
Pelangi menaiki undakan bersama Gilang menuju teras dibantu oleh sopir. Keduanya melangkah dengan hati-hati, karena bukan hal mudah menaiki tangga sembari membawa kursi roda beserta Gilang sekaligus yang duduk di atas kursi roda.
Sebenarnya Farhan telan membuat jalan khusus yang bisa dilewati oleh kursi roda, tetapi jalan itu harus memutar lewat samping bangunan bangunan utama.
"Trims, kamu bisa istirahat," ujar Pelangi pada si sopir begitu mereka telah tiba di teras.
"Terima kasih, Nyonya." Si sopir membungkuk sedikit, kemudian berlalu dari hadapan Pelangi dan Gilang.
"Nah, Suamiku yang tampan dan seksi di seluruh alam semesta, sekarang saatnya kita masuk." Pelangi mencubit hidung Gilang, lalu mendorong kursi roda Gilang kembali menuju ke bagian dalam rumah.
"Jika aku terus-terusan dipuji olehmu, busa-bisa aku lupa bahwa aku ini adalah suami yang tidak berdaya, dan aku akan menjadi pria yang percaya diri bahwa istriku tidak keberatan dengan kondisiku dan akan mencintaiku selamanya. Padahal hal itu belum tentu benar, 'kan? Suatu saat kamu pasti lelah dan jenuh dengan semua ini," ucap Gilang.
"Ck, jangan bicara begitu. Cintaku padamu seluas jagad raya, tidak akan pudar hanya karena masalah seperti ini." Pelangi menarik telinga Gilang.
Gilang tertawa. "Terima kasih kalau begitu, aku menyayangimu."
"Me to, Sayangku." Pelangi menjawab ucapan Gilang.
Pelangi menghentikan langkah saat dilihatnya Andrew dan Delia tengah berdiri saling berhadapan di dekat jendela. Wajah Delia terlihat sedih, dan wajah Andrew terlihat tidak nyaman. Suasana terasa begitu tegang.
"Kalian berdua sedang main adu pandang?" tanya Pelangi, menatap Delia dan Andrew bergantian.
Delia mengalihkan pandangan terlebih dahulu dari Andrew. Wanita itu memandang Pelangi dengan pandangan yang lebih sedih lagi dari sebelumnya, dan terdapat genangan air mata di mata Delia.
"Del, ada apa?" tanya Pelangi.
Delia membuka mulut, terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi setelah ia melirik Gilang. Alih-alih menjawab pertanyaan Pelangi, Delia malah berbalik dan berlari menaiki tangga menuju lantai atas.
"Del, Hati-hati, kamu sedang mengandung!" Pelangi meneriaki Delia, kemudian kembali memandang Andrew yang masih diam bagai patung. "Bukankah seharusnya kamu menyusulnya," ucap Pelangi, ia sedikit kesal pada Andrew karena pria itu membiarkan Delia pergi begitu saja tanpa menyusulnya, padahal seorang wanita jika sedang tidak enak hati butuh untuk digoda dan ditenangkan, bukannya diabaikan.
"Ndrew, apa yang terjadi?" Kali ini Gilang yang bertanya. Wajahnya terlihat serius.
Andrew menggeleng, kemudian berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Gilang dan Pelangi.
"Mereka berdua aneh sekali," komentar Pelangi. Ia lalu kembali mendorong kursi roda Gilang menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Pelangi segera membantu Gilang untuk berbaring di ranjang, membuka sepatu dan kaus kaki pria itu, lalu membuka jas dan kemeja Gilang, menyisakan kaos putih polos di baliknya, lalu melonggarkan ikat pinggang Gilang agar pria itu dapat berbaring dengan nyaman.
"Nah, aku akan menyiapkan air hangat dulu setelah itu kita mandi bersama," ucap Pelangi.
"Berbaringlah dulu di sebelahku, apa kamu tidak lelah?"
Pelangi berdiri sambil berkacak pinggang di depan Gilang. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Ah, baiklah, tawaran untuk berbaring di sebelahmu sangat menggoda," ucapnya, lalu melepas sandal rumah yang ia kenakan dan segera naik ke atas ranjang.
"Aku suka saat-saat seperti ini," ujar Gilang, saat Pelangi telah berbaring di sebelahnya sembari melingkarkan tangan di pinggang.
