
Peruntungan!
Dalam hidup, kekuatan dan harta bukanlah segalanya. Ada tangan-tangan tak terlihat yang ikut bermain, memastikan dan mempertimbangkan apakah perlu untuk menolong seseorang keluar dari masalah yang sedang dihadapi atau membiarkan orang itu jatuh dan gagal.
Hal itulah yang sedang terjadi pada keluarga Andreas. Walau sudah berusaha mempertahankan segala milik mereka, toh pada akhirnya Andreas Group tetap juga jatuh ke tangan orang lain.
Surya Permana terlalu pintar, sementara dari pihak keluarga Andreas terlalu menganggap enteng segalanya dan menyepelekan bahaya yang jelas-jelas mengincar mereka.
Terhitung tiga bulan sudah sejak kejadian nahas itu, saat Gilang dipermalukan di depan para pemegang saham karena kedapatan membawa dokumen palsu ke ruang rapat, bahkan Andrew yang datang beberapa saat kemudian pun tidak dapat melakukan apa-apa. Andrew, Gilang, dan Toni hanya bisa diam menonton ketika Surya Permana menyatakan diri sebagai pemilik Andreas Group yang baru. Surya bahkan dengan lantang mengatakan akan mengubah nama perusahaan begitu keadaan mulai stabil dan tidak ada lagi keributan.
Jika Gilang pikir masalah hanya sampai di situ, tidak. Farhan yang sedang berada di Kanada jatuh sakit saat mendengar kabar tentang perusahaan miliknya dan harus dirawat intensif di rumah sakit, sementara beberapa bisnis yang Farhan miliki satu per satu seolah terjun bebas, sementara biaya pengobatan harus terus dikeluarkan dalam nominal yang besar. Dalam sekejap mata keluarga Andreas berada dalam posisi terburuk yang paling mengerikan.
Kehilangan perusahaan dan terpaksa harus menjual rumah mewah mereka untuk biaya pengobatan sng ayah sempat membuat Gilang hampir Gila. Jika saja ia tidak memiliki Pelangi dan Toni yang selalu menguatkan dan memberinya doringan semangat, mungkin saat ini Gilang telah menjadi pasien sebuah saru rumah sakit jiwa yang ada di Jakarta.
***
Kesibukan terlihat di sebuah rumah sederhana berlantai dua yang terletak di pinggiran kota. Sepasang suami istri sedang sibuk melakukan senam hamil di halaman berumput dan berlapis matras. Keduanya adalah Gilang dan Pelangi.
Usia kehamilan Pelangi yang sudah memasuki bulan ke tujuh membuat wanita itu kualahan. Ia tidak lagi bisa banyak bergerak, karena setiap ia melakukan aktivitas berat, ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya seolah tulang-tulang di tubuhnya itu berlomba ingin memisahkan diri dari dalam tubuhnya. Meski demikian, Gilang tetap memaksa Pelangi untuk melakukan senam hamil yang dipandu oleh ponsel android. Ya, Gilang menjadikan YouTube sebagai pemandu gratisan, karena mendatangkan instruktur senam memerlukan biaya yang lumayan.
Pelangi mulai berkeringat dan mengeluh saat Gilang memintanya melakukan gerakan pendinginan. "Aku tidak mau. Aku lelah! Bisa-bisa aku melahirkan saat ini juga," gerutu Pelangi, sembari berjalan menuju kursi taman yang terbuat dari rotan. Kursi itu ditempatkan tepat di bawah pohon jambu berukuran besar, sehingga nyaman sekali untuk diduduki karena sejuk dan terlindung dari sengat sinar matahari.
Amara dan Toni yang melihat Pelangi berjalan dengan wajah cemberut ke arah mereka hanya bisa menggeleng. Keduanya bisa menebak bahwa Pelangi dan Gilang pasti baru saja berdebat. Pelangi memang sedang dalam masa sensitif yang paling sensitif, tidak jauh berbeda dengan Gilang yang juga sama sensitifnya semenjak dirinya kehilanga perusahaan. Salah bicara sedikit saja, maka sepasang suami istri itu akan langsung tidak enak hati.
"Pelangi pasti ngambek lagi," komentar Toni.
Amara mengangguk. "Dia kelelahan dan hanya ingin tiduran seharian dengan perut sebesar itu, tapi Pak Gilang selalu memintanya untuk senam di jam segini. Pak Gilang itu terlalu parno."
