aku sudah tahu isi otakmu yang mesum itu!"
"Hanya otakku kah yang mesum? Apakah perbuatanku tidak? Atau haruskah aku berbuat seperti pria yang kamu maksud tadi?" ucap Flint sambil memajukan langkahnya yang semakin dekat dengan Julie. Flint menepis jarak yang ada di antara mereka. Di usaplah pipi Julie, di masukanlah rambut Julie ke belakang telinganya.
"Hey ya! bisa bisanya kamu melakukan ini di kantor? Minggir, aku lapar!" Julie mendorong tubuh Flint dan segera beranjak ke sofa yang berada di ruangan Flint. Sudah terletak rapi makanan di atas meja sofa tersebut. Dengan raut wajah yang senang, Julie membuka bungkus makanan satu persatu dan siap menyantapnya.
"Mengapa tidak bisa? Papaku bisa, pasti aku juga bisa."
"Yaish! Sejak kapan kamu menjadi mesum seperti ini? Apa sejak aku menyelesaikan skripsi di Amerika sedangkan kamu di sini bermain dengan banyak wanita? Iya? Sudah berapa banyak wanita yang kamu gunakan? Jawab aku pria mesum!!"
"Woahhh. Tahukah kamu fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan? Tidak bisakah kamu lihat diriku yang masih suci seperti ini? Lihatlah. Mana ada wanita yang pernah aku gunakan untuk melampiaskan nafsuku. Tidak ada satupun. Aku menyiapkan khusus hanya untuk dirimu seorang, Ms. Gray."
"Mengapa kamu bertindak seolah olah kamu yang menjadi korbannya?"
"Jelas aku korbannya. Aku difitnah oleh pacarku sendiri."
"Haish! Kamu menyeramkan. Aku takut pada pacarku sendiri."
"Ya. Benar. Kamu harus takut padaku. Karena aku bisa memakanmu kapan saja."
"Yak! Flint! Berhentilah! Kamu mengganggu nafsu makanku saja."
"Baiklah. baiklah. Makan ini. Aku menyuruh Calvin untuk membelikan ini untukmu. Aku tau kamu suka ini. Makanlah." ucap Flint sambil memberikan beberapa lauk ke atas nasi Julie.
"Ya, benar. Kamu ingin?"
"Berarti mereka sering melakukannya?"
"Tentu saja. Kenapa? Kamu ingin?"
Dimasukannya lah bakso bulat ke dalam mulut Flint oleh Julie setelah dia mendengar ucapan Flint yang mengganggu itu. Setelah Flint sudah mengunyah halus baksonya itu, dia memberanikan diri membuka mulut.
"Kenapa? Aku serius bertanya. Apakah kamu ingin? Wanita selalu bertindak malu malu padahal mereka ingin."
"Yaaa!!!!"
"Apa? Apa? Papaku sendiri yang bilang."
"Sungguh?"
"Tentu."
"Sungguh mereka sering melakukannya? Di kantor?"
"Kamu tidak tahu? Papaku sendiri yang bilang bahwa tubuh mamaku membuatnya kecanduan. Sulit sekali untuk tidak melakukannya jika melihat tubuh mamaku."
"Woah. Sekarang aku mengerti darimana mesummu itu muncul. Ternyata tidak hanya perusahaan saja yang papamu wariskan kepadamu." Julie menatap tajam Flint.
"Baiklah. Jadi apa kamu mau melakukannya?"
"Baksomu sudah habis ya Flint? Mau ku suapi lagi?"
"Omong-omong, bagaimana papa dan mamamu bertemu? Seperti seru sekali?"
"Ya, kamu benar. Sangat amat seru. Kamu yakin ingin ku ceritakan?"