
Farhan Andreas duduk di hadapan Gilang, saat ini keduanya sedang berada di ruang kerja, menikmati segelas Ice latte macchiato sembari berbincang-bincang ringan.
Farhan dengan telaten mengangkat gelas milik Gilang dan mengarahkan sedotan ke bibir Gilang setiap Gilang ingin meminum macchiato miliknya.
"Menjadi cacat tidak menghalangiku agar dapat menikmati minuman terenak yang pernah kuminum," komentar Gilang.
"Ya, dan menjadi tua bukanlah penghalang bagiku untuk menyuapi anakku yang sudah dewasa." Farhan ikut berkomentar.
Gilang tertawa mendengar komentar sang ayah. Farhan memang terlihat semakin tua sekarang, kerut halus di wajahnya semakin bertambah setiap harinya, tetapi ia masih segesit biasanya. Terutama saat Farhan berada di sekitar Gilang, pria tua itu berusaha sebaik mungkin untuk mengurusi putranya. Hal itu tentu saja membuat Gilang merasa sedih. Bukankah sebagai anak seharusnya ia yang mengurusi ayahnya, bukan sebaliknya.
"Terima kasih, Ayah, maaf merepotkanmu."
Farhan meremas punggung tangan Gilang dan berkata, "Tidak masalah, Nak, jangan berterima kasih. Aku melakukan semua dengan suka hati."
"Andai ibu masih hidup, dia pasti akan sedih melihat keadaanku sekarang. Putra yang selalu ia banggakan, malah berakhir di kursi roda untuk selamanya," ujar Gilang, senyum masam menghiasi bibir Gilang.
"Ya, dia pasti akan sedih, tapi dia tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Dari dulu ibumu selalu mengatakan bahwa kamu adalah putranya yang kuat. Kamu tidak akan pernah terpuruk bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun. Jadi, tetaplah tegar dan kuat sesuai apa yang ibumu harapkan darimu, Gil."
Gilang tersenyum, susah payah ia menahan agar air matanya tidak tumpah. Menjadi kuat dalam kondisi yang menyedihkan begitu sukar dilakukan. Meski demikian Gilang tetap melakukannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang yang ia sayangi, termasuk ayahnya dan juga Pelangi.
"Apa Ayah telah melakukan apa yang kuminta?" tanya Gilang.
Farhan mengangguk. "Ya, aku telah melakukan sesuai keinginanmu, walaupun kamu pasti tahu bahwa semuanya tidak mungkin mudah. Setelah rumor tersebar, akan banyak penolakan yang datang dari pemegang saham lainnya. Kita harus bersiap-siap."
Gilang menghela napas dengan berat, kini pandangannya beralih memandang foto pernikahannya dengan Pelangi yang terpasang pada bingkai indah di atas meja kerja Farhan.
"Pelangi pantas mendapatkannya, 'kan? Dia sudah bekerja keras selama aku sakit, dia banyak membantu pekerjaanku dan menyelesaikan masalah yang pelik sekali pun. Pelangi bahkan menyemangatiku juga. Jadi kurasa keputusanku tidak terlalu berlebihan." Gilang berujar dengan suara tegas, ia tidak ingin ada yang menentang keputusannya.
Farhan memandang putranya, ia tahu jika Gilang menginginkan yang terbaik untuk Pelangi, terlebih lagi Pelangi telah bertahan di sisi Gilang selama ini, walau Pelangi tahu bagaimana kondisi Gilang.
"Tenang saja, Nak, akan kuatasi segalanya. Mereka tidak bisa menentang keputusanku walaupun mereka ingin dan mereka tidak setuju. Yang jadi masalah sekarang adalah, apakah Pelangi menerima keputusanku, dan juga apakah dia mampu bertahan di posisi itu dengan baik. Aku tahu dia wanita yang cerdas, dan setiap apa yang dilakukannya pasti akan dia rundingkan dulu padamu. Aku tidak perlu khawatir kalau-kalau dia mengacau, tapi yang menjadi masalah paling penting saat ini adalah penolakan secara halus yang mungkin akan muncul di kantor. Aku takut mental Pelangi akan sedikit goyah."
Gilang diam. Ia tahu hal seperti itu tidak akan mudah untuk ditangani, tetapi ia juga tahu bahwa Pelangi adalah wanita kuat yang pasti mampu mengatasi segalanya.
