OH MY BOSS

OH MY BOSS
MIRIP JUSTIN SEMUA



Nena melangkah gontai memasuki pelataran rumah. Saat tidak didapati seorangpun yang menjawab salamnya, gadis itu melenggang masuk setelah meletakkan sepatu baru nan mahal itu di rak sepatu yang terletak di samping pintu, barulah satu langkah, gadis itu kembali menoleh pada rak tersebut, benda yang baru beberapa detik ia letakkan di sana nampak kontras dengan penghuninya yang lain.


"Delapan juta setengah, nggak boleh di luar, ntar ada yang nyolong," ujarnya seraya mengambil kembali sepatu hitam nan elegan itu untuk kemudian mengelus ujungnya. "Debu ajah ogah nempel, licin banget, kalo gue bilang ke Siska ini kw super, percaya nggak yah dia." Lanjutnya bimbang namun terus melangkah masuk.


"Masuk rumah bukannya salam malah ngomong sama sendal, situ waras?" Entah pertanyaan atau pernyataan, yang jelas kalimat itu membuat Nena dongkol, dan rasa ingin menjitak kepala adiknya itu dengan hak sepatu, kalau dia lupa betapa mahalnya benda di tangannya itu.


"Gue udah kasih salam, lo nya aja yang budek," balasnya setelah mendudukkan dirinya pada kursi tunggal di hadapan adiknya yang tengah asik menggosok body si Meri, motor matic merah yang ia beli dalam keadaan bekas beberapa bulan yang lalu. Dan melihat si kuda besi yang adiknya belai dengan penuh kasih sayang itu, mengingatkan dirinya pada harga sepatu cantik di tangannya.


"Dek, lo kemaren beli ni motor berapa juta dah?"Tanyanya. Ardi menoleh, dan setelah mencelupkan kanebo yang sudah berubah dekil kedalam ember isi air yang juga butek. Dia menjawab.


"Lapan juta, ngapa emang?" Dia balik bertanya.


"Masih mahalan sepatu gue berarti."


"Hah?" Ardi melirik sepatu yang nampak baru di tangan kakak perempuannya itu. "Sepatu lo semahal itu? Nyolong dimana lo?" tuduhnya kemudian.


Dan seketika itu Nena lupa akan harga sepatu di tangannya yang lebih mahal dari apapun barang-barang di rumahnya itu. Setelah si Louboutin nan cantik itu melayang ke kepala sang adik yang ternyata lebih sigap menangkis dengan berakhir nyemplung ke ember berisi air butek nan kotor. Barulah kesadarannya kembali.


"Sepatu lapan juta gue!" Pekik Nena langsung mengobok air di dalam ember guna memastikan sepatu mewahnya itu tidak berubah warna.


Ardi tergelak yang membuat kakak perempuan satu-satunya itu bertambah dongkol, nyatanya setelah seharian berjibaku dengan bos gantengnya yang mendadak songong luar biasa, pulang kerumah sepertinya bukan hal yang tepat untuk mengembalikan suasana hati Nena yang kelewat suram, yang ada gadis itu semakin mencak-mencak tidak karuan.


"Kewalat lo sama gue, coba tadi kalo pala gue bocor gimana?"


"Di sekolahan, lo. Nggak ada pelajaran budi pekerti ya? Masak kakak lo sendiri lo tuduh nyolong. Lo masih pengen napas nggak?" Semprotnya sembari meratapi si hitam lapan juta yang berubah lepek.


"Jangaan!" Reflek Nena menarik sepatu di tangannya ke-luar jangkauan kanebo dekil di tangan Ardi. "Sepatu gue udah nggak perawan lagi, udah ternoda, kotor gara-gara lo!" Lanjutnya.


"Yaelah, gue udah minta maaf kali," ujar Ardi, tersenyum penuh arti, bukannya mengartikan senyuman sang adik Nena malah terpaku, sejak kapan bocah tengil di hadapannya itu jadi mirip dengan Justin? Senyuman itu ia sangat kenal. Nena menggeleng, seharian terus mengekori atasannya yang sableng itu membuatnya terus dibayang-bayangi wajah beliau.


"Lo abis gajian ya? Tadi ada kurir nganter paket, banyak banget, lo abis ngeborong ya? Beliin buat gue nggak?" Ardi menodong kakaknya dengan banyak pertanyaan. Nena berdecak, pandangannya sinis mengarah pada sang adik, masih keki dengan tragedi kanebo dekil.


"Lo ngigo? Mana ada gue gajian tanggal tua begini?" Sungutnya kemudian melangkah meninggalkan sang adik.


"Beneran tadi ada yang nganter paket, gue taro di kamar lo." Teriaknya, yang sudah tak digubris oleh kakak perempuannya itu.


Setelah meletakkan sepatu yang bernasib tragis itu ke dalam kamar mandi dan akan ia cuci sekalian membersihkan diri, Nena menemui sang ayah,  menanyakan kesehatannya dan juga kenapa dia belum tidur. Tangannya dengan cekatan memijit pelan kaki yang akhir-akhir ini semakin terasa kurus di genggamannya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Rahadi, mencoba bangkit dari posisi terlentangnya untuk kemudian duduk. Nena sigap membantu.


"Lancar, Yah. Alhamdulilah."


"Sampaikan ucapan terimakasih ayah buat Nak Justin, dia terus mengirimi ayah obat-obatan yang bahkan yang ia kirim sebelumnya  belum habis."


"Iya, nanti Nena sampaikan," ucapnya patuh, Rahadi tersenyum, dan gadis itu kembali membeku.


Kenapa semua orang di rumah, mukanya mirip Justin semua si? Gue kayaknya mulai nggak waras.


**