
Menuruti kemauan wanita yang sedang mengidam memang menjadi hal baru untuk Justin, ia harus siap jika sewaktu-waktu istrinya yang unik itu menginginkan sesuatu. Seperti siang ini, sang istri yang menemaninya lunch meeting di salah satu Mall mengajaknya berputar-putar mencari entah apa.
Jika menemani seorang wanita berbelanja itu sama buruknya dengan menunggu seorang perempuan tengah berdandan, apa kabar seorang Justin yang sedari tadi menemani sang istri berbelanja peralatan dandan. Ya Tuhan.
"Mas, sini tangan kamu." Nena yang tengah duduk di depan meja toko peralatan make up dengan sang suami di sampingnya itu tiba-tiba menarik tangan Justin dan mencium punggung tangannya.
Justin yang semula sibuk dengan pikirannya sendiri jadi menoleh, merasa terenyuh.
"Yah nempel," gumam Nena yang membuat sang suami membuka mulutnya secelah, menatap punggung tangannya yang tercetak cap bibir merah di sana.
"Apa sih?" Tanya Justin bingung.
"Ini loh. Mas, aku nyari lipstik yang kalo di pake di bibir tuh nggak cepet luntur." Nena kembali memilih beberapa lipstik yang berjejer di hadapannya.
Justin mengusap punggung tangannya, menghapus cap bibir yang bukannya hilang malah melebar kemana-mana. "Pake tangan kamu dong, masa tangan aku juga."
Nena menunjukan ke dua punggung tangannya yang tampak penuh dengan berbagai warna. Membuat Justin berpikir seberapa lama ia melamun tadi, dan seberapa banyak lipstik yang sudah istrinya jajahi.
"Sini tangan kamu lagi, Mas." Nena menarik tangan sang suami.
Justin menolak, kemudian mengarahkan telunjuk ke pipinya sendiri. "Cobain di sini, nempel nggak," godanya yang membuat sang istri melengos kesal.
"Idih, ogah," jawab Nena spontan yang membuat mbak penjaga toko tampak menahan senyum. "Kenapa nggak ada lipstik yang nggak nempel ya, Mas."
"Ya wajar lah, kalo nggak gitu gimana sutradara mau bikin skenario tentang lipstik yang nempel di baju."
Nena menoleh, mengerutkan dahi, iya juga si, "kamu sukanya warna apa, Mas."
"Ijo." Justin menjawab asal.
Nena reflek memukul lengan suaminya, membuat mbak penjaga toko jadi tertawa. "Masa ijo, ih." Nena mengambil beberapa lipstik dan menunjukannya pada sang suami, "hot pink, summer pink, rose pink, apa baby pink?"
Justin mengerutkan dahi, nama-nama yang terdengar asing di telinganya itu berputar-putar di kepala. "Aku taunya black pink doang."
"Ih mana ada." Nena jadi kesal sendiri. Mbak penjaga toko yang memperhatikan perdebatan keduanya tampak setengah mati menahan tawa.
"Yaudah kamu maunya yang mana."
"Aku bingung, Mas. Semuanya aku suka."
"Bilang dong dari tadi," ucap Justin gemas, kemudian menoleh pada mbak penjaga toko. "Bungkus semuanya Mbak, kirimkan ke alamat ini," titahnya kemudian meletakan kartu kredit juga kartu nama di meja.
Setelah selesai dengan urusannya, Justin menarik sang istri ke luar gedung menuju mobilnya. Dalam perjalanan Nena terus menggerutu.
"Kamu maluin ih, Mas. Sok ngeborong tapi ujung-ujungnya ngutang."
Justin menghentikan langkahnya, menoleh. "Siapa yang ngutang, aku udah bayar," belanya.
"Tapi bayarnya pake kartu kredit, apa namanya kalo bukan ngutang?"
Justin jadi bingung, iya juga sih, tapi kan beda.
"Aku yah, Mas. Meskipun beli cuman satu tapi langsung bayar, pake duit." Nena yang terus mengoceh membuat Justin menahan senyum.
"Iya, iya. Mulai besok aku nggak 'ngutang' lagi deh." Justin yang memilih mengalah terus mengekori sang istri yang melangkah lebih dulu.
***
Lain ladang lain juga belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Di tempat berbeda, William dan Lily tampak ngeri memandangi ikan hidup yang menggelepar di dalam bak cuci piring.
