
HOTEL MENTARI, adalah sebuah hotel tua yang pernah berjaya di masanya, walaupun berada jauh dari perkotaan, tetapi Hotel Mentari dulunya tidak pernah sepi pengunjung. Maklum saja, karena daerah di mana Hotel Mentari berdiri merupakan daerah yang sangat dekat dengan tempat wisata. Hingga banyak turis yang menginap di hotel itu saat sedang berwisata.
Gilang turun dari mobilnya bersama dengan rombongan dari kantor cabang dan beberapa karyawan baru dari kantor pusat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Gilang dan rombongannya tiba di Hotel Mentari setelah lewat tengah hari. Andrew dan Toni baru akan menyusulnya satu minggu kemudian, setelah urusan mereka di sebuah resort di Bali selesai.
Para pekerja yang telah berbaris di halaman depan hotel memberi sambutan yang baik pada Gilang. Mereka membungkuk dan mengucapkan selamat datang secara serempak. Gilang tersenyum dan membungkuk juga, ia tidak ingin menjadi angkuh hanya karena jabatannya lebih tinggi dari semua pekerja yang ada di hadapannya. Toh, dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa dukungan dari orang-orang yang ada di bawahnya.
"Selamat datang, Pak Gilang Andreas. selamat datang," ujar seorang penanggung jawab yang bertanggung jawab di proyek renovasi Hotel Mentari.
"Ya, ya, terima kasih atas sambutannya," ujar Gilang.
Pak Handoko, pria berusia pertengahan 40-an selaku penanggung jawab proyek itu lantas mempersilakan Gilang untuk masuk. Ia berjalan di samping Gilang sembari melambaikan tangan, memberi petunjuk pada Gilang bahwa rombongan dari kantor pusat akan tinggal di lantai dua.
Gilang bersyukur karena tidak diharuskan berceloteh panjang lebar di hadapan para pekerja, karena saat ini ia benar-bnar butuh istirahat. Urusan memberi sambutan atau apalah bisa ia lakukan nanti, saat tenaganya sudah pulih.
Gilang mengekor langkah Handoko tanpa ragu. Walaupun ia sedikit bergidik juga saat memasuki bagian dalam hotel yang suram. Padahal hotel itu terlihat bersih dan terawat pada bagian dalamnya, karpetnya yang berwarna merah maroon bahkan terlihat bersih tanpa noda dan debu. Sangat kontras dengan bagian luar hotel yang memang terlihat seperti hotel angker. Selain dinding yang berlumut, di bagian samping hotel juga terdapat tanaman rambat yang menjuntai dari lantai dua hingga menyentuh tanah.
setelah beberapa saat, Handoko kemudian berhenti di depan sebuah kamar. "Nah, kamar ini adalah kamar milik Pak Gilang selama Pak Gilang tinggal di sini, dan kamar di sebelahnya adalah kamar untuk bapak-bapak sekalian." Handoko menatap satu per satu perwakilan dari kantor pusat yang tiba bersama dengan Gilang, kemudian ia melanjutkan, "Kami sudah menempeli nama di setiap pintu kamar agar lebih mudah bagi bapak-bapak semua untuk menemukan yang mana kamarnya," jelas Handoko.
Gilang mengangguk. "Baiklah, Pak, terima kasih atas kemudahan yang Anda berikan pada kami."
"Ya, sama-sama, Pak, jika Pak Gilang butuh sesuatu telepon saja saya. Saya akan segera datang. Di atas sini juga ada sedikitnya tujuh orang pekerja yang bertugas membersihkan kamar-kamar. Jika kebetulan salah satu dari mereka lewat, Pak Gilang bisa meminta mereka untuk melakukan apa pun, misalnya membawakan makanan atau apalah."
Gilang kembali mengangguk, lalu segera melangkah memasuki kamar dan menutup pintunya. Ia lelah sekali, karena perjalanan yang lumayan jauh dan akses jalan yang berliku membuatnya sakit kepala dan juga mual sekaligus. Hanya tidur yang mampu mengobati rasa sakit kepalanya saat ini.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 08.00, tetapi Gilang Andreas masih juga belum keluar dari dalam kamarnya. Hal itu tentu saja membuat panik Handoko. Mana ada manusia yang tidur begitu lama, pikirnya.
Pria tua itu tidak henti-hentinya mengetuk pintu kamar Gilang, berharap Gilang keluar dari dalam kamar atau setidaknya menyahut. Jujur saja, ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gilang. Apalagi tidak ada satu pun kunci cadangan yang ada padanya, membuatnya semakin panik.
"Bagaimana ini, bagaimana?" gumam Handoko, yang sejak tadi mondar-mandir di depan kamar Gilang.
