
Delia tahu, akan egois sekali jika ia meminta pada Atika untuk tidak mengatakan apa pun saat ini juga, atau meminta Atika agar tidak menyebutkan nama Exel saat wanita itu mengungkapkan semua kebenaran kepada Toni dan Andrew. Itulah sebabnya ia hanya diam mendengarkan. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang agar Exel tidak terseret dalam kasus mengerikan yang melibatkan keluarga Andreas dan juga Gisela. Toh pada kenyataannya Exel memang bersalah dan ikut ambil bagian dalam rencana gila Gisel untuk menghabisi nyawa seseorang.
Atika menceritakan segala yang ia ketahui kepada Toni dan juga Andrew, sementara Andrew menyimak sembari merekam kesaksian Atika untuk berjaga-jaga jikalau Atika menghilang lagi saat kesaksiannya dibutuhkan di pengadilan kelak.
"Aku mendengar semua percakapan Gisel dan Alex malam itu, saat Gisel meminta maaf pada Alex dan memutuskan untuk meminta bantuan pada pria itu dan juga Surya agar dapat membalas dendam pada Pelangi. Karena aku mendengar, maka Gisel mengajakku untuk bergabung. Toh kami sudah cukup akrab saat hidup dalam pelarian selama hampir dua bulan lamanya. Tetapi tentu saja aku menolak, karena aku tidak ingin melakukan kejahatan lagi pada Pelangi. Sayang sekali penolakan itu kulakukan dengan kasar, hingga tanpa kusadari penolakanku menyinggung Gisela."
"Gisel tersinggung. Memangnya apa yang dia rencanakan?" tanya Toni.
"Gisel ingin agar Pelangi dan Pak Gilang berpisah bagaimanapun caranya. Dia ingin kembali pada Pak Gilang. Tapi Alex dan temannya lebih mengincar perusahaan Pak Gilang. Dan terkhusus Surya, dia ingin agar Pelangi menjadi istrinya."
"Apa kamu yakin jika Surya ingin agar Pelangi menjadi istrinya juga?" Andrew bertanya dengan suara yang gemetar karena menahan amarah.
Atika memgangguk. "Sejak awal dia memang sudah mengincar Pelangi saat Gisel memperlihatkan foto Pelangi dan meminta Surya untuk membantunya menghabisi Pelangi agar dia bisa kembali bersama dengan Pak Gilang. Aku rasa mereka kemudian terlibat perdebatan karena perbedaan tujuan."
"Lalu, bagaimana pada akhirnya kamu sampai bisa berada di sini?" tanya Toni.
"Suatu malam aku berusaha membujuk Gisel agar mengurungkan niatnya dan tidak lagi berusaha menghancurkan kehidupan Pelangi. Dia marah padaku dan memutuskan untuk memindahkanku ke tengah hutan yang letaknya tidak jauh dari perkebunan milik Surya. Entah kenapa Gisel tidak langsung menghabisiku saja. Gisel hanya datang setiap dia kesal dan melampiaskan kekesalannya padaku. Dia tidak segan-segan menyiksaku. Dia bahkan hanya memberiku makan roti-roti berjamur dan air dalam jumlah sedikit." Atika mulai mengeluarkan air mata sekarang, begitu mengingat bagaimana Gisel menyiksannya dan membuatnya sangat menderita. "Hingga pada suatu pagi, aku berhasil melarikan diri dari gubuk yang ada di tengah hutan itu. Walaupun pada awalnya aku kesulitan mencari jalan keluar, tetapi akhirnya aku tiba di tepi jalan setapak menuju pedesaan, dan seseorang yang melihatku keluar dari hutan dengan penuh luka segera datang untuk menolongku. Orang itu membawaku ke puskesmas di desa, dan di sinilah aku sekarang saat kukatakan aku tidak memiliki siapa pun di dunia ini. "
Toni dan andrew bergidik dan saling melemparkan tatapan ngeri mendengar semua penjelasan Atika.
"Bagi orang yang sudah terobsesi pada sesuatu, apa pun yang dilakukannya tidak ada yang salah menurutnya. Itulah sebabnya kukatakan bahwa Gisela lebih kejam dibandingkan monster. Dia terobsesi pada Pak Gilang, bukan hanya sekadar cinta, tetapi obsesi. Dia bisa melakukan apa pun demi mencapai tujuannya. Kalian harus berhati-hati padanya," ucap Atika saat dilihatnya Toni dan Andrew ragu pada penjelasannya.