Wanita yang mengaku pernah membersihkan ikan untuk dimasak itu tampak pucat pasi dengan pisau di genggamannya. Apron berwarna putih yang ia kenakan sesekali terkena cipratan saat si ikan kembali memberontak ketika di dekati.
"Will, bagaimana cara aku membunuhnya?" Tanyanya pada pria yang berdiri di samping nya dengan apron yang sama.
William yang mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Lily berkeliling kota itu juga tampak sama bingungnya. Kemudian mengambil ponsel dari atas meja dapur.
"Ok google, bagaimana cara membunuh yang baik dan benar."
Lily nyaris menusukkan pisau di tangannya untuk memberikan contoh pada pertanyaan bodoh lelaki itu, "kau mau dituduh kriminal."
"Ok, salah, bagaimana cara membunuh ikan yang masih hidup."
Lily berdecak, ya iyalah ikan hidup. "Coba tanyakan bagaimana cara membunuh ikan yang sudah mati."
"Jika sudah mati untuk apa dibunuh." William jadi bingung.
"Iya, pertanyaanmu tadi memang sebodoh itu." Lily sewot sendiri.
William menghela napas, selama bertahun-tahun ia dinobatkan sebagai penjajah wanita dan menemui puluhan mahluk yang ia pikir sama, baru kali ini seorang William mengakui bahwa pasal wanita selalu benar itu memang ada.
"Katanya pukul saja kepalanya," ujar William.
"Kepala siapa?" Lily bertanya.
"Kepalaku saja lah ayo cepat pukul."
"Kau mau mati." Lily jadi tertawa, kemudian mengambil batu ulekan dan bersiap memukul ikan di hadapannya, namun wanita itu kembali menoleh ragu. "Aku tidak tega, Will."
William menjatuhkan pundak, menghela napas. "Kita delivery order saja lah, aku lapar."
Namun Lily tidak menyerah, dia pernah mencuci ikan, tapi bukan yang hidup. Dan setelah berjuang melawan rasa ngeri dan kasihan ia sukses membuat seekor ikan menyerah, lemah tidak berdaya.
"Apa yang bisa kubantu?" Tanya William, dan kemudian wanita yang tampak sibuk dengan penggorengan itu menyuruhnya mengupas bawang kemudian mengirisnya.
William baru tahu, perjuangan seorang ibu yang meracik sebuah masakan itu ternyata seperih ini. Perih, sampai rasanya ingin....
"Kau menangis Will?" Lily tertawa geli.
William menoleh, mengusap matanya yang berair dengan punggung tangan. "Ternyata bawang merah memang sejahat ini, aku sedih."
"Dasar payah."
Lily menghidangkan masakannya di meja, William menggeleng tidak percaya di kursinya.
"Kau yakin ini tidak akan membuatku terbunuh," ucap William memandangi ikan goreng setengah gosong yang terkapar di hadapannya.
Lily juga menggeleng, ikut duduk di kursinya, "aku tidak yakin," ujarnya.
William menyendok nasi, rasa lapar membuatnya bersikap tidak peduli. Gosong pun gosong lah, yang penting makan dulu.
Lily memperhatikan ekspresi pria di hadapannya dengan was-was, "bagaimana?" Tanyanya.
William tampak memegangi leher denga ekspresi seolah ingin mati, "lumayan," ucapnya kemudian, dengan tersenyum jahil yang membuat Lily ingin sekali memukul kepalanya jika tidak ingat sedang menumpang.
"Will, aku boleh bertanya sesuatu?" Ucap Lily setelah mencicipi hasil masakannya yang tidak terlalu buruk.
"Tanyakan saja." William menjawab tanpa menoleh, sibuk memisahkan tulang ikan di piringnya.
"Melihat Justin dengan Istrinya itu, apa kau tidak merasakan sesuatu?"
William menoleh, mengerutkan dahi. "Sesuatu?"
"Ya, semacam cemburu, begitu."
William tersenyum mendengus, "tidak," jawabnya.
"Sama sekali tidak?" Lily tampak tidak percaya.
William menghela napas. "Bersatunya mereka itu adalah keinginanku, untuk apa aku cemburu." Ujarnya, lalu balik memberikan pertanyaan yang sama. "Kau sendiri, bagaimana?"
Lily mengangkat bahu, "anehnya sekarang sudah tidak lagi," ujarnya yang sontak mencetak senyum di bibir William, membuat Lily mengerutkan dahi.
Baru saja pintu terbuka, seorang wanita berpakaian amat sexi menghambur memeluknya.
