
Justin tengah menekuni berkas-berkas di tangannya saat kemudian ia merasakan pusing di kepala, pria itu memejamkan mata sejenak, akhir-akhir ini mungkin dirinya terlalu lelah karena sibuk, belum lagi entah sejak kapan, mimpi bayi kembar yang dulu, kembali muncul mengganggu tidurnya, pria itu beranjak berdiri, mencengkram ujung meja saat dirasakan semuanya berputar-putar. Dia merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya, dan terkejut. ternyata darah. Pria itu mimisan.
"Kamu kenapa sih, kita berobat aja yuk, Mas." Nena yang beberapa menit lalu mendapat kabar dari William bahwa suaminya pingsan terus membujuk pria itu untuk periksa ke dokter.
"Orang nggak apa-apa," jawab Justin, pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri dengan tisu yang tersumpal di salah satu lubang hidungnya.
"Kenapa bisa sampe mimisan gitu si? Aku takut."
Justin tersenyum, mengambil tisu di hidung kemudian membuangnya. "Kangen kali, kamunya jarang ke kantor si, nggak bisa cuci mata dong."
Nena reflek memukul kening di pangkuannya itu hingga Justin mengaduh, namun kemudian wanita itu merasa bersalah sendiri dan berkali-kali minta maaf membuat suaminya tertawa. "Di kantor kan banyak ceweknya, kaya biasanya nggak pernah cuci mata aja."
"Sembarangan," omel Justin, "nggak boleh lah, dosa," ucapnya yang membuat Nena tersenyum bangga, "tapi sesekali boleh sih," tambahnya yang membuat sang istri menyurakinya kesal.
"Awas, Mas. Aku mau beli minum dulu di kantin." Nena menyuruh suaminya untuk bangkit.
"Kenapa nggak nyuruh orang aja si." Justin menolak.
"Aku sekalian mau beli makanan buat kamu," ucap Nena yang kemudian di iyakan oleh sang suami.
Justin bangkit, merapikan tumpukan kertas di mejanya setelah Nena pergi, suara pintu terbuka di belakangnya tidak membuatnya menoleh, dia tahu siapa yang datang. "Kenapa balik lagi?" Tanyanya yang tidak mendapatkan jawaban, malah pelukan dari belakang yang tiba-tiba, membuatnya sontak tersenyum. Istrinya itu memang tidak terduga.
Justin menunduk, melirik jari lentik di dadanya yang bukan milik sang istri, pria itu sontak melepaskan diri dan berbalik. Terkejut stengah mati.
"Lily?" Ucapnya.
Gadis cantik berkewarganegaraan Amerika itu tersenyum, "hay, My Justin," sapanya. "Terkejut?" Tanyanya kemudian.
Justin sesaat terdiam, bingung harus menjawab apa. "Sangat," ucapnya.
"Surprise!" Pekik wanita itu, kemudian memeluk Justin lagi. Pria itu bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya. Dan suara pintu terbuka membuat keduanya sontak menoleh, terkejut, Justin melepaskan pelukan wanita di hadapannya.
"Mas Justin?"
***
William menoleh pada pintu yang terbuka, seorang wanita yang tidak terpikir akan muncul di hadapannya terduduk di kursi depan mejanya tanpa menyapa.
"Wow, Lily? Apa kabar? Aku terkejut." William tersenyum tidak percaya.
"Aku sedang tidak memberi kejutan padamu," balas wanita yang dipanggil Lily itu ketus, William tersenyum menanggapi. Dia tahu, tentang apa yang sekarang ini telah terjadi.
"Kau berniat memberi kejutan pada Justin dengan kedatanganmu yang tiba-tiba?" Tebak William.
Lily mengangguk, kemudian menoleh. "Tapi yang terkejut adalah aku." Lily berkata dengan aksen Amerika yang kental. "Kenapa, Will, kenapa tidak ada yang mengabariku kalau Justin telah menikah?" Tanyanya nyaris menangis.
William berdiri, menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Dengan cara apa?" Tanyanya. "Burung dara pengantar surat," sindir William kemudian.
"Kenapa saat aku pergi, Justin tidak mencariku, Will?" Lily bertanya dengan tatapan terluka.
"Kau sendiri yang tidak mau dicari." William menjawab dengan melangkah ke depan, menyandarkan tubuhnya di meja dengan Lily di hadapannya.
"Tapi itu hanya gertakan."
