OH MY BOSS

OH MY BOSS
TANGISAN PELANGI



"Aku akan buat list," ujar Pelangi, kemudian tersenyum. Senyum manis yang bagi Gilang sangatlah memesona. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum seperti itu dari bibir Pelangi.


Senyum yang menawan itu seolah menular melalui udara, dan tanpa sadar Gilang pun ikut tersenyum. Melihat Gilang tersenyum dengannya, hati Pelangi seketika menjadi jungkir balik. Ia ingin menangis karena terharu, maka dengan cepat ia berbalik. Pelangi tidak ingin Gilang melihat kelemahannya. Toh, Gilang yang lebih dulu memulai perang dingin di antara mereka. Maka, Gilanglah yang lebih dulu harus memulai gencatan senjata.



"Baiklah, buat saja list dan berikan padaku jika sudah selesai," ujar Gilang.


Pelangi berbalik untuk menghadapi Gilang kembali saat emosinya telah kembali stabil. "Kamu akan menuruti apa yang kuminta?" tanya Pelangi, dengan wajah polosnya yang sulit sekali untuk ditolak.


Gilang mengangguk. "Tentu."


"Apa pun?"


"Ya, apa pun."


Pelangi menepuk kedua tangannya. "Baiklah. Besok pagi akan kuserahkan list-nya padamu." Pelangi kemudian berbalik sembari memegangi lengan Amara, lalu berjalan menuju teras.


"Mau ke mana, Pelangi?" teriak Gilang, saat melihat punggung Pelangi semakin menjauh.


"Terserah aku mau ke mana." Pelangi balas berteriak tanpa menoleh ke Gilang.


Setelah kepergian Pelangi, Gilang langsung beralih menatap Suster An yang sejak tadi masih berdiri di sampingnya. Bukannya segera pergi saat Pelangi marah atau menjelaskan kejadian yang sebenarnya, wanita itu malah sibuk menonton kemarahan Pelangi. Entah apa yang diinginkan Suster An. Gilang pun tidak mengerti.


"Aku ingin bertanya padamu, Sus, untuk apa kamu menabrakku seperti tadi?" tanya Gilang, dengan nada sengit.


"Aku tidak sengaja, Pak." Suster An menjawab sambil memilin rambut panjangnya. Ekspresinya terlihat santai, tidak merasa bersalah sama sekali.


"Aku tahu kalau kamu sengaja melakukannya. Gara-gara kamu, istriku jadi salah paham. Untung dia tidak marah terlalu lama."


Suster An menyipitkan matanya, seolah menilai perkataan Gilang yang terdengar tidak real di telinganya. "Hubungan kalian kan memang tidak baik-baik saja, Pak. Kalian selalu bertengkar. Jadi kalau kalian kembali bertengkar, hal itu bukan karena diriku. Justru aku ini ingin membantu Anda."


Gilang mengernyitkan dahi. "Membantuku bagaimana maksudmu? Aku sama sekali tidak butuh bantuan dari wanita sepertimu."


Suster An mengibaskan tangan di hadapan Gilang sambil berdecak. Ia kemudian melangkah menghampiri Gilang, lalu mendaratkan jemarinya di dada Gilang. "Aku bisa membantu Anda agar Anda tidak merasa kesepian. Kamarku kosong setiap malam, Pak. Anda bisa datang ke kamarku kapan pun Anda mau. Jangan khawatir, kujamin Anda tidak akan menyesal. Aku sangat mahir."


Gilang menyingkirkan tangan Suster An dari tubuhnya, lalu menjauh dari suster itu. "Tingkahmu ini sangat tidak masuk akal. Kamu tidak waras, Sus." Gilang kemudian berlalu dari hadapan Suster An yang terlihat frustrasi.


"Sial. Jangan jual mahal! Aku pasti akan mendapatkanmu bagaimanapun pun caranya," gumam Suster An.


***


Andrew memiliki kepribadian yang keras kepala, sehingga membuatnya jadi sosok yang penuh dengan tekad. Apa pun yang dilakukannya, harus dilakukannya sampai tuntas dan mencapai target yang telah ditentukan. Tidak heran jika beberapa waktu lalu ia sampai harus jauh-jauh bepergian ke pulau Kalimantan demi mencari informasi tentang orang tua Pelangi. Padahal hal itu tidaklah terlalu penting. Ia hanya penasaran kenapa Farhan sangat tertarik dan sayang kepada Pelangi.


