OH MY BOSS

OH MY BOSS
MATI GUE MATI



Matahari dan bulan berganti sip dengan begitu cepat, Justin tidak lagi memusingkan mimpi yang akhirnya ia anggap sebagai bunga tidur, bahkan sesekali ia lupa masih memimpikan hal yang sama atau tidak. Psikiater kenalan William bilang.


 


"Bisa saja anda memimpikannya karena anda terlalu khawatir  dengan kondisi ayah teman anda," tuturnya kala itu, saat dia menjelaskan ayah serena ikut masuk kedalam mimpi anehnya. dan Justin meyakinkan bahwa hal itu adalah benar.


 


 


Perusahaan Achazia company yang bergerak dalam bidang perusahaan pembiyaan maju pesat di bawah kepemimpinan Justin, banyak para pengusaha baik dari dalam dan luar negri berbondong-bondong meminta kerja sama. Dan hal itu membuat sang Ceo begitu sibuk minggu-minggu ini.


 


 


Justin menutup laptop merek apel tergigit di hadapannya. Ingatannya menerawang, obrolannya dengan sang ayah beberapa bulan yang lalu mengusik pikirannya.


 


 


"Justin, papa ingin bicara." Pintanya pagi itu, dan Justin juga Carla yang kebetulan sedang berada di dapur mengikuti Mr Juan menuju ke ruang keluarga.


 


 


"Kamu ingat kan surat perjanjian wasiat dari kakekmu? Di sana tertulis. Jika sampai usiamu 27 tahun dan belum juga mempunyai seorang istri ataupun calon. Maka Papa boleh menikah lebih dulu dan mendapatkan separuh dari harta kekayaan kakekmu untuk papa dan keluarga baru papa."


 


 


Justin tidak terlalu terkejut kala itu, karena memang dia sangat mengerti isi surat wasiat dari sang kakek.


 


 


"Harta warisan kakek bukan sepenuhnya milik kita, Pa. Dan suatu hari nanti Justin akan memberikannya pada yang berhak."


 


 


Papanya begitu murka kala itu, dan sampai sekarangpun hubungan ayah dan anak itu tidak begitu harmonis.


 


 


Seorang Justin tidak ada yang mau menjadikannya seorang suami? Itu adalah hal yang mustahil dalam kamus seorang ceo muda tampan dan berwibawa. Tapi pria itu terlalu takut akan perasaannya, dia takut jika wanita yang ia pilih nanti hanya akan ia gunakan sebagai tameng untuk melawan ayahnya.


 


 


Dia tidak keberatan jika ayahnya ingin menikah dengan siapapun termasuk dengan Carla. Dia tidak peduli, tapi dia tidak mau ayahnya itu menguasai harta kakeknya yang sebenarnya ada hak orang lain di sana.


 


 


"Pak Justin, anda ada janji pertemuan siang ini."


 


 


Suara dari sekretarisnya itu membuat lamunan Justin melarikan diri entah kemana. Pria itu mengangguk mengiyakan.


 


 


***


 


 


"Aku suka lemper, kamunya suka martabak. Aku udah baper kamunya nggak nembak-nembak," celoteh Siska dengan kedua tangan menopang pipinya yang bertumpu pada meja kantin.


 


 


"Ngapa sih lo, Sis? Minumnya dimana, maboknya dimana," Nena yang merasa pendengarannya terusik oleh celotehan sahabatnya itu akhirnya angkat suara. "Emang lo ngarep ditembak siapa?" lanjutnya sedikit merasa prihatin. Namun Siska hanya menggeleng dengan wajah sendu.


 


 


"Lo ngarep ditembak si gantengnya lo? Pak Justin itu," tebak Nena. Siska menolehkan kepalanya, tatapannya menusuk kalbu. Kemudian menggeleng kuat.


 


 


"Gue cukup tahu diri lah, Na. Gue buat Pak Justin harapannya cuman buat jadi sendal jepit dia doang. Yang cuman dipake kalo ke kamar mandi," ungkapnya dramatis Nena yang tengah asik mengaduk jus jambu pesanannya tampak mengerutkan dahi.


 


 


"Sendal jepit? Murah banget berarti lo ya, cepet putus lagi," tanggapnya tanpa merasa berdosa.


 


 


"Nggak usah dijelasin juga kali." Siska membolak-balik buku menu, mencari makanan yang mungkin akan membuat moodnya sedikit membaik.


 


 


"Terus siapa?"