"Syukurlah karena ada orang baik yang datang saat itu untuk menyelamatkanmu," ujar Delia, mengusap-usap punggung Atika yang gemetar karena wanita itu kembali terisak.
"Teroma kasih, Delia," ujar Atika. "Ada satu lagi yang belum kusampaikan kepada Anda, Pak." Atika menatap Andrew dan Toni dengan tatapan liar.
"Apa itu?" tanya Toni.
"Ini hal penting. Dengarkan aku."
***
Pelangi mengekor langkah Gilang memasuki bangunan mewah Hotel Savari. Menyeberangi lobi berlantai marmer menuju sebuah meja resepsionis panjang yang berada di sisi lain lobi.
Sesampainya di meja resepsionis, Gilang menyerahkan sebuah kartu kepada seorang petugas yang tersenyum super ramah kepada Gilang. Setelah melihat kartu itu sejenak dan mengecek sesuatu pada layar komputer di hadapannya, si wanita resepsionis memberikan sebuah kartu lagi pada Gilang sembari mengembalikan kartu yang Gilang berikan tadi.
"Selamat menikmati waktu istirahatnya, Pak." ujar petugas resepsionis itu, yang hanya ditanggapi Gilang dengan anggukan kecil sebelum pria itu kembali melangkah, kali ini menuju elevator.
Di dalam elevator. Gilang terlihat sibuk dengan ponselnya, membuat Pelangi segan ingin bertanya lebih banyak pada pria itu. Padahal Pelangi penasaran sekali pada tujuan Gilang yang membawanya ke hotel di saat jam kantor.
Akan tetapi, begitu keluar dari dalam elevator, Pelangi merasa jika lorong panjang yang dipenuhi dengan pintu-pintu berwarna gold dan hitam yang saling berhadapan tidaklah terlali asing di matanya. Ia merasa seperti pernah melewati lorong itu. Namun, entah kapan.
"Masuklah," ujar Gilang, membuat pelangi terkejut. Sejak tadi ia mengekor langkah Gilang sembari melamun, tidak heran ia begitu terkejut saat akhirnya ia tiba di depan sebuah kamar yang pintunya sudah terbuka lebar, memperlihatkan ruangan luas dan super mewah di dalamnya.
Pelangi menatap Gilang sekilas, yang hanya dibalas pria itu dengan kedipan sebelah mata yang membuat jantung Pelangi seperti hendak copot.
Pelangi mengatur napas untuk menetralisir degup tak karuan di dadanya, kemudian memasuki ruangan yang seketika menimbulkan kilas balik, seolah dirinya berada di tempat itu tetapi di waktu yang berbeda.
"Kita akan tinggal di sini selama satu minggu," ujar Gilang, kemudian diam, menanti tanggapan Pelangi.
Pelangi tidak mendengarkan ucapan Gilang. Ia sibuk dengan dirinya dan ingatannya. Ia ingat kamar ini, tetapi ia tidak ingat untuk keperluan apa ia berada di kamar ini dulu sekali, dan kapan tepatnya ia datang ke kamar ini ia pun tidak ingat.
Gilang memperhatikan Pelangi yang sekarang sedang berjalan menuju kamar utama, wajah wanita itu terlihat ragu, tetapi tidak dengan langkahnya. Seolah Pelangi ingat jika mereka pernah berada di tempat ini dulu sekali.
Dahi Gilang mengernyit. Ia mengikuti langkah Pelangi tanpa bersuara, memasuki kamar utama yang beberapa tahun lalu pernah menjadi kamar pengantin mereka. Ya, Hotel Savari adalah hotel yang salah satu kamar bertipe Presidential Suite-nya pernah Farhan sewa selama satu minggu sebagai hadiah pernikahan untuk Gilang dan Pelangi.
Gilang sengaja mengajak Pelangi ke kamar itu untuk memancing ingatan Pelangi. Jika benar bahwa Raina dan Pelangi adalah orang yang sama. Ia berharap ingatan Pelangi akan muncul di kamar ini, karena kamar ini adalah kamar yang memiliki sejarah penting bagi hubungan pernikahan mereka.
