
Amara dan Toni menghentikan langkah ketika mendengar teriakan Surya. Keduanya bingung dan juga terkejut atas ucapan Surya. Terlebih lagi Toni yang sudah bekerja begitu lama mendampingi keluarga Andreas. Ia tidak paham, apa maksud perkataan Surya yang mengatakan bahwa perusahaan akan menjadi milik Surya setelah jam istirahat berakhir.
"Apa maksud Anda?" tanya Toni. "Bagaimana bisa perusahaan ini akan menjadi milik Anda?"
Melihat Toni yang mulai bingung dan penasaran, bukannya memberi penjelasan pada Toni, Surya malah tertawa dengan wajah angkuh, lalu ia berbalik pergi tanpa memedulikan Toni yang terlihat berang, diikuti oleh beberapa pria bertubuh besar berwajah bengis.
"Sialan dia! Kenapa dia malah pergi? Biar kuhajar dia sekalian." Toni melangkah maju, berniat untuk menghampiri Surya dan menghajar pria itu habis-habisan, tetapi Amara dengan cepat menarik tangan Toni, menahan pria itu agar tidak bertindak gegabah.
"Jangan lakukan, Pak, biarkan saja dia. Lebih baik kita memberitahu Pak Farhan," ujar Amara.
Toni menghentikan langkah dan meremas tangan Amara yang masih menggenggam tangannya untuk menetralisir amarah yang sekarang sedang menyelimuti dadanya. Saat emosinya mulai mereda, Toni kemudian menatap Amara. Amara dapat melihat dengan jelas bagaimana kedua sorot mata Toni terlihat begitu khawatir.
"Semua pasti baik-baik saja, Pak. Ayo, kita ke ruangan Pak Farhan," ajak Amara.
"Pak Farhan sedang tidak ada di ruangannya, Ra, hari ini Pak Farhan berangkat ke Kanada, ada urusan yang mendesak di sana," ujar Toni, kemudian ia kembali melangkah masih sambil menggenggam tangan Amara.
"Mau ke mana kita?" tanya Amara. Ia tidak ingin jika Toni benar-benar pergi untuk menghajar Surya. Apalagi pengawal yang berdiri di belakang Surya tadi memiliki badan yang begitu besar. Jika Toni berani macam-macam bisa gawat urusannya.
"Kita makan siang. Aku kan sudah janji tadi. Selesai makan aku akan menemui beberapa orang kepercayaan Pak Farhan dan meminta Gilang untuk datang ke kantor. Perasaanku benar-benar tidak enak."
Amara menghentikan langkah dan kembali menahan tangan Toni.
"Ada apa?" tanya Toni.
"Makan siang bersama bisa kita lakukan kapan-kapan, Pak, masalah kantor lebih penting saat ini. Lebih baik Pak Toni urus saja masalah kantor, aku tidak terlalu lapar, kok, " ujar Amara, tepat saat perutnya berbunyi, menepiskan kalimat yang barusan ia ucapkan. Hal itu membuat kedua pipi Amara merona merah, ia malu sekali karena perutnya tidak dapat diajak kerja sama.
Toni tertawa mendengar suara yang berasal dari perut Amara. "Kamu mungkin bisa berbohong, tapi tidak dengan perutmu, Ra. Tidak apa-apa, makan siang kan tidak membutuhkan waktu yang lama, ayo!"
Amara meggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Pak, aku sungguh tidak apa-apa." Amara kemudian berbalik dan berlari menuju elevator, meninggalkan Toni yang memanggil-manggil di belakangnya.
Sebenarnya sulit sekali bagi Amara untuk tidak menghiraukan teriakan Toni. Ingin rasanya ia berbalik dan menghampiri Toni, tetapi tidak ia lakukan. Toh ada masalah yang lebih penting sekarang dibandingkan masalah perasaannya, dan ia tidak ingin menjadi wanita egois yang kehadirannya malah merepotkan Toni.
