
Desa Tanpa Nama merupakan desa yang berada di sebuah lembah jauh di bawah pegunungan yang merupakan jalan utama nenuju perkotaan. Desa yang sejuk dan hijau itu keberadaannya tidak terlalu mencolok dan hampir tidak ada yang tahu jika desa itu ada.
Memang tidak banyak penduduk yang tinggal di sana, sedikitnya hanya ada tiga puluh kepala keluarga yang mendirikan gubuk-gubuk sederhana untuk mereka tinggali. Tanpa adanya aliran listrik dan segala kemewahan lainnya.
Beberapa minggu ini sebuah gubuk menjadi pusat perhatian warga. Tidak mengherankan, mengingat mereka baru saja kedatangan warga baru dengan cara yang cukup dramatis, dan warga baru itu sekarang tinggal di gubuk itu, gubuk milik Bu Siti, seorang janda yang hidup sendirian di desa tanoa anak dan suami.
Bu Siti memelototi beberapa warga yang berdiri di teras gubuknya sambil menjulurkan kepala, berharap dapat melihat warga baru itu yang sekarang mendapat gelar sebagai anak angkat Bu Siti.
Kabar tentang kecantikan warga baru itu tersebar dengan cepat sehingga membuat orang menjadi penasaran. Terlebih lagi saat warga baru itu baru saja tiba, pakaiannya yang terlihat indah dan mahal sontak menarik perhatian, walaupun sedang tidak sadarkan diri dan tubuh penuh luka tetapi kecantikan warga baru itu tidak terelakan.
Sekarang satu bulan telah berlalu, dan si warga baru sudah mulai beraktifitas sejak beberapa hari lalu. Dan baru tadi pagi si warga baru pergi ke sumur untuk mencuci pakaian. Kehadiran si warga baru di sumur tentu saja menarik perhatian, terutama para kaum adam yang tidak bisa berkedip begitu melihat si warga baru melintas. Secara tidak langsung si warga baru menjadi dibenci oleh para istri dan menjadi idola di kalangan para suami mata keranjang.
"Ngapain kalian ke sini, pulang sana pulang!" seru Bu Siti, sembari mengibaskan tangan di depan para tamu tak diundang yang berkerumun di depan rumahnya. Kebanyakan tamu tak diundang itu adalah para pemuda yang biasabya menghabiskan waktu dengan berkebun atau mendorong gerobak menuju pasar yang berada di kota.
"Kita mau lihat Raina, Bu," teriak salah seorang pemuda secara terang-terangan.
"Raina capek. Dia kan baru selesai mencuci di sumur tadi. Sana pulang, nanti dicari ibu kalian!" Bu Siti kembali mengibaskan tangan, mengusir pemuda-pemuda pemalas yang tiba-tiba saja menjadi pengunjung rutin di depan rumahnya.
Setelah segerombolan pemuda itu pergi, Bu Siti memasuki gubuk yang lantainya berderit ketika diinjak.
Pelangi yang sekarang lebih akrab disapa Raina terkejut dan sontak menggeser tubuhnya dengan cepat ke balik tirai berlubang untuk bersembunyi di samoibg lemari pakaian.
Bu Siti menatap Pelangi dengan iba. Ia tidak tahu kejadian pahit macam apa yang telah terjadi pada wanita di hadapannya, sehingga Pelangi selalu tampak ketakutan dan siaga setiap ada yang mendekat atau setiap ia mendengar suara-suara di sekitarnya.
Hampir empat minggu yang lalu Bu Siti mendapati Pelangi pingsan di semak belukar. Tubuhnya penuh goresan ranting dan semak yang berduri. Belum lagi saat itu ternyata Pelangi sedang mengandung dan bayinya meninggal di dalam kandungan.
Tanpa pikir panjang Bu Siti membawa Pelangi ke sebuah gubuk seorang dukun beranak agar bayi di dalam kandungan Pelangi dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawa Pelangi, dan setelah keadaan Pelangi mulai membaik, barulah Bu Siti membawa Pelangi ke gubuknya dan merawatnya hingga kesehatannya semakin membaik.
