OH MY BOSS

OH MY BOSS
KARIN



"Nih, makan." Karin mengambil alih remot di tangan Justin, yang bahkan pria itu belum sempat memencet tombol power merah di sudut atas benda itu, dan televisi 80 inci itu masih dalam keadaan mati.


Ke tangan Justin, anak itu menaruh mangkuk berisi bubur sumsum ala Karin yang dari tampilannya saja sama sekali tidak membuat selera Justin sedikit saja merasa tergugah. Apalagi pria yang tampak kacau dengan baju tidurnya pada jam makan siang itu masih memikirkan foto kedekatan Serena dengan calon pacarnya yang dikirimkan William. Calon pacar? Itupun kalau saja gadis itu mau menerima cinta pria itu, dan Justin pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi.


"Makan sih, Bang. Gue udah capek-capek bikinin juga," keluh gadis belasan tahun itu, yang entah mengapa bisa nyasar ke apartemennya ini.


"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" Tanya Justin, keduanya duduk santai di ruang tv, dengan remot di tangan Karin. Gadis itu tampak memilih saluran yang menyiarkan acara faforitnya.


"Maksud lo, gimana ceritanya gue bisa sampe di sini gitu?" Tanyanya, masih dengan pandangan mengarah pada televisi yang nyaris menyaingi layar tancap. Dan saat gadis itu menoleh, Justin tampak mengangguk. "Yaelah, Bang. Ngomong sama lo berasa baca buku pelajaran Bahasa Indonesia, penuh edukasi dan ejaan yang disempurnakan," cibirnya, namun Justin tidak menanggapi, pria itu dengan perlahan menyuapkan bubur yang katanya sum-sum itu ke dalam mulutnya. Dan hal itu tidak luput dari perhatian sang juru masak. "Enak kan?" Tanyanya dengan jumawa.


Seketika Justin menghentikan kunyahannya, kemudian menoleh. "Nggak di campur sianida kan ini?" tuduhnya.


"Keji banget, Bang tuduhan lo. Udah mati lo kalo gue taroin begituan," sungutnya, Justin melanjutkan suapan berikut dengan hati-hati.


"Tadi gue ikut mamih kerumah Om Juan, terus kata si om, lo lagi sakit." Karin mulai bercerita, kemudian menoleh, dan tampaknya Justin mendengarkan dengan seksama, meskipun pria itu hanya mengangkat alis sebagai tanggapan. "Berhubung lo udah baik sama gue sering bagi duit, yaudah gue kesini, takut nggak ada yang ngurusin nih, bujang lapuk," lanjutnya kemudian.


Mendengar kalimat barusan, Justin menoleh, dan nyaris melemparkan mangkuk di tangannya ke wajah bocah itu, namun dia lebih memilih diam tanpa menanggapi celaannya, karena yang abg tanggung itu tuduhkan adalah benar. Ngenes.


"Kamu nggak nyasar?" Tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya enggak lah, gue kan udah gede," jawab Karin.


"Kamu itu masih kecil, jangan diulangi." Justin menasehati.


"Kecil apanya sih, Bang. Nih, gede kan?" Sangkal Karin dengan kedua telapak tangan menangkup buah dadanya sendiri.


Justin yang tampak syok memundurkan kepalanya, ngeri. "Memangnya besar kecilnya seorang perempuan diukur dari hal itu," semprotnya, Karin terkekeh, puas menggoda calon abang tirinya itu.


"Makanya cepet kawin, kaku banget si lo Bang, cewek mana mau sama orang se lempeng lo ini," celotehnya, yang ternyata menarik perhatian seorang Justin.


"Memangnya menurut kamu, seorang perempuan itu sukanya yang seperti apa?" tanyanya, sedikit antusias. Karin menoleh.


"Denger ya, Bang cewek itu suka cowok yang romantis, humoris, nggak kaya lo," ujarnya santai.


Justin berdecak kesal, seorang Ceo, penerus perusahaan ternama, dipanggil dengan sebutan abang, hanya seorang Karina Larasati yang berani melakukannya, disamain sama kang siomay, dipanggil abang.


"Memangnya, abang kenapa?" Tanya Justin, dan sepertinya dirinya sudah menerima, panggilan ala-ala tukang siomay itu.


"Cewek, kalo ngomong sama lo, berasa ngomong sama atasan tahu nggak."


Justin tampak berpikir, "emang dia lagi ngomong sama atasan," lanjutnya yang membuat gadis yang fokus dengan layar televisi itu seketika menoleh.


"Dia siapa?"


Justin meletakan mangkuk ke atas meja di hadapannya, entah dirinya dalam mode lapar atau memang doyan, nyatanya bubur yang katanya tidak menggugah selera itu, berhasil ia tandaskan.


"Namanya Serena," Justin mulai bercerita tentang seorang gadis yang dikenalkan sahabatnya, juga tentang perasaan yang mulai tumbuh tanpa ia sadari, dan dengan mendengar orang lain lebih dulu mengungkapkan perasaan pada gadis itu, membuatnya kelabakan bukan main, juga tentang usaha menggagalkan pendekatan dua minggu mereka yang kebobolan hari ini dikarenakan dia sakit. Entah Justin mulai putus asa, atau ingin melepas sedikit ketidaknyamanan dalam hatinya, dia malah memilih bercerita pada bocah ingusan, abg yang baru meletek, masih suka ngumpulin foto oppa-oppa ganteng, boyband Korea. Sepertinya Justin memang sudah gila.


