
Surya Permana adalah seorang pengusaha sukses yang bisnisnya bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, sama seperti Andreas Group.
Dengan tubuh tinggi dan besar, Surya tidak bisa dikatakan tampan, walaupun tidak bisa dikatakan jelek juga. Wajahnya lumayan dengan hidung mancung, mata besar dan alis yang tebal. Namun, seringai yang selalu tampak di wajahnya membuat ketampanan Surya menghilang. Hingga lebih mudah menyebutnya sebagai pria bengis daripada pria tampan.
Perusahaan Surya Permana yang berada di Bali, belakangan ini sedang membentangkan sayapnya hingga ke Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Dalam bisnis yang baru saja meraih kesuksesan tentu saja dukungan dari perusahaan raksasa seperti Andreas Group sangatlah diperlukan. Tidak mengherankan jika Surya Permana mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Andreas. Pun sebaliknya, Andreas Group juga membutuhkan perusahaan-perusahaan yang sedang berada di puncak walaupun Andreas Group sendiri merupakan perusahaan besar.
Surya Permana memandang bangunan besar di hadapannya dengan penuh minat. Sejak tadi ia bimbang, haruskah dirinya masuk atau tidak. Rasanya berlebihan sekali jika ia yang merupakan seorang CEO harus datang dan mengantarkan undangan pesta seorang sendiri ke kediaman rekan bisnisnya. Namun, jika dipikirkan lagi bukankah hal itu akan menjadi nilai plus bagi dirinya. Hanya CEO yang murah hatilah yang bisa bersikap demikian. Dan CEO murah hati itu adalah dirinya, Surya Permana.
"Jalankan mobilnya," perintah Surya, pada sopirnya.
Si sopir mengangguk, lalu menginjak pedal gas hingga kendaraan milik Surya tiba di gerbang depan kediaman keluarga Andreas.
Begitu melihat sebuah mobil berhenti, seorang petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang segera menghampiri kendaraan mewah yang ditumpangi Surya. "Maaf, ingin bertemu dengan siapa, Pak?" tanya petugas keamanan itu.
Tanpa banyak berkata, Surya mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkan kartu tersebut pada si penjaga melalui kaca jendela mobil yang terbuka. "Aku dan Pak Farhan adalah rekan bisnis. Aku ingin bertemu dengannya."
Petugas keamanan yang bernama Aris terlihat bingung, karena majikannya tidak sekali pun menitip pesan padanya bahwa akan ada tamu yang datang hari ini. Padahal biasanya Farhan Andreas akan memberitahu semua petugas keamanan siapa saja yang akan datang berkunjung ke kediamannya.
"Maaf, Pak, tapi Anda harus buat janji dulu sebelum bertemu dengan Pak Farhan."
Surya mendengkus kesal. "Aku ini sibuk. Aku tidak sempat membuat janji pada Pak Farhan!" bentak Surya. "Lagi pula, situasi ini mendesak. Jika kamu tetap tidak mengizinkanku masuk, kamulah yang harus bertanggungjawab seandainya terjadi kerugian yang perusahaan kami alami!"
Diancam seperti itu jelas saja Aris menjadi takut. Pria berusia awal 30-an itu segera membuka gerbang dan mempersilakan Surya untuk masuk.
"Pelayan sialan! Tidak tahu diri!" Surya masih mengomel sementara mobil mulai memasuki halaman luas menuju garasi terbuka di sisi lain bangunan utama.
Pelangi dan Amara yang baru saja keluar dari rumah untuk bertemu Andrew di hotel, berpapasan dengan Surya yang sekarang tengah berdiri di teras sambil sibuk memperhatikan Pelangi.
"Selamat siang, Nona." Surya menyapa pelangi dengan hormat, sembari menyunggingkan senyum palsu di wajahnya.
"Ya, selamat siang. Anda petugas servis AC yang beberapa waktu lalu kutelepon?" tanya Pelangi. Beberapa saat yang lalu Pelangi memang menghububgi jasa servis AC dikarenakan AC di kamarnya tidak menyala.