"Raina, Nak, keluarlah ini ibu," ujar Bu Siti, sembari menyibak tirai lusuh di hadapannya.
Pelangi mendongak agar dapat menatap wanita yang ada di hadapannya, kemudian ia bangkit berdiri. "Maaf, Bu, aku pikir siapa yang datang," ujar Pelangi.
"Tidak usah minta maaf. Kamu sama sekali tidak bersalah, Nak." Bu Siti menuntun Pelangi agar wanita itu duduk di kursi yang ada di ruang utama, kursi reyot yang terbuat dari bambu. "Jadi, apa kamu sudah mengingat siapa dirimu yng sebenarnya, Nak?" tanya Bu Siti.
Pelangi menggeleng. "Tidak ada yang bisa kuingat, Bu, tapi entah mengapa aku selalu merasa sedih setiap saat." Pelangi mulai menangis.
Ya, saat sadar, Pelangi memang tidak mengingat apa pun tentang dirinya. Ia menyebut dirinya sebagai Raina hanya karena alasan sederhana, saat ia disadarkan dengan paksa untuk melahirkan bayi yang telah tak bernyawa, hari sedang hujan dan pakaian yang melekat ditubuhnya pun basah karena air hujan. Alasan yang konyol memang tetapi hanya hal itu yang terpikir oleh Pelangi. Hujan adalah Rain, maka ia memperkenalkan diri sebagai Raina. Ia terlalu bingung dan terlalu kacau untuk memikirkan hal lain.
Bu Siti menyentuh pundak Pelangi dan menepuk-nepuknya dengan lembut. "Pelan-pelan saja, Nak, jangan dipaksakan. Lebih baik kamu perbanyak istirahat untuk saat ini. Kondisi kesehatanmu belum pulih betul. Ibu yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan mengingat semuanya."
Pelangi mengangguk. Kemudian ia berjalan menuju kamar dan berbaring di atas tikar, mencoba untuk tidur dan kembali hilang kesadaran. Hanya saat tertidurlah Pelangi dapat merasakan sedikit ketenangan, karena saat terbangun hatinya kembali merasa sedih dan ketakutan tanpa alasan. Hal itu sungguh menyiksa, karena saat ia mencoba untuk menggali di dalam memorinya, mencari alasan rasa sedih dan takut yang ia rasakan, ia tidak menemukan apa pun di dalam ingatannya, sama sekali tidak ada kenangan yang tersisa di dalam kepalanya tentang kehidupannya terdahulu dan tentang ayah dari bayi yang satu bulan lalu harus lahir dalam kondisi tak bernyawa.
***
Desember 2023
Selebaran disebar, ditempel pada tiap-tiap tiang listrik, pepohonan, hingga halte-halte pemberhentian bus dan juga taman kota.
Andreas Group kembali berjaya, dan Gilang yang langsung menduduki jabatan sebagai CEO menggatikan sang ayah segera memecat semua karyawan yang terindikasi bekerja sama dengan Surya Permana.
Gilang memang tidak ingat apa pun tentang Surya, tetapi Andrew dan Toni menjelaskan segalanya kepada Gilang tentang kelicikan Surya yang merebut perusaah milik Farhan dengan cara yang curang. Tentu saja Toni dan Andrew tidak membicarakan tentang Pelangi sama sekali, bukannya mereka tidak peduli lagi pada fakta bahwa Pelangi adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Gilang. Jika bukan karena Pelangi, Gilang pasti telah tiada saat ini. Namun, untuk sekarang baik Toni maupun Andrew sepakat bahwa Gilang lebih baik fokus pada perusahaan terlebih dahulu. Apalagi sejak jatuh ke tangan Surya dan Surya melarikan diri entah ke mana, keadaan perusahaan menjadi kacau balau.
"Aku sudah menyebar selebaran untuk itu."
