OH MY BOSS

OH MY BOSS
GODAAN PELANGI



Suasana kediaman Farhan Andreas terasa sangatlah mencekam. Bukan karena rumah besar yang bagai istana itu menakutkan atau suram, atau berhantu, buka karena itu semua. Melainkan aura permusuhan yang menguar dari penghuni di dalamnya jelas sekali terasa di setiap aliran udara yang ada di setiap ruangan, koridor, tangga, ruang makan, halaman, bahkan kamar tidur.


Perang dingin bukan hanya terjadi antara Pelangi dan Gilang, tetapi antara Pelangi dan Suster An yang ternyata diam-diam menyukai Gilang, lalu Amara yang diam-diam membenci Suster An karena menurutnya suster yang satu itu amat genit. Belum lagi Andrew yang sesekali datang untuk menjenguk Pelangi, selalu menyempatkan diri untuk berdebat dengan Gilang juga. Lalu, ada Toni yang masih dimusuhi oleh Gilang.


Semua permusuhan itu membuat Farhan Andreas sakit kepala. Namun, ia berpura-pura tidak tahu. Ia membiarkan semuanya mengalir apa adanya, selama Gilang dan Pelangi masih tinggal di bawah satu atap dan tidur di kamar yang sama, baginya hal itu sudah sagat melegakan.


Empat belas hari sudah berlalu sejak kepulangan Pelangi, dan sejak hari pertama sampai hari ke empat belas, Gilang dan Pelangi tidak pernah saling bertegur sapa apalagi tidur bersama. Pernah suatu kali Pelangi mencoba untuk memulai obrolan saat mereka tengah makan siang, tapi niatnya itu seketika terhenti karena Gilang tiba-tiba saja mengatakan tidak selera makan karena merasa mendengar suara kecoak.


Pelangi tahu betul bahwa yang dimaksud Gilang dengan suara kecoak adalah suaranya, langsung menutup mulut rapat-rapat sebelum ia dipermalukan lebih jauh lagi oleh Gilang. Apalagi saat itu Suster An juga ada di ruang makan, dan Suster An terlihat senang sekali karena Gilang mengejek Pelangi dengan sebutan kecoak.



Sejak hari itu Pelangi enggan untuk berbicara lagi degan Gilang, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menanyakan hal penting pada pria itu. Terutama tentang alasan Gilang yang tiba-tiba saja bersikap dingin padanya. Namun, karena sikap Gilang yang semakin hari semakin menyebalkan, Pelangi pun memilih untuk menyerah.


Sore ini Amara kembali datang ke kediaman Farhan Andreas setelah jam kerja berakhir. Gadis itu memang diminta oleh Farhan untuk tinggal di kediamannya semetara waktu hingga Pelangi benar-benar sehat.


Pelangi merentangkan kedua tangan begitu melihat Amara yang berlari menyeberangi halaman menuju teras. "Selamat sore belahan jiwaku!" teriak Pelangi.


Gilang yang kebetulan berada di teras juga, melirik Pelangi dan menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Bagaimana bisa Pelangi menganggap Amara sebagai belahan jiwanya.


Amara yang tiba di teras segera memeluk Pelangi. "Bagaimana keadaanmu hari ini? Dan apakah si bayi rewel."



Pelangi mengangguk. "Dia rewel sekali, ingin makan ini, ingin makan itu. Aku sampai bingung ingin makan yang mana. Tidak mungkin kan kubeli dan kumakan semuanya."


"Beli saja yang paling kamu inginkan." Amara memberi saran. "Apa perlu aku yang belikan, mengingat kamu tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan." Amara melirik Gilang dan sengaja menekan kalimat itu agar Gilang merasa tersinggung.


Pelangi menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah telepon Andrew, dan dia akan datang sebentar lagi. Andrew itu sangat bisa diandalkan. Baik sekali dia." Pelangi tersenyum manis sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.


Mendengar nama Andrew disebut, Gilang terlihat tidak suka. Ia menegakan duduknya, dan menatap Pelangi secara terang-terangan. Ingin rasanya ia menghampiri Pelangi dan menanyakan apa yang gadis itu inginkan, biar ia saja yang beli, jangan Andrew. Namun, ia lagi-lagi harus menekan rasa itu. Toh, ia sedang marah pada Pelangi. Ia sedang menghukum gadis itu karena kesalahan yang diperbuatnya.


