OH MY BOSS

OH MY BOSS
HAL YANG MEMBAHAGIAKAN



Bulan berganti tanpa adanya kejadian yang berarti. Selain fakta bahwa memasuki bulan November adalah musim penghujan, membuat Gilang selalu bergelung di dalam selimut hingga siang hari bersama dengan Pelangi.


Gilang bahkan sering sekali tidak berangkat bekerja dengan alasan ingin menemani Pelangi yang sedang tantrum. Alasan itu tentu saja tidak masuk akal, mana ada istri yang tantrum. Cuma anak balita yang bisa tantrum. Meski demikian, Farhan sama sekali tidak menyalahkan Gilang. Pria tua itu membiarkan dan menganggap normal kebucinan yang dialami oleh putranya. Perut Pelangi yang semakin membesar memang terlihat menggemaskan, hingga sulit sekali rasanya untuk menjauh dari sisi wanita itu.


Lagi pula, selama satu ini tidak ada kejadian mencurigakan yang terjadi di sekitar kantor, rumah, dan di sekitar Gilang, membuat Farhan berpikir tidak masalah jika sesekali Gilang beristirahat di rumah, karena spertinya keadaan tidak segenting beberapa bulan lalu.


Seperti pagi ini, di luar hujan masih turun dengan derasnya. Rintiknya yang membuat bumi menjadi berwarna kelabu terlihat dari balik pintu geser menuju balkon kamar yang terbuat dari kaca. Pelangi menyukai hujan, walaupun akan menolak habis-habisan jika diminta untuk berdiri di bawah guyuran hujan dan bermain-main dengan air yang turun langsung dari langit itu, karena pasti tubuhnya akan gemetar karena kedinginan.


Akan tetapi, Pelangi suka memandangi hujan dalam waktu yang lama, menghirup aromanya yang khas ketika bercampur dengan tanah dan rerumputan. Itulah sebabnya, dengan susah payah Pelangi berusaha menyingkirkan lengan Gilang yang sejak semalam merangkul tubuhnya dari belakang dalam posisi miring. Ia ingin bangun dan berjalan ke teras belakang rumah agar dapat menghirup aroma tanah yang basah. Namun, rangkulan Gilang yang begitu erat seolah melarangnya untuk melakukan semua itu. Tubuhnya tertahan dalam kuasa Gilang. Tidak sedikitpun Pelangi dapat menyingkirkan lengan Gilang, padahal ia telah berusaha sekuat tenaga. Tidak mengherankan sebenarnya, mengingat Gilang memang memiliki lengan yang kuat dan kekar.


"Apa, sih, yang membuatmu gerak-gerak terus sejak tadi?" tanya Gilang, ketika Pelangi menggeliat agar bisa melonggarkan rangkulan Gilang di tubuhnya.


Pelangi berhenti bergerak, ia lalu mendongak agar dapat menatap wajah Gilang. Saat kedua matanya menangkap sosok Gilang, seketika napas Pelangi tertahan. Gilang memang terlihat tampan dan luar biasa saat mengenakan setelan kantor, tetapi ketampanannya itu belum seberpa dibanding saat pria itu baru saja bangun tidur dengan rambut berantakan dan mata yang sayu. Penampilan Gilang yang seperti itu membuat Pelangi menjadi gemas. Ada dorongan hebat di dalam diri Pelangi yang menuntut agar ia segera memosisikan tubuhnya di atas tubuh Gilang dan melakukan sesuatu yang menyenangkan di atas tubuh pria itu.


(Gilang bangun tidur, nih, guys 👇 klepek-klepek nggak tuh? 😅😍)





"Kamu sudah bangun? aku pikir kamu masih tidur." Pelangi menyentuh kelopak mata Gilang dan mengusapnya dengan lembut.


"Ya, aku sudah bangun, Sayangku, dan asal kamu tahu saja, gerakanmu barusan bukan hanya membangunkanku, tetapi membangunkan yang satunya juga." Gilang nyengir, menampakkan jejeran giginya yang seputih kapas.


Pelangi mencubit pinggang Gilang. "Dasar genit," ujarnya.


"Makanya jangan cari masalah," Gilang mencubit hidung Pelangi, kemudian mendaratkan kecupan di kening wanita itu, yang disambut Pelangi dengan senang hati.