Sama halnya seperti sekarang ini. Ia bertekad untuk mencari keberadaan orang yang telah berani mencelakai Pelangi. Ingin rasanya ia segera memberi pelajaran pada orang itu dan membuat orang itu membayar apa yang telah dilakukannya pada Pelangi. Namun, pencarian Andrew menemui jalan buntu karena Gisel dan Atika ikut menghilang. Padahal Gisel dan Atika adalah satu-satunya kunci yang bisa membawanya untuk bertemu dengan si tersangka.


Sudah tiga hari ini Andrew memfokuskan diri pada tujuannya, sehingga ia tidak memiliki waktu untuk menjenguk keberadaan Pelangi. Keadaan ini tentu saja membuatnya merindukan gadis itu. Namun, untuk sementara ia harus menahan rasa rindu itu demi membalaskan rasa sakit yang telah Pelangi rasakan.


Andrew menghela napas, sebelum memulai pencariannya kembali ke pinggiran kota yang mungkin akan disambangi Gisel.


Namun, sebelum memulai perjalanan ke pinggiran kota, Andrew kembali menyambangi lokasi di mana Pelangi tertabrak. Sesampainya di lokasi tersebut, ia segera turun dari mobil dan memindai daerah sekitar dengan saksama, mencari keberadaan CCTV yang mungkin bisa menjadi petunjuk.


Kasus kecelakaan yang menimpa Pelangi memang tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib, mengingat saat itu situasi mendadak kacau karena Gilang yang tiba-tiba menghilang saat Pelangi sedang dioperasi, dan Farhan Andreas yang mendapat serangan jantung.


Andrew bersiul panjang saat menemukan sebuah CCTV yang terpasang pada tiang lampu sebuah rumah berpagar tinggi yang ada di seberang jalan. Dengan cepat Andrew menghampiri rumah tersebut dan menekan belnya berkali-kali dengan tidak sabaran.


Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya bercelemek muncul dari balik pagar. "Ya, cari siapa, Tuan?" tanya wanita itu


"Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Ada urusan mendesak yang menyangkut nyawa orang lain." Andrew menjawab dengan tegas.


Mendengar ucapan Andrew, si wanita paruh baya segera membuka pagar dan mempersilakan Andrew untuk masuk. "Tunggulah di teras. Saya akan panggilkan tuan."


Andrew mengangguk, lalu merebahkan bokongnya di atas kursi rotan yang ada di teras. Ia merasa gugup sekali kali ini, dan juga penasaran, karena pada akhirnya ia akan mengetahui siapa gerangan orang yang telah berani membuat Pelangi kesakitan.


"Lihat saja, begitu aku menemukanmu, akan kuhajar tanpa ampun."


***


Malam kembali bertandang, mengundang rembulan dengan cahaya keemasannya yang indah untuk kembali menghiasi langit malam.


Pelangi yang sedang bersantai di halaman belakang dengan Farhan terlihat sibuk mengupas buah-buahan untuk sang mertua. Sementara Gilang memperhatikan keduanya dari atas balkon teras belakang rumah. Jujur saja ia sangat senang melihat pemandangan itu, ayah dan istrinya terlihat akur. Sungguh keluarga yang ideal.


"Padahal kamu tidak perlu repot seperti ini, Nak. Kan ada Suster An, dia bisa mengurusku. Lebih baik kamu beristirahat di kamar," ujar Farhan, memulai obrolan.


"Tidak apa-apa, Ayah. Lagi pula aku bosan terus-terusan berada di kamar. Sesekali menghabiskan waktu di belakang sini boleh juga. Udaranya sejuk dan pemandangannya indah sekali."


"Iya, tapi kamu itu baru sehat. Kalau kamu jatuh sakit lagi bagaimana?" Farhan terlihat khawatir.


"Aku lebih sehat dari yang terlihat, Yah. Dulu, saat masih kecil aku ini jarang sekali sakit. Dalam satu semester sekolah, tidak ada absenku yang bolong. Sampai-sampai guruku bilang, kalau Pelangi adalah murid terbaik yang ada di sekolah." Pelangi berkata dengan riang, lalu menyuapkan sepotong buah apel ke mulut Farhan.