"Hanya Pelangi yang Gilang miliki sekarang, tentu saja dia menjadi seperti itu, menjaga Pelangi dengan berlebihan. Dia ingin persalinan pertama Pelangi berjalan lancar dan Pelangi selamat. Itulah kenapa Gilang selalu meminta Pelangi melakukan senam hamil." Toni membela Gilang, dan benar apa yang ia katakan bahwa hanya Pelangi yang berharga bagi Gilang saat ini, hingga apa pun yang bisa dilakukan Gilang untuk Pelangi pasti akan dilakukannya. Buktinya, gilang dengan senang hati ikut melakukan senam juga saat Pelangi sedang senam. Itu karena Gilang tidak ingin jika Pelangi kelelahan seorang diri.
"Kalian sedang bergosip?" tanya Pelangi, begitu ia tiba di hadapan Toni dan Amara.
"Tidak, kami hanya sedang membicarakanmu. " Amara bangkit berdiri dan membantu Pelangi untuk duduk, sementara Gilang yang baru saja tiba di samping Pelangi segera meraih sebotol air dan memberikannya pada Pelangi.
"Minumlah, Sayang," ujar Gilang.
Pelangi meraih botol air dari tangan Gilang dan meminumnya hingga habis. "Aah, sejuknya."
Gilang tersenyum, kemudian mencubit kedua pipi Pelangi dengan gemas. "Jika keringatmu sudah menghilang cepatlah mandi."
Pelangi menggeleng. Seperti biasanya, wanita itu akan menolak saat diminta untuk mandi. Sejak kehamilannya memasuki usia lima bulan, Pelangi memang jadi malas mandi. Ada saja alasannya jika Gilang memintanya untuk mandi.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Pelangi.
"Menemui Dokter Virzha. Bukankah hari ini adalah waktumu untuk memeriksakan kehamilan," ujar Gilang.
Pelangi menghela napas. "Bukankah sudah kukatakan, kita periksa di bidan saja, Gil."
Gilang yang sedang mengusap keringat di wajah Pelangi segera menghentikan kegiatannya. "Kenapa memangnya? Kamu tidak suka dengan Dokter Virzha? Selama ini kita kan selalu periksa di sana. Kenapa juga harus pindah?"
"Bukan begitu. Aku menyukai Dokter Virzha dan Suster Maria, mereka berdua begitu ramah dan baik. Hanya saja biaya pemeriksaan di bidan jauh lebih murah daripada di Dokter Virzha. Kita bisa menghemat sedikit jika memeriksakan kehamilan di tempat praktik bidan."
Mendengar ucapan aoan Pelangi, Gilang menyingkirkan tangannya dari wajah Pelangi. Kemudian tanpa berkata-kata, Gilang memunggungi sang istri dan berjalan menuju rumah.
Melihat punggung Gilang yang semakin menjauh, hati Pelangi menjadi sedih. Tanpa ia sadari, air matanya pun menetes.
"Aku pasti salah bicara lagi. Padahal aku hanya ingin meringankan bebannya. Untuk apa mengeluarkan uang lebih jika periksa di bidan juga sama saja. Gilang memang keterlaluan!" Pelangi mengusap pipinya yang basah. "Waktu itu dia marah padaku karena aku melarangnya mengontrak rumah ini. Rumah ini terlalu mahal untuk kita, padahal banyak rumah yang lebih murah yang bisa kita kontrak. Tapi dia menolak saran dariku."
Toni menyentuh pundak Pelangi. "Aku tahu niat baikmu, tapi Gilang sangat peduli padamu. Semua yang dia lakukan selalu mempertimbangkan kenyamanan dirimu dan anak kalian nanti. Dengarkan dan turuti saja apa yang Gilang inginkan. Kamu harus tahu, bagi pria harga diri itu penting, dan Gilang tidak ingin harga dirinya jatuh di hadapanmu."
Pelangi mengangguk. "Ya, mau bagaiman lagi. Dia begitu kerasa kepala," ujar Pelangi, kemudian ia berjalan menuju rumah untuk menyusul Gilang.
Rumah yang mereka tempati sekarang memang tidak semewah rumah Farhan dan Gilang sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan jika perbandingan keduanya bagai langit dan bumi. Meskipun begitu, rumah berlantai dua yang Gilang kontrak masih terbilang lumayan, bangunannya cukup mewah, rapi, elegan dan memiliki halaman yang luas adalah nilai plus bagi rumah yang juga bergaya eropa itu.
