OH MY BOSS

OH MY BOSS
CHATTING



Saat ponselnya berdenting pertanda chat Whatsapp masuk, Nena tengah menikmati semangkuk soto dengan teman-temannya. Dengan cekatan gadis itu membuka aplikasi tersebut, dan terkejut saat tahu siapa yang mengirim pesan, lebih mencengangkan lagi saat membaca isinya.


Justin; Siang cantik  😘


Nena melirik pada teman-temannya yang tampak menikmati santapan masing-masing. Pandangannya kembali mengarah pada layar ponsel yang ia letakan di atas paha, setelah menggaruk keningnya yang tidak gatal, gadis itu membalas.


Nena; Bapak sehat?


Begitu balasnya, saat gadis itu kembali memegang sendok, benda persegi itu berdenting lagi.


Cepet banget balesnya, tumben, ni orang sarafnya kali yang sakit? aneh.


Justin; Saya sakit Serena, kamu nggak mau jenguk saya? πŸ˜₯


Meninggalkan mangkuk sotonya, yang sebenarnya nyaris tiris itu, Nena tenggelam dengan chatingan aneh dengan bosnya yang seperti orang lain itu.


Nena; sakit apa, Pak?


Justin; sakit hati πŸ˜₯


Nena; Hepatitis, Pak?


Justin; bukan, hanya perasaan ingin memiliki yang tidak tersampaikan πŸ˜ͺ


Sampai di situ, Nena merasa bosnya itu semakin aneh, ditambah lagi, pesannya itu selalu dibubuhi dengan emoticon-emoticon yang bukan kebiasaan atasannya sekali.


Nena; Sepertinya, bapak butuh ke dokter.


Justin; saya tidak butuh siapapun, hanya butuh kamu. Kamu datang yah please 😘 😘


Nena nyaris melempar ponselnya, atau jika perlu gadis itu ingin mencelupkan benda persegi itu ke dalam kuah soto. Apapun, asal chat balasan dari bosnya itu memudar bahkan tak terbaca sekalian.


Nena; Bapak kepentok apa sih, saya ngeri baca pesan bapak. Tolong jangan bercanda.


Nena merasa jantungnya berdebar-debar, bukan karena baper, nyatanya dia sama sekali tidak menerbitkan senyum di bibirnya itu, lebih merasa kebingungan tentunya.


Justin; saya sakit dan tidak ada yang memperhatikan, saya belum makan πŸ˜₯


Nena menghembuskan napasnya kasar, dan tanpa ia sadari, hal itu tidak luput dari perhatian pria di sebelahnya.


Nena; yasudah, sebentar lagi saya ke tempat bapak, tolong kirimkan alamatnya, bapak mau makan apa?


Justin; jangan sekarang, nanti malam saja, saya mau istirahat. Nanti saya kirimkan alamat apartemen saya.


Apa saja, yang penting bisa dimakan. Dan yang nganter harus kamu, jangan suruh orang lain.


Nena; Iya, tapi nganter makanan aja ya, Pak. Habis itu saya langsung pulang.


Justin; Terimakasih assistantku yang cantik. Aku tunggu yah. 😘😘


Jantungnya yang berdetak hebat, atau lebih tepatnya masih berdetak hebat, karena balasan chat terakhir dari bosnya, atau karena tatapan Bimo yang tampak menyelidik, atau malah dia hanya merasa terkejut dengan gerakan pria di sebelahnya. Entah mengapa dia merasa seperti kepergok selingkuh, bahkan resmi berpacaran saja belum ada kejelasan. Intinya gadis itu bingung, berdebar-debar karena apa.


"Chat sama siapa sih? Serius banget?" Bimo memiringkan kepalanya, senyumnya terus mengembang. Merasa canggung dipandangi seperti itu, Nena memilih memalingkan wajah, dan mengerutkan dahi saat dilihatnya Siska dan yang lain sudah tidak ada.


"Yang lain pada kemana?"


"Udah pergi, tadi." Nena ber oh tanpa suara, merasa tidak enak karena sudah asik dengan dunianya sendiri, sampai tidak menyadari keadaan sekeliling, gadis itu sedikit merasa bersalah.


"Kok, makan kamu nggak dihabiskan?" Tanya Nena saat didapati jatah nasi di piring pria itu sisa setengah.


"Udah kenyang, tadi bawa bekel soalnya." Bimo menopang pipinya, bertumpu ke atas meja kantin, tubuhnya ia arahkan menghadap gadis itu, dan posisinya saat ini membuat Nena merasa tidak nyaman.


