OH MY BOSS

OH MY BOSS
KEMBALI KE KOTA



Pelangi mengusap sudut matanya yang sejak tadi masih mengeluarkan air mata. Walaupun ia tidak ingat sama sekali pada pernikahan dan hari-hari yang telah dilaluinya bersama dengan Gilang, tetapi ada rasa nyeri di dada saat ia membaca kepala berita di majalah yang baru saja Joko berikan padanya.


Gilang mungkin sama seperti dirinya, tidak mengingat semua kebersamaan yang telah mereka lalui. Akan tetapi, kenapa harus menikah lagi? Apa Gilang tidak merasa bersalah. Walaupun pikirannya tidak mengingat apa pun, tetapi apakah jauh di dalam hati Gilang tidak merasa bersalah sama sekali. Apa tidak ada firasat di dalam diri Gilang kalau pernikahan adalah sebuah keputusan yang seharusnya tidak boleh Gilang ambil!


"Pak Gilang masih lupa ingatan. Ia tidak ingat padamu, begitu pula denganmu yang tidak ingat padanya. Kamu harus segera mengatakan dan menunjukan yang sebenarnya pada Pak Gilang kalau kamu adalah istrinya. Karena terlambat sedikit saja suamimu akan menjadi milik orang lain."


Joko mengangguk. "Benar apa yang dikatakan oleh Alia, kamu harus mengatakan yang sebenarnya pada Pak Gilang karena kalau kamu sampai lambat mengambil tindakan, kamu akan kehilangan Pak Gilang untuk selamanya."


Pelangi menggeleng. "Aku merasa seperti orang asing saat di sisinya sekarang. Walaupun tidak bisa kupungkiri jika ada rasa nyaman saat aku dekat dengannya, tetapi aku merasa kalau aku bukanlah siapa-siapa. Apa kalian tidak tahu bagaimana rasanya bertemu dengan orang asing yang sebelumnya tidak pernah kalian temui? Seperti itulah perasaanku padanya sekarang. Sebelum aku mengingat semuanya, aku tidak akan mengatakan apa pun pada Gilang. Lagi pula, apa kalian tidak merasa aneh atas sikap keluarga Gilang. Kenapa mereka tidak berusaha membuat Gilang ingat kembali padaku. Mereka malah membiarkan Gilang menjalin hubungan dengan Gisel yang jelas-jelas mencoba untuk membunuhku berulang kali. Aku yakin, ada alasan penting di balik sikap Pak Farhan."


Alia cemberut mendengar penjelasan Pelangi. "Tidak ada yang aneh sebenarnya, mungkin mereka memang tipikal keluarga yang tidak berperasaan. Kalau tidak, mana mungkin metuamu itu membiarkan putranya ingin menikahi wanita jahat seperti si model itu. Sudahlah, jangan kebanyakan berpikir dan memikirkan orang lain, Raina, kamu harus mengatakan yang sebenarnya. Pokoknya harus."


Pelangi diam saja, ia hanya menatap sendu pada dua buah majalah yang ada di hadapannya. Majalah satunya memperlihatkan potret dirinya bersama dengan Gilang, dan majalah yang satunya lagi menunjukan potret Gilang dan Gisela.


"Apa yang harus kulakukan?"


***


Matahari telah merangkak naik, menandakan bahwa kesibukan hari ini akan dimulai.


Gilang berjalan menuju halaman depan bersama dengan Toni untuk memeriksa beberapa pekerjaan setelah sebelumnya ia meminta seorang pelayan agar menghampiri Pelangi dan mengatakan pada Pelangi untuk bersiap-siap.


Toni terlihat berbeda hari ini. Wajah pria itu yang biasanya datar dan tanpa ekspreai sekarang terlihat semringah. Kedua matanya berbinar dan senyum selalu tersungging di bibirnya yang tipis.


"Terjadi sesuatu kemarin?" tanya Gilang.


"Sesuatu seperti apa misalnya?" Toni balik bertanya.


"Hem, sesuatu yang membuatmu terlihat berbeda hari ini. Kamu dan wanita itu menghabiskan malam yang hot benar?"


Toni membuang muka. Ia merasa malu karena Gilang dapat menebak apa yang dilakukannya dengan Amara kemarin sore hingga malam tiba.


Gilang tersenyum melihat tingkah Toni yang seperti ABG kedapatan sedang beepacaran di semak-semak.


"Iya juga tidak apa-apa. Hal itu bagus untukmu karena akhirnya kamu bisa merasa rileks. Toh selama ini kamu selalu disibukkan dengan pekerjaan," ujar Gilang. "Apakah dia wanita yabg waktu itu kamu ceritakan padaku. Wanita yang pergi meninggalkanmu?"


Toni mengangguk. "Ya, dia orangnya."