Farhan terkekeh, sebelum mengunyah buah apel dari Pelangi. "Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu."


Pelangi mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Seharusnya mereka bangga."


"Seharusnya? Kenapa harus ada kalimat seharusnya?" tanya Farhan.


"Karena aku tidak pernah melihat mereka mengapresiasi prestasiku, padahal aku selalu juara satu saat sekolah dulu, Yah," ujar Pelangi dengan polos. "Ya, tapi mungkin ada sesuatu yang lebih penting yang menjadi urusan ayah dan ibuku, sehingga mereka tidak terlalu andil dalam urusan sekolahku.Yang penting, aku tumbuh dengan baik dan tidak kekurangan satu apa pun." Pelangi tersenyum riang. Meski begitu, Farhan dapat melihat dengan jelas genangan yang mulai muncul di pelupuk mata Pelangi.


Pelangi mengangguk. "Terima kasih, Ayah. Oh, ya, apa boleh aku menanyakan sesuatu?"


Farhan mengangguk. "Boleh. Tanyakan saja."


"Kenapa ayah memilihku untuk menjadi istri Gilang. Padahal aku hanyalah seorang pembantu di kantor milik ayah. Jika memang hanya agar Gilang menjauh dari Gisel, kan masih banyak wanita berkelas lainnya yang lebih pantas untuk Gilang."


Farhan mengelus dagunya. "Hmm, mungkin inilah yang dimaksudkan dengan firasat. Aku punya firasat bahwa kamu adalah sosok yang paling pantas untuk Gilang dan satu-satunya sosok yang bisa membuat Gilang jatuh cinta selain Gisel."


"Hanya itu?" Pelangi terlihat tidak percaya


"Ya, hanya itu. Dan terbukti, bukan? Gilang jatuh cinta padamu dan melupakan Gisel."


Pelangi menghela napas. "Itu karena dia sedang kecewa pada Gisel. Gilang tahu kalau Gisel membodohinnya, makanya dia menjauhi Gisel. Seandainya Gilang tahu kalau aku juga berbohong padanya, dia pasti akan marah dan benci padaku, 'kan?" ujar Pelangi, lalu kemudian wajahnya menegang saat ia menyadari sesuatu.


"Ada apa?" tanya Farhan, saat dilihatnya wajah Pelangi berubah suram.


"Aku tahu sekarang," gumam Pelangi, kedua matanya kembali berair.


"Ada apa, Pelangi?" Farhan kembali bertanya, ia khawatir pada pikiran Pelangi yang sedang bermain. Ia takut jika Pelangi menyadari penyebab perubahan sikap Gilang.


"Suster, Suster Anneth!" Pelangi berteriak ke arah teras belakang. Dan beberapa saat kemudian Suster An tiba sambil berlari-lari kecil.


"Ya, ada apa?"


"Tolong temani ayah sebentar. Aku akan ke atas dulu," ujar Pelangi, kemudian berlari memasuki rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.


Gilang yang melihat Pelangi berlari melintasi halaman belakang hanya bisa mengomel, sembari berlari kecil hendak menyusul Pelangi ke lantai bawah. "Kenapa dia itu lari-larian terus, sih. Apa tidak sakit perutnya."


***


Buk!


Toni menahan tubuh Pelangi, saat gadis itu tanpa sengaja menabraknya hingga hampir saja terjatuh.


"Hati-hati, Pelangi!" seru Toni. "Ada apa?" tanya Toni saat melihat air mata Pelangi yang membasahi kedua pipinya.


"Aku tahu sekarang. Aku baru menyadari kemungkinan perubahan sikap Gilang. Aku tahu, Ton," ujar Pelangi, yang terlihat kalut.


"Apa maksudmu?"


"Gisel. Apa Gisel sudah menyerahkan video rekaman yang ada di ponselnya pada Gilang? Bisa jadi karena telah melihat video itulah Gilang menjadi marah dan benci padaku. Hanya penjelasan itu yang masuk akal, Ton. Tidak mungkin Gilang berubah sikap jika tidak terjadi sesuatu yang serius." Pelangi terisak. "Jika memang Gilang sudah tahu semuanya, aku akan pergi, Ton, aku malu dan aku tidak mau menyakiti Gilang terus-terusan. Gilang paling tidak suka dibohongi. Dia pasti kecewa dan marah sekali."


