OH MY BOSS

OH MY BOSS
MELAMAR PEKERJAAN



Pelangi berdesakan di antara puluhan para pelamar kerja yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Memang, di zaman yang serba sulit ini, bukan hanya kaum adam yang sibuk mencari pekerjaan. Para wanita pun tidak mau kalah dan berlomba agar mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah yang layak juga. Kebanyakan dari mereka beralasan karena upah sang suami tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur dalam sebulan.


Pelangi menarik lengan Alia yang berdiri di sampingnya. "Kamu tidak bilang jika kita harus mengantre juga. Katamu Joko yang akan menuntun kita lewat jalur belakang," protes Pelangi, yang wajahnya mulai memerah dan berkeringat karena kepanasan. Sebenarnya ia tidk masalah jika harus berdiri selama berjam-jam di bawah sinar matahari, tetapi jika harus berdesakan, Pelangi memang tidak tahan.


"Ya, seharusnya memang begitu. Tapi entah di mana si Jek itu. Dia belum datang sepertinya." Alia menjawab, sembari mengedarkan pandangan agar dapat menemukan sosok jangkung berkulit cokelat yang merupakan tetangganya di desa.


Saat itulah Pelangi melihat Joko yang mengenakan seragam sekuriti sedang menyeruak di antara kerumunan sembari berteriak-teriak, meminta para pelamar untuk berbaris dan tidak berdesakan.


Pelangi kembali menarik lengan Alia. "Itu dia, sedang mengatur barisan," ujar Pelangi sambil terkekeh geli. Apalagi sekarang Joko terlihat sedang berdebat dengan salah satu pelamar, seorang ibu rumah tangga bertubuh tambun dan mengenakan celana leging berwarna merah mencolok yang super ketat.


"Astaga, kenapa dia cari masalah sama emak-emak, sih!" Alia memukul keningnya, menyesalkan tindakan Joko yang terlalu berani. Melawan seorang wanita di cuaca panas dan kondisi berdesakan seperti ini memang bukan pilihan bijak. Sudah dapat dipastikan Joko akan didamprat habis-habisan oleh wanita bertubuh tambun itu.


Setelah melewati menit demi menit di tengah kerumunan, akhirnya Joko tiba di hadapan Pelangi dan Alia. Untunglah ia segera datang, karena Pelangi terlihat hendak pingsan sekarang. Tanpa banyak bicara, Joko menarik lengan kedua wanita itu dan menuntunnya berjalan menuju samping bangunan hotel yang temboknya dipenuhi lumut dan retak di mana-mana.


"Jadi, kami diterima?" tanya Alia langsung tanpa berbasa-basi, ketika mereka tiba di samping ruangan yang merupakan bekas gudang penyimpanan alat kebersihan.


Joko mengangguk. "Ya, kalian bisa bekerja mulai hari ini. Aku sudah menyiapkan seragam kalian di sana." Joko menunjuk sebuah lemari yang ada di ujung lorong, lemari yang dulunya merupakan bekas penyimpanan kunci itu tidak kalah lusuhnya dari semua benda yang ada di hotel tua tersebut.


"Hebat sekali. Tapi ngomong-ngomong kita berdua diterima sebagai apa?" tanya Pelangi.


"Kalian akan bekerja sebagai petugas kebersihan di lantai dua, karena petugas di bagian laundry sudah banyak dan tidak mungkin untuk menempatkan kalian lagi di sana." Joko menjelaskan pada Pelangi dan Alia.


"Lantai dua? Apa jumlah pekerja yang tinggal di sini sebanyak itu, sampai-sampai lantai dua juga terisi. Padahal jumlah kamar di lantai satu saja sudah cukup banyak, bukan?" tanya Alia.


"Sebenarnya lantai dua masih kosong hingga sekarang. Hanya saja dua atau tiga hari lagi akan ada kunjungan dari kantor pusat. Nah, lantai dua dikhususkan untuk para orang penting dari kantor pusat."