"Oh, Sayaang, aku merindukanmu," ucap wanita berrambut pendek dengan bibir merah menyala.
"Maria, lepaskan." William mendorong pelan wanita yang ia panggil Maria itu hingga pelukannya terlepas.
"Kenapa? Kau sedang ada wanita lain? Oh ayolah, aku mau kok berbagi untuk malam ini."
Setan! William mengumpat dalam hati, menoleh ke arah dalam, takut Lily mendengarnya. "Dengar, Maria. Aku tidak melakukan itu lagi, sekarang aku berhenti."
Maria tampak kecewa, "tapi Will, aku sangat merindukanmu, hanya kau yang bisa membuatku amat pu—"
William membungkam mulut wanita itu kemudian mendorongnya keluar pintu. Dan Lily yang mengintip sedari tadi tidak bisa lagi mendengarkan percakapan panas antara dua sejoli yang entah kenapa membuatnya kesal setengah mati.
"Dasar playboy! Mati saja lah kau." Dengan gemas Lily menginjak ubin di bawah kakinya, seolah tengah melumat seseorang di bawah sana. Dengan berjalan menghentak-hentak kesal, wanita itu kembali duduk di kursinya. Melirik ikan goreng yang seperti menatapnya penuh ejekan. "Apa kau lihat-lihat," ucapnya, kemudian sadar sendiri kenapa dia jadi bersikap setidak waras ini, kenapa tiba-tiba hatinya begitu kesal, pasti gara-gara ikan goreng setengah gosong di hadapannya itu, iya pasti.
***
Kembali ke laptop, Justin yang tampak fokus dengan benda di atas meja di hadapannya itu menoleh saat sang istri yang duduk di sebelah nya berseru heboh.
"Itu Lily, Mas!" ucapnya menunjuk sebuah iklan mobil merk terkenal dengan Lily yang membintanginya.
"Bukan, salah orang." Justin berkata dengan kembali fokus pada laptopnya.
"Ih, orang Lily yang bilang sama aku kalo hari ini iklan dia tayang. Masa salah orang,"
Mendengar itu Justin jadi menoleh, "sejak kapan kalian jadi seakrap itu?" Tanyanya.
"Sejak kapan ya?" Nena malah balik bertanya, tertawa kemudian tidak melanjutkan jawabannya, dan sepertinya Justin pun tampak tidak terlalu penasaran, pria itu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Mas, kenapa yah. Mobil mewah sekelas lamborghini itu nggak ada iklannya?"
"Buat apa," Justin menjawab tanpa menoleh. "Toh orang yang kerjaannya hanya menonton iklan di tv itu nggak akan mampu beli."
Nena jadi berpikir, iya juga si. Kemudian suara bel di pintu membuatnys terlonjak senang, pasti paket make upnya datang, dia sengaja meminta diantarkan selepas magrib saja, karena tadi siang mereka tidak ada di rumah.
"Bagus, Mas. Aku coba ah." Nena mulai menyapukan bedak di wajahnya, kemudian mengambil lipstik dan hendak mengoleskannya di bibir saat sang suami tiba-tiba merebutnya.
"Nggak usah dandan, sebentar lagi William ke sini."
Nena jadi berdecak, mengomel dalam hati kemudian memperhatikan sang suami yang tengah merapikan kertas di meja dan menutup laptopnya, pekerjaannya sudah selesai. Nena tersenyum, bersamaan dengan itu, Justin menoleh. Curiga.
"Apa?"
"Coba kamu yang pake, Mas."
"Hah?"
Justin terus memberontak saat Nena dengan semangat mengoleskan lipstik merah di bibir pria itu, sang istri dengan hebohnya sampai menduduki perut Justin agar suaminya itu tidak kabur kemana-mana.
"Ayo dong, Mas aku pengen liat kamu pake lipstik, kaya oppa-oppa Korea, ayo doong," rengek Nena yang mau tidak mau membuat Justin menyerah.
Selesai mengoleskan lipstik tebal ke bibirnya itu Justin melihat sang istri mengambil sesuatu, "apa lagi?" Tanyanya.
"Bedak, Mas. Biar muka kamu tambah putih."
Ya Tuhan. Justin kembali pasrah, "itu apa?"
"Ini blush on, buat merahin pipi."
"Nggak!" Kali ini Justin menolak, bersaman dengan itu suara seseorang dari arah pintu membuat keduanya menoleh.
"Hay-hay aku datang."
Nena reflek menjauhi suaminya, William yang sedikit terkejut dengan penampilan Justin tampak terpesona.
