OH MY BOSS

OH MY BOSS
KONDANGAN



Selain Arisan, hal yang membuat seorang wanita selalu heboh adalah kondangan, sejak pagi Nena yang perutnya sudah mulai sedikit membesar itu sibuk menghubungi butik langganan untuk membuat baju samaan dengan sang suami. Stok baju pesta di lemari kini sudah tidak ada yang pas di tubuhnya, hal itu di sebabkan karena  bayi yang ia kandung ternyata kembar. Bahagia? Tentu saja. Justin sampai mengumumkan berita itu selepas rapat di kantornya waktu lalu.


 


 


Kehamilan yang begitu rentan membuat sang ibu khawatir dan menyuruhnya untuk tinggal sementara di rumah utama. Justin setuju, selain ramai banyak orang, pria itu juga tidak terlalu khawatir jika ia harus bekerja meninggalkan Nena.


 


 


"Nih, pake buat kalian." Nena membagikan paperbag pada Ardi juga Karin yang tampak sibuk mengerjakan tugas pelajaran masing-masing.


 


 


Karin yang tengkurap di karpet menyalin tulisan di buku catatan beranjak mendudukan diri, "apa nih, Mbak Nena?" Tanyanya, menoleh pada wanita hamil yang selonjoran di sofa, dan mendapat jawaban 'buka saja' dari mbaknya itu.


 


 


Ardi yang sedari tadi duduk bersila dengan laptop di hadapannya ikut memeriksa isi paperbag yang kakaknya itu bagikan. Sebuah baju kemeja batik ukuran tubuhnya, dan saat ia menoleh Karin juga tampak memegang corak batik yang serupa. "Ini bukan seragam petugas catring kan ya?" Tanyanya.


 


 


Nena nyaris melempar remot di tangannya, "ya bukan lah, masa iya."


 


 


"Ya kali, ntar gue di sono disuruh mungutin piring lagi." Ardi meletakan kembali baju ke tempatnya semula.


 


 


"Mbak Nena, ini Karin bajunya samaan sama Bang Ar? Sama mbak Nena juga?"


 


 


"Nggak dek, kan Mbak nanti samaan sama abang."


 


 


"Oh," ucap Karin kemudian menoleh pada Ardi, "Bang Ar, baju kita sama, nanti kalo Karin ilang di gedung, Bang Ar gampang nyarinya."


 


 


"Bodo amat, nggak bakalan gue cariin." Ardi melengos, mengarahkan pandangan pada sang kakak di belakangnya. "Apa maksudnya coba ngasih baju kembaran gitu," protesnya.


 


 


Nena menurunkan kakinya, bersandar ke sofa, "bagus dong, kan biar kompak," ucapnya.


 


 


"Apaan, berasa kaya anak yatim ngambil santunan pake baju kembaran." Ardi membalas.


 


 


"Lah, kan Bang Ar emang anak yatim." Karin mengingatkan.


 


 


Ardi membuka mulut, tapi bingung harus menjawab apa, yang gadis itu bilang, memang benar apa adanya. Dia bingung, kenapa berdebat dengan dua wanita di sekitarnya itu dia selalu saja kalah, apalagi jika ditambah sang ibu. Pura-pura mati saja lah. "Terserah," jawabnya kemudian.


 


 


Kondangan yang dimaksud adalah pesta pernikahan Siska dengan Doni atmaja, yang ternyata adalah anak orang kaya, rekan bisnis papa Juan yang kini kondisinya sudah semakin membaik.


 


 


Nena cukup terkejut saat Siska mengabarkan tentang berita itu, dia bilang Doni memang sengaja berperan menjadi orang susah, karena sang ayah menyuruhnya untuk mencari pengalaman menjadi karyawan biasa. Seperti cerita sinetron memang, tapi Nena ikut bahagia saja dengan keberuntungan sahabatnya itu.


 


 


Justin yang terlihat sempurna mengenakan balutan batik senada dengan sang istri yang juga teramat cantik di gandengannya itu tampak menjadi pusat perhatian paparazi, menyaingi ketenaran mempelai pengantin itu sendiri, keduanya tersenyum ramah pada siapa saja yang datang menyapa dan menyalaminya.


 


 


Perut Nena yang mulai membesar tapi membuatnya terlihat amat sexi berkali-kali menuai pujian, membuat sang suami nyaris menyembunyikan wanita itu di balik punggungnya.


