
"Aku rasa Jeny dan Arthur tidak perlu kita khawatirkan lagi. Tapi kita harus berhati-hati karena mereka sudah sadar waktunya tidak banyak lagi, mereka sudah memulainya hari ini."
"Julie, menurutku berkas berkas penting di ruanganmu disimpan di ruangan Flint saja. Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan." kata Calvin.
"Jangan, tidak perlu itu." bantah Flint.
"Kalau dipindahkan ke ruanganku, kita akan sulit mencari bukti bahwa mereka punya niat tidak baik." sambung Flint.
"Daripada mereka bisa bekerja lebih lancar? Lebih baik kita halang mereka karena takutnya setelah mereka mendapat apa yang mereka inginkan, mereka akan melakukan hal yang lebih jauh lagi." kata Calvin.
"Kita kan mengawasi mereka dari CCTV. Jadi biarkan saja mereka ingin melakukan apa, karena perbuatan mereka sudah terekam." kata Flint.
"Tadi katamu Jeny sudah mencari cari di mejamu saat kamu pergi ke toilet, coba lihat dari CCTV sekarang apa yang sedang dia lakukan." sahut Julie.
Mereka bertiga pun ke meja kerja Flint untuk menyaksikan Jeny dari layar komputer. Dan benar saja, Jeny sedang melanjutkan "pekerjaannya."
"Tenang saja, berkas penting sudah aku masukkan ke dalam brankas. Di meja hanya kertas kertas yang tidak penting." kata Calvin.
"Coba sekarang kita lihat Arthur." kata Flint.
Dari CCTV terlihat bahwa Arthur sedang duduk manis, mengetik di komputernya.
"Sepertinya tadi Arthur benar mencari 6 berkas itu." kata Julie.
"Siapa yang tahu? Pintumu saja sudah dikunci, dia bisa apa.." jawab Flint.
"6 berkas apa, Julie? Mengapa Arthur mencarinya? Bukankah seharusnya karyawan tidak perlu mengurusi pekerjaan atasannya?" tanya Calvin.
"Oh iya! 6 berkas itu berkas yang berisi data data pengeluaran pemasukan di perusahaan! Aku pergi sekarang." ucap Julie.
Flint pun segera menarik tangan Julie. "Kamu jangan bertindak gegabah seperti itu, nanti dia akan tahu bahwa kita mengawasinya." kata Flint.
"Tapi itu berkas penting, Flint. Bagaimana kalau dia akan memanipulasi, melakukan kecurangan yang dapat merugikan perusahaan?" jawab Julie.
"Itu tidak akan terjadi. Setiap komputer karyawan di perusahaan ini juga dipantau oleh Calvin. Yang penting sekarang kita tidak bertindak gegabah yang membuat mereka sadar kalau kita sedang mengawasi mereka." ucap Flint.
"Ahhh aku tidak tahan dengan ini. Mengapa tidak kamu hentikan saja mereka sekarang?" protes Julie.
"Sabar sayang. Itu ada saatnya. Tapi tidak sekarang." jawab Flint.
"Kenapa tidak sekarang?"
"Karena kita belum tahu pasti apa yang mereka inginkan."
"Kamu tenang saja, Julie. Arthur tidak akan berbuat banyak kepadamu."
"Flint, sepertinya kamu harus menonaktikan komputer Arthur sekarang." kata Calvin secara tiba tiba.
"Dia berusaha meretas data di perusahaan kita." sambungnya.
"Lakukanlah sekarang dengan komputerku." ucap Flint.
Kini suasana berubah menjadi tegang. Karena belum pernah ada 1 orang pun yang berusaha meretas data perusahaan. Data perusahaan hanya di pegang oleh Flint sendiri, tidak ada 1 orang pun yang pegang selain Flint.
"Dia berusaha memasukkan virus." ucap Calvin.
"Apa yang bisa ku bantu? Apa aku harus ke Arthur untuk mengalihkan perhatiannya?" tanya Julie.
"Ya, Julie. Julie tolong kamu alihkan perhatiannya. Flint, sebaiknya kamu ikut dengan Julie. Aku akan mengatasi ini." kata Calvin dengan tergesa gesa.
"Baiklah. Ayo, Julie."
"Sesampainya di sana, berpura puralah seperti kamu ingin memberikan aku informasi atau penjelasan atau apapun tentang tim keuangan. Aku akan memanggil beberapa penjaga agar terlihat sungguhan." kata Flint.
"Baiklah."
Tinggg. Lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju. "Bersiaplah dengan aksi pertama kita." ucap Flint dengan suara yang pelan.