Bimo ini memang cukup tampan, meskipun tidak se menakjubkan Justin, tapi senyumannya cukup membuat gagal fokus, dengan bibir yang penuh sedikit terbelah, ditambah alis yang tebal, hidung mancung, rahang tegas dan kulit yang tidak terlalu putih tapi teramat manis, membuat pria itu sering dimirip-miripkan dengan aktor India yang digemari ibu-ibu itu. Dan beralih dari bibir pria itu yang sosor maksimal, Nena kembali mencari bahan obrolan yang bisa mencairkan suasana.


οΏΌ


γ€€


γ€€


"Kenapa nggak bilang, tadi nggak usah pesen soto kalo gitu, kan udah makan."


"Hampir menghabisan waktu dua minggu pendekatan dengan tidak ada kemajuan, terus aku harus melewatkan kesempatan ini juga?"


Nena meneguk ludahnya dengan hati-hati, "siapa yang membuatkan bekal? ibu kamu?" gadis itu coba memulai topik lain.


Bimo terkekeh, dan hal itu membuat Nena semakin canggung, lebih tepatnya bingung, perasaan dia tidak sedang melucu, kenapa pria itu seolah geli sekali.


"Mana ada? aku merantau di sini, jangan-jangan kamu juga nggak tahu kota asalku darimana. Begini yah, rasanya suka sepihak, dan saat ini aku menjadi pihak yang menyukai, merasa seperti penguntit karena terlalu banyak tahu tentang kamu sedangkan kamu tidak, "capnya saat kekehannya mulai mereda, dan saat itu Nena tahu bahwa dia salah bicara. "Tapi tak apa, itu lebih baik, jadi aku bisa mengenalkan diri dengan caraku." Lanjutnya. Nena tidak mengerti, namun dengan mengabaikan hal itu ia memulai pertanyaan baru.


"Tahu dong, kamu dari Jogja kan?" pria di hadapannya tampak mengangguk-anggukan kepala, masih mempertahankan seulas senyum di bibirnya. "Memang kamu tahu apa tentang aku?" Lanjut Nena.


Bimo nampak berpikir. "Kamu anak ke dua dari tiga bersaudara, punya kakak kembar yang tidak tahu ada di mana," Nena mengerutkan dahi, yang tahu hal itu tidak banyak, Justin, William, dan pria di hadapannya itu pasti tahu dari Siska, hanya pada mereka Nena bercerita. "Kamu lahir di Jakarta, namun saat kecil sampai lulus SMP tinggal di Tangerang, setelah SMA kembali ke Jakarta." Bimo melanjutkan ceritanya. Menelengkan kepala saat dirasa gadis dihadapannya itu mulai gelisah. Dan saat pria itu akan kembali berutara, Nena menyela.


"Cukup, Mas." Bimo tertegun, sebuah panggilan yang sempat menjadi perdebatan keduanya. Pasalnya gadis itu sudah terbiasa memanggil nama pada pria yang mengaku jatuh hati padanya itu. Dan kini, Nena mengabulkannya, Bimo tersenyum.


"Aku salah ngomong?"


Nena menggeleng, "ngeri banget, Mas. Aku berasa punya mata-mata kalo kamu cerita lebih jauh." Ungkapnya jujur, Bimo terkekeh, lagi. Entah ekspresi gebetannya itu dirasa cukup lucu atau pria itu tengah bahagia bisa berdua bersama pujaan hatinya, yang jelas hari ini pria berambut lurus dengan mata yang selalu berbinar kala melihat calon kekasihnya itu sepertinya telah banyak tertawa.


"Beberapa hari kemarin, ayah bercerita bahwa sebenarnya kembaranku itu bukannya hilang. Karena dulu dia punya kelainan jantung bawaan, dan keluarga kami tidak cukup mampu memberikan perawatan, makanya ayah membiarkan anaknya itu untuk diadopsi oleh sahabatnya, tapi setelah ayah pindah ke Tangerang dulu, mereka jadi tidak pernah bertemu. Kalau ayah masih dalam keadaan sehat, beliau pasti terus mencari sahabatnya, gimanapun juga, anak itu nggak ada bekasnya."


Entah mengapa pembahasan soal anak membuat Bimo jadi terlihat kikuk, mungkin pria itu sedikit merasa bersalah karena sudah mengingatkan gadis itu pada kembarannya.


Setelah menanggapi cerita Nena, dan sedikit menghibur gadis itu, ponsel di saku celananya tampak berdering. Pria itu pamit menjauh setelah melirik sebentar pada benda di tangannya itu. Hal ini point yang tidak Nena sukai, Bimo selalu saja menjauh saat menerima panggilan, Nena tahu mungkin hal itu bersifat pribadi, tapi bahkan Justin saja tidak pernah menjauh dari hadapannya saat menerima telepon dari siapapun, dan mengingat atasannya itu, Nena kembali ngeri dengan chatting whatsapp beberapa menit yang lalu.


***