OH MY BOSS

OH MY BOSS
TAMU JUSTIN



 


 


Nena berdiri ragu di depan pintu, kakinya bergerak-gerak gusar, malam ini seperti janjinya, ia akan mengantar makanan ke apartemen bosnya, hanya mengantarkan selepas itu pulang. Diliriknya sepatu kets slip on hak rendah, rok abu-abu rempel selutut dengan kaos marun pas badan ia lapisi cardigan dengan warna senada, rambutnya ia biarkan tergerai, curly bawah yang katanya persis boneka barbie, gadis itu mengerutkan dahi. Mengapa ia harus tampil cantik demi untuk mengantarkan makanan dan pulang. Sekalian saja dia tadi pakai jaket ijo-ijo, dan bosnya ini akan menjadi pelanggan pertamanya.


 


 


Dari alamat yang ia baca berulang kali di chat hpnya. Ia yakin bahwa penghuni di balik pintu ini adalah atasannya. Dengan mengabaikan rasa ragu, gadis itu mulai mengarahkan telunjuknya memencet bel yang pastinya nyaring di dalam sana.


 


 


Dua tiga kali, belum ada tanda-tanda pintu besar itu bergerak. Sang ragu kembali membelenggu,  kakinya akan melangkah kabur saat akhirnya benda yang nyaris ia tinggalkan itu muncul sesosok pria.


 


 


"Kamu?" Justin tampak terkejut, bahkan jika ingin tahu Nena dua kali lebih terkejut lagi, jika gadis itu tidak menutupinya.


 


 


"Saya mengantarkan pesanan bapak." Nena menyodorkan bungkusan plastik yang dari aromanya Justin yakin bahwa itu makanan.


 


 


Justin menatap sebentar kearah plastik yang disodorkan gadis itu, kemudian beralih pada wajah cantik Nena yang tampak kontras dengan dirinya, piyama motif doraemon dan rambut ala-ala dragonbal efek bangun tidur yang nggak banget. Justin menggaruk kepala yang semakin meyakinkan dirinya tentang penampilan yang pasti semakin kacau. Pria itu mengingat Karin yang memonopoli hpnya. Pasti ulah gadis itu.


 


 


"Saya cuma mau nganter ini, Pak." Nena tampak menunggu.


 


 


"Nggak mau masuk dulu?" tawar Justin, Nena menggeleng.


 


 


Nena menurunkan tangan yang menenteng kantong plastik, yang dirasa pegal karena tidak juga mendapat sambutan. "Kan saya sudah bilang, saya cuma mau mengantar makanan, selepas itu pulang," ucapnya.


 


 


"Memangnya kamu ojek online, habis nganter pesanan terus pergi?" Justin mengulurkan tangan, meminta yang Nena sodorkan barusan. "Bahkan mereka  saja meminta uangnya diganti." Saat Nena kembali menyodorkan kantong plastik, bukan benda itu yang Justin raih melainkan tangannya. Nena tertegun, dirasanya telapak tangan pria itu yang hangat cenderung panas -dia benar-benar sakit- kontras dengan tangan Nena yang sangat dingin, entah pengaruh udara luar atau dirinya begitu grogi berhadapan dengan bosnya yang walaupun tampak kacau karena bangun tidur. Tapi gantengnya luar biasa.


 


 


"Kalo lo ketemu cowok yang masih ganteng walaupun dalam keadaan bangun tidur, kawinin. Karena lo bakal terus liat malaiakat Surga saat lo melek mata." Dan tiba-tiba, Siska dengan nasehat menjengkelkannya memenuhi isi kepala Nena. Terus, haruskah gadis itu meminta Justin mengawininya. Sableng lo, Na.


 


 


 


 


"Nggak usah diganti, Pak. Ikhlas saya." Nena bersikukuh. Namun pertahanannya seketika jebol saat sang bos yang dulunya killer dengan tatapan mata elangnya, sekarang tampak lembut dengan sorotan mata teduh itu.


 


 


Justin memelas. "Sebentaaar saja, saya ingin bicara," Ujarnya, yang membuat Nena tidak kuasa untuk menolak, dengan Bismilah gadis itu melangkahkan kakinya, mengganti sepatunya dengan sendal jepit rumahan Justin kemudian berjalan lebih dulu saat Justin bersedia melepaskan tangannya, sebagai syarat dari kemauannya itu.


 


 


Saat Nena berjalan di hadapannya, Justin malah menunduk, menatap sendal tidurnya yang mungkin akan dijadikan lelucon saat orang lain melihat. Doraemon kena cacar, kalo kata William, dan seketika pria itu malu sendiri meraba kening yang dirasa makin pening.


 


 


"Bapak nggak apa-apa? pusing, Pak?" Nena tampak khawatir.


 


 


"Iya saya pusing, kamu nggak bilang-bilang mau kesini, jadi saya nggak bisa tampil maksimal di hadapan kamu yang secantik ini," ungkapnya dengan mengikuti arahan William, kata pria bule itu, perempuan suka pria yang jujur dan terkesan gombal, dan saat kalimat ’gombal’ itu keluar dari bibir mereka, –para kaum perempuan–, itu tandanya mereka merasa tersanjung. Tapi nyatanya gadis di hadapannya ini berbeda.


 


 


Nena mengerjapkan matanya, setelah chating yang begitu aneh, sekarang tingkah bosnya malah lebih aneh, membuat gadis itu yakin bahwa sakitnya si bos itu benar-benar gawat. Otaknya gesrek.


 


 


"Kenapa bapak harus tampil maksimal di depan saya? Memangnya itu perlu?" Pertanyaan gadis itu berhasil membuat Justin berdecak walau sangat pelan, dan dia berpikir sebenarnya siapa di sini yang tidak peka. Pria itu jadi merasa kena hukum karma, mungkin selama ini orang lain merasakan hal semenjengkelkan ini saat menghadapi ketidak pekaan dirinya.


 


 


"Dapur di sana, saya mau ke kamar mandi dulu." Untuk mengalihkan suasana, Justin mengarahkan Nena ke dapur, dan gadis itu menurut, meninggalkan Justin yang tidak lama kemudian mengarah ke kamar mandi.


 


 


Setelah selesai menyiapkan makanan ke dalam piring saji, Nena menunggu sang pemilik rumah dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah, dia belum pernah ke Apartemen Justin sebelumnya, dan dia menilai tempat tinggal kedua Justin ini lebih rapi dari apartemen William.


 


 


Nena tertarik dengan fas foto berukuran 10R yang diletakan di atas bufet, foto seorang wanita cantik, dan masih muda, mungkin seumuran dirinya. Dan melihat foto itu lebih dekat, Nena merasa seperti bercermin di air yang jernih.


 


 


Perasaan mirip banget sama gue?