OH MY BOSS

OH MY BOSS
JOGING BERSAMA



Amara tiba di kompleks kediaman Farhan Andreas tepat jam tiga pagi. Bus kedua yang ia tumpangi sempat mengalami ban bocor yang menyebabkan perjalanan tertunda hampir satu jam lamanya. Namun, di luar itu tidak ada halangan yang berarti.


Amara turun dan memilih untuk berjalan kaki menuju kediaman Farhan Andreas, karena area perumahan itu memiliki peraturan ketat yang melarang bus masuk tanpa adanya surah izin dari pihak developer. Apalagi di jam yang tidak normal seperti sekarang, pasti akan banyak pertanyaan yang diajukan oleh pihak keamanan yang menjaga di portal masuk.


"Eh, Mba Amara, lama tidak kelihatan." Seorang petugas keamanan yang kebetulan mengenal Amara menyapa Amara dengan ramah. Ia adalah Pak Jaka, seorang sekuriti yang telah bekerja di kompleks perumahan itu selama bertahun-tahun.


Amara tersenyum dan segera melangkah menuju pos sekuriti. "Hai, Pak, selamat malam, eh, subuh maksud saya." Amara terkekeh.


Pak Jaka ikut tertawa dan segera menghampiri Amara yang berdiri di luar pos jaga. "Mau ke rumah Pak Farhan?" tanyanya.


Amara mengangguk. "Iya, Pak, mau ke mana lagi memangnya kalau tidak ke rumah Pak Farhan."


"Ish, percuma ke sana, Mba, mereka semua sedang tidak ada."


Amara mengernyitkan dahi. "Ke mana memangnya mereka, Pak?"


"Ke Desa Wisata. Saya dengar dari pelayannya, sih, katanya ada proyek besar di sana. Keluarga Andreas baru saja membeli Hotel di sana dan sedang merenovasi hotel itu."


Amara berdecak kesal. Ia hafal bagaimana kebiasaan keluarga Andreas. Jika mereka semua sedang bepergian, maka semua pelayan akan diliburkan dan rumah besar itu pasti kosong. Itu berarti ia tidak bisa beristirahat di rumah itu saat ini.


"Harus ke mana aku," gumam Amara. "Mana ada bus yang berangkat ke Desa Wisata di subuh hari seperti ini."


Istirahat saja dulu di sini, Mba. Nanti jam enam ada jadwal bus yang berangkat ke terminal. Dari sana Mba Amara bisa mencari bus yang akan berangkat ke Desa Wisata.


Amara mengangguk dan segera masuk ke dalam pos jaga. "Baiklah, terima kasih Pak Jaka. Aku akan tidur sebentar kalau begitu." Amara langsung merebahkan tubuhnya di satu-satunya sofa panjang yang ada di dalam pos jaga dan membiarkan dirinya terlelap.


***


Botol parfum berwarna merah muda bertuliskan Sweet Baby yang sekarang tengah berada di tangan Gilang membuat Gilang berpikir keras. Ia benar jika mengatakan bahwa aroma dari parfum itu terasa tidak asing baginya, karena sekarang ia pun merasa tidak asing pada merk parfum bayi itu.


"Sweet Baby, Sweet Baby, rasanya aku pernah mendengar nama merk dagang ini, tapi entah di mana." Gilang mondar-mandir di depan pintu kamar Pelangi, sementara Pelangi dan Alia berdiri di ambang pintu dan menatap Gilang dengan bingung.


"Pak, sebaiknya bapak pergi dari sini. Ini masih pagi, baru juga jam enam pagi, Pak. Nanti kalau ada yang lihat bisa jadi salah paham lagi," ujar Pelangi.


Belum lagi Gilang memutuskan apakah ia harus pergi atau tidak, Farhan Andreas terlihat di ujung lorong. Pria tua itu tengah melangkah menuju ke kamar Pelangi bersama dengan Toni dan Andrew.


Setibanya di hadapan Pelangi dan Gilang, Farhan tertawa. "Aku sudah menebak jika anak nakal ini pasti ada di sini saat aku tidak menemukannya di dalam kamarnya."


Pelangi dan Alia membungkuk hormat. Kedua wanita itu terlihat gugup dan salah tingkah.