***
Gilang memberikan selembar kertas dan pulpen pada Pelangi, meminta wanita itu untuk membuat sebuah daftar keinginan.
Setelah selesai mandi bersama beberapa waktu yang lalu, sekarang keduanya sedang bersantai di balkon kamar yang menghadap ke halaman belakang rumah, memperlihatkan jejeran pohon tabebuya dengan bunga berwarna-warni yang terlihat begitu indah.
Pelangi duduk di pangkuan Gilang, membiarkan pria itu membelai rambutnya yang basah dan sesekali mendaratkan kecupan di tengkuknya.
"Daftar keinginan untuk apa?" tanya Pelangi, keheranan.
"Untuk apa, ya? Ya untuk seru-seruan saja. Memangnya kamu tidak menginginkan apa pun sekarang ini? kamu hampir tidak pernah meminta apa pun padaku, Pelangi," ujar Gilang.
Pelangi memang tidak pernah meminta apa pun dari Gilang. Itulah sebabnya Gilang meminta Pelangi untuk membuat daftar keinginan. Gilang ingin tahu apa yang diinginkan wanita yang sangat ia sayangi itu dan memberikannya jika ia mampu. Andai ia tidak mampu pun ia pasti akan mengusahakannya. tidak ada yang tidak akan Gilang berikan untuk pelangi.
Pelangi memiringkan kepala sedikit ke belakang agar dapat menatap wajah Gilang. "Heem, baiklah. Akan aku tulis." Pelangi tersenyum simpul, lalu meletakan kertas di atas pangkuannya dan mulai menuliskan sesuatu yang paling ia inginkan saat ini dan selamanya.
Gilang diam, memperhatikan sang istri dari belakang yang sedang sibuk dengan kertas dan pulpennya. Perlahan Gilang melingkarkan tangannya di perut Pelangi yang bucit dan mengusapnya dengan lembut.
"Dia sudah semakin besar," ucap Gilang, masih membelai perut Pelangi.
"Ya, dia suka makan, bagaimana tidak cepat besar." Pelangi menjawab, kemudian ia bangkit berdiri dan menghadap ke Gilang sembari menyerahkan kertas yang tadi Gilang beri padanya. "Aku sudah selesai."
Gilang menaikkan sebelah alisnya. "Cepat sekali. Aku pikir kamu akan menulis seratus daftar keinginan. Sayang sekali, padahal ini adalah kesempatan emas buatmu untuk meminta apa saja dariku."
"Tidak, untuk apa banyak-banyak kalau satu keinginan saja bisa mencakup semuanya." Pelangi kembali duduk di pangkuan Gilang, kali ini dengan posisi menghadap ke Gilang agar ia bisa terus menatap wajah Gilang.
Gilang mencubit pipi Pelangi dengan gemas, lalu mengambil kertas yang masih berada di tangan wanita itu. "Istriku memang pintar sekali."
"Ya, ya, ya, terima kasih. Jika aku tidak pintar, aku tidak akan bertahan hidup sampai sekarang."
Gilang membelai wajah Pelangi. "Hidupmu pasti sulit. Untunglah kita dipertemukan, karena mulai sekarang aku tidak akan membuatmu kesulitan, aku janji."
Pelangi tertawa. "Pegang kata-katamu, Bos."
"Tentu, aku mana mungkin ingkar janji." Gilang tersenyum, lalu membuka lipatan kertas yang Pelangi berikan padanya.
Gilang tertawa begitu melihat apa yang Pelangi tulis. "Just me?"
Pelangi mengangguk. "Karena bagiku, menilikimu dan menginginkanmu adalah segalanya."
"Oh, Sayangku, aku terharu sekali." Gilang merangkul Pelangi dan menenggelamkan wajahnya di pundak wanita itu. "Aku suka saat memelukmu dan menghidu aroma tubuhmu."