"Lalu jika aku boleh tahu, kenapa dia marah-marah setiap melihatku. Satu tahun yang lalu dia marah padaku dan mencaciku. Dia bahkan mencaci Gisel juga dan menjambak rambut Gisel. Lalu, sekarang setelah satu tahun berlalu, dia muncul dan masih marah padaku. Jujur saja, tadinya aku pikir dia itu salah satu pengagumku, tapi sepertinya bukan." Gilang menoleh untuk menatap Toni, yang sekarang tengah sibuk memperhatikan sebuah rancangan bangunan yang tertempel pada papan di teras samping hotel.


"Untuk sekarang kurasa kamu tidak perlu tahu alasannya melakukan itu. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan tahu dengan sendirinya. Pesanku padamu, Gil, percayalah pada apa kata hatimu. Saat kita kembali ke kota nanti, apa pun yang membuatmu ragu, jangan lakukan, bahkan jika hal itu menyangkut Gisel. " Setelah mengatakan hal itu, Toni menepuk pundak Gilang dan berjalan menuju bagian belakang hotel.


Gilang menatap kepergian Toni dengan perasaan campur aduk. Ia tahu jika Toni memiliki sesuatu yang ingin disampaikan padanya, tetapi sahabatnya itu memilih untuk diam dan nembiarkannya mencaritahu sendiri.


***


Di samping kanan dan kirinya terdapat tanaman sawi yang ditanam dengan menggunakan paralon berukuran sedang yang dialiri air. Ditambah lagi terdapat banyak tanaman sayur beraneka ragam di halaman depan, membuat suasana rumah itu menjadi sejuk.


Pelangi menyentuh lengan Gilang dan meminta Gilang untuk masuk. "Ini rumahku. Jika kamu tidak ingin ikut masuk ke dalam, biar aku saja yang masuk dan berpamitan pada ibuku."


Gilang menggelengkan kepala. "Aku ikut," ujarnya.


Bu Siti menyambut kedatangan Pelangi dengan bahagia. Ia memeluk Pelangi dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Kok sudah datang, Nak, bukannya pekerjaannya enam bulan, ya? Dan siapa dia, tampan sekali?" Bu Siti menatap Gilang dengan penasaran.


Gilang mengulurkan tangan dan menyalami tangan keriput Bu Siti. "Aku Gilang, rekan kerja Raina."


"Oh, rekan kerja, ibu kira calon suami." Bu Siti terkekeh, sementara Pelangi menyikut lengan Bu Siti dengan pelan.


"Jika Ibu mengizinkan, aku bersedia menikahi anak Ibu." Gilang menggoda Bu Siti, membuat wanita itu tertawa.


"Tidak, Nak, kamu terlihat seperti anak orang terpandang. Tidak pantas menikahi anak seorang petani seperti Raina."


"Kenapa tidak, Bu? bagiku cinta adalah tentang rasa nyaman, bukannya tentang pantas atau tidak."


"Benar juga. Ibu suka sekali pada pria yang memiliki pikiran terbuka sepertimu, Nak."


Pelangi menggelengkan kepala mendengar obrolan Gilang dan Bu Siti yang menurutnya sudah sangat jauh melenceng.


"Sudah, Bu, sudah. Jangan bicara yang aneh-aneh. Kedatangan Raina dan Pak Gilang kemari adalah untuk berpamitan pada Ibu. Raina akan bekerja di kota dan menjadi asisten Pak Gilang. Apa Ibu mengizinkan?" tanya Pelangi.


Bu Siti menghela napas. "Ibu tidak berhak melarang, Nak, tapi ibu pasti akan merasa kesepian sekali kalau kamu tidak ada."


"Raina akan pulang seminggu sekali atau dua minggu sekali, Bu. Ibu jangan sedih." Pelangi menyentuh punggung tangan Bu Siti dan meremasnya dengan lembut.


"Atau jika mau, Ibu ikut saja. Aku akan sediakan apartemen untuk kalian berdua," tawar Gilang. Jujur saja ia juga tidak tega melihat wanita setua Bu Siti hidup seorang diri.


"Ah tidak usah, Nak. Ibu di sini saja mengurus kebun. Jika boleh, ibu titip Raina saja, ya, tolong jaga anak ibu satu-satunya."


Gilang mengangguk. "Tentu, Bu, tentu. Aku pasti akan selalu menjaganya dengan segenap hati dan jiwaku. Ibu jangan khawatir," ujar Gilang dengan bersungguh-sungguh.


Dada Pelangi berdebar dan ada rasa haru yang janggal di dalam dadanya saat mendengar apa yang Gilang katakan.


Ucapan Gilang membuatnya bingung. Untuk apa Gilang mengatakan hal itu, seolah Gilang memiliki rasa lain padanya. Bukan hanya perasaan seorang bos pada asistennya, tetapi ada rasa cinta tersembunyi di dalamnya.


Oh, Gilang, benarkah kamu tidak ingat padaku?


Bersambung ....