
"Anneth sedang mengandung? Apa maksudmu, Pelangi? Dia bahkan belum menikah, 'kan?" tanya Gilang.
Pelangi mengangguk. "Ya, dia memang belum menikah. Tapi kamu tahu kan apa yang telah Arya lakukan padanya. Dan karena hal itu, sekarang Anneth positif hamil. Dia sedang mengandung anak dari Arya, Gil."
Gilang menatap Pelangi dengan tatapan bingung dan terkejut. Ia tidak habis pikir jika Pelangi berniat untuk mengadopsi anak dari Anneth yang masih tidak jelas bagaimana nasibnya.
"Bayi itu adalah bayi Arya. Suatu saat nanti bagaimana jika Arya tahu dan memilih untuk meminta anaknya? Aku tidak mau ambil resiko, Pelangi. Kita semua tahu bagaimana Arya, dia berbahaya dan memiliki tekad yang kuat. Jika dia ingin mengambil anaknya, kita mungkin tidak bisa melakukan apa-apa." Gulang mencoba memberi pengertian pada Pelangi bahwa niat wanita itu untuk mengadopsi bayi Anneth sama sekali tidak benar.
"Apa kamu tidak setuju karena bayi itu adalah bayi dari hasil pelecehan yang Arya lakukan pada Anneth?" tanya Pelangi, ia yakin bahwa ketidaksetujuan Gilang dilandasi oleh alasan yang satu itu.
Gilang menggeleng. "Sama sekian bukan karena itu. Aku benar-benar tidak setuju karena aku tidak ingin mengambil resiko. Bayangkan saja jika kamu dan aku sudah sangat menyayangi anak itu, tapi kemudian ayahnya datang, atau bisa saja kakeknya yang datang langsung dan merebut anak itu dari kita. Bagaiman perasaanmu, Pelangi? Terlebih lagi keluarga Adiguna tidak memiliki pewaris."
Pelangi diam untuk sesaat. Ia merasa sedih sekarang. "Tapi, Gil, Anneth tidak ingin membesarkan anaknya, dan dia juga tidak ingin menyerahkan anaknya pada Arya. Jalan satu-satunya agar bayi itu tetap hidup adalah mengadopsinya."
Gilang menghela napas. "Genggam tanganku, Pelangi, karena saat ini aku sedang ingin berbicara sembari menggenggam tanganmu," pinta Gilang.
Pelangi meraih telapak tangan Gilang dan meletakkan tangannya di bawah tangan Gilang, seolah Gilang yang tengah menegang tangannya.
"Anneth sekarang masih terkejut. Dia masih tidak bisa berpikir jernih karena musibah yang menimpa dirinya memang sangat berat, tapi aku yakin perlahan dia pasti akan bisa menerima keberadaan bayi itu. Kita berikan saja dia waktu dan biarkan semuanya berjalan dengan semestinya," ucap Gikang, pada Pelangi yang masih terlihat sedih dan kecewakan. "Kita bisa mengadopsi bayi lain, Pelangi."
Pelangi menatap kedua mata Gilang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut. Pelangi tahu bahwa apa yang Gilang katakan memang tidak salah. Anneth bisa saja berubah pikiran, atau Arya bisa saja entah bagaimana caranya berhasil mengetahui bahwa Anneth tengah mengandung bayinya. Terlalu banyak resiko yang akan ia hadapi jika dirinya tetap bersikeras untuk mengadopsi bayi Anneth.
"Bagaimana? Apa bisa kita mengadopsi bayi lain saja?" tanya Gilang.
Pelangi mengangguk perlahan. "Ya, aku rasa apa yang kamu katakan ada benarnya. Maaf karena tidak mempertimbangkan semua itu. Pikiran untuk mengadopsi bayi Anneth terlintas begitu saja saat aku mendengar dia mengatakan pada Amara bahwa dia tidak menginginkan bayinya."
Gilang tersenyum. "Jangan minta maaf. Aku paham bagaimana perasaannmu. Cium aku kalau begitu."
Pelangi membalas senyuman Gilang, lalu ia bangkit berdiri dan duduk di pangkuan Gilang dan seperti biasa, Pelangi melingkarkan tangannya di leher Gilang dan mulai mengecup bibir pria itu dengan sangat lembut. Kemesraan antara Gilang dan Pelangi tidak pernah memudar walaupun keadaan Gilang sudah tidak seperti dulu lagi. Kemesraan keduanya seolah tidak ada habisnya, dan yang pasti akan membuat cemburu siapa pun yang melihat.
***
Pagi hari yang mendung membuat Pelangi malas beranjak dari sisi Gilang, tetapi ia terpaksa harus segera bangun dan menyiapkan sarapan untuk Gilang sebelum dirinya berangkat ke kantor. Ada sesuatu yang penting yang harus dikerjakannya hari ini.
"Akan ke kantor pagi ini?" tanya Gilang, saat Pelangi mengoleskan selai pada roti tawarnya dan menyuapkan roti itu pada Gilang.
Pelangi mengangguk. "Aku akan mewakilimu karena hari ini ada pertemuan penting dengan para pemegang saham."
"Maaf jadi merepotkan," ujar Gilang.
