OH MY BOSS

OH MY BOSS
MENGATAKAN PADA ANDREW.



Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya Andrew tiba di rumah. Ia segera turun dari mobil dan berlari menuju kamar Gilang, tetapi belum lagi tiba di depan pintu kamar Gilang, Andrew mendadak menghentikan langkah, karena bayangan Delia tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.


"Ya, aku tidak boleh egois," gumam Andrew, kemudian ia berbalik dan melangkah menuju kamar Delia yang berada di lantai satu, bersebelahan dengan kamar Amara.


Ya, bagi Andrew, sepeduli apa pun dirinya pada Pelangi dan sekhawatir apa pun perasaannya, tetap saja sekarang ia harus mengontrol segala perasaan itu agar ia tidak melukai perasaan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, yaitu Delia. Bukan berarti ia masih mencintai Pelangi saat ini. Ia hanya peduli pada wanita itu, dan rasa pedulinya itu tidak mudah hilang begitu saja.


Begitu tiba di depan kamar Delia, Andrew segera mengetuk pintu kamar wanita itu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dan daun pintu tetap tertutup rapat seperti sebelumnya.


Ceklek.


Saat ia hendak pergi dari sana, pintu kamar Amara terbuka dan Amara terlihat menyembulkan kepala dari dalam kamarnya.


"Hai, Pak, Delia ada di kamarku. Di sedang tidur," ujar Amara,


"Tidur? Kenapa dia tidur di jam segini?" Andrew terlihat bingung, lalu menatap arloji di tangannya yang baru menunjukan pukul 10.00.


Amara mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia lelah. Kami sedang mengobrol tadi, dan tiba-tiba saja dia berbaring lalu jatuh tertidur begitu saja."


"Boleh aku masuk?" tanya Andrew.


"Tentu, Pak, silakan," Amara menyingkir dari depan pintu, mempersilakan Andrew untuk masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana keadaan Pelangi? Toni memberitahuku tadi bahwa dia sedang terlibat masalah dengan seorang pria, benar?" Andrew bertanya sembari menyeberangi ruangan menuju ranjang yang letaknya di sisi lain kamar.


Kamar-kamar di lantai bawah memang memiliki ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan kamar-kamar yang ada di lantai atas. Hingga Andrew dan Amara masih sempat mengobrol sebelum keduanya tiba di seberang kamar di mana terdapat ranjang berukuran besar yang sekarang sedang ditiduri oleh Delia.


"Pria tadi, yang bernama Arya itu sangat tampan, tubuhnya tinggi sekali, dan dia bertingkah seolah dia dan Pelangi memiliki hubungan yang akrab. Tapi, Pelangi tidak bersikap sama seperti yang Pak Arya perlihatkan pada kami. Pelangi masih berbicara dengan formal dan bersikap seformal mungkin. Aku dan Delia tidak tahu persis apa yang keduanya bicarakan, karena Pak Arya membawa Pelangi pergi dari hadapan kami. Saat kembali dan memasuki mobil, Pelangi sudah menangis, tetapi Pelangi tidak mengatakan kenapa dia menangis hingga sekarang. Padahal aku sudah mendesaknya."


Tangan Abdrew mengepal, dadanya dipenuhi oleh amarah yang rasanya begitu membara. Ingin rasanya ia menghajar pria bernama Arya itu. Tidak mungkin Pelangi menangis tanpa sebab. Bisa saja si Arya itu melakukan hal yang tidak senonoh pada Pelangi yang membuat Pelangi ketakutan dan akhirnya menangis.


Andrew mengatur napas begitu posisinya semakin mendekati Delia, berusaha untuk menetralisirkan rasa marah yang sempat menguasai pikirannya. Delia tidak boleh melihatnya dalam keadaan emosi. Delia pasti bisa menebak apa yang membuat suasana hatinya begitu kacau saat ini.


Delia menggeliat dan perlahan membuka mata tepat saat Andrew tiba di samping ranjang. Wajah Delia yang lembut dan senyum yang mengembang di bibirnya yang sedikit pucat membuat dada Andrew menghangat. Delia memang memiliki efek yang luar biasa pada orang-orang di sekitarnya. Delia dapat membuat hati siapa pun menjadi sejuk bahkan hanya dengan memandang wajah wanita itu. Wajahnya yang bulat dan berukuran kecil, matanya yang sendu dengan bulu mata lentik, dan ekspresi sedih yang selalu muncul di wajahnya itu bagai udara sejuk bagi siapa pun yang menatapnya.


"Hai, senang melihatmu lagi," Andrew duduk di hadapan Delia dan menyentuh wajah wanita itu.


"Aku juga senang melihatmu begitu aku membuka mata."