"Wah, itu berarti akan banyak bibit unggul yang datang!" Alia bertepuk tangan girang sembari melompat seperti anak kecil yang dihadiahi permen.


"Bibit unggul?" Joko keheranan, pria itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Melihat kebingungan di wajah joko, Pelangi pun menjelaskan. "Alia mau mencari jodoh. Itulah alasan dia ngotot ingin bekerja di sini."


Joko menggelengkan kepala melihat tingkah Alia. "Dasar genit."


"Biarin." Alia menjulurkan lidah, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Ya, sudah, ganti baju kalian dan serahkan CV kalian padaku. Biar aku yang urus CV-CV itu. Kalian berdua bekerjalah dengan baik dan benar."


"Baiklah, Raina, perburuan jodoh dimulai!" gumam Aila, yang hanya ditanggapi Pelangi dengan gelengan kepala.


***


Rapat direksi yang dipimpin Gilang berakhir tepat satu jam sebelum jam makan siang. Gilang menguap sembari merentangkan kedua tangan saat seluruh peserta rapat telah keluar dari dalam ruang rapat, hanya tersisa dirinya, Andrew dan Toni. Semalam ia tidak bisa tidur hingga pagi menjelang. Bukannya ia sibuk bermain cinta dengan Gisel, bukan! Justru ia meminta Gisel pulang semalam dan berkata pada Gisel agar wanita itu jangan datang lagi saat malam sudah larut. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu, mengusir Gisel adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan dalam kondisi normal. Hanya saja bayangan wanita misterius yang selalu muncul di dalam kepalanya cukup mengganggu pikiran dan merusak mood-nya. Sehingga berbaring seorang diri sembari menatap langit-langit kamar lebih baik bagi Gilang daripada bermain cinta dengan Gisel.


"Begadang semalaman sangat tidak baik bagi kesehatan, Gil. Bisa-bisa otakmu yang sudah rusak itu semakin rusak," ujar Toni, yang melihat Gilang hampir tertidur sambil duduk.


Andrew mengambil semprotan kaktus yang ada di ruang rapat, karena di ruang rapat juga terdapat beberapa pot kaktus dan sekulen kesukaan Gilang. Tanpa basa-basi Andrew menyemprotkan semprotan itu ke wajah Gilang, membuat Gilang terkejut dan segera mengusap wajahnya yang basah.


"Sialan kamu, Ndrew!" teriak Gilang, ia terlihat benar-benar kesal.


Andrew tersenyum miring. "Bangun dan cuci mukamu. Ada yang harus kita bicarakan tentang proyek di Hotel Mentari."


"Hotel tua yang hampir runtuh itu?" tanya Gilang. "Bukankah Tito yang sudah ditugaskan untuk mengawasi pekerjaan di sana. Tidak ada hal penting yang harus dibahas lagi mengenai hotel itu."


Andrew menggeleng. "Tito tidak bisa, karena dia sudah dijadwalkan untuk mengawasi pembangunan di tempat lain. Lagi pula, Pak Farhan bilang harus kamu yang langsung turun ke sana. Kamu kan perencana yang handal."


Gilang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Haruskan aku juga turun ke lapangan? Tidak bisakan aku istirahat barang sehari saja?"


"Tidak bisa!" seru Toni dan Andrew berbarengan.


"Sesekali seorang CEO harus turun langsung ke lapangan." Toni menimpali. "Agar kamu tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang pekerja lapangan."


"Ya, aku tidak keberatan. Hitung-hitung mencari udara segar. Aku dengar letak hotel itu jauh dari perkotaan," ujar Gilang.


"Ya, letaknya memang jauh dari perkotaan. Aku pernah sekali ke sana, di sana sangat sejuk. Tapi kamu harus berhati-hati, Gil, karena kudengar hotel itu berhatu," ujar Toni, sembari bergidik, seolah dirinya memang sedang melihat hantu saat ini.


Gilang tertawa terbahak-bahak. "Mana ada hantu di dunia ini. Jangan mengada-ngada."



Bersambung ....