"Tidak sama sekali, Sayang." Pelangi kemudian meraih gelas berisi susu segar dari atas nampan, lalu membantu Gilang untuk minum. "Baiklah, aku berangkat dulu kalau begitu. Aku tidak akan lama, setelah rapat selesai aku akan langsung pulang ke rumah." Pelangi mengecup kedua pipi Gilang, kemudian ia bangkit berdiri dan beranjak dari kamar.
Gilang menatap kepergian Pelangi dengan perasaan tidak nyaman. Ia sungguh merasa semakin tidak berguna sekarang dan kehidupannya semakin hari semakin membosankan, terutama saat Pelangi sedang tidak ada di sisinya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain melamun dan melamun.
***
Pelangi tiba di kantor 30 menit kemudian. Ia segera keluar dari dalam mobil, memberi kunci mobil pada petugas valet dan memasuki gedung Andreas Group dengan langkah anggun.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk hormat, yang dibalas Pelangi dengan senyum ramah. Sesampainya di depan Elevator, seseorang memanggil namanya, Pelangi menoleh dan langsung bertatapan dengan Andrew.
"Selamat pagi," sapa Andrew. "Mari naik ke atas bersama-sama, Bos."
Pelangi tertawa mendengar Andrew menyebutnya dengan sebutan "bos."
"Bos, maaf terlambat. Seharusnya aku tiba lebih dulu sebelum Anda. Ada beberapa dokumen yang harus aku siapkan," ucap Toni, yang muncul tiba-tiba di samping Pelangi dengan napas terengah, pria itu berlari dari parkiran menuju lobi saat dilihatnya Pelangi memasuki gedung Andreas Group.
Pelangi menggigit bibir bawahnya, sembari memandang Andrew dan Toni bergantian. "Ada apa dengan kalian berdua? Tingkah kalian aneh sekali," tanya Pelangi.
Toni dan Andrew tidak menjawab, keduanya hanya diam mematung, menunggu pintu elevator terbuka.
Ting!
Pintu terbuka, Andrew dan Toni segera melambaikan tangan, mempersilakan Pelangi untuk masuk ke dalam elevator terlebih dahulu sebelum mereka.
Pelangi menggelengkan kepala melihat keanehan pada Toni dan Andrew, lalu kemudian ia melangkah masuk ke dalam elevator, disusul dengan Toni dan Andrew. Setelah pintu kembali menutup, Pelangi menarik lengan Toni dan Andrew agar kedua pria itu berdiri sejajar dengannya, bukannya berdiri di belakangnya bagai seorang pengawal.
"Ada apa, hah?" tanya Pelangi.
Andrew menghela napas. "Apanya yang ada apa? Bukankah sudah jelas kalau kamu adalah bos kami sekarang."
Toni mengangguk, mengiyakan apa yang baru saja Andrew katakan.
Pelangi tertawa. "Bos bagaimana, aku hanya menggantikan tugas Gilang hari ini, aku bukan bos."
"Ck, apa kamu tidak tahu perintah yang datang langsung dari ayah mertuamu?" tanya Toni.
Pelangi menggeleng. "Perintah apa? Ayah tidka mengatakan apa pun padaku."
"Perintah resminya akan keluar besok sekaligus upacara serah terima jabatan." Kali ini Andrew yang menjawab.
Pelangi semakin penasaran, karena baik Andrew maupun Toni tidak ada yang menjelaskan secara terperinci padanya. Andrew dan Toni terlalu mengulur waktu.
"Katakan saja padaku secara langsung. Jangan menunda-bunda informasi apa pun," pinta Pelangi.
"Kamu akan diangkat menjadi CEO." Toni dan Andrew mengucapkan kalimat itu bersamaan.
Pelangi melotot, ia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari Andrew dan Toni.
Melihat kebingungan di wajah Pelangi, Andrew pun berkata, "Ya, mungkin akan terjadi perdebatan di antara pemegang saham dan beberapa orang penting yang berpengaruh. Tapi kamu tahu dengan pasti bahwa tidak ada yang berani menantang keputusan ayah secara terang-terangan." Andrew menjelaskan.
Pelangi tiba-tiba merasa kepalanya berdenyut, tubuhnya bahkan terasa limbung, ia hampir saja terjatuh. Untunglah Andrew dan Toni menahan lengan Pelangi agar wanita itu tidak terjatuh.
Ting.
Pintu elevator kembali terbuka. Pelangi segera keluar dari ruangan dibantu oleh Toni dan Andrew.
"Terserah kamu mau menolak atau bagaimana, hal itu bisa dibicarakan nanti, tapi sekarang bersikaplah biasa. Tunjukan kalau kamu adalah wanita cerdas yang memang pantas menduduki posisi CEO. Kamu adalah anggota keluarga Andreas. Jangan gentar, semangat, semangat!" Toni menyemangati Pelangi yang sekarang wajahnya terlihat pucat pasi.
"Bagaimana aku bisa semangat. Aku justru merasa hampir gila sekarang. Ya, Tuhan, apa yang ayah pikirkan?" Pelangi merengek sembari mengentakkan kaki.
Andrew dan Toni memukul kening mereka secara bersamaan.
"Aku baru saja memintamu bersikap biasa, Pelangi, bukannya merengek seperti bayi."
Bersambung.