Mendengar ucapan Pelangi, Surya lantas tertawa terbahak-bahak. "Serius, Anda mengira diriku adalah petugas servis AC? Apa penampilanku terlihat seperti tukang servis, Nona? "
Pelangi melirik Amara yang juga terlihat sama bingungnya seperti Pelangi.
"Jika bukan, lalu Anda siapa?" Kali ini Amara yang bertanya.
Surya menjentikkan jarinya di hadapan Amara dan Pelangi. "Pertanyaan yang bagus," ujarnya, lalu mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkan kartu tersebut pada Amara.
Amara menerima kartu nama dari tangan Surya, lalu membaca setiap kalimat yang tercetak rapi di atas ketas persegi berwarna hitam dengan tulisan berwarna gold.
"Astaga." Amara terkesiap. Ia segera menutup mulut dengan tangan, lalu menyerahkan kartu nama yang dipegangnya ke Pelangi.
Reaksi yang Pelangi berikan pun sama seperti Amara saat ia membaca kartu nama ditangannya. Ia terkejut dan seketika merasa tidak enak hati. "Anda seorang CEO?! Maafkan aku, Anda terlihat seperti tukang servis ... hmm, maksudku kami berdua sedang menunggu tukang servis AC, maaf karena kami salah mengira dan juga salah paham." Pelangi membungkuk berkali-kali, berharap pria di hadapannya bersedia untuk memaafkan kelancangannya yang tidak sopan.
"Menantuku tidak boleh membungkuk pada siapa pun dengan alasan yang tidak tepat." Suara Farhan yang menggelegar seketika menghentikan Pelangi.
"Ayah," gumam Pelangi.
Farhan berjalan menghampiri Pelangi yang masih berdiri di ambang pintu bersama dengan Amara dan juga Surya. Suster An seperti biasa, mengekor dengan setia di belakang Farhan sembari memasang wajah sok cantik yang menyebalkan.
"Ah, Pak Farhan. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Anda. Selama ini aku hanya bertemu dengan putra Anda dan asistennya yang bernama Toni." Surya mengulurkan tangan, sembari tersenyum lebar.
Farhan memindai Surya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Merasa dirinya diperhatikan, Surya lantas memperkenalkan diri. "Saya Surya Pramana, CEO dari perusahaan Sun Group. Kedatangan saya kemari untuk mengantar sebuah undangan penting."
Farhan mengernyitkan dahi. "Anda mengantar undangan kemari sendirian? Kenapa tidak meminta asisten saja yang mengantarnya?" tanya Farhan.
Surya terkekeh. "Anda adalah orang yang saya hormati, akan lebih baik jika saya langsung yang mengantarkan undangan ini pada Anda, Pak."
Farhan mengangguk. "Aku tersanjung. Mari masuk dulu kalau begitu. Kita bicara di dalam." Farhan Andreas berbalik dan mendahului Surya masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Surya menyusul langkah Farhan. Namun, saat melewati Pelangi dan Amara, Surya dengan kurang ajar menyentuh bokong pelangi dan meremasnya.
Pelangi terkejut atas tindakan yang Surya lakukan. Namun, ia tidak berkata apa pun, mengingat Surya adalah rekan bisnis Farhan. Jika ia marah, hubungan pekerjaan antara Farhan dan Surya bisa hancur hanya karena dirinya, dan ia tidak mau itu semua terjadi. Walaupun sebenarnya ia merasa sakit hati dan muak sekali pada tindakan Surya yang tidak sopan. Ia merasa dilecehkan.
"Pelangi, ada apa?" Amara menyikut Pelangi saat dilihatnya wajah Pelangi mendadak terlihat tegang.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita berangkat, nanti kesiangan." Pelangi menarik lengan Amara agar ia dapat segera pergi dari sana.
"Lalu tukang servisnya bagaimana? Bukankah rencananya tadi kita menunggu tukang servis dulu, setelah itu baru kita menuju hotel."
Pelangi menggeleng. "Rencana berubah. Tukang servis biar nanti ditangani oleh pelayan," ujar Pelangi, masih terus menarik lengan Amara hingga mereka berdua tiba di garasi, dan segera masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh sopir keluarga Andreas.
