
Suster An yang kebetulan sedang berada di halaman belakang mendengar keributan yang terjadi tidak jauh dari tempatnya bersantai. Awalnya, Suster An terlihat tidak peduli, tetapi semakin lama ia menjadi penasaran. Barangkali saja ada perampok yang memanjat halaman belakang. Itulah yang dipikirkannya.
Suster An pun bangkit dari duduknya dan melangkah dengan hati-hati meninggalkan gazebo yang sejak tadi dijadikannya tempat untuk bersantai, lalu mulai mencari dari mana asal suara berisik itu.
Halaman belakang kediaman Farhan Andreas memang terbilang luas, di beberapa sudut bahkan sudah tidak terawat lagi, karena tempat tersebut jarang didatangi hingga tanaman-tanaman mawar yang mendominasi halaman belakang tumbuh lebat dan menjadi semak berduri.
Suster An berjalan menyeberangi halaman sambil menajamkan penglihatan dan pendengarannya, hingga ia tiba di bagian yang banyak ditumbuhi semak mawar yang ukurannya lumayan tinggi karena tidak pernah dipangkas.
Dari tempatnya berdiri, Suster An dapat melihat bayangan seseorang di atas rerumputan. Penglihatannya tidak terlalu jelas karena tidak adanya penerangan di sekitar tempat itu.
"Siapa di sana?" teriak Suster An. Namun, tidak ada jawaban.
Suster An menjadi semakin gugup saat ia menyadari bahwa tempatnya berdiri sekarang tidak jauh dari kamar Pelangi, menantu kesayangan majikannya. menyadari hal itu, Suster An menjadi panik, bisa saja Pelangi terjatuh atau ada maling yang berusaha memanjat balkon kamar Pelangi yang memang selalu dibiarkan terbuka bahkan pada malam hari.
Memikirkan kemungkinan buruk itu membuat Suster An bertindak cepat. Ia segera mencari jalan menuju bagian bawah kamar Pelangi sembari berlari-lari kecil agar dapat segera tiba di sana.
"Astaga! Apa yang Anda lakukan di sana? Kamar Anda sangat luas, kenapa juga harus berbaring di luar seperti ini. " pekik suster An, saat dilihatnya Pelangi berbaring di atas bantal sofa yang berserakan di atas rerumputan.
Suster An mendekat ke Pelangi yang masih berbaring dan tidak menghiraukan kehadiran Suster An. Begitu jarak mereka semakin dekat, barulah Suster An sadar bahwa Pelangi bukannya tertidur, tapi pingsan.
Dengan cekatan Suster An berjongkok di samping Pelangi dan berusaha membuat Pelangi sadar. Beberapa menit berlalu dalam kegeningan. Hanya ada suara serangga yang terbang di taman dan suara Suster An yang sejak tadi memanggil-manggil nama Pelangi agar gadis itu cepat sadarkan diri.
Setelah beberapa saat, akhirnya Pelangi mulai membuka mata dan betapa terkejutnya ia saat menyadari di mana dirinya sekarang.
"Apa yang kulakukan di sini?" tanya Pelangi pada Suster An.
Suster An menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya."
Pelangi diam saja. Ia masih terlalu bingung untuk menguraikan semua ingatannya lalu menarik kesimpulan tentang kejadian yang dialaminya. Meski demikian, ia ingat bahwa beberapa saat yang lalu kakinya terpeleset dan tubuhnya pun terjatuh melewati jeruji besi balkon. Pelangi pikir dirinya akan mati saat itu juga, tetapi ternyata tidak.
Pelangi kemudian teringat pada sosok Exel yang memegangi lengannya tadi. Ia segera mengedarkan pandangan, mencari Exel yang mungkin saja masih ada di sana dan sedang bersembunyi agar tidak terlihat oleh Suster An. "Di mana dia?" gumam Pelangi.