Pelangi terus melangkah menyeberangi kamar, menuju sebuah pintu sorong berbahan kaca yang memisahkan antara kamar dan kolam renang.
Pelangi menyentuh pegangan pada pintu, lalu mendorong pintu kaca tersebut ke samping hingga menyediakan celah untuk ia lewati. "kolam renang," gumamnya.
Kelopak mawar merah memenuhi permukaan kolam renang. Ia melangkah ke tepi kolam dan menyentuh air yang berada di balik tumpukan kelopak mawar.
Gilang melangkah ke arahnya, melepas kemeja putih yang ia kenakan, kemudian celana yang Gilang kenakan pun ikut terlepas dari pinggang pria itu, memperlihatkan kaki Gilang yang jenjang dan berotot.
Gilang tiba di hadapannya dan detik berikutnya Gilang mendorongnya ke dalam kolam renang.
Pelangi terkejut dan kembali ke masa sekarang. Ia tidak menyangka jika ingatan itu akan muncul, dan yang lebih membuatnya bingung adalah Gilang di dalam kenangannya yang baru muncul terlihat tidak begitu suka padanya. Pria itu bahkan tersenyum sinis sebelum mendorong tubuhnya ke dalam kolam renang. Padahal ia tidak bisa berenang.
"Raina," ujar Gilang, sembari menyentuh bahu Pelangi. "Kamu baik-baik saja?"
Pelangi menoleh ke arah Gilang yang berdiri tepat di sampingnya. "Ya," ujar Pelangi.
"Dari mana kamu tahu kalau di sini ada kolam renang? Apa kamu sudah pernah menginap di sini sebelumnya?" tanya Gilang.
Pelangi diam saja, ia hanya berdiri mematung sembari menatap Gilang dengan penuh penilaian. Tadinya, Pelangi berniat untuk mengakui pada Gilang bahwa ia adalah istri Gilang, bahwa ia telah ingat pada kehidupannya terdahulu. Namun, begitu wajah Gilang yang tersenyum sinis padanya muncul di dalam ingatannya, ia menjadi enggan untuk mengatakan semua itu. Hatinya ragu bahwa Gilang benar-benar mencintainya. Jika cinta, kenapa tatapan Gilang begitu bermusuhan padanya.
"Ah, maaf, aku hanya begitu takjub melihat kolam renang sebagus ini ada di dalam kamar, sampai-sampai aku tidak bisa berkata-kata," ujar Pelangi, berbohong.
"Tapi, dari mana kamu mengetahui kalau di kamar ini terdapat kolam renang? Aku bahkan belum mengatakan apa pun padamu." Gilang bertanya dengan penuh harap.
"Saat di bawah tadi, ketika kamu sedang reservasi, aku melihat selembar pamflet di ujung meja resepsionis. Dari pamflet itulah aku tahu kalau di kamar bertipe presidential suite ini terdapat kolam renang di kamar utamanya."
Gilang terlihat kecewa, ia pikir Pelangi mulai ingat pada kenangan mereka di dalam kamar itu, tetapi ternyata ia salah.
Gilang kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Pelangi dengan perasaan kecewa yang menyesakkan. Sementara Pelangi masih terpaku di tempatnya, menatap kolam renang yang ada di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Tatapan benci dan senyum sinis di bibir Gilang tidak bisa hilang dari kepalannya.
"Jika dia membenciku. Kenapa dia setuju menikahiku?" tanya Pelangi pada dirinya sendiri.
Pelangi menghela napas, kemudian memutuskan untuk menyusul Gilang ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Pelangi tidak melihat keberadaan pria itu di sana, maka Pelangi melangkah keluar kamar dan berjalan menuju ruang utama. Dan di sanalah ia melihat Gilang, sedang berbaring di atas sofa dengan mata terpejam.
Pelangi mendekat, kemudian berdeham setelah ia berada di samping pria itu. "Kapan kita ke kantor. Sekarang sudah hampir jam sepuluh," tanya Pelangi.
Gilang yang sejak tadi menutup mata, perlahan membuka matanya dan menatap Pelangi. "Kita libur saja hari ini. Aku sedang tidak mood."
"Libur?"
"Ya, libur."
"Di sini?"
"Ya, di sini."