Gilang mendengkus. "Perusahaan besar seperti Andreas Group seharusnya tidak menyebar pengumuman dengan cara tidak etis seperti itu. Kalian bisa membuat pengumuman di situs internet kan? Cara seperti itu lebih baik," komentar Gilang.
"Ya, memang, tapi aku memiliki pendapat lain begitu juga dengan Andrew," jawab Toni.
Gilang duduk di kursi kerjanya sembari menatap tumpukan berkas yang ada di hadapannya. "Aku tidak percaya jika perusahaan ini berpindah tangan ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab."
"Mau bagaimana lagi, kamu koma selama tiga tahun dan Pak Farhan terkena serangan jantung satu tahun lalu." Toni berujar, sembari memilah-nilah tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerja Gilang, mulai memilih berkas mana yang harus Gilang kerjakan terlebih dahulu.
Toni bekerja dalam diam. Belakangan ini Toni memang banyak diam daripada berbicara, dan hal itu membuat Gilang penasaran.
"Ekspresimu itu seperti ekspresi pria yang sedang patah hati. Apa ada wanita yang sedang kamu sukai?" tanya Gilang.
Toni menghentikan kegiatannya, kemudian menatap Gilang dengan malas. "Ada, tapi dia sudah kabur."
Gilang tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana bisa wanita itu kabur? Apa kamu mengajaknya menikah secara mendadak? Atau kamu tertangkap tengah berselingkuh?"
"Tidak keduanya. Dia kecewa padaku. Itulah sebabnya dia kabur." Toni menerawang, memikirkan Amara yang keberadaannya sekarang tidak ia ketahui.
Amara memang marah dan kecewa pada Toni saat Toni dan Andrew juga Farhan memutuskan untuk tidak meluruskan kesalahan pada ingatan Gilang.
Amara mengamuk saat itu, dan merasa tidak terima karena Pelangi seolah dilupakan oleh keluarga Andreas, dan sejak hari itu juga tepatnya satu tahun yang lalu Amara memutuskan untuk pergi meninggalkan Keluarga Andreas dan Toni.
Saat itu Toni membiarkan, walaupun hatinya hancur dan ia kecewa, tetapi baginya tugas lebih utama. Ia harus membantu Gilang kembali merebut perusahaan. Setelah semua tugas selesai, barulah ia akan mencari Amara, dan sekarang langkah itu sedang ia ambil. Toni sengaja menyebar pengumuman lowongan kerja di jalan dan tempat-tempat umum selain menyebar pengumuman di internet. Ia berharap Amara melihat pengumuman itu dan kembali.
Walaupun Amara tidak mungkin kembali untuk melamar pekerjaan dan bergabung dengan Andreas Group, Toni berharap Amara datang untuk mengamuk atau memprotes tindakannya yang belum juga meluruskan kesalahpahaman Gilang.
"Jika nanti dia datang, walaupun dia marah dan mencaciku, aku akan menahannya agar dia tidak lagi pergi,"
Gilang bersiul saat mendengar ucapan Toni. "Cinta yang luar biasa," komentar Gilang. "Aku pun akan memperjuangkan cintaku jika jadi dirimu. Jika Gisel pergi, aku pasti akan mencarinya hingga ke ujung dunia."
Toni menghela napas. "Apa hanya Gisel yang ada di dalam otakmu, hah?"
"Ya, memangnya mau siapa lagi? Aku bahkan akan melamarnya awal tahun depan. Aku akan menikah dengannya dan ...."
Brak!
Toni memukul meja yang ada di hadapannya dan bangkit berdiri. "Jangan berani-berani kamu melamar Gisel! Pokoknya jangan!"
Gilang menaikan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa? Dia kekasihku dan kami sudah berhubungan sejak lama."
"Pokoknya jangan lamar dia, Gil, kalau kamu berani melamarnya, aku pasti akan menghajarmu hingga otakmu rusak permanen. Aku tidak bercanda!" ancam Toni, kemudian pergi dari hadapan Gilang sambil terus mengomel."
Gilang menatap kepergian Toni dengan bingung. "Kenapa dia sewot sekali? Aneh!"
Bersambung ....