Bermesraan di pagi hari memang memberikan sensasi yang berbeda. Rasanya lebih nikmat dan ikatan di antara mereka berdua terasa lebih kuat saja.


Dalam sekejap, kecupan singkat di dahi itu berubah menjadi sesuatu yang lebih intens, lebih intim hingga sulit sekali untuk digambarkan dengan kata-kata.


Pelangi menikmati semua yang Gilang lakukan padanya, sentuhan Gilang yang lembut, belaian Gilang yang membuat tubuhnya gemetar, hingga bisikan-bisikan mesra yang terus saja Gilang ucapkan di telinganya.


"Aku mencintaimu, Pelangi, sangat mencintaimu. Kamu sendiri bagaimana, hah?" bisik Gilang


Pelangi mengernyitkan dahi, merasa lucu saat Gilang mengungkapkan cinta seperti itu dan menuntut agar Pelangi melakukan hal yang sama, yaitu menyatakan cinta berulang kali tanpa henti. Sungguh terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


"Katakan kalau kamu mencintaiku juga," pinta Gilang, dengan suara parau, tatapan kedua matanya yang sayu menggoda Pelangi, membuat Pelangi ingin menyelam ke dalamnya dan berdiam di sana untuk selamanya.


"Aku mencintaimu dan aku juga menginginkanmu," bisik Pelangi.


Gilang tersenyum. "I love you to, Sayang. Kamu menginginkan apa dariku? Katakan dengan lebih detail, Pelangi, aku kurang paham akan maksudmu." Gilang kembali menggoda Pelangi, sembari membelai leher jenjang wanita itu yang membuat Pelangi bergidik karena kegelian.


Pelangi tersipu malu. Ia tidak mungkin kan mengatakan apa yang diinginkannya saat ini, walaupun status mereka sudah menikah, tetap saja ia malu untuk mengatakan sesuatu yang intim pada Gilang, seperti meminta Gilang menyentuh semua bagian tubuhnya, atau semacamnya.


"Lakukan saja seperti biasanya, apa susahnya, sih, kenapa harus kukatakan lagi?" ujar Pelangi, ia mulai tidak sabar. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut agar segera dilepaskan, jika Gilang diam saja seperti sekarang ini dan terlalu banyak bertanya, sesuatu itu rasanya ingin mengamuk. Ia butuh pelepasan dengan segera!


Gilang tertawa melihat tingkah Pelangi yng tidak sabaran. Ia suka saat melihat Pelangi menginginkannya lebih dari yang seharusnya. Jika sudah begitu, Gilang akan mulai membelai tengkuk Pelangi hingga tubuh Pelangi gemetar, dan refleks wanita itu mencengkram lengan kekar Gilang.


"Gil, jangan permainankan aku," ujar Pelangi, yang sudah tidak sabar untuk menerima perlakuan yang lebih dari Gilang.


Gilang sebenarnya ingin melakukan permainan itu lebih lama, melihat Pelangi menginginkan dirinya membuatnya puas. Namun, ia sendiri tidak tahan untuk mengulur waktu. Wajah Pelangi yang begitu cantik, kulitnya yang mulus, dan suaranya yang terdengar lembut di telinga Gilang, membuat Gilang ingin sesegera mungkin mencapai kenikmatan yang begitu ia dambakan.


"Aku tidak sedang mempermainkanmu, Sayang. Aku juga meninginkanmu, sama seperti kamu menginginkanku." Gilang kembali mendaratkan kecupan di kening Pelangi, lalu ia pun melakukan apa yabg Pelangi inginkan. Rintihan Pelangi dan Gilang berbaur menjadi satu dengan suara hujan yang masih turun, membingkai pagi dengan keromantisan yang menyenangkan.


(Visual Pelangi yang cantik. Kesayangan Gilang)



***


Toni menuruni anak tangga satu per satu dengan malas. Beberapa hari ini ia telah dipusingkan oleh urusan kantor yang semuanya serba masalah. Masalah dengan klien, masalah dengan kontraktor, masalah dengan bagian marketing, dan masalah dengan beberapa pemegang saham.