"Aku selalu memakai parfum bayi. Sejak mengandung, aku suka sekali aroma dari parfum bayi, padahal sebelumnya aku tidak begitu suka memakai parfum. Aku rasa aku akan menyukai aroma ini untuk selamanya." Pelangi menghirup lengannya yang beberapa waktu lalu ia semprot dengan parfum.
"Oh, ya, aku tidak tahu kalau parfum bayi bisa sewangi ini."
"Ya, parfum ini memang wangi, merk Sweet Baby yang botolnya warna merah muda, kapan-kapan belilah dan coba pakai, kamu pasti suka," ujar Pelangi.
"Merah muda. Jangan-jangan bayi kita berjenis kelamin perempuan. Temanku pernah bercerita padaku bahwa jenis kelamin anak bisa dilihat dari sikap ibunya. Jika seorang wanita menyukai warna merah muda saat mengandung bisa saja bayinya adalah perempuan." Gilang menjelaskan.
"Dan kamu percaya akan hal itu?" Pelangi bertanya, rasanya sulit untuk dipercaya jika Gilang yang realistis percaya akan hal-hal seperti itu.
Gilang menggeleng. "Tidak juga, tapi seru juga memperkirakan sesuatu yang sulit sekali untuk diperkirakan. Jadi, bagaimana kalau kita mengatur pertemuan dengan Dokter Virzha dan melakukan USG?"
Pelangi baru saja hendak menjawab ucapan Gilang, ketika ponsel Gilang berdering dan nama Toni muncul di layar benda pipih itu.
Pelangi memperhatikan perubahan pada wajah Gilang. Tadinya ekspresi wajah Gilang begitu santai, tetapi sekarang tidak lagi. Gilang terlihat tegang, bingung dan marah. Apa pun yang sedang dikatakan Toni sekarang dari seberang telepon pastilah sesuatu yang buruk.
"Ada apa," tanya Pelangi.
Gilang tidak menjawab, ia hanya membelai puncak kepala pelangi dan mengecupnya singkat, sebelum ia membantu Pelangi untuk bangkit berdiri.
"Tunggu aku. Aku akan ke kantor sekarang," ujar Gilang, lalu memutus sambungan telepon.
"Gil, ada apa?" tanya Pelangi lagi. Kekhawatiran yang jelas tampak di wajah Gilang, dapat dengan mudah menular ke Pelangi.
"Tidak ada apa-apa, Sayang, hanya ada sedikit masalah di kantor. Tunggulah di sini, aku akan ke kantor sebentar."
Pelangi mengangguk. "Ya, hati-hati."
Gilang tersenyum, kemudian berbalik pergi meninggalkan Pelangi yabg sekarang ikut merasa khawatir.
***
Andrew menendang bagian depan mobilnya saat mobil yang selama ini ia gunakan ke mana pun dirinya pergi itu tiba-tiba saja mengalami kerusakan pada bagian mesin. Padahal sebelumnya mobil berjenis sedan Bentley Mulsanne asal Eropa itu tidak pernah sekali pun mengalami kerusakan.
"Kenapa rusak di saat seperti ini, sih!" keluh Andrew, yang saat ini sedang berada di halaman depan sebuah rumah sederhana tempat Delia dan Exel tinggal.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa aku harus menghubungi Exel agar dia menjemputmu?" tanya Delia, yang merasa ia harus melakukan sesuatu, karena Andrew sepertinya sedang terburu-buru sekali saat berlari keluar dari rumah tadi sesaat setelah menerima telepon entah dari siapa.
"Itu dia. Pas sekali," ujar Andrew, saat dilihatnya Exel melaju dengan motor besarnya menuju rumah.
Exel yang baru saja turun dari motornya segera menghampiri andrew dan Delia yng sedang berdiri di tengah halaman. "Ada apa?"
"Seperti yang kamu lihat, dia mogok."