 


 


Keduanya memutuskan untuk menyalami pasangan pengantin saat keadaan cukup sepi. mereka malas jika nanti harus ikut mengantri.


 


 


"Siska selamat ya, akhirnya lo belah duren juga," ucap Nena bersemangat, membuat Justin yang berdiri di sebelahnya reflek membungkam mulut sang istri dengan telapak tangannya.


 


 


Doni yang ikut mendengar jadi tertawa, beruntung para orang tua yang seharusnya berdiri di antara mereka tengah pergi untuk makan bersama.


 


 


"Eh anjir, tapi gue udah dibelah duluan gimana dong." Siska menjawab dengan tak kalah heboh, membuat Doni yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya itu reflek membungkam mulutnya juga.


 


 


Gantian kini Justin yang tampak setengah mati menahan tawa, dia lupa bahwa ke dua wanita di hadapannya itu memang sama gesreknya.


 


 


setelah dirasa cukup lama berbasa-basi dengan Doni, Justin melirik sang istri yang terlihat begitu seru membahas sesuatu, dia jadi tidak enak hati ketika beberapa antrian tampak menunggu giliran, "Sayang, ayo kita turun, ngobrolnya dilanjut nanti."


 


 


Nena tampak memberenggut, akhir-akhir ini kesibukan Siska yang tengah mempersiapkan pernikahan membuat keduanya jadi jarang bertemu. Setelah mengucapkan selamat sekali lagi keduanya berpamitan undur diri.


 


 


Sebagai atasan Doni dan Siska, William tentu juga ikut menghadiri acara, pria bule itu terlihat mencolok dengan penampilan yang memang berbeda, ditambah lagi wanita yang sama bulenya terlihat serasi di gandengannya, Lily memang diminta untuk menemani pria itu agar tidak terlihat sendirian, begitu William  memberikan alasan.


 


 


Keduanya tampak saling menyapa saat bertemu Justin juga Nena, mereka terlibat beberapa percakapan yang tidak luput dari pengamatan seorang Karin dari kejauhan.


 


 


Karin tampak menatap keduanya dengan pandangan cemburu, tapi apalah daya, dia hanya gadis ingusan, dibandingkan dengan wanita tinggi semampai, cantik  sexi, yang digandeng pria idolanya itu.


 


 


Apalah Karin yang tingginya saja belum genap 160, pliss Ya Allah, patah hati tidak pernah semenohok ini, keluhnya dalam hati.


 


 


"Gue cariin juga, kenapa ngilang mulu si." Ardi yang menghampiri gadis cantik dengan corak batik senada dengannya itu terus mengomel.


 


 


"Bang bule bawa cewek tuh Bang Ar, Karin patah hati."


 


 


Ardi menoleh ke arah dimana pria bule yang dimaksud karin itu memang tengah menggandeng seorang wanita. Pemuda itu berdecak, kembali memasukan potongan buah dari piring ke mulutnya, dia tampak tidak peduli. Malahan salah fokus pada sang ibu yang tampak membagikan katalog bapperware keluaran terbaru yang kini menjadi usahanya.


 


 


Karin menoleh, dan terkejut menerima suapan buah yang masuk ke dalam mulutnya tanpa aba-aba.


 


 


"Makan dulu ntar lo mati," ucap Ardi dengan begitu romantisnya.


 


 


Karin yang kesal namun tetap mengunyah potongan buah di mulutnya itu memukul lengan Ardi gemas, membuat pemuda itu mengaduh namun tertawa juga.


 


 


"Bang Ar, Karin sama ceweknya Bang Bule cantikan siapa?"


 


 


"Ya cantikan dia lah." Ardi menjawab dengan sewot, seolah tidak terima dengan pertanyaan barusan.


 


 


Karin mendengus kesal, "plis deh Bang Ar, boong dikit ke biar Karin  seneng," sungutnya.


 


 


"Buat apa seneng kalo cuma halu." Ardi kembali berucap yang membuat Karin terlihat kesal. Merasa bersalah, dia menambahkan kalimatnya, "lo cantik juga ko," ucapnya.


 


 


 


 


Ardi mengangguk, "tapi masih dalam masa pertumbuhan," ucapnya.


 


 


"Terus gimana biar Karin cepet cantik, Bang."