Toni sungguh dibuat lelah oleh semuanya, terlebih lagi Gilang belakangan ini terkena penyakit 'malas' yang membuat Toni harus berusaha seorang diri untuk menyelesaikan setiap masalah yang timbul. Sedangkan Andrew ... Toni sendiri bingung, ke mana perginya Andrew yang lebih sering menghilang secara misterius daripada muncul di kantor dan membantunya menyelesaikan pekerjaan. Toni bahkan sampai berpikir bahwa ialah yang lebih pantas menyandang gelar sebagai CEO berikutnya, dibandingkan Gilang ataupun Andrew. Keduanya memang putra Farhan Andreas, tapi jika malas dan lebih suka main petak umpet, mana ada gunanya!


(Toni si calon CEO, kalau Gilang masih pemalas 👇😂)



Saat tiba di lantai bawah, Toni melihat Amara yang sedang sibuk memasang mantel di tubuhnya yang mungil.


"Aku sedang memakai ini. Terlalu besar ternyata. Padahal baru juga kubeli beberapa hari lalu." Amara menunjukan mantel berwarna kuning cerah yang menempel di tubuhnya.


Toni tertawa, ia lantas mengulurkan tangan, membantu Amara untuk melepaskan mantelnya. "Lepaskan saja mantel konyol ini, dan mari berangkat ke kantor bersama."


Amara membelalak begitu mendengar ajakan yang terlontar dari bibir Toni. "Mana bisa kita berangkat bersama, Pak. Anda kan berangkat dengan Pak Gilang," ujar Amara, walaupun sebenarnya ia mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Berduaan di dalam mobil bersama dengan Toni yang ia suka pasti akan mengasyikkan sekali.


Toni menggeleng. "Tidak, aku berangkat sendiri lagi hari ini. Aku mendengar ******* dari kamar Gilang, kurasa Pelangi sedang tantrum dan membutuhkan Gilang lebih lama di kamarnya." Toni terkekeh.


Amara menghela napas begitu mendengar ucapan Toni. "Pelangi tantrum, mana mungkin. Semua itu hanya akal-akalan Pak Gilang saja supaya dia bebas bolos kerja."


"Ya, aku juga menduga seperti itu. Tapi apa yang bisa kita katakan, toh Gilang adalah anak Pak Farhan." Toni tersenyum, senyum yabrg begitu manis dan membuat dada amara seolah jungkir balik. Jujur saja, ia sangat ingin memiliki senyum itu untuk dirinya sendiri dan memandangnya sepanjang hari.


"Ah, benar. Pak Gilang adalah putra Pak Farhan. Seharusnya aku tidak menjelek-jelekannya." Amara menutup mulut dengan tangan. "Tolong jangan adukan."


Toni tertawa melihat tingkah Amara. "Tidak akan kuadukan. Tenang saja. Ayo, kita berangkat."


Amara mengangguk, lalu segera mengekor langkah Toni menuju mobil yang terparkir di garasi samping rumah.


Perjalanan menuju kantor terasa amat lambat. Selain karena hujan yang begitu deras, diamnya Toni juga membuat Amara merasa tidak nyaman.


Sejak memasuki mobil dan mulai menyetir, Toni memang tidak mengatakan sepatah kata pun lagi, bahkan untuk berbasa-basi pun tidak. Pria itu langsung memasang earphone di kedua telinganya, dan tenggelam dalam alunan melodi yang ia nikmati seorang diri. Khas Toni. Ia memang selalu mendengarkan musik sambil menyetir dan tidak akan peduli pada sekitarnya.


Amara mengetuk-mengetuk jarinya yang ia letakkan di atas lutut. Sesekali ia menatap Toni, tapi pria itu tidak sekali pun membalas tatapannya. Hal itu membuat Amara merasa sedikit kecewa. Padahal cuaca pagi ini cocok sekali untuk memulai sebuah romantisme. Andai saja Toni bersikap lebih bersahabat, ia pasti tidak akan segan-segan untuk menyatakan cinta. Namun, harapannya sia-sia. Ia pun mulai menerima kenyataan bahwa mungkin saja Toni memang tidak tertarik padanya.


"Ya, siapa juga yang akan menyukai seorang office girl. Walaupun aku naksir dia setengah mati, dia sama sekali tidak peka," gumam Amara, tanpa ia sadari bahwa saat ia mengatakan itu mp3 player yang terhubung pada earphone Toni sedang dalam posisi mati, sehingga Toni dapat mendengar apa yang Amara ucapkan.


Senyum samar tersungging di bibir Toni saat ia mendengar keluhan Amara.