Lamunan Gilang buyar, saat sebuah sedan hitam memasuki halaman dan berhenti tepat di depan teras.


Pelangi bertepuk tangan seperti seorang kecil saat melihat Andrew keluar dari dalam sedan hitam itu, sementara Gilang mendengkus kesal. Amara yang melihat ekspresi Gilang hanya bisa mengatai Gilang di dalam hati.


'Kapok! Rasakan! Dasar Suami tidak bertanggung jawab!'


"Selamat sore, Cantik." Andrew menghampiri Pelangi dan membungkuk hormat, seperti sedang membungkuk pada seorang tuan putri.



"Selamat sore juga, Tampan. Mana pesananku?" Pelangi langsung megulurkan tangan setelah menjawab sapaan Adrew.


Andrew menyerahkan kantong kresek kepada Pelangi. "Asinan buah, rujak buah, buah segar, rujak serut, dan salad buah. Yakin bisa kamu habiskan semuanya?"


Pelangi mengangguk, lalu senyum manis kembali tersungging di bibirnya. "Tentu bisa. Ayo, masuk dulu. Kita makan sama-sama."


Andrew tersenyum jahil. "Boleh aku menyuapimu?"


"Akan kupikirkan saat kita tiba di dalam." Pelangi terkikik. Kemudian berbalik pergi dengan menggandeng tangan Andrew..


Melihat sang istri bersikap begitu ramah pada Andrew, apalagi sampai berani memegang tangan Andrew di hadapannya, membuat darah Gilang mendidih. Ia segera bangkit dari duduknya lalu menarik bagian belakang jas yang Andrew kenakan.


Langkah Andrew terhenti, begitu juga dengan langkah Pelangi dan Amara.


"Ada apa?" tanya Andrew, menatap Gilang dengan tatapan tidak bersalah, bahkan senyum mengejek tersungging di bibirnya.


"Apa kamu tidak malu bersikap begitu ganjen pada istri orang?" tanya Gilang


Andrew menaikan sebelah alisnya. "Memangnya dia istri siapa? Setahuku, Pelangi tidak memiliki suami."


"Jaga bicaramu!" bentak Gilang.


"Kenapa? Apa aku salah bicara? Jika iya, coba sebutkan di mana letaknya salahku" Andrew menantang. "Istri mana yang merasa sendirian saat ada suaminya di dekatnya. Istri mana yang harus menangis sedih karena memeriksa kandungan seorang diri, padahal dia sangat ingin didampingi oleh suaminya saat pergi ke dokter kandungan. Istri mana yang saat ingin bicara, suaminya malah mengatainya kecoak secara tidak langsung. Tidak ada suami yang sekejam itu Gil."


Pelangi menarik tangan Andrew. "Sudahlah, tidak ada gunanya bicara padanya."


"Ya, kamu benar. Tidak ada gunanya bicara pada mumi! Kutegaskan padamu, Gil, asal kamu tahu saja, aku siap menerima Pelangi jika kamu memang sudah tidak lagi mencintainya. Aku benar-benar siap!"


"CK, sudahlah, Ndrew. Ayo." Pelangi menarik pergelangan tangan Andrew agar pria itu berhenti bicara omong kosong.


Ya, Andrew memang tidak henti mengatakan bahwa ia siap menerima Pelangi jika Pelangi ingin berpisah dari Gilang. Namun, Pelangi tidak menganggap serius ucapan Andrew. Selain karena ia tidak mencintai Andrew, dirinya sudah menganggap Andrew seperti saudaranya. Tidak ada rasa lain di dalam hati Pelangi untuk Gilang, selain rasa sayang sebagai saudara.


Gilang melihat kepergian Pelangi dengan tatapan kosong. Kegalauan kembali menghampirinya dan membuatnya dilema setengah mati. Mencintai sekaligus membenci orang yang sama dalam satu waktu memang rumit dan hanya akan membuat hati yang sudah hancur menjadi semakin hancur sedikit demi sedikit.


