When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Bicara



"Mengapa kalian diam saja?" tanya Julie ke Liza dan Flint.


"Ohh.. ehhm tidak usah Julie. Kamu dirumah saja. Kan kamu baru pulang. Sebentar Mama telepon Papa dulu biar Papa segera pulang. Sudah kamu duduk dulu saja disini." ucap Liza.


"Baiklah" jawab Julie.


Sekitar 30 menit lamanya, Julie berbincang bincang dengan Liza dan ditemani juga oleh Flint sambil menunggu kepulangan ayahnya. Flint memang tidak banyak bicara. Paling dia hanya menjawab "oohh" , "iyaa" , "benarkah?"


Akhirnya Gio pulang kerumah. Dia membuka pintu perlahan. Dari sofa tempat dimana Julie duduk, dia bisa melihat bahwa tubuh Gio ayahnya itu penuh dengan keringat. Kemejanya yang menutup tubuhnya itu basah. Air keringat bercucuran dari dahi Gio.


"Pa, kok papa keringatan begini? Papa tidak membawa mobil? Mobil Papa mana?" tanya Julie panik.


Gio hanya bisa melihat wajah istrinya dan pacar dari anaknya itu. Baiklah. Mungkin sudah waktunya Julie tahu semuanya. Tidak perlu kutunda lagi. gumam Gio.


"Sebentar Papa ganti baju dulu. Nanti kita bicara ya di sofa." jawab Gio. Gio pun berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Bagaimana reaksi Julie? Apakah dia bisa memaafkan aku? Maaf Julie, ayah merasa gagal menjadi seorang ayah. gumam Gio.


Selesai mengganti pakaian, Gio pun turun. Dia berniat untuk memberitahu semuanya yang sebenarnya kepada Julie. Perlahan dia menduduki sofa.


Liza yang berada di sampingnya itu, memegang bahu Gio, berniat untuk memberinya kekuatan.


"Bagaimana kabarmu, Julie? Papa sangat rindu padamu. Mau peluk?" kata Gio.


"Aku baik. Aku juga rindu sama Papa. Papa harus cerita dulu sama aku." jawab Julie.


"Hahaha harus cerita darimana dulu ya Papa?" jawab Gio.


"Dari awal sampai akhir. Aku ingin tahu semuanya." jawab Julie


"Sebenarnya apa yang ingin kamu tahu, Julie?"


"Aku bingung kenapa Papa tidak pulang dengan mobil."


"Mobil Papa sudah Papa jual, Julie."


"Untuk?"


Gio terdiam. Dia melihat Julie. Melihat Flint. Juga melihat istrinya. Mulutnya terasa tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Tetapi itu harus.


"Kenapa Papa diam? Kenapa Mama juga diam? Flint? Kamu juga tahu sesuatu kan. Tolong jelaskan padaku. Kenapa sih?" sahut Julie.


"Papa akan jelaskan. Papa akan jelaskan. Julie.. maafkan Papa yang pernah memaksakan kamu untuk masuk ke perusahaan Papa. Sampai kamu melewatkan cita citamu menjadi dokter." kata Gio.


"It's ok, Pa. Aku juga senang Pa bisa kuliah jurusan lain."


"Tetapi kamu tidak bisa masuk ke perusahaan Papa."


"Kenapa?"


Gio menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering sampai dia sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun.


"Perusahaan Papa sudah tidak ada lagi, Julie."


"Pa tolong jelasin Pa."


"Ma"


"Jelasin Ma."


"Flint? Kamu tahu kan, jelasin ke aku Flint."


"Papa sudah bangkrut, Julie. Papa meminjam dana sana sini tetapi Papa tidak mampu mengembalikan dana tersebut. Dan Papa menjadikan perusahaan sebagai jaminannya. Maafkan Papa Julie. Maafkan Papa. Kamu mungkin kecewa sekali dengan Papa."


Julie menangis. "Sejak kapan, Pa?" tanyanya.


"6 bulan yang lalu."


"Dan Papa baru sekarang memberitahuku? Kalian semua membohongiku? Dianggap apakah aku dimata kalian? Apa aku bukan anak kalian?" jawab Julie sambil terisak tangis. Julie berlari keluar dari rumah.


Gio hendak mengejar. Namun ditahan oleh Flint. "Biar aku saja." kata Flint.


Flint mengejar Julie. "Hey.. hey.. Julie.. kamu mau kemana?" ucap Flint yang akhirnya berhasil menangkap 1 tangan Flint.


"Apa kamu tahu soal ini?" tanya Julie.


Flint hanya bisa mengangguk pelan.


"Dan kamu juga tidak memberitahuku?" ucap Julie.


"Maafkan aku, Julie."


"Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka? Kenapa semua orang menutupi ini dariku?"


"Bukan begitu Julie. Aku sudah ingin memberitahumu, tapi ini kehendak orangtuamu. Aku tidak berhak soal ini. Mereka menutupi ini karena tidak ingin mengganggu kamu dalam menyelesaikan skripsi, Julie. Pada akhirnya juga mereka memberitahumu."


"Aku tahu, Flint. Aku tahu. Mereka khawatir jika ini akan mengganggu aku dalam skripsi nanti. Namun aku ini anak mereka, Flint. Aku keluarga mereka. Kenapa mereka tidak bisa langsung memberitahuku?"


"Hey.. Julie. Tenangkan dirimu. Everything is gonna be ok, Jul. Mereka sudah pusing dengan masalah ini, aku bisa merasakannya. Kamu boleh marah, kamu boleh sedih, kamu boleh kecewa. Tapi ini hanya akan menambah rasa bersalah mereka padamu, Julie."


"Flint.."


"Ya?"


"Sekarang orangtuaku sudah tidak kaya lagi seperti dulu. Mereka sudah jatuh. Perusahaan mereka sudah bangkrut. Bahkan aku tidak tahu Papa sekarang kerja dimana."


"Lalu?"


"Aku sudah tidak pantas lagi bersanding denganmu. Kamu seorang pemimpin perusahaan terbesar ke 2 di Asia. Aku apa, Flint? Papaku..."


"Sssttt.. heyy.. kamu ngomong apa sih? Sudah sudah. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu tenangkan pikiranmu dulu. Ayo kita masuk kedalam." ucap Flint sambil menarik tangan Julie dan berjalan masuk kedalam rumah.


"Kita putus saja." ucap Julie. Langkah Flint terhenti seketika.