Meskipun bisa dikatakan mereka tidak memiliki apa-apa lagi, Gilang tetap berusaha memberi yang terbaik bagi Pelangi. Ia tidak ingin membawa Pelangi hidup menderita. Perusahaannya mungkin sudah tidak ada, tapi Gilang masih memiliki sebuah usaha catering yang hingga saat ini masih beroperasi dan menghasilkan pundi-pundi rupiah walaupun tidak banyak.
Pelangi masuk ke dalam kamar dan mendapati Gilang sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong pada dinding yang ada di depannya. Pelangi dapat melihat kesedihan di wajah pria tampan itu, dan seketika ia merasa bersalah.
Pelangi menghampiri Gilang, duduk di sebelahnya dan melingkarkan kedua lengan di pinggang Gilang. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya ingin meringankan bebanmu, Gil."
Gilang diam sejenak, menghirup napas dalam-dalam, menghidu aroma tubuh Pelangi yang berbau bayi yang berasal dari parfum bayi yang selalu Pelangi pakai.
"Kamu diam saja. Berarti kamu tidak memaafkanku." Pelangi kembali berujar.
Gilang memiringkan kepalanya dan menatap Pelangi dengan sedih. "Mana mungkin aku tidak memaafkanmu. Aku juga tidk marah oadanu, Pelangi. Aku hanya ingin kamu hidup dengan layak. Keterpurukan yang menimpaku bukanlah bagian dari perjalanan yang harus kamu lalui. Kamu sama sekali tidak berkewajiban menanggung beban ini atau ikut menderita karena ketidakberuntunganku."
Akan tetapi, percuma saja mengatakan itu pada Gilang. Maka, ia memilih untuk mengalah dan meminta maaf, karena berdebat hanya akan membuang-buang tenaga saja. "Aku mengerti, maafkan aku." Pelangi mengecup pipi Gilang dan segera bangkit berdiri. "Bisa aku minta tolong padamu, Suamiku?" tanya Pelangi.
Gilang mengangguk. "Katakan saja apa yang bisa kulakukan untukmu?"
Pelangi mendekatkan wajahnya di telinga Gilang, kemudian ia berbisik. "Bisa tolong mandikan aku." Setelah mengatakan itu, Pelangi menggigit telinga Gilang, lalu melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar mereka sembari menggoyangkan pinggul untuk menggoda Gilang.
Gilang tersenyun melihat tingkah Pelangi. Rasa sedih dan kecewa yang sempat ia rasakan mendadak menghilang begitu Pelangi menggodanya, membuat perasaan lain menggantikan perasaan sedihnya dengan cepat. Perasaan lain itu adalah hasrat. Seketika Gilang membayangkan apa yang akan dilakukannya jika berduaan dengan Pelangi di dalam kamar mandi nanti? Pastilah ia akan melakukan hal yang menyenangkan. Bukan hanya sekadar mandi bersama.
***
Perjalanan menuju rumah sakit tempat Dokter Virzha praktik lumayan jauh. Jika ditempuh melalui kediaman lama Gilang memang hanya butuh waktu kurang dari satu jam. Namun, sekarang Gilang membutuhkan waktu lebih dari itu agar dapat tiba di sana.
Mereka harus melewati jalanan-jalanan sepi yang di samping kanan dan kirinya terdapat jurang atau pepohonan yang tumbuh rapat.
Sepanjang perjalanan, Gilang tidak henti-hentinya melihat kaca spion untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya. Bukan tanpa alasan Gilang menjadi lebih waspada. Jika ia tidak salah lihat, beberapa waktu lalu sekilas matanya menangkap sosok Surya di sebuah toko yang letaknya tidak jauh dari rumah yang ia kontrak. Jika memang orang itu adalah Surya, maka Gilang yakin bahwa dirinyalah yang membawa Surya muncul di sekitarnya. Surya pasti sedang mencari keberadaannya, walaupun ia tidak tahu untuk alasan apa Surya melakukan itu.
Pelangi yang melihat kegelisahan di wajah Gilang pun akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Ada apa? Kamu terlihat gelisah."
Gilang menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Sayangku. Bersandar dan tidurlah, perjalanan kita masih lumayan jauh."
"Aku tidak mengantuk, kok." Pelangi tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Gilang. "Oh, ya, bisakah kita mampir ke rumah Delia nanti, aku sudah lama tidak bertemu dengannya."
Gilang menatap Pelangi dan bertanya, "Haruskah kita mampir?"