"Justin itu tidak bisa digertak, kau juga tahu."
Lily terdiam, raut wajahnya tampak kalut, bingung dengan apa yang ia mau sekarang.
William yang melihat itu merasa iba, bagaimanapun juga gadis di hadapannya itu cukup lama menjalin kedekatan dengan sahabatnya, dan dia adalah saksinya. "Sudah lah, Ly. Justin sudah menikah. Dia bahagia."
Lily menoleh terluka, dirinya masih belum bisa terima. "Aku akan mengambil Justinku kembali," tekadnya.
William tertawa mendengus, "kalau kau bisa," remehnya yang membuat Lily terhenyak di tempatnya, apa hebatnya wanita itu. Begitu pikir Lily. "Kau dan dia beda keyakinan." William mengingatkan.
"Di luar sana banyak pasangan yang menikah beda agama, tapi masih bisa bahagia," balas Lily membuang muka.
"Beda kewarganegaraan juga." William menambahkan.
"Aku bisa pindah ke sini."
"Dan sekarang malah sudah beda perasaan."
Lily menoleh, membuka mulut untuk menjawab, namun kemudian mengatup lagi, bagaimanapun juga perkataan William mungkin benar, buktinya tadi Justin lebih memilih mengejar istrinya daripada memberi penjelasan lebih lanjut pada dirinya.
"Will, aku ingin mencari kerja disini, untuk memikat Justin kembali, aku perlu berkilau bukan?" Lily berucap panjang lebar, William diam mendengarkan. "Aku ingin jadi artis di negara ini," tambahnya lagi, William yang tertawa pelan membuat Lily menoleh. "Kenapa?" Tanyanya.
"Istri Justin itu, model."
Lily reflek memegang keningnya, pusing memikirkan kenapa seolah wanita itu tiada cela, cantik iya, model pula. Dia harus bagaimana. "Katakan, Will, aku tidak mungkin pulang ke apartemen Justin, kan?" Tanya Lily.
William tertawa, "Memangnya kau sudah gila," ucapnya.
"Kalau begitu, berikan kunci apartemenmu, aku lelah. Aku butuh istirahat."
"Kenapa harus aku?"
"Kenapa? Kau sudah menikah juga."
William menggaruk kepala, "tidak juga," jawabnya.
"Yasudah cepat berikan," palak Lily, dan mau tidak mau William mengambil kunci dan memberikannya pada wanita itu, kemudian menyebutkan alamat.
"Aku pergi!" Lily beranjak berdiri dengan menyeret kopernya.
"Jangan berbuat macam-macam di rumahku, jangan sampai kau dan mantanmu itu berbeda alam setelah ini." William mengingatkan.
"Dengan senang hati, My Lily," ucap William, dan setelah wanita itu benar-benar pergi, dia menjambak rambutnya prustrasi.
"Kaum wanita itu benar-benar merepotkan," gumamnya, untuk itulah dia tidak mau berkomitmen dengan salah satu wanita. Dan notif pesan Wa membuatnya reflek memeriksa ponselnya.
"Will tolong urus rapat di kantor cabang, Serena. Ngamuk."
Pesan dari Justin membuat dirinya amat ingin membenturkan kepala ke atas meja. "Ya Tuhan, kenapa selalu aku yang mendapatkan imbasnya."
***
Di sinilah Justin, setelah mengirimkan pesan pada William, pria itu terus mengekori kemanapun sang istri melangkah, masih di area kantor, belum jauh, dan pada jam kerja seperti ini, tentu pelataran luas itu teramat sepi. Justin menunduk, memikirkan apalagi yang harus dia ucapkan hingga membuat sang istri percaya dengan perasaannya yang hanya untuk Nena.
"Ngapain sih kamu ngikutin aku terus, pergi sana, katanya ada rapat." Usir Nena tanpa menoleh, kakinya yang terus melangkah mau tidak mau membuat Justin mengikutinya.
"Udah dong Sayang, aku bisa pingsan lagi kalo kamu terus marah kaya gini. Percaya sama aku, aku nggak ada apa-apa sama dia."
Langkah Nena terhenti. Justin juga. Nena menoleh, menatap sang suami yang memang terlihat pucat. "Kenapa kalian peluk-pelukan?" Tanyanya.
"Dia yang meluk aku."
"Kenapa kamu nggak nolak."
"Kamunya keburu dateng."