"Siapa yang Anda cari? Tidak ada siapa-siapa di sini. Lebih baik Anda kembali ke kamar sekarang. Malam semakin larut, hawa dingin tidak baik untuk Anda. Kalau Anda sampai masuk angin, bisa-bisa aku yang disalahkan," ujar suster An, memberi saran, sebelum akhirnya ia membantu Pelangi untuk bangkit berdiri dan berjalan menuju teras belakang rumah.
Exel yang sejak tadi bersembunyi di balik pepohonan, mengembuskan napas dengan lega begitu melihat Pelangi sadar dan terlihat baik-baik saja, walaupun gadis itu berjalan dengan sebelah kaki yang pincang, hal itu jauh lebih baik daripada tidak bisa berjalan sama sekali.
***
Pelangi berpapasan dengan Gilang dan Toni di ruang tamu saat ia akan kembali ke kamar. Begitu melihat Gilang, Pelangi langsung berlari ke arah pria itu dan memeluknya. Kakinya yang terasa sakit tidak menjadi penghambat agar ia dapat segera tiba dalam pelukan Gilang.
Perasaan gelisah dan takut yang sejak tadi Pelangi rasakan seketika menghilang saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Gilang. Pelangi merasa nyaman dan aman berada dalam dekapan Gilang, seolah tidak ada siapa pun yang dapat melukainya, entah itu Exel, Gisel atau Ringgo sekali pun.
Gilang yang terkejut karena mendapat pelukan mendadak dari sang istri, tanpa ragu membalas pelukan Pelangi. Kedua tangannya membelai punggung Pelangi dengan lembut, lalu ia mendaratkan kecupan di leher Pelangi dan menghirup aroma tubuh Pelangi dalam-dalam.
"Sudah merindukanku?" tanya Gilang.
Pelangi mengangguk. "Ya, sangat merindukanmu. Kenapa baru datang? Ini sudah jam berapa?" tanya Pelangi.
Gilang melirik arlojinya. "Baru juga jam sepuluh. Maaf, karena rapatnya sampai larut begini. Kamu sendiri kenapa tidak tidur? Apa kamu dari halaman belakang?" tanya Gilang, yang menyadari kedatangan Pelangi bukan dari ruang makan atau ruang keluarga, melainkan dari arah gudang yang menuju halaman belakang.
Pelangi mengangguk. "Aku habis cari angin. Aku tidak bisa tidur," jawab Pelangi.
Gilang berdecak, lalu menggendong Pelangi. "Biar aku tidurkan kalau kamu tidak bisa tidur."
Pelangi tersenyum, lalu menarik wajah Gilang dan mendaratkan kecupan di bibir pria itu. "Dengan senang hati," ujar Pelangi.
Melihat keromantisan antara Gilang dan Pelangi, Toni lantas mengomel dan segera berbalik pergi. Menurut Toni, sepasang suami istri itu sangat tidak peka, bagaimana bisa keduanya selalu bermesraan di hadapan seorang jomlo sejati seperti dirinya.
Gilang dan Pelangi tidak menghiraukan omelan Toni. Gilang hanya menjauhkan wajahnya dari wajah Pelangi, lalu dengan cepat menaiki tangga menuju ke kamar mereka.
Setibanya di kamar, Gilang menurunkan Pelangi di atas ranjang, lalu melucuti satu per satu pakaian yang dikenakan gadis itu, membuat Pelangi tampil polos tanpa busana di hadapannya. Sementara Pelagi sendiri dengan cekatan juga melakukan hal yang sama pada pakaian Gilang. Mulai dari dasi hingga ****** ***** Gilang dapat dengan mudah Pelangi tanggalkan dari tubuh Gilang.
Setelah keduanya tidak lagi berpakaian, Pelangi menarik Gilang hingga pria itu berbaring di atas ranjang, lalu dengan cepat Pelangi memosisikan diri agar berada di atas tubuh Gilang dan mulai mendaratkan kecupan di wajah dan leher pria itu.
Gilang suka jika Pelangi yang mendominasi permainan mereka, merasakan sentuhan Pelangi di tubuhnya, lalu kecupan dari bibir gadis itu dan sensasi luar biasa saat Pelangi mulai nenyerahkan diri seutuhnya pada Gilang.