Pelangi mengangguk. "Aku ingin menjenguknya. Kabar terakhir yang kudengar dari Andrew, kondisi Delia bertambah parah."
Gilang mengangguk. Sebenarnya ia merasa prihatin pada Andrew, karena Andrew merasa bersalah atas kondisi yang menimpa wanita bernama Delia itu. Walau Gilang tidak terlalu mengenal Delia, tapi beberapa kali ia bertemu dengan Delia di rumah sakit saat sedang memeriksakan kehamilan Pelangi. Tubuh Delia yang begitu kurus terlihat menyedihkan. Warna kulitnya sepucat mayat dan setiap ekspresi di wajahnya menggambarkan kesakitan yang luar biasa. Wanita itu selalu meringis setiap saat, seolah tidak ada ekspresi lain yang bisa ia tunjukkan.
Gilang masih ingat saat Andrew menangis dan mengatakan, "Andai saja aku tidak memaksanya ikut kemari, pastilah kehidupannya jauh lebih baik. Aku memaksanya ikut ke sini agar dia bisa menjalani perawatan terbaik di rumah sakit besar, tapi ternyata keadaan kita malah seperti ini, siapa yang menyangka?"
Ya, benar, siapa yang menyangka. Gilang saja sampai saat ini masih diliputi perasaan bersalah yang merasuk hingga ke organ bagian dalam tubuhnya. Jika saja ia lebih berhati-hati dan waspada pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini. Namun, percuma saja menyesali semua yang telah terjadi. Toh, tidak akan merubah keadaan. Fokus Gilang sekarang adalah bagaimana caranya agar ia dapat menggantikan apa yang telah lenyap dari kehidupannya dan membuat nama Farhan kembali berjaya seperti dahulu.
Gilang menghentikan laju kendaraannya begitu tiba di sebuah rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Ia memarkirkan mobilnya, kemudian membantu Pelangi untuk keluar dari dalam mobil.
"Hati-hati," ujar Gilang.
Pelangi mengangguk. "Terima kasih, Suamiku."
"Terima kasih kembali, Istriku," ujar Gilang.
Setelah Pelangi berada di luar mobil, Gilang segera melihat arloji yang melingkar di tanganya. "Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sebelum dokter Virzha tiba. Kita terlalu cepat."
"Tidak masalah. Kita bisa makan es krim di toko depan sana." Pelangi nyengir. "Cuacanya panas sekali. Aku ingin es krim ... eh, bukan aku, tapi si bayi."
Gilang menyentuh perut Pelangi. "Baiklah, baiklah, walaupun dokter sudah melarangmu memakan makanan manis terlalu banyak karena berat si bayi sudah melebihi angka normal, untuk kali ini aku beri sedikit kelonggaran."
Pelangi tertawa. "Aku janji, ini yang terakhir."
Gilang menggeleng. "Aku tidak percaya. kamu sudah sering mengatakan itu."
Pelangi tersipu, ia memang seringkali kedapatan membeli es krim secara sembunyi-sembunyi, dan ketika ketahuan oleh Gilang, ia akan mengucap janji 'ini yang terakhir' tapi tetap saja akan ia ulangi lagi dan lagi.
"Ayo, cepat!" Pelangi mendahului Gilang keluar dari halaman parkir rumah sakit menuju toko yang ada di seberang jalan.
Gilang tertawa melihat ketidaksabaran sang istri yang sekarang sudah berada di seberang jalan. "Dasar kekanakan sekali," gumam Gilang, bersiap untuk menyusul Pelangi. Namun tiba-tiba ponsel Gilang berbunyi. Gilang pun menghentikan langkah dan meraih ponsel yang ada di saku celananya.
Baru saja ia hendak melihat siapa yang menelepon, teriakan Pelangi dari seberang jalan terdengar hingga ke telinganya dan membuatnya terkejut.
"Gilang, awas!"
Gilang melompat mundur hingga menabrak trotoar di belakangnya, membuat tubuhnya jatuh di atas aspal yang keras, di saat bersamaan sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi melewati tempat Gilang berdiri tadi.
"Sial, hampir saja," gumam Gilang.
Bersambung ....
Next, status hubungan Gilang dan Pelangi akan kembali seperti semula, yaitu seorang atasan dan bawahan yang selalu berdebat. Kok bisa, ya, apa yang terjadi kira-kira?
***
Terima kasih atas dukungannya. Selamat membaca dan jangan lupa vote, follow, dan masukin daftar favorit. hehehe ❤❤