 


 


Siska menghentikan gerakan tangannya, pandangannya diarahkan pada sahabatnya yang  tampak kepo sekali.


 


 


"Lo tahu Indra kan, anak magang yang gantiin posisi lo?"


 


 


"Dia?" Tanya Nena, Siska mengangguk.


 


 


"Brondong banget selera lo, Sis. Nggak takut dikira jalan ama ponakan." komentar Nena yang berhasil membuat buku menu setebal tiga centi mendarat di keningnya.


 


 


"Buseet sakit Tante!" Omel Nena, tangannya sibuk mengelus jidatnya yang sedikit panas.


 


 


"Dia ngasih kode mulu tahu sama gue, yakin gue kalo dia itu ada rasa gitu."


 


 


 


 


Nena memang sudah terbiasa ceplas ceplos dengan sahabatnya itu, karena Siska pun bersikap demikian, mereka memang cukup dekat sampai bisa saling menghujat tanpa harus baper dimasukan kedalam hati.


 


 


"Nih ya, kalo kata Bang Dilan mah ge er itu hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri."


 


 


"Rindu itu mah," ralat Nena.


 


 


"Sama dikit." Siska tidak mau kalah.


 


 


"Jadi?" Tanya Nena mencoba mengalah.


 


 


"Ya, kayaknya gue lagi nggak percaya diri deh."


 


 


Nena ingin sekali terbahak, namun dia sedikit prihatin.


 


 


"Sabar-sabar, ayo kita pesen makanan. Ngehalu juga butuh tenaga." Ajak Nena, sekalian menghibur temannya itu.


 


 


Doni dan Bimo yang baru datang tampak bingung dengan raut sendu Siska, namun gadis itu menolak bercerita. Tatapannya mengancam pada Nena yang dibalas dengan jari tangan membentuk hurup o oleh gadis itu.


 


 


"Kenapa belum pesan makanan?" Tanya Bimo, si bos dadakan yang janji menraktir ketiga temannya.


 


 


"Yakin makan di sini, Bim? Makanannya mahal-mahal loh." Tanya Nena memastikan, tanpa bermaksud merendahkan rekan kerjanya itu.


 


 


"Nggak papa, Na. Usaha dia di luar lagi dapet untung gede." Siska yang menjawab. Bimo hanya tersenyum kemudian pandangannya beralih pada pelayan yang mencatat pesanan mereka semua.


 


 


"Usaha apa si? es keplak milu ya? yang lagi viral itu, wiih hebat juga lo Bro." Doni menepak pundak Bimo yang sejak tadi pandangannya tidak beralih dari Nena. Gadis cantik yang semakin hari membuat perasaannya semakin tidak karuan. Namun yang diperhatikan tampak acuh memainkan ponselnya.


 


 


"Gue belum nyobain deh, enak nggak si?" Nena yang memilih mengabaikan pesan di hpnya menoleh pada Bimo, meminta jawaban atas pertanyaannya, pria itu tampak gelagapan. Seperti tengah kepergok curi-curi pandang.


 


 


"Enak banget, gue udah nyobain kemaren." Siska memuji.


 


 


"Lo beli kali?" Tanya Doni.


 


 


"Nggak, dapet gratis hehe."


 


 


"Ya pantes aja enak." Jawaban dari Doni nyaris saja mendapatkan jatah pentungan sendok garpu dari Siska yang akhirnya terselamatkan karena pelayan datang membawa pesanan yang aromanya tampak sangat menggoda.


 


 


Jika di kantin bawah mereka harus berdesakan mengantri makanannya untuk diambil sendiri, berbeda dengan di kantin ini, tempat semacam Restoran mewah yang diperuntukan bagi kalangan sosialita yang bekerja di kantor itu, tidak jarang juga orang luar pun sering mampir ke tempat ini. Merekapun menikmati hidangan yang katanya dimasak oleh chef yang langsung didatangkan dari luar Negri.


 


 


Saat mereka sudah menyelesaikan makanan yang berhasil meloloskan kata enak dari ke empatnya, Siska mengajak Doni untuk pergi lebih dulu meninggalkan Bimo dan Nena yang nampak mengerutkan dahi curiga.


 


 


"Serena," panggil Bimo, mengalihkan pandangan gadis itu dari kedua temannya yang mulai menjauh.


 


 


"Iya, Bim?"


 


 


"Ada yang mau aku omongin."


 


 


Mati gue mati ...


 


 


Rutuk Nena yang mengerti dengan apa yang akan dibicarakan rekan kerjanya itu.