"Heem, tidurlah sejenak kalau begitu. Kamu pasti lelah karena seharian ini kita berada di kantor."
Gilang tersenyum. "Tidak terlalu melelahkan, karena aku memiliki asisten yang sangat cantik."
"Tentu."
"Sekretarismu sangat cantik dan seksi. Itu juga berpengaruh?" tanya Pelangi.
"Ya, itu berpengaruh."
Pelangi cemberut laku mencubit pinggang Gilang. "Aku sakit hati mendengarnya. Jangan coba bercanda untuk masalah seperti ini, Gil, jujur aku benar-benar cemburu!"
Gilang tertawa. "Aku hanya bercanda. Lagi pula, untuk apa kamu cemburu, lihat saja kondisiku, Pelangi, kamu tidak harus merasa cemburu."
Pelangi semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Gilang sekarang. "Pola pikirmu salah. Kondisimu tidak ada hubungannya dengan isi hati dan perasaanku. Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin orang itu hanya mencintaiku saja. Dan hanya aku yang ada di dalam hati juga pandangannya. Ini bukan masalah penampilan fisik atau apa pun itu, ini murni dari dalam hati. Cintaku tulus, Gil, hingga apa pun yang terjadi aku hanya ingin kamu itu untukku seorang, paham tidak?"
"Oh, Sayangku, aku sungguh terharu." Benar saja, kedua mata Gilang mulai berair sekarang. Mendengar apa yang Pelangi ucapkan membuatnya merasa bersyukur sekali, karena Pelangi amat mencintainya. "Maafkan aku karena membuatmu sedih. Haruskah aku memecat sekretarisku?"
Pelangi tersenyum dan menyeka air mata Gilang. "Tidak perlu. Pekerjaannya sangat penting baginya. Aku tahu kalau dia adalah tulang punggung keluarga."
"Kamu memang sangat baik hati. Cium aku kalau begitu," pinta Gilang.
Pelangi tidak tanggung-tanggung begitu mendengar permintaan Gilang. Ia segera mendaratkan bibirnya di atas bibir Gilang dan mencium pria itu dengan rakus, seolah mereka tidak berciuman selama berbulan-bulan saja, padahal keduanya berciuman setiap hari dan hampir setiap dua jam sekali.
***
Delia menangis di dalam kamarnya. Sebenarnya ia tidak ingin menangis hanya karena masalah sepele seperti yang baru saja terjadi. Bagaimana pun juga ia tahu bahwa Andrew pernah mencintai Pelangi dan Pelangi adalah cinta pertama pria yang sekarang telah menjadi suaminya tersebut. Delia paham, pasti sulit bagi Andrew untuk melupakan Pelangi, tetapi tetap saja ia merasakan rasa nyeri yang luar biasa di dalam dadanya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Delia yang sejak tadi berbaring membelakangi pintu tahu bahwa yang datang pasti Andrew. Delia tidak berusaha untuk mengusap pipinya yang basah, biar saja Andrew tahu bahwa dirinya menangis, bahwa dirinya kecewa dan sedih atas perilaku Andrew.
"Del." Suara Andrew terdengar di telinga Delia, tetapi Delia tidak menghiraukan. Ia tetap berbaring memunggungi pintu.
"Del, aku ingin bicara padamu." Andrew sekarang duduk di sisi lain ranjang, kedua matanya memandangi punggung Delia yang sedikit berguncang. Ia tahu bahwa wanita itu pastilah sedang menangis sekarang.
Andrew berbaring, lalu memeluk Delia dari belakang. Bibirnya ia biarkan menempel di bagian belakang leher Delia yang hangat dan wangi.
"Aku tidak akan membuat alasan apa pun. Aku hanya akan mengakui bahwa aku salah dan aku mohon maafkan aku," ujar Andrew.
Delia menepis pelukan Andrew, dan segera bangkit untuk duduk. "Apa begitu sulit bagimu untuk melupakannya?"
Andrew tidak menjawab.
"Jika memang sesulit itu katakan saja, Ndrew. Aku tidak ingin menjadi pelampiasanmu. Aku tidak ingin hidup bersama dengan pria yang masih mencintai wanita lain."
" Del--"
"Jika memang kamu tidak bisa melupakannya, mari kita berpisah saja. Tidak baik melukai hati satu sama lain, Ndrew."
Bersambung.