Gilang mendesah kenikmatan, meresapi semua yang Pelangi lakukan padanya hingga mereka berdua mencapai ******* yang luar biasa.
Tubuh Pelangi masih gemetar hebat saat ia turun dari atas pangkuan Gilang dan memilih untuk berbaring di samping pria itu, meraskan detak jantung Gilang yang bagai melodi indah di telinga Pelangi.
Gilang memeluk Pelangi sembari tersenyum. "Terima kasih atas kejutannya," ujar Gilang.
Pelangi membalas senyuman sang suami, lalu berkata. "Tidak masalah. Aku memang sedang menginginkannya juga. Saat perasaanku sedang tidak enak, bercinta adalah pilihan yang tepat untuk menstabilkan emosi."
Dahi Gilang mengernyit. "Perasaanmu sedang tidak enak? Memangnya tidak enak karena apa?" tanya Gilang dengan penasaran.
"Biasalah, hormon ibu hamil sering kali berubah-ubah."
"Benar hanya itu? Tidak ada hal lain yang membuatmu gelisah?"
"Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur saja. Tapi, Pelangi, jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, jangan kamu sembunyikan sendiri. Katakan semuanya padaku, oke. Aku ini suamimu."
Pelangi mengangguk. "Oke, pasti akan aku katakan."
***
Amara berlari menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar Pelangi begitu matahari mulai beranjak naik. Dalam perjalanan menuju kamar sahabatnya itu, ia berpapasan dengan Gilang yang sudah terlihat rapi dengan jas dan dasinya.
"Pagi, Pak," sapa Amara.
"Pagi, Ra, mau bertemu Pelangi?" tanya Gilang.
"Yups. Ada yang ingin aku gosipkan padanya." Amara terkekeh.
"Dia masih di atas tempat tidur, sepertinya dia mual parah. Aku terpaksa harus ke kantor pagi-pagi sekali, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh Toni. Tolong temani Pelangi dan bantu dia melakukan apa yang sulit dilakukannya seorang diri. Akan kuusahakan pulang cepat hari ini." Gilang menjelaskan panjang lebar.
"Siap, Pak, Anda tenang saja. Aku akan terus menempel di samping Pelangi."
Gilang tersenyum. "Oke, terima kasih. Aku berangkat kalau begitu."
"Baik, Pak, hati-hati di jalan," teriak Amara, lalu tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera berlari menuju kamar Pelangi.
Ceklek.
Pintu berayun membuka diiringi teriakan Amara yang membuat Pelangi terkejut.
"Selamat pagi, Merah kuning hijau di langit yang biru!"
Pelangi menutup kedua telinganya saat suara Amara yang cempreng memenuhi seisi kamar.
"Aku punya berita baru buatmu, La." Amara duduk di samping Pelangi dan menepis kedua tangan Pelangi dari telinga, agar sahabatnya itu dapat mendengar semua kabar terbaru yang dibawanya.
"Oke, oke, tapi jangan teriak-teriak. Aku juga punya sesuatu yang ingin kuceritakan padamu," ujar Pelangi dengan wajah khawatir.
Melihat raut wajah pelangi yang ketakutan dan kedua matanya yang merah seakan berusaha menahan tangis, Amara mengalah. Ia meminta Pelangi bercerita terlebih dahulu.
Pelangi yang masih duduk bersila di atas ranjang pun mulai menceritakan segalanya pada Amara, mulai dari kedatangan Exel, peringatan Exel, pengakuan Exel, hingga kecelakaan yang menimpanya.
"Kamu terjatuh dari balkon!" Amara berteriak, kedua matanya membelalak lebar karena terkejut. "Yang benar saja, La? Tapi kamu tidak apa-apa, 'kan? Lalu perutmu bagaimana? Apa terasa sakit?"
"Aku tidak apa-apa, tapi kakiku sedikit sakit. Mungkin terkilir saat jatuh. Rencananya siang ini pun aku akan bertemu dengan Dokter Virzha untuk memeriksa kandunganku. Aku harap semuanya baik-baik saja."