"Dobrak saja, Pak!" seru Alia.
"Atau congkel saja pintunya!" usul salah seorang pekerja lagi.
Ya, kepanikan Handoko tentu saja membuat pekerja yang bertugas di lantai dua sontak berkumpul di depan kamar Gilang. Para pekerja itu penasaran, karena di saat para tamu lain sedang makan malam di lantai bawah , Handoko malah sibuk menggedor-gedor pintu kamar Gilang.
Pelangi yang tidak terlalu tertarik pada keributan yang terjadi segera berbalik pergi dan berjalan menuju kamarnya yang letaknya di ujung lorong kedua. Ia memang sudah hampir tertidur tadi, ketika tiba-tiba saja Alia mengguncang tubuhnya dan membangunkannya hanya karena kehebohan yang Handoko buat.
Saat berjalan menuju kamarnya sambil terkantuk-kantuk itulah Pelangi melihat sosok yang sangat mencurigakan. Sosok itu berpakaian putih dan kakinya tidak terlihat dengan jelas. Di mata Pelangi yang sedang mengantuk itu seolah sosok di hadapannya tidak menyentuh lantai alias melayang.
Pelangi memfokuskan pandangan, karena rupa sosok itu tidak terlalu jelas. Kemudian tiba-tiba saja wajah sosok itu bersinar, mengeluarkan cahaya putih yang membuat tubuh Pelangi bergidik. Di lorong yang ia lalui pencayahayaan memang tidak seterang di lorong lain, sehingga wajah yang tiba-tiba bersinar membuatnya ketakutan.
"Sial, dia pasti hantu," gumam Pelangi, sembari melangkah mundur, hingga tanpa sengaja ia menabrak sebuah vas, menyebabkan vas itu jatuh dan menimbulkan suara yang memekakan telinga. Untunglah vas itu tidak pecah.
Suara bising yang disebabkan Pelangi menarik perhatian sosok misterius. Dalam keremangan, sosok itu terlihat memperhatikan Pelangi dan mulai mendekat.
Pelangi yang sudah ketakutan setengah mati refleks menunjuk ke arah sosok itu dan berteriak, "Hantu, hantu!" sebelum akhirnya ia berlari menuju kamar.
Gilang yang terkejut karena teriakan Pelangi, segera berlari mengikuti sosok yang ada di depannya.
Ya, sosok yang ditakutkan Pelangi dan dikira Pelangi sebagai hantu adalah Gilang Andreas.
Gilang terus mengikuti langkah Pelangi hingga wanita itu masuk ke dalam kamar, dan tanpa pikir panjang Gilang pun ikut masuk ke dalam kamar Pelangi dan menutup pintu di belakangnya dengan keras dan menguncinya.
"Tenang saja, hantunya tidak akan bisa masuk!" seru Gilang sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Kemejanya yang berwarna putih pun terlihat basah karena keringat.
Pelangi membelalak, ia tidak dapat mengedipkan mata begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Tidak telalu mengherankan, mengingat Pelangi tidak pernah melihat pria serupawan Gilang sejak dirinya membuka mata setelah terjatuh ke jurang.
"Ada apa?" tanya Gilang, yang merasa jika tatapan Pelangi begitu aneh.
Pelangi menggeleng agar mendapatkan kesadarannya kembali. "Maaf, tapi sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di sini."
"Salah paham bagaimana maksudmu?"
"Maksudku adalah--"
Tok, tok, tok!
"Rain, buka pintunya. Aku mau masuk, kenapa pakai dikunci segala, sih, Raina!"
Pelangi melotot, begitu juga dengan Gilang.
Kepanikan Pelangi menular dengan cepat pada Gilang hingga pria itu tidak dapat berpikir jernih. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kamu bersembunyilah di lemari," pinta Pelangi.
"Lemari yang mana?" Gilang mengedarkan pandangan, tetapi tidak menemukan lemari yang Pelangi maksud.
Pelangi baru sadar beberapa detik kemudian jika di kamarnya tidak ada lemari, pakaiannya dan pakaian Alia saja masih teronggok di lantai.
"Kolong ranjang kalau begitu."
"Aku harap kasur itu ada kolongnya secara ajaib." Gilang berkata dengan sinis sambil berkacak pinggang, karena lagi-lagi tidak ada ranjang di ruangan itu, hanya ada dua kasur terpisah yang tergeletak di lantai.
Pelangi mengantupkan keningnya di pintu karena frustrasi. Apalagi Alia semakin keras menggedor pintu hingga sepertinya pintu itu dapat roboh sewaktu-waktu.
"Tidak ada cara lain, walaupun ini sangat bertentangan dengan moral, tapi aku harus mengatakannya padmu," ujar Pelangi.