"Gencet terus lah, Bang. Jangan kasih kendor," komentarnya yang membuat pria yang kelepasan bercerita itu mengerutkan dahi.


"Memangnya tidak ada bahasa yang lebih manusiawi? Itu manusia, bukan kolor," omelnya yang membuat Karin berdecak sebal.


"Kaya gimana sih orangnya?" Karin mulai penasaran, Justin mengambil ponsel yang terletak di ujung sofa, kemudian membuka galeri dan memberikan pada gadis itu.


Beberapa foto Serena tengah tersenyum, saat mencoba sepatu waktu itu, meski dari samping, terlihat sekali kalau gadis itu memang cantik dilihat dari sudut manapun, juga beberapa foto tampak depan yang Justin ambil dari akun IG gadis itu, dan untuk bagian itu, dia benar-benar merasa menjadi stalker.


"Ini model?" Tanya Karin, Justin menggeleng, "pemain sinetron?" tanyanya lagi.


"Cantik banget, pantesan lo termehek-mehek."


Masih dengan posisi bersandar santai, Justin menoleh. "Apa sih, termehek-mehek?" Tanyanya yang membuat decakan Karin mulai terdengar keki.


"Susah ngomong sama orang yang setiap kalimat yang diucapkannya itu sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia," cibirnya, Justin tidak menanggapi, pandangannya ia arahkan pada televisi, bukan untuk menonton film kartun si kembar berkepala botak karya Negara tetangga itu, hanya saja pusing di kepalanya semakin menjadi, dan dia memilih memejamkan mata.


"Meskipun dia assistant lo, harusnya nggak usah pake bahasa kayak gitu juga berkomunikasinya, biar dia itu tahu lo ada rasa," saran Karin yang tidak membuat pria di sampingnya itu membuka mata.


"Terus, harus bicara seperti kamu gitu? pake gue, lo?"


"Ya enggak juga, itu mah buat temen, kalo ngomong sama cewek mah bedain dikit lah."


"Contohnya?"


"Ya pake aku kamu kek, atau panggilan sayang gituh, lo nggak gaul banget deh, cara ngomong yang romantis sama cewek ajah nggak idep, pantesan nggak punya-punya pacar, emang dulu lo sekolahnya homeschooling kali?" Celotehnya, dan Justin mulai membuka matanya.


"Emang iya." Jawabnya yang membuat seorang Karin terkejut.


"Om Juan nggak punya duit buat nyekolahin lo di sekolah umum atau gimana?" Pertanyaan Karin membuat Justin membuka mata, setahunya sekolah dirumah itu biayanya lebih mahal.


"Kamu pernah, belajar bahasa Inggris, yang gurunya langsung didatangkan dari Negara tersebut." Tanya Justin, menoleh pada Karin yang tampak menggelengkan kepala. "Pernah belajar matematika, yang gurunya seorang juara olimpiade kelas dunia?" Karin kembali menggeleng. "Saya adalah pewaris tunggal Achazia grup dan anak-anak perusahaannya yang lain, untuk itu saya sangat diistimewakan, dan hal itu juga yang membuat saya menjadi seperti ini," ungkapnya panjang lebar, Karin tampak iba, pandanganya pada si calon abang tirinya itu seketika berubah.


"Yaudah, sini gue bantu." Karin membuka aplikasi whatsaap, "kok nggak ada nama Serena?" herannya.


"Mau apa?"


"Udah kasih tahu ajah, pokoknya terima beres." Karin meyakinkan.


"Jangan macem-macem, deh," tolak Justin halus, hendak meraih ponselnya dari tangan gadis itu.


Karin menjauhkan ponsel di tanganmu. "Cemen banget sih? Lo cowok apa bukan?" omelnya, Justin menoleh geram, kemudian menegakkan tubuhnya, dia merasa, kepalanya semakin berputar-putar.


"Kamu mau bukti?" Tantangnya, sedikit menarik kolor dengan gerakan membuka, membuat bocah abg itu terperanjat dan meloncat dari sofa dengan pucat pasi.


"Abang!!! Gue masih di bawah umur tahu, gue laporin Kak Seto juga lo," ancamnya, Justin melengos, beranjak dari duduknya menuju kamar tanpa kata-kata.


"Lo mau kemana? Kasih tahu dulu nama kontaknya apaan?"


Justin terus melangkah. "Si cantik molek," teriaknya dari ambang pintu, kemudian berlalu.


"Si canti molek? Ya ampun calon abang tiri gue noraknya."


Dengan lutut yang masih lemas karena tragedi gerakan membuka kolor abang sintingnya itu, Karin kembali duduk di sofa, dan dengan lihay membuka obrolan dengan si cantik molek yang dimaksud pria itu


***


Justin terbangun oleh suara bel apartemennya, diliriknya jam dinding menunjukan pukul delapan malam, dengan penyesalan karena sudah melewatkan solat magrib akibat rasa pusingnya, dia bahkan tidak ingat kapan calon adik tirinya itu pergi, pria itu melangkah terseok-seok menghampiri pintu, dengan penampilan kacau lengkap dengan baju tidur yang kusut acak-acakan, dia membuka handel pintu, dan terkejut setengah mati mendapati siapa yang berdiri di hadapannya.


"Kamu?"


Karin