"Jadi kalo aku nggak dateng, kalian bakalan terus pelukan kaya gitu."
Justin menghela napas, melangkah menghampiri sang istri kemudian memeluknya, Nena tidak menolak, pun tidak membalas pelukan sang suami, dia diam saja.
"Aku mau nolak, pas tadi kamu keburu dateng." Justin menjelaskan, dan Nena masih diam. "Tolong, Sayang. Jangan pernah meragukan perasaan aku sama kamu. Kamu marah. Aku lemah."
***
William memasuki ruangan besar Justin, dan pria itu tampak melamun di kursinya, setelah William membanting berkas-berkas hasil rapat ke atas meja, barulah dia menoleh.
"Kau kenapa" tanya William, duduk di kursi depan meja Justin.
"Kau sudah tahu." Justin membalas yang membuat sahabatnya itu tertawa pelan.
"Cinta dari dulu memang begitu, deritanya tiada akhir," tutur William mengutip kalimat seorang panglima yang dikutuk menjadi babi, "ada saja ujiannya," tambahnya lagi yang membuat Justin menoleh.
Justin tidak menanggapi, "Kenapa dia bisa ada di sini?" Tanyanya.
"Mana kutahu, memangnya aku yang mengundangnya." William menjawab sembari berdiri, menumpukan tangannya pada meja di hadapannya.
"Kemana dia sekarang?"
"Kau peduli?"
Pertanyaan sahabatnya membuat Justin terdiam, sebenarnya bukan karena itu, bahkan pria itu berharap Lyli akan segera kembali ke negaranya, menghilang seperti sebelumnya. Perasaannya sudah berbeda sekarang.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi, Will."
"Jangan begitu, Just. Bagaimanapun juga dulu kalian sempat dekat, atau sangat dekat." William mengolok sahabatnya yang tampak jengkel. "Dulu bahkan satu kampus tahu tentang kedekatanmu dengan anak dosen itu."
"Aku sedang tidak ingin membahas itu."
"Ayolah, kau bahkan dulu sering bermalam bersama, di apartemenmu. Hanya berdua."
"Aku tidak melakukan apa-apa."
William tertawa, "memangnya kau pikir aku bodoh, kalian selengket itu mana mungkin tidak melakukan sesuatu." William terus menggoda sahabatnya, pria itu mulai melangkah menjauhi Justin yang terlihat akan marah.
"Dasar kambing! Jangan mengada-ada, aku tidak sebrengsek dirimu." Justin mulai naik darah. Dan melihat sahabatnya yang terus menggodanya dengan tertawa-tawa itu membuatnya amat ingin melempar kepala pria bule itu dengan sepatu.
"Aku tidak bisa membayangkan jika Serena tahu kedekatan kalian dulu yang bagaikan Romi dan Yuli."
"Will." Justin berdiri.
"Apa panggilan sayang kalian, My Justin, My Lily."
"WILLIAM!!" Justin benar-benar melepas sepatu mahalnya dan melemparkannya pada pria bule sinting itu yang dengan cepat meraih pintu dan menutupnya. Namun Justin masih bisa mendengar tawanya di luar sana.
Sepatu Justin mengenai daun pintu, pria itu kembali terduduk di kursinya. Dulu dia bahkan lebih kacau dari ini saat ditunjuk menjadi saksi untuk pernikahan Nena. Dan entah kenapa kali ini dia tidak bisa lagi mengendalikan diri saat William terus mengoloknya, dia merasa akan gila, ini memalukan. Dia sudah seperti nasi bungkus yang karetnya putus. Ya Tuhan.
***Iklan***
Netizen; Bang Entin kaya nasi bungkus yang karetnya putus thor, ambyar dong ya, awur-awuran.
Author; lu ngapain nongol si, gue lagi males bikin iklan. Nggak penting lu
Netizen;Jangan begitu lah thor, sedih gue dibilang nggak penting.
Author;Lah emang lu nggak penting.
Netizen; Nolak, dosa.
Authotlr: nggak nyambung goblo.
Netizen; hehe... mau nanya thor, Bang Entin yang dingin-dingin mesum terinspirasi dari siapa si.
Author; Babang Alrescha Nero.
Netizen; yang ceweknya dituduh ngelahirin anak ya.
Author; itumah Akang Gong ou.
Netizen;terus Bang Alresca yang mana thor.
Author ; Yang bininya cantik kaya gue.
Netizen; idih halu banget.
Author; Bodo amat.