"Apa?" tanya Gilang, tidak sabaran.
"Masuklah ke dalam selimutku, selimutku sangat tebal, Alia tidak akan mengira jika ada orang lain di dalam selimutku."
"Hah! Tidak aku tidak mau! Aku tidak terbiasa tidur dengan orang asing."
Pelangi yang sudah muak segera mendorong Gilang agar pria itu berbaring di tempat tidurnya dan menutupi tubuh Gilang dengan selimut, mengabaikan protes Gilang yang membuat telinganya sakit.
"Kamu pikir aku terbiasa tidur dengan orang asing," omel Pelangi, kemudian mematikan lampu kamar dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka omelan Alia langsung memenuhi ruangan, menggema seolah sedang membaca sebuah pengumuman penting yang harus didengar oleh seluruh makhluk hidup di jagad raya.
"Shuut, pelankan suaramu, Lia! Apa kamu mau membangunkan seluruh hantu yang ada di gedung ini." Pelangi mengomel, lalu berjalan cepat menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, ia takut jika bokongnya salah mendarat.
"Kenapa lama sekali membukakan pintu untukku? Di luar sana sangat seram, Rain. aku hampir saja mati berdiri." Alia masih menggerutu.
"Aku ketiduran, maaf."
Alia menghela napas, lalu segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut juga. "Oke, kumaafkan, tapi lain kali jangan kunci pintunya kalau aku masih di luar kamar, oke."
Pelangi mengangguk. "Oke."
"Hai, kapan aku bisa keluar dari sini." Gilang menarik lengan Pelangi yang berbaring sambil memunggunginya.
Pelangi yang merasa terganggu segera berbalik agar dapat menatap Gilang. "Sabarlah, dan jangan sentuh aku. Nanti saat Alia sudh tidur dengan nyenyak, kamu bisa pergi dari sini."
Gilang mendengkus kesal. "Oke, oke, siapa juga yang mau menyentuhmu. Aku bukan pria murahan."
"Terserah sajalah." Pelangi menguap, lalu kembali memunggungi Gilang.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan, suara dengkuran halus Pelangi terdengar begitu tidak asing di telinga Gilang, walaupun faktanya Gilang tidak mengenal wanita yang sedang berbaring di sampingnya sama sekali.
Hal itu ... segala rasa nyaman, aroma tubuh hingga suara dengkuran yang terasa tidak asing bagi Gilang, tentu saja membuat Gilang merasa aneh. Bahkan ada dorongan lain di dalam diri Gilang yang cukup gila. Ya, Gilang ingin sekali merangkul tubuh wanita di sampingnya, dan ikut terlelap hingga pagi menjelang.
Gilang menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran gila itu dari dalam kepalanya.
"Raina, kamu belum tidur?" tanya Alia yang melihat selimut Pelangi bergerak-gerak.
Karena terkejut, Gilang berusaha membangunkan pelangi agar wanita itu bangun.
"Hai, Raina, jangan pura-pura tidur. Kalau kamu belum tidur, ada yang ingin kuceritakan padamu."
"Ssstt, sstt, bangunlah. Temanmu itu mengira kamu belum tidur." Gilang mengguncang tubuh Pelangi, bahkan mencubiti hidung dan pipinya hingga wanita itu terbangun.
"Apa, sih ...."
Gilang menutup mulut Pelangi dengan tangan, lalu berbisik, "Shuut, temanmu mengira kamu masih bangun. Bangunlah sebentar dan suruh dia tidur. Kalau dia tidak tidur, aku tidak bisa keluar dari sini. Dan kalau aku tidak keluar dari sini, bisa-bisa aku khilaf. Kamu mau kalau aku sampai khilaf?"
Pelangi menggeleng, dan dengan cepat ia menyingkirkan tangan Gilang dari mulutnya, lalu ia bangkit untuk duduk dan langsung menghadap ke tempat Alia berbaring.
"Tidurlah, Alia, kenapa kamu berisik sekali, sih?! Apa kamu tidak tahu kalau aku ini lelah dan ingin beristirahat. Kalau kamu tidak niat untuk tidur, lebih baik kamu keluar sana. Aku benar-benar ingin tidur jadi tidurlah juga. Kumohon!" ujar Pelangi, lalu segera berbaring dalam posisi miring membelakangi Alia. Dengan posisi seperti itu, kedua matanya langsung bertemu dengan mata Gilang, membuat jantungnya berdetak cepat, sangat tidak normal!
"Bagus. Sekarang tidurlah, aku tidak akan mengganggumu lagi ... heem, siapa namamu tadi? Oh, ya Raina."
Bersambung ....