Toni mengguncang tubuh Pelangi yang mulai tak terkendali. "Shuut, tenanglah, Pelangi. Kendalikan dirimu dan pelankan suaramu. Gilang tidak tahu apa pun. Gisel menghilang malam itu juga di saat kamu mengalami kecelakaan. Dia menghilang bersama dengan Atika. Tidak ada yang pernah mengatakan pada Gilang bahwa kita telah menipu Gilang. Sama sekali tidak ada. Jadi, bersikaplah biasa dan kendalikan dirimu." Toni berbohong. Ia tahu, jika Pelangi sampai mengetahui yang sebenarnya, gadis itu pasti akan menjauhi Gilang karena merasa tidak nyaman dan malu.


"Benarkah? Kamu tidak menutupi sesuatu dariku, 'kan? Karena jika memang Gilang sudah tahu semuanya, lebih baik aku pergi. Aku malu sekali padanya, sampai-sampai aku pasti tidak akan sanggup untuk menunjukan wajahku di hadapannya."


Toni mengangguk, lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jasnya. "Usap air matamu, dan naiklah ke atas. Tidurlah dan jangan berpikir macam-macam."


Pelangi menerima sapu tangan yang Toni berikan, lalu mulai mengusap kedua pipinya hingga kering. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali menangis tersedu-sedu.


"CK, apalagi, Pelangi."


"Andai waktu bisa kuulang. Aku tidak mau kalian paksa waktu itu untuk tidur di samping Gilang. Gilang pasti sangat kecewa, hatinya pasti sakit dan marah. Kasihan dia." Pelangi terisak semakin parah saat membayangkan wajah Gilang yang kecewa dan tersakiti karena perbuatannya


Toni mengusap wajahnya dengan kasar. "Sudah kubilang, Gilang tidak tahu apa-apa."


"Be-benar?!" tanya Pelangi sambil sesenggukan.



"Benar, Pelangi, benar."


"Oke, aku ke atas dulu kalau begitu." Pelangi kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


Gilang yang sejak tadi mendengarkan percakapan Toni dan Pelangi dari balik rak hias, segera menghampiri Toni saat Pelangi tak lagi terlihat.


Toni yang melihat kehadiran Gilang segera berkata, "Jangan sampai dia tahu kalau kamu sudah tahu semuanya. Dia pasti akan langsung pergi meninggalkan kita semua. Kalau sampai dia pergi, mungkin kamu tidak keberatan, tapi ayahmu bisa kembali terkena serangan jantung."


Gilang diam saja. Setelah melihat kesedihan di wajah Pelangi dan air mata gadis itu, hatinya menjadi tersentuh. Ia tidak menyangka jika Pelangi akan sangat menyesal, ia juga tidak tahu jika ternyata Pelangi dipaksa untuk turut serta dalam rencana sang ayah.


"Kalian memaksanya melakukan penipuan padaku?" tanya Gilang.


Toni mengangguk. "Ya, kami memaksanya, karena saat itu Pelangi sedang terlilit hutang, dan seorang rentenir mengejar-ngejarnya. Andrew ditugaskan untuk menolong Pelangi dan membawa Pelangi pada ayahmu. Sebagai imbalan karena ayahmu telah menyelamatkan Pelangi, dia harus mau menikah denganmu. Awalnya Pelangi menolak, tetapi dia tidak bisa berkutik saat Andrew dengan cepat mengatur strategi ketika kita berdua ada di rumah Pelangi malam itu."


Buk!


Tinju Gilang mendarat di wajah Toni. "Sialan kalian. Selain menipuku, kalian juga memanfaatkan Pelangi yang sedang kesusahan. Di mana hati nurani kalian? Dan kenapa tidak ceritakan padaku bagaimana kronologinya?!"


Toni mengusap pipinya yang berdenyut karena ditinju oleh Gilang. "Kamu tidak bertanya."


"Arg, sudahlah Bicara denganmu sama saja seperti bicara dengan troll! Dasar bodoh!"


Bersambung ....