Amara memeluk Pelangi, ia menyesal sekali karena semalam menghabiskan waktu dengan bercerita bersama Delia, sampai-sampai ia tidak memikirkan Pelangi yang memang nyawanya sedang dangat terancam saat ini.
"Aku minta maaf karena semalam aku tidak ada di rumah untuk menjagamu. Si Exel sialan itu akan aku beri pelajaran. Aku tahu di mana dia sekarang tinggal. Lihat saja, saat aku bertemu dengannya, maka akan kuhabisi dia. Dasar penjahat!"
Pelangi menggeleng. "Jangan lakukan apa pun padanya. Dia itu berbahaya. Aku tidak mau jika urusannya semakin panjang. Pokoknya kita jangan berurusan dengan Exel lagi. Aku tidak mau."
Amara menghela napas, lalu membelai lengan Pelangi. "Pelangi sayang, sayangnya mulai hari ini kita akan terus berurusan dengan Exel. Akan sulit untuk menghindar darinya."
Pelangi terlihat bingung. "Kenapa sulit? Toh kita tidak punya hubungan apa pun dengannya. Dia juga sudah tidak bekerja di kantor ayah lagi kan?
"Dengarkan aku. Apa kamu tahu siapa wanita yang sekarang sedang bersama dengan Andrew? Yang demi wanita itu Andrew rela tidak pulang selama berhari-hari, dan demi wanita itu juga Andrew memintamu untuk memesan kamar hotel, lalu kamu harus merelakan pakaianmu yang sudah tak terpakai."
"Memangnya siapa?" Pelangi terlihat penasaran.
"Namanya Delia, si Delia itu adalah kekasih Exel sepertinya. Dan yang membuat gawat adalah sepertinya Andrew menyukai si Delia ini. Jika Andrew terus dekat padanya, itu berarti kita juga akan dekat padanya, 'kan?" Amara menjelaskan. "Lagi pula, Exel akan kembali bekerja di kantor atas rekomendasi Andrew."
"Benarkah?" Pelangi merasa aneh, tidak mungkin Andrew mempersiapkan semua itu untuk Exel dan kekasihya. Apa mungkin Andrew tidak tahu jika Exel-lah yang mencelakainya hingga hampir mati.
"Ada kepentingan apa Andrew dengan Exel hingga dia bersedia memberikan Exel tempat tinggal dan pekerjaan. Bukankah sebelumnya mereka tidak saling mengenal." Pelangi bertanya-tanya.
Amara mengediikan bahu. "Aku pun tidak tahu. "Tapi, La, wanita itu menderita sakit. Bisa saja Andrew merasa kasihan padanya, itulah sebabnya Andrew memberikan mereka berdua tempat tinggal dan segala macamnya. Sepertinya, sih, begitu."
"Aku akan bertanya pada Andrew nanti. Aku juga ingin memastikan apakah Andrew tahu kalau Exel adalah orang yang menabrakku. Kalau Andrew tidak tahu, tidak masalah dia menolong Exel, tapi kalau Andrew tahu, bukankah keterlaluan sekali kalau Andrew diam saja dan tidak menghajar Exel sampai babak belur dan menjebloskannya ke penjara."
Amara mengangguk. "Ya, aku setuju. Aku pun sebenarnya penasaran, tapi kan tidak mungkin jika aku yang bertanya pada Andrew. Siapalah aku ini."
***
Seorang pria berpakaian serba hitam duduk dengan nyaman di atas kursi berlengan. Sebelah tangannya memegang selembar potret seorang wanita cantik, sementara sebelah tangannya lagi memegang sebuah ponsel yang menempel di telinganya.
Wajahnya terlihat serius mendengarkan setiap instruksi yang datang dari seseorang di seberang panggilan. Sesekali bibirnya yang hitam menyunggingkan senyum licik, sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, baiklah, akan aku lakukan. Tiga hari dari sekarang kami akan mengadakan pesta atas nama perusahaan. Aku yakin si Andreas dan kedua putranya itu akan datang ... ya, ya, tenang saja. Akan kulakukan dengan rapi dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun."
Bersambung ....