***


Pelangi menyantap semua makanan yang Andrew bawa di dalam kamarnya bersama dengan Amara dan Andrew. Ia menolak saat Amara mengajaknya makan di ruang keluarga atau ruang makan, karena Suster An yang berseliweran ke sana-kemari seperti setrikaan membuat Pelangi kesal.



Beberapa saat kemudian Toni datang dan bergabung dengan mereka. Pria tinggi itu melepas jasnya, lalu meletakkannya di atas sofa sebelum berbaring di lantai sambil menghela napas panjang.


"Ada apa? Sepertinya tertekan sekali?" tanya Andrew, dengan mulut penuh asinan.


"Gilang membuatku stres. Dia kembali tidak menghadiri rapat siang ini, padahal rapat kali ini sangat penting. Pak Farhan sudah mewanti-wanti agar Gilang harus hadir bagaimana pun caranya. Aku sudah mengabari Gilang, dan dia berkata akan hadir, tapi, dia tidak kunjung hadir. Sepertinya dia sengaja melakukan semua ini untuk menyusahkanku." Toni mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memejamkan mata karena ia merasa sangat lelah sekali menghadapi Gilang.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Gilang. Sejak aku sadar dari kecelakaan, dia tidak pernah bersikap baik padaku. Dia seperti orang yang berbeda, padahal sebelumnya dia sangat baik dan romantis." Pelangi bertanya pada Toni dan Andrew, berharap kedua pria itu memberikan jawaban yang memuaskan. Karena setia kali Pelangi menanyakan hal itu, baik Andrew atau pun Toni tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Kedua pria itu hanya diam saja, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Pelangi.


Toni dan Andrew melakukan semua itu atas perintah Farhan Andreas. Farhan meminta agar baik Toni ataupun Andrew merahasiakan dari Pelangi kenyataan bahwa Gilang telah mengetahui jebakan yang mereka buat. Farhan tidak ingin jika Pelangi merasa tidak nyaman, dan merasa bersalah kepada Gilang. Karena menurut Farhan, jika Pelangi merasa bersalah dan tidak nyaman, gadis itu akan memilih untuk pergi dan menyetujui perceraian yang Gilang minta. Itulah sebabnya hingga sekarang Pelangi tidak tahu menahu alasan di balik sikap Gilang yang dingin.


Toni beradeham dan bangkit untuk duduk, lalu mulai menyantap segala jenis makanan serba buah yang ada di hadapannya. Kemudian ia mulai berceloteh tantang cita rasa dari semua makanan itu. "Tidak ada yang enak. Kenapa ibu hamil suka sekali makanan seperti ini, sih," ujarnya, membuat Pelangi menghela napas, karena lagi-lagi Toni mengalihkan pembicaraan.



"Oh, ya, Pak, apa Bu Atika sudah ketemu?" Tanya Amara yang tiba-tiba saja teringat pada Atika. Karena sejak hari di mana Pelangi mengalami kecelakaan, Atika pun menghilang bagai ditelan bumi.


Toni menggeleng. "Tidak. Aku bahkan tidak menemukan jejak apa pun. Begitu juga dengan Gisel. Mereka berdua seperti menghilang ke dunia lain, dunia yang sulit untuk kujangkau."


"Bagaimana kita bisa menangkap penabrak Pelangi jika Bu Atika dan Nyonya Gisel tidak ada." Amara terlihat sedih dan juga kesal.


"Walaupun mereka berdua menghilang, tapi aku mencurigai satu orang. Sebenarnya ayah sudah memintaku untuk mengawasi pria itu sebelum kecelakaan terjadi. Pria itu memang mencurigakan," ujar Andrew.


"Siapa?" tanya Pelangi, Amara dan Toni berbarengan.


"Namanya Exel."


"Exel!" pekik Pelangi. "Maksudmu Exel yang merupakan OB baru di kantor? Exel yang tampan itu, 'kan?"


"Tampan dari mananya? Dia itu cuma bertubuh tinggi dan berambut gondrong. Kalau masalah tampan, jelas masih tampa aku." Andrew yang tidak terima mendengar Pelangi mengatai Exel sebagai sosok yang tampan pun sewot.