"Pak. Ada perlu apa ...? Em, maksud saya apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Pelangi.


"Tidak, Nak, tidak ada yang penting sebenarnya. Santai saja. Aku hanya sedang ingin joging pagi ini."


"Ya, joginglah kalau begitu. Kenapa ayah malah mencariku?" Gilang yang menjawab dengan nada yang sedikit sewot, karena kedatangan ayahnya mengganggu kebersamaannya dengan Pelangi.


"Aku tidak mencarimu. Aku mencari Raina." Farhan menjawab dengan malas.


"Aku? Tapi kenapa, Pak?" tanya Pelangi.


"Jika kamu tidak keberatan. Maukah kamu menemaniku joging. Aku, Toni dan Andrew sering joging bersama belakangan ini. Pasti akan seru sekali jika kamu dan temanmu bisa bergabung dengan kami," ujar Farhan.


Pelangi segera berganti pakaian, begitu juga dengan Alia, sementara Andreas squad menunggu di aula utama.


Beberapa saat kemudian Pelangi turun ke aula utama bersama dengan Alia.


"Sudah siap," tanya Toni, sembari membantu Farhan untuk berdiri.


Andrew yang lebih banyak diam dan hanya terus menatap Pelangi sejak tadi mendapat teguran langsung dari Pelangi kali ini. "Apa selalu begitu cara Anda menatap orang lain?"


"Tidak semua orang. Hanya Pelangi." Andrew menjawab singkat.


"Tapi aku bukan Pelangi. Aku Raina."


"Tapi kamu mirip dengan Pelangiku."


"Pelangimu? Itu berarti dia kekasihmu?" tanya Pelangi.


"Hampir jadi kekasihku, andai saja--"


"Sudah-sudah. Tidak usah dibahas. Ayo kita keluar sekarang." Farhan menghentikan perdebatan antara Pelangi dan Andrew, lalu meminta Pelangi agar berdiri di sebelahnya. "Jika tidak ingin diganggu Andrew, maka berdirilah di sampingku."


Dengan cepat Pelangi menggeser tubuhnya agar berada di samping Farhan. Ia sangat risi jika terus ditatap.


Mereka semua kemudian keluar dari dalam hotel, memasuki pagi yang dingin dan berkabut. Tubuh Pelangi sedikit menggigil sebenarnya, tetapi ia yakin saat mulai berkeringat nanti rasa dinginnya pasti akan hilang.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini, Nak?" tanya Farhan pada Pelangi.


"Baru dua minggu, Pak." Pelangi menjawab dengan sopan.


"Wah, ternyata kamu adalah karyawan baru." Farhan terlihat terkejut, kemudian pria tua itu melanjutkan. "Aku ingin membawamu ke kantor pusat jika kamu tidak keberatan. Aku akan menyediakan segala fasilitas yang kamu butuhkan, termasuk sebuah rumah untuk tinggal."


Pelangi terlihat bingung untuk sejenak, kemudian ia berkata, "Sebenarnya saya memang harus ikut ke kota, Pak, bahkan tanda Anda minta, karena Pak Gilang menjadikan saya asisten pribadinya."


"Benarkah. Bagus sekali, Nak, bagus. Kalau boleh tahu sejak kapan Gilang menjadikanmu asisten pribadinya?" Farhan terkekeh.


"Sejak kemarin, Pak."


"Kamu menerima pekerjaan itu? pekerjaan yang akan membuatmu terus berada di sisi Gilang," tanya Andrew yang terlihat tidak suka pada berita yang baru saja Pelangi siarkan.


Pelangi mengangguk. "Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyetujui permintaan Pak Gilang. "


"Ya, terserah sajalah." Andrew melajukan langkahnya dan perlahan ia berlari-lari kecil, meninggalkan rombongannya.


Pelangi memonyongkan bibirnya ke arah punggung Andrew yang terlihat semakin menjauh.


"Dia itu tampan tapi sayangnya jutek sekali." Alia berbisik di telinga Pelangi.


Pelangi mengangguk setuju. Andrew memang terlihat tidak bersahabat padanya, tetapi ekspresi pria itu terlihat tidak asing di matanya, seolah ia sebelumnya pernah bertemu dengan Andrew, tapi entah di mana dan kapan.


Bersambung ....