"Tapi kenapa?"
"Hanya ingin saja."
"Tapi kenapa harus di sini?"
Gilang bangkit untuk duduk dan mengacak rambutnya dengan kesal. "Kenapa cerewet sekali, sih!"
Pelangi terkejut. "Ya, aneh saja. Kita bisa libur di rumah dan istirahat di rumah. Kenapa harus di hotel. Nanti orang pasti akan berspekulasi yang tidak-tidak. Aku tidak ingin dianggap sebagai wanita panggilan hanya karena aku kedapatan sekamar dengan bosku."
Gilang menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan meminta Pelangi untuk duduk di sebelahnya. Begitu Pelangi telah duduk di sampingnya, Gilang berkata, "Tempat ini adalah tempat istimewa bagiku. Ada sebuah kisah di sini yang sekarang sangat ingin untuk kuulang kembali. Hari ini hingga satu minggu ke depan aku ingin tinggal di sini denganmu."
"Denganku?"
Gilang mengangguk. "Ya, denganmu. Mari lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Raina. Mari kita buat wish list."
"Wish list. Kenapa harus aku yang membuat, kenapa tidak kamu saja yang membuat? Kita kan sedang membicarakan tentang kehidupanmu dan keinginanmu. Kamulah yang ingin berada di sini, bukan aku. Kamu jugalah yang ingin mengulang masa lalu di tempat yang bagitu istimewa ini, bukan aku."
"Karena aku tidak memiliki banyak harapan. Harapanku hanya satu. Aku harap harapanku itu bisa tercapai sebelum Gisel mendesak agar pernikahan kami dipercepat."
Mendengar hal itu, dada Pelangi seakan bergolak. Ia marah. Tentu saja, bagaimana tidak marah jika Gilang ingin menikahi Gisel.
"Kalian tidak boleh menikah. Maksudku ... pokoknya jangan!"
Bagus! Gilang membatin.
"Berikan aku satu alasan kenapa aku tidak boleh menikahi Gisela?"
***
Satu hari setelah kejadian di Big market.
Seorang utusan dari Hotel Mentari menyambangi Gilang di rumah sakit, karena ada sesuatu yang mendesak. Tanda tangan Gilang sangat dibutuhkan saat itu untuk melengkapi sebuah berkas perizinan pembongkaran bangunan di sekitar hotel yang juga tidak terpakai, tetapi Gilang menolak untuk datang ke Hotel Mentari, ke kantor cabang atau pun kantor pusat, karena ia sedang fokus menjaga Pelangi yang masih dirawat di rumah sakit setelah jatuh pingsan di halaman depan Big Market.
Seorang utusan itu datang bersama dengan Joko, seorang sekuriti yang merupakan teman Pelangi di desa.
"Maaf, kalian harus datang jauh-jauh. Aku tidak bisa datang ke sana karena harus menunggu seseorang yang sedang sakit."
Joko yang banyak bicara pun mengucapkan rasa prihatinnya dan juga merasa kagum pada Gilang yang mau turun tangan sendiri untuk menjaga seseorang yang sedang sakit. Padahal sebagai seorang CEO, Gilang bisa membayar seorang suster untuk menjaga siapa pun jika ia mau.
"Dia pasti seseorang yang sangat berarti bagi Anda, ya, Pak?" tanya Joko.
"Ya, dia memang sangat berarti bagiku. Padahal kami baru saja bertemu. Kamu kenal dia, dia adalah Raina. Dia sedang sakit sekarang."
"Raina!" Joko tidak terlihat terkejut, dengan berani, Joko menarik lengan Gilang ke sudut lorong, menjauhi utusan yang dikirim bersama dengan joko dari kantor cabang. Dan saat itulah Joko menceritakan segalanya pada Gilang bahwa Raina adalah Pelangi.
Gilang menangis saat itu. Ia memang memiliki firasat, tetapi tidak terlalu yakin. Apalagi ingatannya belum pulih benar. Ia ibarat masih menggali sedikit demi sedikit memorinya agar mengingat lebih banyak tentang sosok Pelangi yang ia cintai. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Joko, ia menjadi yakin bahwa Raina memang Pelangi, dan sejak hari itu ia berniat untuk membantu Pelangi agar mendapatkan ingatannya kembali.
Bersambung ....