Pelangi tidak memedulikan protes dari Andrew. Ia masih tidak habis pikir karena Andrew mencurigai Exel. "Exel itu baik, Ndrew dia pernah menyelamatkanku saat Ringgo ingin membawaku pergi."


Andrew menatap Pelangi dengan tatapan menyelidik. "Kapan itu terjadi? Kenapa tidak bilang padaku kalau Ringgo datang."


"Sudah lama. Aku lupa kapan tepatnya. Tapi yang jelas saat itu Exel menghajar Ringgo. Jadi, dia tidak mungkin mencelakaiku, karena dia orang yang baik. Kalian jangan asal menuduh."


"Kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena satu kebaikan yang dia lakukan. Apa kamu tidak ingat pada Atika. Bukankah dia temanmu, dan sangat baik padamu. Tapi nyatanya dia mengkhianatimu," ujar Toni, lalu beralih memandang Andrew. "Jika Pak Farhan mencurigai pria itu, pasti ada alasan yang kuat kan, Ndrew?"


Andrew mengangguk. "Aku sedang menyelidikinya."


***


Malam merangkak naik, udara malam yang dingin dan angin yang berembus lembut masuk melalui pintu balkon yang dibiarkan terbuka lebar, membuat Pelangi sedikit menggigil karena kedinginan. Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk menutup pintu dan pergi tidur.


Beberapa hari ini perasaan Pelangi sangat tidak enak. Mungkin karena hubungannya dengan Gilang yang tak kunjung membaik, ditambah lagi hormon kehamilan yang membuat moodnya kacau. Hanya bersantai di balkon kamarlah satu-satunya cara untuk memperbaiki moodnya, dan membuat hatinya sedikit tenang. Apalagi terdapat sofa bed berukuran besar di balkon, membuat Pelangi betah berlama-lama berbaring di luar sambil menatap langit malam yang bertabur cahaya bintang.


Seperti malam ini, setelah berendam air hangat di bathtub, Pelangi memilih gaun tidur yang baru dibelinya beberapa hari lalu di toko pakaian dalam wanita. Ia sengaja membeli gaun yang minim bahan itu untuk membalas dendam kepada Gilang. Ya, membuat Gilang menginginkannya pasti akan mengasyikan, dan saat Gilang mulai tergoda, ia akan menolak Gilang mati-matian. Pembalasan yang sempurna.


Pelangi sengaja berlama-lama duduk di depan meja rias sebelum memutuskan untuk bersantai di balkon. Ia tahu betul jam berapa Gilang akan masuk ke dalam kamar. Begitu Gilang masuk dan melihat tubuhnya dengan pakaian yang sangat terbuka, barulah ia akan melangkah ke balkon. Hal seperti itu akan membuat pria menjadi gemas dan penasaran. Begitulah kata Amara.


Pelangi bahkan sengaja mengatur posisi sofa bed sedemikian rupa agar terlihat dengan jelas dari ranjang yang ada di dalam kamar. Dengan begitu, walaupun Gilang berada di dalam kamar dan ia di luar, Gilang akan tetap bisa melihat dirinya berbaring dengan jelas.


Ceklek!


Pintu terbuka dan Gilang memasuki kamar. Di saat itulah, Pelangi menyemprotkan parfum di sekitar lehernya, berusaha menarik perhatian Gilang dengan aroma wangi yang lembut.



Benar saja, Gilang mengalihkan pandangannya ke Pelangi dan sesuai yang Pelangi tebak, pria itu tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu melihat dirinya. Gilang terpaku, mata elangnya menatap Pelangi tanpa berkedip, memindai penampilan Pelangi dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Perlahan Gilang mendekat, di saat itulah Pelangi berbalik untuk pergi. Namun, langkah Pelangi terhenti karena sesuatu menahan gaunnya.


'Pasti Gilang,' batin Pelangi, sambil tersenyum puas.


Bersambung ....


Hayo, kakak-kakak semua. Kira-kira, setelah ini Gilang dan Pelangi ngapain, ya? 😍😍