"Ayah jangan khawatir. Ayah tahu bagaimana Pelangi, 'kan? Aku yakin dia mampu melewati segalanya."
***
Pelangi duduk di balik meja kerja Gilang. Di kursi yang sekarang tengah ia duduki biasanya Gilang akan duduk sembari menatap layar laptop dengan wajah serius, dan sesekali Gilang meneriaki Pelangi, meminta berkas ini dan itu agar diletakan di hadapannya untuk dibacanya.
Hampir semua pekerjaan yang Gilang selesaikan selalu melibatkan Pelangi, hingga tanpa disadari Pelangi banyak mengerti tentang beberapa jenis pekerjaan, masalah yang dihadapi perusahaan, hingga cara penyelesaiannya. Namun, tidak terpikir sama sekali oleh Pelangi untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu seorang diri, apalagi dengan jabatan yang mendadak menjadi tanggung jawabnya.
"Ya, CEO sering sekali melakukan apa yang barusan kamu lakukan. Menggebrak meja" Toni berkomentar dari atas sofa yang tengah ia duduki. "Bersiaplah, akan ada rapat dua jam dari sekarang."
Pelangi mendelik ke tempat Toni duduk. Setelah berpikir beberapa saat, Pelangi mendadak bangkit berdiri dan meraih tas tangan yang tergeletak di atas meja kerja, laku melangkah dengan cepat menuju pintu.
"Mau ke mana kamu?" tanya Toni.
"Pulang. Aku tidak bisa melakukan semua ini, Ton, aku harus bicara pada ayah dan Gilang."
"Ck, lalu siapa yang akan memimpin rapatnya jika bukan kamu?"
"Aku tidak peduli."
"Kasihan sekali Pak Farhan dan juga Gilang yang sudah membesarkan perusahaan ini selama puluhan tahun."
Pelangi menghentikan langkah mendengar apa yang Toni katakan. Ia berbalik dan langsung berhadapan dengan Toni yang terlihat sedih.
"Pulanglah jika kamu ingin pulang. Tapi bersiaplah untuk merawat Pak Farhan jika jantungnya kumat karena masalah pekerjaan ini," ujar Toni, sembari mendesah.
Pelangi berjalan kembali menuju meja kerja, ia bahkan dengan sengaja menyenggol tubuh Toni saat ia melewati pria itu. "Oke, oke, aku tidak jadi pulang."
Toni diam-dian tersenyum, mudah sekali baginya untuk mengubah pikiran Pelangi. Toni segera menghampiri Pelangi dengan beberapa berkas di tangannya, lalu menyerahkan berkas tersebut pada Pelangi. "Nah, baca ini agar kamu tahu apa yang akan kita bahas di rapat nanti."
Pelangi menunduk. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia benar-benar tidak siap dengan keputusan mendadak ayah mertuanya. Tanpa Pelangi sadari, air matanya terjatuh, tangannya gemetar dan tiba-tiba saja ia merasa mual saking khawatirnya.
Melihat Pelangi seperti itu, Toni segera meletakkan berkas di atas meja, kamu berlutut di hadapan Pelangi. "Hai, ada apa?" tanya Toni, yang sekarang terlihat khawatir, karena wajah Pelangi terlihat begitu pucat.
"Aku takut. Aku tidak menginginkan semua ini," lirih Pelangi.
Toni mengulurkan tangan, berniat untuk menyentuh tangan Pelangi dan memberi kekuatan pada wanita itu. Namun, urung ia lakukan, karena ia merasa bahwa ia tidak pantas dan tidak seharusnya melakukan hal itu.
"Kamu tidak sendiri, Pelangi. Aku dan Andrew ada di sini untuk membantumu. Aku dan Andrew akan membantumu sebisa kami dan juga setiap keputusan yang akan kamu ambil sebelumnya harus kita bicarakan pada Gilang. Jadi, jangan takut dan jangan gugup seperti ini. Percaya dirilah, oke." Toni bangkit berdiri dan menepuk pundak Pelangi.
Pelangi mengusap air matanya, lalu mengatur napas untuk mengurangi kegugupannya. "Baiklah, apa yang aku lakukan sekarang?"
Toni tersenyum. "Nah, itu baru istri Gilang." Toni mengacungkan ibu jarinya ke Pelangi. "Mari kita bekerja, Bos."
Bersambung.