Begitu tiba di kantor dan memarkirkan kendaraannya. Toni dan amara berjalan beriringan menuju lobi. Amara melirik Toni yang masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun, sikap Toni yang seperti itu membuat Amara juga melakukan hal yang sama. Ia diam seribu bahasa hingga tiba di lorong yang mengharuskan keduanya berpisah. Toni harus ke lantai atas, sementara Amara harus menuju ruang penyimpanan.


"Terima kasih tumpangannya, Pak," ujar Amara, ia tidak mungkin meneruskan aksi mogok bicaranya. Setidaknya ia harus mengatakan terima kasih demi mempertahankan nilai kesopanan.


Toni mengangguk dan menekan tombol pada elevator yang akan membawanya ke lantai atas. "Makan sianglah denganku nanti, mau?"


Amara hampir saja pingsan mendengar tawaran yang tidak terduga itu. Belum juga sempat ia menjawab, pintu elevator terbuka, dan Toni memasuki elevator sembari tersenyum dan melambai pada Amara.


"Aku tunggu jam dua belas di ruanganku. Bye!"


Amara membalas lambaian tangan Toni sambil menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tidak bisa berkata-kata, bahkan untuk mengatakan 'iya' saja bibirnya tidak mampu.


"Damn, dia itu sama sekali tak terduga!" gumam Amara, lalu melompat kegirangan sebelum akhirnya ia melangkah menuju ruang penyimpanan sembari berputar-putar riang seperti seorang balerina.


(Amara yang lagi senang, nih 👇)



***


Sementara itu kejadian tidak kalah menggembirakannya telah terjadi di kediaman Surya Permana. Usahanya untuk melobi beberapa pemegang saham agar mau bekerja sama dengannya akhirnya berhasil. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi selanjutnya yang akan membuat tumbang kekuatan keluarga Andreas dalam sekejap mata.


Alex terkekeh melihat hasil kerja Surya yang terbilang cepat dan tepat sasaran. Pria yang memang jago menipu itu bertindak tanpa ragu sedikit pun dan penuh dengan percaya diri, hingga hasilnya pun tidak mengecewakan.


"Luar biasa. Semuanya berjalan dengan begitu lancar. Apalagi sampai sekarang si Gilang yang bodoh itu tidak menyadari bahwa dokumen penting miliknya telah hilang." Alex bertepuk tangan, membuat Gisel yang sejak tadi berdiri di bawah tangga dan sibuk menonton kebahagiaan Surya dan Alex menjadi semakin kesal.


Alex yang duduk di sofa menyilangkan kakinya dan melipat tangan di depan dada, senyumnya yang licik kembali tersungging di bibirnya yang tipis. "Tentu saja dia tidak sadar. Aku menyalin dokumen itu dan mengambil yang asli, sementara yang palsu aku letakkan di dalam tas Gilang. Dengan begitu, saat pengambilan alih Andreas Group nanti dan dia melawanku dengan dokumen yang ada padanya, dia tetap tidak tertolong karena dokumen yang ada padanya adalah dokumen palsu."


Alex tertawa terbahak-bahak dan kembali bertepuk tangan. "Wah, hebat sekali, Sur, hebat sekali!"


Surya mengibaskan tangan dengan sombong, seolah dirinya adalah manusia paling beruntung dan paling cerdas di muka bumi ini. "Semua ini adalah hal yang mudah, asal kita mau berusaha saja dan berdoa pada siapa pun yang mau mendengarkan doaku."


Alex kembali tertawa. "Aku penasaran, apa yang akan Gilang lakukan setelah semua miliknya hilang."


Surya menggeleng. "Belum semuanya hilang darinya. Masih ada satu harta paling berharga milik Gilang yang harus kurebut."


Akex mengernyitkan dahi, ia terlihat bingung. Gisel bahkan menegakkan tubuhnya, ia penasaran apalagi yang ingin Surya rebut dari Gilang. Bukankah bagi keluarga Andreas, Andreas Group adalah segalanya.


"Pelangi," gumam Surya, tatapan kejinya menerawang, membayangkan wajah cantik Pelangi yang terus menghantui benaknya sejak pertama kali ia melihat wanita itu. "Aah, Pelangi yang cantik. Akan kumiliki dia sesegera mungkin. Bahkan jika Gilang melindungi wanita itu dengan segenap jiwa dan raganya, dia akan tetap menjadi miliku. Tunggu saja Pelangiku cintaku!"


Bersambung ....