 


 


Ardi kembali menyuapkan potongan buah pada gadis itu yang reflek melahapnya, "makan yang banyak," ucapnya.


 


 


"Biar cepet jadi cantik, Bang?" Tanya Karin di sela mengunyah potongan buah di mulutnya.


 


 


"Biar cepet gede aja dulu, cantik mah nyusul perawatan."


 


 


"Nanti kalo Karin udah gede, udah cantik, abang harus siap bawa ke pelaminan ya."


 


 


"Terserah," ucap Ardi kemudian melangkah pergi, menyembunyikan raut wajah yang dengan sialannya berubah merah. Karin mengikutinya dengan tertawa-tawa di belakangnya.


 


 


***


 


 


Justin memeluk istrinya dari belakang, keduanya bersiap akan tidur selepas pulang kondangan.


 


 


Mengelus perut sang istri yang sedikit membuncit mengingatkan dia dengan mimpi yang ia dapati akhir-akhir ini, mimpi bayi kembar yang sekarang tengah dikandung oleh istrinya, di sana, ayah rahadi tampak tersenyum menggendong keduanya.


 


 


"Mas, aku capek, kita tidur ya."


 


 


Justin tampak menghela napas. "Yaudah," lirihnya.


 


 


Nena tersenyum bahagia, suaminya ini memang amat mengerti dirinya, hingga dia benar-benar nyaris memejamkan mata, pergerakan-pergerakan dari belakang tubuhnya kembali membuatnya terjaga.


 


 


Nena membalikkan tubuhnya, menatap sang suami yang juga menatapnnya dengan sayu, "kamu kenapa sih?" Tanyanya.


 


 


Justin menghela napas, memejamkan mata sejenak, kemudian membuka lagi, tatapannya semakin sayu, "aku nggak bisa tidur, sayang."


 


 


Nena berdecak sebal, mengerti dengan gelagat sang suami. "Nanti kalo aku lahiran, kamu puasa empat puluh hari gimana, latihan lah, Mas dari sekarang."


 


 


"Masa disuruh latihan, nyiksanya kelamaan, harus dipuas-puasin dong sekarang, selagi masih bisa."


 


 


"Kamu itu nggak pernah ada puasnya, Mas. Ayolah cepetan, aku ngantuk."


 


 


"Nggak iklas dosa."


 


 


"Nggak usah bawa-bawa dosa, mau-mau nggak-nggak." Nena bertambah kesal.


 


 


Justin jadi tertawa, "mau," ucapnya.


 


 


TAMAT


 


 


Selesai atau tidak selesainya sebuah cerita, semua akan berakhir sama, dibaca, lalu dilupakan, move on ke cerita yang lain, tapi aku sangat berterimakasih dengan antusias kalian buat cerita ini. Komentar kalian selalu buat aku semangat nulis, kelucuan kalian selalu membuat imajinasiku yang receh ini semakin mengalir. I love you lah, aku pada kalian pokoknya.


 


 


***IKLAN PERPISAHAN***


 


 


Netizen; beneran tamat ini thor, nggak tipu-tipu.


 


 


Author; Iyalah, kan mau pindah lapak.


 


 


Netizen;nanti gue nongol lagi nggak thor?


 


 


Author; tergantung amal dan ibadah lo itu mah.


 


 


Netizen; udah tamat masih pedes aja si thor bahasanya.


 


 


Author; bodo amat.


 


 


Netizen;ada pesan-pesan nggak thor buat readers.


 


 


Author; oh iya, buat kalian yang entah sejak kapan aku sayangi, yang semangat bikin aku buka hape beberapa menit sekali, makasih ya.


 


 


Buat yang mampir komen buat numpang promosi juga makasih, tapi Ayolah aku aja nggak pernah numpang promo di lapak kalian. seengganya ikut baca lah gitu hehe


 


 


Buat yang udah mengikuti akun aku, makasih juga.


 


 


Dan makasih buat yang udah kasih aku koin makasih bangeeet....


 


 


Tungguin kisah Karin Ardi ya, insya Allah judulnya noisy girl. Aku nggak bisa menjanjikan kisah mereka bakal seru. kalian bisa nilai sendiri, tapi aku nggak bisa janji bakal update cepet, sesempetnya aja.


 


 


Dan tolong kasih selamat oh my boss berhasil mendapat juara harapan, makasih ya buat doanya.