***
Perjalanan menuju hotel tempat Andrew menyembunyikan Exel memakan waktu hampir satu jam. Selama di dalam perjalanan, Pelangi tidak henti-hentinya memikirkan apa yang telah Surya lakukan padanya. Bagaimna bisa seorang CEO yang seharusnya memiliki sikap terhormat malah melakukan hal yang begitu menjijikan.
Pelangi bergidik, lalu menggeleng dengan cepat. Berusaha menghilangkan bayangan kejadian memalukan yang baru saja menimpanya.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di hotel. Amara segera membantu Pelangi keluar dari dalam mobil dan keduanya langsung berjalan beriringan menuju elevator yang akan membawa mereka ke lantai 15, di mana kamar Delia berada.
Sebenarnya kunjungan Pelangi tidaklah dibutuhkan. Ia hanya penasaran saja bagaimana rupa wanita yang Amara ceritakan padanya dan juga ia ingin memastikan apakah Andrew tidak tahu-menahu tentang peran Exel dalam kecelakaan yang menimpa dirinya.
Amara mengetuk pintu kamar bernomor 305, dan sesaat kemudian seorang pria berambut gondrong menyembulkan kepala dari balik pintu. Pria itu adalah Exel.
"Andrew ada?" tanya Pelangi.
Exel mengengguk cepat, lalu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Pelangi juga Amara untuk masuk.
Pelagi melangkah memasuki ruangan, disusul oleh Amara dan Exel. Dari tengah ruangan, Pelangi dapat melihat pintu balkon yang terbuka, dan di sanalah Andrew. Walau hanya punggungnya yang terlihat, Pelangi tidak akan salah mengira bahwa Andrewlah yang sedang berdiri di balkon dengan seorang wanita berperawakan kurus.
Wanita di balkon berbalik untuk mencari keberadaan Exel, tetapi bukannya melihat Exel, ia malah langsung bertemu pandang dengan Pelangi.
"Hai," sapa Delia, sembari tersenyum ramah seperti biasanya. "Dia pasti Pelangi. Dia secantik namanya," ujar Delia pada Andrew yang berdiri di sampingnya.
Mendengar ucapan Delia, Andrew lantas berbalik dan mengikuti arah pandang Delia.
"Pelangi," gumam Andrew. Ia segera menghampiri Pelangi dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat. "Aku merindukanmu."
Pelangi membalas pelukan Andrew. "Aku mengkhawatirkanmu. Dari mana saja kamu? Ayah terus mencarimu, aku rasa dia juga mengkhawatirkan keadaanmu yang selalu menghilang sesuka hati."
Andrew melepas pelukannya dari tubuh Pelangi, lalu menuntun wanita itu untuk duduk di sofa. Setelahnya, Andrew menyiapkan jus dalam kemasan dan beberapa potong cake cokelat untuk Pelangi, tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Pelangi.
Kehadiran Pelangi mampu membuat Andrew melupakan sosok Delia yang sekarang tengah berdiri di tengah ruangan dan memperhatikan apa yang Andrew kerjakan. Exel pun melakukan hal yang sama dengan Delia, berdiri bagai patung dan seketika menjadi sosok yang tidak dianggap oleh Andrew.
"Pak Andrew hanya memedulikan Pelangi. Bagaimana denganku? Aku juga butuh makan dan minum, Pak." Amara berujar, memancing tawa Pelangi yang baru sadar bahwa Andrew memang terlalu sibuk mengurusinya sejsk ia datang.
"Duduklah, Amara, dan Anda juga, Nona ...?" Pelangi menatap Delia yang masih berdiri menyaksikan tingkah Andrew.
"Delia. Namaku Delia." Delia menjawab, lalu segera menghampiri sofa dan duduk di hadapan Pelangi.
Exel mengambil tempat di samping Delia, sehingga dapat menatap Pelangi dengan jelas. Tatapan yang Exel berikan pada Pelangi begitu berbeda. Terlalu tajam dan Delia dapat melihat kekhawatiran di kedua mata pria itu. Sementara Pelangi yang sejak tadi ditatap oleh Exel, tidak menghiraukan kehadiran Exel sama sekali. Baginya, Exel itu tidak ada.
"Kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan kakimu?" tanya Exel dengan suara pelan agar Andrew yang masih sibuk tidak mendengarnya.
Pelangi membuang muka dan berusaha untuk tetap acuh pada Exel.
Exel menghela napas. "Kompres dengan air es jika masih sakit. Jika kamu ingin, aku bisa membelikanmu obat di apotek dan membawanya ke balkon besok. Aku akan datang besok atau nanti malam."
"Jangan pernah datang lagi, atau aku akan memberitahu Gilang!" desis Pelangi.
"Ya, jika kamu berani datang lagi, aku juga akan melapor pada Andrew, biar saja Andrew menghajarmu habis-habisan." Amara menimpali.
Delia diam saja menyaksikan perdebatan melalui bisikan yang terjadi di hadapannya antara Exel, Pelangi, dan Amara.
Perdebatan ketiganya sontak terhenti saat Andrew tiba dan duduk bergabung dengan mereka.
"Makanlah, kamu pasti belum makan. Aku membeli beberapa sereal juga semalam, karena aku tahu kamu pasti akan datang kemari," ujar Andrew, setelah menyerahkan semangkuk sereal dan susu segar untuk Pelangi.
"Oh, jadi semua belanjaan yang begitu banyak ternyata untuk Pelangi. Aku pikir untukku," canda Delia.
Andrew tertawa. "Tentu untukmu juga. Apa mau aku buatkan?"
Delia mengangguk. "Suapi juga, jika aku boleh meminta."
Andrew terlihat bingung, sementara Exel menyikut Delia. "Ck, apa-apaan, sih, Del. Biar aku saja yang buat dan aku juga yang suapi." Exel bangkit berdiri, tetapi Delia menahan lengan Exel agar pria itu tetap duduk di sebelahnya dan tidak melakukan apa-apa.
"Aku ingin buatan Andrew dan juga aku ingin disuapi olehnya," lirih Delia, yang membuat Exel menyerah.
"Baiklah, akan aku buatkan." Andrew tertawa melihat tingkah Delia yang kekanak-kanakan. Menggemaskan sekali.
***
Exel mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur yang terdapat di atas nakas yang memisahkan ranjangnya dengan ranjang Delia.
Andrew dan rombongannya sudah pulang sejak tadi. Meninggalkan setumpuk piring kotor dan mwja berantakan yang baru saja selesai Exel bereskan. Exel memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah seorang diri walaupun ia adalah seorang pria.
Setelah membaringkan diri di atas ranjang, Exel memiringkan tubuhnya agar dapat memandang Delia yang sekarang sedang memperhatikannya dengan serius. Seperti ada sesuatu yang sedang membebani pikiran wanita itu.
"Ada apa, Nona imut? kenapa tingkahmu tadi sangat aneh pada Andrew. Tidak biasanya kamu merengek dan minta disuapi seperti tadi. Apa kamu tidak malu?" tanya Exel.
Delia menghela napas. "Aku sedang membantumu. Seharusnya kamu mengucapkan terima kasih."
Exel mengernyitkan dahi. "Membantu untuk apa?"
"Untuk mendapatkan cinta Pelangi. Aku tahu kamu menyukainya, 'kan? Terlihat jelas di matamu, Xel. Itulah sebabnya aku mendekati Andrew, karena aku tahu kalau Andrew juga suka pada Pelangi."
Exel tertawa terbahak-bahak. "Jangan ngaco. Pelangi itu sudah menikah. Dia sedang hamil sekarang."
"Tapi dia akan berpisah dari suaminya. Andrew menyiratkan hal itu padaku saat kami pertama kali bertemu. Maka, jika memang benar Pelangi akan berpisah dari suaminya, aku harus memastikan kamulah yang mendapatkannya, bukan Andrew."
"Jangan sok tahu, Del, dan jangan pernah mengharapkan perpisahan dari sepasang suami dan istri, kasihan anak mereka. Sekarang tidurlah agar pikiranmu kembali jernih dan tidak melantur lagi."
Bersambung ....