Exel tidak mengatakan apa-apa mengenai mobil andrew yang rusak, karena ia memiliki hal lain yang lebih penting yang ingin ia sampaikan pada Andrew. Karena hal itu jugalah ia memilih pulang lebih awal dari kantor atas persetujuan Amara. Ia pun menetima informasi penting itu dari Amara. "Kamu sudah mendapat telepon dari Toni?" tanya Exel.
Andrew mengangguk. "Ya, sudah. Itulah sebabnya aku harus ke kantor sekarang, tapi mobil ini malah rusak."
"Biar kuantar kalau begitu. Situasi ini genting."
Andrew menyentuh dagunya. "Ya, sangat genting. Padahal selama beberapa bulan terakhir, situasi aman terkendali. Tidak ada satu pun hal mencurigakan yang terjadi. Kenapa tiba-tiba jadi begini?!" tanyanya, seolah Exel dapat menjawab pertanyaannya.
"Siapa pun mereka, pasti mereka menunggu kalian lengah. Dan sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka. Merebut perusahaan! Berani sekali mereka." ujar Exel.
Andrew mengangguk. "Nyali merwka memang besar. Peringatan yang Ringgo sampaikan ke Pelangi sebelum dia tewas ternyata benar adanya. Sungguh seperti sinetron sajan. Ayo antar aku."
Exel mengangguk, kemudian segera menaiki motornya dan membonceng Andrew membelah padatnya jalanan kota menuju gedung perkantoran Andreas Group.
***
Gilang turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa begitu tiba di kantor. Toni yang sudah menanti di lobi segera menghampiri Gilang dan menarik lengan pria itu menuju sudut lorong yang sepi sebelum Gilang menuju lantai atas dan terkejut melihat apa yang tengah terjadi di sana.
"Aku rasa semuanya akan berakhir, Gil," ujar Toni, begitu mereka hanya berdua saja.
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi?"
Toni kemudian menceritakan kejadian di kantor selama Gilang dalam perjalanan.
"kejadiannya sangat cepat dan terstruktur. Aku rasa semua ini telah diatur sejak lama. Andreas Group akan tamat."
Gilang mendorong tubuh Toni. "Jaga bicaramu, Ton. Andreas Group tidak akan kenapa-kenapa." Gilang kemudian melangkah menuju elevator. "Aku akan ke atas. Katakan, di mana si Surya sialan itu."
"Mereka sedang mengadakan rapat."
"Mereka?" Gilang mengernyitkan dahi.
"Ya, para pemegang saham telah menyetujui pengalihan perusahaan. Surya adalah pemilik sah Andreas Group saat ini. Dia memiliki senua yang dibutuhkan untuk mengambil alih perusahaan. Termasuk dokumen penting, tanda tanganmu, tanda tangan ayahmu, stempel dan segalanya." Toni memijat pelipisnya.
Gilang tersenyum sinis, ia tidak percaya pada apa pun yang dikatakan oleh Toni. Bagaimana bisa Surya memiliki segalanya sedangkan ia tidak pernah menandatangani surat pernyataan apa pun tanpa persetujuan pengacaranya.
"Bagaimana bisa dia memiliki semua itu. Sangat tidak masuk akal!"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Gil, kenapa bisa kamu begitu ceroboh menandatangani surat yang mungkin isinya belum kamu baca."
"Kamu benar-benar mengira kalau aku melakukan kesalahan itu? Itu berarti kamu juga pasti mengira kalau ayahku yang begitu teliti juga melakukan kebodohan itu karena tanda tangannya juga ada pada Surya?" Gilang terlihat berang dan kecewa pada Toni yang menudingnya melakukan kesalahan fatal.
Toni mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu apa yang terjadi jika bukan begitu? Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, Gil, maafkan aku. Kalau sampai ayahmu tahu tentang kejadian ini, aku takut penyakit jantungnya akan kumat."
"Jangan sampai dia tahu. Aku akan selesaikan masalah ini secepat mungkin sebelum ayah datang."
"Kamu yakin?" Toni terlihat sangsi.
"Tentu. Ayo!"
Bersambung ....