"Kelak, kita akan melakukannya setiap hari. Kamu menatapku dan aku menatapmu saat pagi hari tiba, bahkan sebelum tidur di malam hari, dan saat kamu tertidur juga aku akan terus menatapmu," ujar Andrew.


"Wah, bagus sekali karena aku memiliki penjaga sekarang. Saat malaikat mau datang, mereka pasti berpikir dua kali untuk membawaku, karena kamu selalu ada di sampingku." Delia menyentuh tangan Andrew yang masih berada di wajahnya, dan tanpa disadarinya air matanya menetes.


Andrew menggelengkan kepala dan merangkul tubuh Delia yang hangat. Andrew tahu, setiap waktu yang Delia lewati adalah waktu yang begitu berharga dan setiap detik wanita itu selalu merasa cemas, barangkali saja embusan napas yang ia keluarkan detik ini juga adalah embusan napasnya yang terakhir.


"Jangan bicara seperti itu. Kamu akan memiliki umur yang panjang dan memiliki anak yang banyak. Kamu harus sehat, Delia, tidak peduli berapa lama penyakit itu bersemayam di tubuhmu, kamu tetap harus sehat. Setelah kita menikah, ayo kita mencari rumah sakit di luar negeri. Aku yakin, kamu akan sembuh jika kita bisa mendapatkan dokter dan rumah sakit terbaik di dunia.


Andrew melepaskan rangkulannya dari tubuh Delia dan mengusap air mata wanita itu.


"Oh, ya, apa kamu datang karena mendengar kabar dari Toni tentang Pelangi?" tanya Delia.


Andrew mengangguk dan beralih menatap Amara yang sekarang sedang sibuk mengusap matanya yang basah. Wanita itu sejak tadi berdiri di samping Andrew sembari menangis karena merasa sedih mendengar ucapan Delia.


"Amara bilang, Pelangi bertemu dengan pria bernama Arya."


Delia mengangguk. "Setelah bertemu dengan pria itu, Pelangi kembali sambil menangis. Sampai sekarang Pelangi tidak mau bicara pada kami."


"Um, bolehkah aku bicara pada Pelangi? Jika tidak boleh--"


"Tentu boleh, kenapa tidak? Bicaralah padanya agar kita tahu ada masalah apa sebenarnya. Aku tidak apa-apa." Delia tersenyum, berusaha meyakinkan Andrew bahwa dirinya tidak merasa cemburu apalagi marah.


Andrew mengecup puncak kepala Delia. "Kamu memang memiliki hati yang baik bagai peri. Aku mencintaimu." Setelah mengatakan itu Andrew bangkit berdiri dan segera keluar dari kamar Amara.


***


Pelangi meringkuk di sudut kamarnya sembari menangis. Perkataan Arya yang beberapa waktu lalu ia dengar tentu saja membuatnya khawatir. Bagaimana bisa Arya berkata bahwa pria itu akan membuat Gilang tidak punya pilihan. Ucapan itu mungkin terdengar biasa saja bagi Arya, tetapi tidak bagi Pelangi. Bagi Pelangi ucapan pria itu terdengar seperti ancaman.


"Pelangi, aku masuk."


Pelangi mendongak, saat didengarnya suara Andrew menyebut namanya.


Andrew memasuki kamar dan menatap tempat tidur Pelangi yang kosong. "Pelangi, di mana kamu?" Andrew kembali berteriak dan mencari keberadaan Pelangi yang tidak terlihat di mana pun.


"Pelangi, Pelangi!"


Pelangi berdeham dan mengangkat tangannya. "Aku di sini," lirihnya.


Andrew menghela napas lega, kemudian menghampiri Pelangi yang duduk di sudut kamar sambil memeluk lutut.


"Katakan padaku, ada masalah apa?" Andrew menatap Pelangi dengan tajam dan mengajukan pertanyaan tanpa berbasa-basi.


Pelangi yang memiliki hubungan baik dengan Andrew bahkan sebelum ia memiliki hubungan baik dengan Gilang merasa nyaman dan tidak terganggu pada kehadiran Andrew dan pertanyaan pria itu.


"Kamu kenal Arya dari GG Group?" tanya Pelangi tanpa berbasa-basi juga. Menurutnya membahas hal semacam ini memang paling baik dilakukan dengan Toni atau Andrew, karena kedua pria itu banyak mengenal rekan bisnis Gilang.


"Ya, aku tahu dia, tapi aku tidak mengenalnya dengan baik. Ada apa dengannya?"


Pelangi menunduk, air matanya kembali mengalir sebelum ia berkata, "Dia ingin agar aku melahirkan anak untuknya. Dia bilang, dia akan meminta izin pada Gilang dan membuat Gilang tidak punya pilihan. Bagaimana menurutmu, hah?"


Bersambung.