"Ya Tuhan, kau cantik sekali." William berlari melompat ke sofa yang Justin duduki dan menangkup kedua pipinya. Bibirnya sampai tertarik maju. "Aku jatuh cinta."
"Najis!" Umpat Justin dengan mendorong pria bule di hadapannya, pria itu hendak mengambil tisu yang kemudian tangannya kembali di raih oleh William dengan begitu mesra.
"Aku tidak pernah tahu kau bisa secantik ini, tahu begitu dari dulu kupacari saja kau."
"Dasar gila!" Justin kembali mendorong bule sinting di hadapannya itu, kemudian beranjak berdiri dan mundur beberapa langkah saat William juga melakukan hal yang sama.
"Satu malam denganku sayang." William hendak memeluk yang kembali mendapat umpatan dari Justin, pria itu berlari sampai meloncati sofa, menghindari William yang begitu bernafasu pada dirinya. Nena terguling di sofa panjang, menutupi wajahnya yang sudah memerah karena tertawa dengan bantal sofa di tangannya.
"Enyah kau William!" Justin kembali melopati sofa, dan bertepatan dengan itu Lily yang tiba-tiba muncul dengan kantong plastik berisi jus buah membuat pria itu membeku di tempatnya.
Nena melihat Lily tampak menahan tawa, dan suaminya itu reflek menutupi bibir merahnya kemudian berlari ke dalam kamar. Di hadapan mantan suaminya itu, Nena berhasil membuat sang suami mati gaya.
Beberapa saat kemudian, Justin keluar dari kamar dengan wajah basah, melemparkan kunci mobil pada William yang duduk memainkan ponsel di sofa. William reflek menangkapnya, kemudian berdiri.
"Mau kemana kalian malam-malam begini?" Tanya Justin, sejak siang tadi pria bule itu memang menghubunginya dan mengatakan ingin meminjam mobil karena kendaraan roda empat miliknya itu tengah diperbaiki.
"Kemana saja lah, masih sore juga."
"Jangan berbuat macam-macam di mobilku, ada cctv, aku bisa memantaumu dari sini," ancam Justin yang membuat William terkekeh.
"Begitu kah? Tonton saja jika kau mau, sekalian nanti kuajari gaya baru."
"Sialan!" Justin reflek menendang kaki temannya itu yang dengan sigap menghindar. "Bagaimana Lilyana bisa masuk tanpa mengetuk pintu?"
"Oh, aku membiarkan pintunya terbuka, dia hanya membeli jus di depan, kupikir tidak akan lama."
Justin berdecak, William memang tahu password pintu apartemennya, dan kejadian tadi membuatnya berpikir untuk mengganti beberapa dijit code agar pria bule itu tidak lagi sembarangan masuk.
"Hati-hati di jalan, Terimakasih jus nya," ucap Nena saat William dan Lily berpamitan pada mereka, kemudian menutup pintu. "Mereka cocok ya, Mas," komentarnya sembari mengekori sang suami yang melangkah masuk lebih dulu.
"Nggak!" Justin menjawab kesal, membuat Nena terdiam di tempatnya.
"Kamu cemburu, Mas?" Tanya Nena yang membuat suaminya itu merasa bersalah, dia tidak bermaksud seperti itu sebenarnya.
"Eh, bukan gitu—"
"Kamu masih suka sama William?" Tanya Nena lagi yang membuat Justin terperangah tidak percaya.
Justin berdecak kesal, "yang benar sajalah," omelnya, dengan gemas menggendong sang istri, dan bersumpah akan menyerangnya hingga pagi sebagai balasan atas kejahilannya dengan alat make up barusan.
***tanya jawab***
Netizen: thor readers nanya kenapa sifat Justin berubah, pas awal episode kan dingin, kenapa sekarang jadi ikutan koplak.
Author; ya namanya juga belum kenal, sekarang kan udah deket, udah nikah pula, masa iya masih dingin-dingin aja, rematik Nena bisa-bisa.
Netizen; katanya kenapa Ardi lebih ganteng thor.
Author; ya wajar lah kan ceritanya lebih muda, gue sih nggak masalah kalo dibilang gantengan Ardi biar saingan gue buat mencintai bang entin cuma Nena seorang.
Netizen; thor mana nih foto author, readers pada penasaran tuh.
Author: Jangan dong, nanti pas kalian ngebayangin visual Nena, yang muncul muka gue.
Netizen; idih halu banget, nyesel gue nanya.
Author: bodo amat.